Peluncuran Buku; Catatan Seorang Aktivis, Pemikir, dan Organisator

- Editor

Jumat, 15 Mei 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kulit buku itu bergambar wajah Ismid Hadad, namun tanpa namanya. Buku itu bukan biografi, kata Ismid yang 29 April 2015 lalu genap 75 tahun.

Buku itu hanya berisi catatan kiprah Ismid di berbagai organisasi-terutama sebagai pendiri. Mulai dari organisasi kemahasiswaan, pers, lingkungan (dalam arti luas), hingga filantropi.

Ruang Ballroom Hotel JS Luwansa, Jakarta, Minggu (10/5), dipenuhi sekitar 100 undangan. Mereka terlibat dalam penyiapan buku dan dekat dengan pergulatan Ismid.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Acara itu dihadiri penyair Taufiq Ismail, mantan Menteri Lingkungan Hidup dan Kependudukan serta tokoh lingkungan Emil Salim, tokoh lingkungan Erna Witoelar, Faby Tumiwa-sang menantu, Bernardus Steni, pegiat kemasyarakatan Zoemrotin, Toriq Hadad, Dawam Rahardjo, Usman Hamid, dan Goenawan Mohamad.

Ismid_HadadKiprah Ismid berawal pada zaman pergerakan mahasiswa yang memprotes pemerintahan Orde Lama di bawah Soekarno yang menyebut diri Panglima Besar Revolusi. Sejak 1966, Ismid melahirkan berbagai organisasi dan yayasan di bidang pers, lingkungan, dan filantropi.

Ismid aktif di Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia serta menjadi pendiri dan pimpinan Harian KAMI milik Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia. Tandem dengan Nono Anwar Makarim, Ismid bersama Taufiq Ismail dan Mochtar Lubis melahirkan majalah sastra Horison, mendirikan Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial, Yayasan Kehati, Yayasan Pembangunan Berkelanjutan, serta aktif di Dewan Nasional Perubahan Iklim Indonesia. Ismid turut mendirikan Yayasan Pangkai Meureunoe Aneuk Nelayan-untuk pemberdayaan nelayan, petani, dan buruh di Aceh.

Selain mewariskan prinsip agar LSM mewujudkan dana cadangan (abadi), “Ismid membawa organisasi lingkungan lebih jauh dari advokasi,” kata Erna. Isu lingkungan dibawanya ke isu keberlanjutan, sosial, ekonomi.

Dia mendirikan lebih dari 20 organisasi. Sebagian besar masih berjalan baik. “Orang biasanya ramai di awal, tetapi satu-dua tahun kemudian bekasnya tak ada. Seperti mercon, petasan. Meletus keras lalu lenyap. Saya tak mau seperti itu,” ujar Ismid.

Menurut Emil, Ismid yang kelahiran Surabaya ini adalah Man of Action dan selalu mengupayakan jalan keluar.

Ketika sejumlah mahasiswa pergerakan 1966 menjadi menteri, anggota DPR, dan masuk lingkungan kekuasaan, Ismid bertahan di luar. “Siapa nanti yang memperhatikan pilar ketiga atau keempat demokrasi kemasyarakatan?” ujar Ismid.

Emil menyebutkan, “Dia selalu risau. Keadaan begitu kacau, namun saat orang sudah berganti, sistem ternyata tetap. Mereka yang risau ini berkelana, berpikir, membaca, dan berdialog mencari jalan keluar.” “Ia berani mengatakan, hitam adalah hitam, putih ialah putih,” lanjutnya.

Taufiq yang mengenalnya masa pergerakan menyebut Ismid sebagai aktivis, pemikir, dan organisator. (ISW)
———-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 12 Mei 2015, di halaman 14 dengan judul “Catatan Seorang Aktivis, Pemikir, dan Organisator”.

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?
Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia
Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN
Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten
Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker
Lulus Predikat Cumlaude, Petrus Kasihiw Resmi Sandang Gelar Doktor Tercepat
Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel
Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina
Berita ini 19 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 24 April 2024 - 16:17 WIB

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?

Rabu, 24 April 2024 - 16:13 WIB

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 April 2024 - 16:09 WIB

Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN

Rabu, 24 April 2024 - 13:24 WIB

Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten

Rabu, 24 April 2024 - 13:20 WIB

Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker

Berita Terbaru

Tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada menerbangkan karya mereka yang memenangi Kontes Robot Terbang Indonesia di Lapangan Pancasila UGM, Yogyakarta, Jumat (7/12/2018). Tim yang terdiri dari mahasiswa UGM dari berbagai jurusan itu dibentuk tahun 2013 dan menjadi wadah pengembangan kemampuan para anggotanya dalam pengembangan teknologi robot terbang.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO (DRA)
07-12-2018

Berita

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 Apr 2024 - 16:13 WIB