Home / Berita / Para Pencinta Awan

Para Pencinta Awan

Awan membawa daya tarik tersendiri, mulai dari bentuk yang beraneka ragam hingga efek tenang ketika dipandang. Tidak mengherankan, ada orang-orang yang dengan setia mengabadikan awan-awan yang sedang melukisi langit….

Di mana pun, langit sebenarnya sama, tetapi akan terlihat berbeda berkat awan yang menghiasinya. Langit bagaikan kanvas. Matahari terbenam, matahari terbit, atau sinar matahari akan tampak berbeda dari waktu ke waktu dengan kehadiran awan yang berubah-ubah bentuknya.

Nina Nuraisyiah sudah sepuluh tahun terakhir senang memotret awan, terutama sejak ia bekerja di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Langit di Palangkaraya jauh lebih biru, jernih, dan bersih ketimbang langit di Jakarta, tempat tinggalnya sejak kecil. Langit ini kemudian tampak lebih menarik karena sering berhias dengan kumpulan awan cumulus, seperti kumpulan kapas putih aneka bentuk.

”Dari kecil suka melihat awan. Namun, baru setelah kerja di Palangkaraya saya terdorong untuk mengabadikan awan-awan yang saya lihat. Langit di sana bersih sehingga kelihatan biru sekali. Rasanya luas, tanpa batas. Lega memandangnya. Melihat awan di langit juga seperti ada yang menyapa ingin menunjukkan sesuatu,” ungkap Nina.

Nina sering mendapati bentuk awan yang unik ketika memandang langit Palangkaraya. Bentuk awan yang menyerupai Goofy, tokoh anjing dalam karakter kartun Disney, aneka bentuk yang mirip kepala binatang, atau formasi awan yang menyusun bentuk seperti gunung adalah bentuk-bentuk awan yang disukainya.

Awan-awan yang terlihat dramatis, yakni awan hitam yang membelakangi sinar matahari, juga menjadi kesukaan Nina. Cahaya matahari jadi tampak seperti sedang diikat oleh awan hitam. Awan ini tampaknya dari jenis stratocumulus.

Bentuk-bentuk awan selalu memantik imajinasinya. Sebuah kapal bercat merah yang tengah bersandar di tepi sungai tampak seperti tengah memancarkan gelombang ketika segaris awan tipis melengkung seolah-olah muncul dari bagian atas kapal, lalu memanjang terus ke atas menghiasi langit. Awan ini tampaknya jenis awan cirrus yang tidak menimbulkan hujan.

”Saya enggak pernah bisa tahan untuk tidak mengabadikan kalau sudah lihat awan. Biasanya pasti mengeluarkan ponsel untuk memotret awan yang saya lihat,” lanjut Nina yang sehari-hari bekerja sebagai Koordinator Komunikasi World Wildlife Fund Program Kalimantan Tengah.

e65ff6e74e07493f807d2c5b0b921e4fWatty, pehobi memotret awan, menunjukkan beberapa koleksi fotonya.

Awan sebenarnya adalah kumpulan titik air atau kristal es di langit atau atmosfer yang terjadi karena pengembunan uap air di udara setelah melampaui titik jenuh. Perubahan bentuk awan terjadi karena titik-titik air atau kristal es pembentuk awan bertemu dengan udara panas sehingga titik air akan menguap atau kristal es akan mencair dan awan pun menghilang.

Ada sepuluh jenis awan utama, yakni stratocumulus, cumulus, stratus, nimbostratus, altocumulus, altostratus, cirrus, cirrostratus, cirrocumulus,dan cumulonimbus.Macam-macam awan ini menjadi petunjuk apakah hari akan hujan atau tidak, bersalju, atau bahkan berakhir dengan badai. Awan-awan ini berada pada tiga jenis ketinggian yang berbeda, yakni awan rendah, sedang, dan tinggi.

Selain langit Palangkaraya, langit Bali, Yogyakarta, dan Solo juga menjadi favorit Nina. Selain terpesona melihat awan ketika kaki memijak bumi, Nina pun senang memotret awan ketika berada di dalam perut pesawat, terbang bersama awan. Gerumbul awan yang melayang-layang dan terlihat dari bagian atas selalu menarik hatinya untuk memotret.

Aurina Setyawitta (51) juga gemar memotret awan ketika berada di dalam pesawat. Selain karena senang melihat awan, kegemarannya ini juga untuk mengisi waktu ketika berada di dalam badan si burung besi yang kerap kali terasa membosankan.

”Saya paling kagum dengan bentuk awan dan warna langit. Meskipun setiap hari kita memandang langit yang sama dari sebuah titik yang sama di atas bumi, akan selalu terlihat beda dengan kehadiran awan-awan yang selalu berubah bentuk dan warna,” kata Witta, sapaan akrabnya.

Selain di pesawat, ia memotret awan di mana pun yang terlihat unik saat itu. Witta bisa tiba-tiba meminta sopirnya menghentikan mobil agar ia bisa turun dan mengambil foto awan yang dilihatnya saat itu. Saat-saat melintas di jalan tol juga dinikmati Witta karena memberinya kesempatan melihat langit dengan bentuk awan yang beraneka ragam. Memotret segala sesuatu yang berada di luar ruangan pun selalu ia upayakan mengikutsertakan awan-awan di belakangnya. ”Jangan sampai awannya enggak kelihatan,” katanya.

Memandang awan akan membawanya mengembangkan harapan. Kerap kali tanpa disadari, sambil memandangi awan, Witta akan melayangkan harapannya kepada semesta tentang pergi ke sebuah tempat. Tidak jarang harapannya itu terkabul.

”Lagi panas-panas lihat langit terus berkhayal, ah enak kayaknya ya kalau ke tempat A. Eh, ternyata di kemudian hari dapat tugas ke tempat A tersebut,” kata Witta tentang pengalaman personalnya.

Semula foto-foto awannya yang diambil lewat kamera ponsel atau kamera digitalnya hanya dibiarkan begitu saja. Kadang-kadang kemudian dihapus. Baru empat tahun ia mulai serius mengumpulkan foto-foto tersebut dan melengkapinya dengan catatan. ”Misalnya, kalau lagi ke luar negeri atau luar kota, saya kasih catatan. Foto awan itu saya ambil di mana, ketika suhu berapa,” ujar Witta.

Ia terinspirasi buku memo yang ditemui di sebuah bandara dalam perjalanannya ke Toronto, Kanada. Buku catatan itu bersampul gambar langit dengan segerombol awan biru bertuliskan ”Toronto, Kanada 3°”.

”Pengin suatu saat bikin buku berisi foto-foto awan yang sudah saya buat. Lagi memikirkan kontennya supaya menarik dan punya makna,” kata Witta yang tercatat sebagai Direktur Eksekutif The International Award for Young People Indonesia.

Langit pagi yang biru berawan tipis dengan bulan yang masih tampak adalah salah satu kesukaannya. Langit seperti ini sering ia saksikan di halaman rumahnya. Jika sedang beruntung dan langit Jakarta cerah, dari rumahnya di Cinere, Witta bisa menyaksikan langit berhias siluet Gunung Gede di kejauhan. Awan-awan yang ia saksikan ketika berada di pantai juga menjadi favoritnya.

”Foto awan-awan itu jadi seperti penanda dan pengingat buat saya. Oh, saya dulu pernah ke sini dalam suasana begini,” ujarnya.

SRI REJEKI
—————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 14 Februari 2016, di halaman 32 dengan judul “Para Pencinta Awan”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: