Home / Berita / Pembiayaan; Berjuang untuk Mendapatkan Beasiswa

Pembiayaan; Berjuang untuk Mendapatkan Beasiswa

Melanjutkan kuliah ke luar negeri masih menjadi pilihan untuk memperbaiki kualitas pendidikan bagi sebagian masyarakat Indonesia. Di antara begitu banyak negara tujuan, Inggris dan Australia merupakan salah satu tujuan kuliah yang populer. Penyebabnya, pada beberapa program studi tertentu, kedua negara ini memiliki kualitas yang lebih dari Indonesia.

”Sebenarnya, alasan ke universitas asing adalah karena kualitas pendidikan tingkat lanjut yang lebih baik daripada universitas negeri di Indonesia,” ujar Luqmanul Hakim, dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (FISIP UGM) saat ditemui di Jakarta, beberapa waktu lalu. Luqmanul adalah salah satu penerima beasiswa untuk melanjutkan kuliah strata tiga di Australia.

”Saya adalah dosen hubungan internasional dan fokus saya condong ke hubungan bilateral Indonesia-Australia. Jadi, universitas yang menawarkan beasiswa untuk program tersebut adalah Universitas Murdoch di Perth, Australia Barat,” kata Luqmanul. Oleh karena itu, untuk mendapatkan beasiswa di universitas tersebut, dia mendaftar pada program Australian Awards Scholarship (AAS).

Penerima beasiswa AAS umumnya adalah pegawai negeri sipil (PNS). Mereka berjumlah 70 persen dari total calon mahasiswa, sementara 30 persen sisanya berasal dari kalangan umum. Untuk tingkat akademis yang ditawarkan, 85 persen adalah untuk beasiswa strata dua, dan 15 persen untuk strata tiga. Berdasarkan data pada situs AAS, angkatan penerima beasiswa tahun 2014 berjumlah 529 orang.

AAS berinvestasi kepada para penerima beasiswa agar ketika mereka ke Australia, kualitas mereka lebih baik daripada sewaktu di Indonesia. Para penerima beasiswa diberi kursus gratis Bahasa Inggris. Jumlah waktu kursusnya tergantung dari kemampuan setiap individu. Ada yang hanya butuh delapan minggu, ada pula yang hingga satu tahun. Selama mereka menjalani kursus ini, AAS memberi uang saku sebesar Rp 3 juta per bulan.

Kelebihan lainnya, beasiswa AAS berlaku hingga tahun berikutnya apabila pelamar tidak diterima di universitas pilihannya. ”Penerimaan calon mahasiswa dilakukan beberapa bulan sebelum ujian masuk universitas. Apabila calon mahasiswa tidak diterima di dua universitas pilihannya, AAS akan merekomendasikan universitas lain yang syarat penerimaannya lebih mudah. Pilihan lainnya adalah, calon mahasiswa menunggu untuk mengikuti ujian masuk pada tahun ajaran berikutnya,” ujar Luqmanul.

Saat ini, Luqmanul masih mengikuti kursus Bahasa Inggris yang diberikan oleh AAS. Ia akan berangkat ke Universitas Murdoch bulan Januari 2015. Untuk beasiswa, setiap tahun, Luqmanul akan menerima 30.000 dollar Australia (Rp 322 juta).

Bagi Nadina Adelea, auditor di perusahaan PriceWater House, melanjutkan sekolah ke luar negeri adalah untuk memperdalam ilmu bisnis yang dia miliki. Masalahnya, jarang ada sekolah bisnis yang mau memberi beasiswa. Umumnya, beasiswa ke luar negeri menargetkan penerimanya untuk menjadi peneliti atau akademisi ketika telah menyelesaikan studinya.

Nadina berusaha mencari beasiswa dengan menggunakan jasa agen. Akan tetapi, hasilnya tetap nihil. ”Sekolah bisnis di Indonesia jarang bisa bersaing dengan luar negeri untuk program strata dua, sedangkan untuk kuliah ke luar negeri biayanya mahal sekali,” ujar Nadina. Namun, kesempatan untuk mendapat beasiswa ke Inggris akhirnya datang ketika Hult International Business School (HUIBS) mengadakan seminar di salah satu hotel berbintang di Jakarta.

Nadina mendatangi pembicara seminar tersebut. Ia menanyakan keuntungan kuliah di HUIBS. Setelah berdiskusi dan menjelaskan bahwa keadaan finansial tidak memungkinkan dia untuk membiayai kuliah di HUIBS secara mandiri, pihak HUIBS setuju untuk memberi Nadina beasiswa sebanyak 6.000 poundsterling (Rp 117 juta). Syaratnya, ia harus menyelesaikan kuliahnya dalam waktu satu tahun.

cara-mudah-mendapatkan-beasiswa-dalam-luar-negeri”Salah satu syaratnya adalah nilai rata-rata per semester minimal 2,67. Kalau di bawah itu, saya bisa didepak,” kata Nadina. Karena masa kuliah strata dua di HUIBS hanya berjangka satu tahun, setiap mahasiswa harus bekerja keras. Akibatnya, persaingan yang tinggi membuat masa kuliah menjadi menantang. Apalagi, Nadina juga harus memperlancar kemampuan berbahasa Inggris secara akademis.

Namun, menurut Nadina, cara mengajar para dosen yang komunikatif dan menekankan pada diskusi, membuatnya cepat memahami pelajaran. Ia menambahkan, pada semester pertama, ia nyaris kehilangan beasiswa karena salah satu dosen keliru dalam memberi nilai. Dosen tersebut akhirnya memperbaiki kekeliruannya sehingga Nadina bisa menyelesaikan studinya dengan lancar. (A15)

Sumber: Kompas, 30 Oktober 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: