Pemuda Global Merespons Energi

- Editor

Senin, 8 Juni 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketimpangan Akses Menjadi fokus
Ketersediaan energi global menipis. Di sisi lain, minyak dan gas bumi memicu pemanasan global. Untuk itu, mahasiswa kini, yang akan menghadapi krisis energi pada masa depan, bersiap-siap, salah satunya dengan berjejaring guna mengembangkan inisiatif energi berkelanjutan.

Direktur Eksekutif Student Energy Kali Taylor menyatakan, sejumlah negara di dunia sudah memasang target, antara lain untuk dicapai tahun 2020 dan 2030, guna memastikan kecukupan energi sekaligus melestarikan lingkungan. Dalam Kebijakan Energi Nasional, energi baru dan terbarukan ditargetkan mencapai 25 persen dalam bauran energi nasional pada 2025 dan meningkat menjadi 31 persen pada 2050. Sementara Indonesia juga berkomitmen menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) 26 persen, atau 41 persen jika mendapat bantuan negara lain, pada 2020.

“Kami menyadari, yang lebih bertanggung jawab mencapai target-target itu generasi lanjut, yang kini mahasiswa,” kata Taylor di sela-sela konferensi pers International Student Energy Summit (ISES) 2015, Minggu (7/6), di Jakarta. ISES merupakan konferensi anak muda terbesar sedunia di bidang energi, lingkungan hidup, dan pembangunan berkelanjutan. Kegiatan tersebut diinisiasi sejumlah mahasiswa di Kanada dan terlaksana setiap dua tahun.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Akses energi merupakan masalah global yang belum terselesaikan. Saat ini 1,3 miliar penduduk dunia tanpa akses energi listrik. Selain itu, 2,4 miliar orang tak mampu mengakses energi panas yang sehat untuk memasak. Mereka tak punya fasilitas memasak sehat dan menggunakan biomassa, misalnya kayu bakar, yang mengganggu pernapasan.

Di sisi lain, lanjutnya, emisi karbon dioksida (CO2) global sudah melebihi 400 bagian per juta (part per million/ppm). Emisi CO2 pemicu utama perubahan iklim. Level aman kadar CO2 di atmosfer adalah 350 ppm.

Menurut Taylor, pemerintah dan pengambil keputusan cenderung tak punya banyak alternatif mengatasi krisis energi sekaligus menjaga lingkungan. Oleh karena itu, mahasiswa tepat disasar mengingat punya cukup waktu eksplorasi secara akademis sehingga memperbaiki keadaan.

Negara berkembang
Dasar pikiran itu membuat Indonesia sebagai penyelenggara ISES tahun ini memilih tema “Connecting the Unconnected” atau “Menghubungkan yang Belum Terhubung”. Terdapat kesenjangan pemanfaatan dan pengembangan energi antara negara maju dan berkembang.

Indonesia dan Institut Teknologi Bandung (ITB) menyisihkan perguruan tinggi ternama dari 15 negara untuk menjadi tuan rumah ISES 2015. Kegiatan dijadwalkan 9-13 Juni di Bali. Pencapaian tersebut menjadikan ISES untuk pertama kali diselenggarakan di negara berkembang. Sebelumnya selalu di negara maju, yakni Calgary, Kanada (2009); Vancouver, Kanada (2011); dan Trondheim, Norwegia (2013).

Hilman Syahri Fathoni, Ketua Penyelenggara ISES 2015, mengatakan, minim akses ke energi adalah masalah utama negara berkembang, termasuk Indonesia. Hampir tiga miliar penduduk dunia mengakses energi yang terputus-putus (intermittent energy). “Sejumlah daerah di Indonesia, misalnya, kerap mendapatkan pemadaman bergilir. Itu tentu mengganggu produktivitas masyarakat,” ujarnya.

Selain itu, Hilman menyebutkan, ketergantungan masyarakat Indonesia pada subsidi bahan bakar minyak (BBM) juga menjadikan ISES relevan. Pada saat Indonesia seharusnya terus membatasi penggunaan bahan bakar berbasis fosil demi mengurangi emisi GRK, publik menuntut subsidi BBM. Dilemanya, BBM terjangkau dinilai penting bagi pertumbuhan ekonomi.

Dengan jadi tuan rumah ISES, anak muda Indonesia ingin turut bermain di tingkat global dalam pembangunan berkelanjutan. Itu juga kesempatan Indonesia menunjukkan potensi energi baru dan terbarukan. Sumber energi itu antara lain air berpotensi 75 gigawatt (GW), surya (112 GW Peak), panas bumi (28,8 GW), angin (950 GW), biomassa (32 GW), bahan bakar nabati atau biofuel (32 GW), dan energi arus laut (60 GW) (Kompas, 18/4).

Hilman menyatakan, peserta ISES 2015 berasal dari sekitar 100 negara. Kriteria peserta mahasiswa S-1 hingga S-3 dengan usia 18-28 tahun. Menurut rencana, Wakil Presiden Jusuf Kalla membuka resmi dan Presiden Joko Widodo memberi kuliah umum. (JOG)
———————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 8 Juni 2015, di halaman 13 dengan judul “Pemuda Global Merespons Energi”.

Posted from WordPress for Android

Informasi terkait

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Berita ini 13 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Berita Terbaru

Artikel

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Artikel

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB