Home / Berita / Peluncuran Buku; Catatan Seorang Aktivis, Pemikir, dan Organisator

Peluncuran Buku; Catatan Seorang Aktivis, Pemikir, dan Organisator

Kulit buku itu bergambar wajah Ismid Hadad, namun tanpa namanya. Buku itu bukan biografi, kata Ismid yang 29 April 2015 lalu genap 75 tahun.

Buku itu hanya berisi catatan kiprah Ismid di berbagai organisasi-terutama sebagai pendiri. Mulai dari organisasi kemahasiswaan, pers, lingkungan (dalam arti luas), hingga filantropi.

Ruang Ballroom Hotel JS Luwansa, Jakarta, Minggu (10/5), dipenuhi sekitar 100 undangan. Mereka terlibat dalam penyiapan buku dan dekat dengan pergulatan Ismid.

Acara itu dihadiri penyair Taufiq Ismail, mantan Menteri Lingkungan Hidup dan Kependudukan serta tokoh lingkungan Emil Salim, tokoh lingkungan Erna Witoelar, Faby Tumiwa-sang menantu, Bernardus Steni, pegiat kemasyarakatan Zoemrotin, Toriq Hadad, Dawam Rahardjo, Usman Hamid, dan Goenawan Mohamad.

Ismid_HadadKiprah Ismid berawal pada zaman pergerakan mahasiswa yang memprotes pemerintahan Orde Lama di bawah Soekarno yang menyebut diri Panglima Besar Revolusi. Sejak 1966, Ismid melahirkan berbagai organisasi dan yayasan di bidang pers, lingkungan, dan filantropi.

Ismid aktif di Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia serta menjadi pendiri dan pimpinan Harian KAMI milik Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia. Tandem dengan Nono Anwar Makarim, Ismid bersama Taufiq Ismail dan Mochtar Lubis melahirkan majalah sastra Horison, mendirikan Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial, Yayasan Kehati, Yayasan Pembangunan Berkelanjutan, serta aktif di Dewan Nasional Perubahan Iklim Indonesia. Ismid turut mendirikan Yayasan Pangkai Meureunoe Aneuk Nelayan-untuk pemberdayaan nelayan, petani, dan buruh di Aceh.

Selain mewariskan prinsip agar LSM mewujudkan dana cadangan (abadi), “Ismid membawa organisasi lingkungan lebih jauh dari advokasi,” kata Erna. Isu lingkungan dibawanya ke isu keberlanjutan, sosial, ekonomi.

Dia mendirikan lebih dari 20 organisasi. Sebagian besar masih berjalan baik. “Orang biasanya ramai di awal, tetapi satu-dua tahun kemudian bekasnya tak ada. Seperti mercon, petasan. Meletus keras lalu lenyap. Saya tak mau seperti itu,” ujar Ismid.

Menurut Emil, Ismid yang kelahiran Surabaya ini adalah Man of Action dan selalu mengupayakan jalan keluar.

Ketika sejumlah mahasiswa pergerakan 1966 menjadi menteri, anggota DPR, dan masuk lingkungan kekuasaan, Ismid bertahan di luar. “Siapa nanti yang memperhatikan pilar ketiga atau keempat demokrasi kemasyarakatan?” ujar Ismid.

Emil menyebutkan, “Dia selalu risau. Keadaan begitu kacau, namun saat orang sudah berganti, sistem ternyata tetap. Mereka yang risau ini berkelana, berpikir, membaca, dan berdialog mencari jalan keluar.” “Ia berani mengatakan, hitam adalah hitam, putih ialah putih,” lanjutnya.

Taufiq yang mengenalnya masa pergerakan menyebut Ismid sebagai aktivis, pemikir, dan organisator. (ISW)
———-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 12 Mei 2015, di halaman 14 dengan judul “Catatan Seorang Aktivis, Pemikir, dan Organisator”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Hujan Menandai Kemarau Basah akibat Menguatnya La Nina

Hujan yang turun di Jakarta dan sekitarnya belum menjadi penanda berakhirnya kemarau atau datangnya musim ...

%d blogger menyukai ini: