Home / Berita / Pandemi dan Hancurnya Keragaman Hayati

Pandemi dan Hancurnya Keragaman Hayati

Kerusakan dan kehilangan hutan yang berdampak pada pemerosotan keanekaragaman hayati berelasi kuat dengan wabah zoonosis.

Pandemi Covid-19 jelas bukan rekayasa laboratorium, pandemi ini tidak bisa dilepaskan dari ulah manusia. Ketika kita menghancurkan keanekaragaman hayati dengan menebang hutan dan membangun lebih banyak infrastruktur, saat itulah kita meningkatkan risiko ledakan wabah.

Setelah menjadi episenter awal pandemi Covid-19, China saat ini kembali dibayangi adanya wabah baru, yaitu wabah pes atau bubonic plague. Penyakit menular ini telah menelan korban jiwa di Desa Suji Xincun, Kota Baotou, Inner Mongolia, pada Minggu (8/8/2020).

Komisi Kesehatan Kota Baotou dalam keterangan di laman mereka menyebutkan, sembilan kontak dekat dan 26 kontak sekunder pasien telah dikarantina dan dinyatakan negatif. Namun, Damao Banner, setingkat kecamatan yang membawahkan Desa Suji Xincun telah disiagakan Tingkat 3 untuk pencegahan wabah hingga akhir tahun.

Itu merupakan kasus kedua dan kematian pertama dari wabah pes yang dikonfirmasi China tahun ini. Kasus sebelumnya ditemukan pada Juli 2020 di Bayannur, kota lain di Inner Mongolia, yang menyebabkan dikeluarkannya peringatan Tingkat 3 lainnya dan penutupan beberapa tempat wisata.

Wabah pes, yang disebabkan oleh bakteri dan ditularkan melalui gigitan kutu dan hewan, utamanya tikus, yang terinfeksi ini pernah menewaskan sekitar 50 juta orang di Eropa selama pandemi Kematian Hitam (Black Death) pada Abad Pertengahan. Penyakit pes ini menyebabkan pembengkakan kelenjar getah bening yang menyakitkan serta demam, menggigil, dan batuk.

Sebelumnya, China juga menjadi episentrum awal bagi penyakit sindrom pernapasan akut parah (SARS) yang berasal dari infeksi virus korona, SARS-CoV-1. Sindrom ini menyebabkan wabah SARS yang menjangkiti sejumlah negara pada tahun 2002-2004. Kajian genetika menemukan, virus korona ini awalnya berinang di kelelawar tapal kuda dan melompat ke musang, sebelum beralih ke manusia.

Seperti kita ketahui, episenter awal wabah Covid-19 yang dipicu oleh SARS-CoV-2 juga terjadi di China, persisnya kota Wuhan. Hingga kini, wabah telah menginfeksi lebih dari 20,5 juta orang dan menewaskan 746.000 orang secara global.

”Selain Covid-19, China telah mengalami empat zoonosis lain dalam bebrapa bulan terakhir, yaitu hantavirus, G4 strain swine flu, tick-borne virus, dan bubonic plague,” kata Ketua Komisi Ahli Kesehatan Hewan, Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan Karantina Hewan Tri Satya Putri Naipospos.

Pandemi dan Hancurnya Keragaman Hayati
Kemunculan wabah-wabah mematikan di China ini bukan suatu kebetulan. Seperti kita ketahui, sejak dua dekade terakhir pembangunan di China berlangsung sangat cepat. Namun, pembangunan di negara dengan populasi tertinggi di dunia ini juga diikuti dengan merosotnya keanekaragaman hayati yang masif.

”Faktor hilangnya keanekaragaman hayati, baik karena perubahan ekosistem, perburuan, maupun perdagangan liar, yang semakin marak ini juga terjadi di Indonesia,” kata Tri. Padahal, hal ini merupakan faktor utama terjadinya lompatan penyakit dari hewan ke manusia atau dikenal sebagai zoonosis.

Tak hanya di China, sejumlah penyakit yang menjadi wabah global dalam satu abad terakhir mayoritas dipicu oleh zoonosis. Beberapa contoh lain adalah ebola dan HIV yang awalnya menjangkiti satwa liar Afrika. Setidaknya, sejak 1940 ditemukan 335 penyakit baru, sebanyak 60,3 persennya zoonosis dan 71,8 persennya dari satwa liar.

Penyakit zoonosis paling sering menginfeksi manusia secara langsung ketika mereka menangani primata hidup, kelelawar, dan satwa liar lainnya. Namun, bisa juga secara tidak langsung dengan menulari terlebih dulu hewan ternak seperti ayam dan babi, baru ke manusia.

Biodiversitas merosot
Banyak ahli ekologi telah lama mencurigai adanya kaitan langsung antara merosotnya keanegaragaman hayati di alam dengan ledakan wabah. Ini dikuatkan dengan kajian Kate Jones, ahli pemodelan ekologi dari University College London dan tim di jurnal Nature pada 5 Agustus 2020.

Kajian yang dilakukan dengan menganalisis 6.800 lokasi di enam benua ini menemukan, populasi spesies inang penyakit yang dapat menular ke manusia, termasuk 143 mamalia seperti kelelawar, tikus, dan berbagai primata, justru meningkat seiring dengan perubahan hutan ke perkotaan. Ketika sebagian spesies di alam liar punah akibat ulah manusia, mereka yang bertahan dan berkembang itu cenderung menyimpan lebih banyak patogen dan parasit berbahaya.

Dengan menganalisis hubungan antara faktor perubahan tata guna lahan, ekologi, iklim, dan keanekaragaman hayati, Jones dan tim membuat peta risiko kecepatan penyebaran virus ebola di Afrika. Peta risiko ini secara akurat memprediksi area ledakan wabah ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) dalam beberapa tahun terakhir.

Keanekaragaman hayati Indonesia yang tinggi dan saat ini mengalami tekanan besar karena pembukaan hutan juga bisa menjadi episenter wabah baru. ”Potensi atau risiko munculnya zoonotik di Indonesia memang ada, tetapi data surveilans masih terbatas,” kata peneliti dari Pusat Studi Satwa Primata Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat IPB University, Joko Pamungkas.

Joko, yang merupakan Koordinator Predict-Indonesia, melakukan surveilans untuk mengetahui risiko zoonosis di sejumlah daerah di Sulawesi pada 2011-2019. Surveilans yang dilakukan terhadap tiga 3 takson satwa primata, rodensia, dan kelelawar ini menemukan belasan virus baru dan sejumlah virus yang telah diketahui sebelumnya. Di antaranya genus Paramyxoviruses, Coronaviruses, Astroviruses, Rhabdoviruses, dan Herpesviruses.

Virus nipah yang menyebabkan radang otak dan sempat mewabah di sejumlah negara, termasuk Malaysia dan India, merupakan anggota genus Paramyxoviruses. Sementara SARS-CoV-1 dan SARS-CoV-2 merupakan keluarga dari Coronavirus.

”Virus korona yang kami temukan beda dengan pemicu SARS atau Covid-19, tetapi Betacoronavirus yang hanya menyebabkan demam biasa. Sejauh ini belum ditemukan virus yang bisa menjadi ancaman mematikan bagi manusia, tetapi itu mungkin karena keterbatasan survei,” kata Joko.

Untuk kelelawar, yang disurvei baru dua genus dengan ukuran besar yang biasa dikonsumsi sebagian penduduk di Sulawesi. ”Ke depan, kita perlu melakukan surveilans terhadap Rhinolophidaei (kelelawar tapal kuda), yang menjadi inang awal virus SARS dan SARS-CoV-2. Kelelawar ini juga ditemukan di Kalimantan, Sumatera, dan Jawa,” katanya.

Menurut Joko, surveilans tentang risiko zoonosis di Indonesia semakin dibutuhkan seiring dengan gencarnya pembukaan hutan. Contoh nyata zoonosis yang sudah terjadi adalah penyebaran parasit malaria baru Plasmodium knowlesi di Indonesia.

Inang alami parasit P knowlesi, yakni monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), monyet ekor babi (Macaca nemestrina), dan langur (Presbytis melalophos). Namun, parasit ini telah menulari manusia. Kementerian Kesehatan mencatat ada 13 kasus malaria P knowlesi di sekitar hutan di Kalimantan dan Sumatera Utara pada 2014.

Berikutnya, pada 2015, ada 377 kasus malaria P knowlesi dengan sampel dari Sumatera Utara. Peneliti Lembaga Biologi Molekuler Eijkman baru-baru ini juga menemukan bahwa parasit malaria ini di Aceh dan Jambi.

Sejarah telah mencatat, wabah penyakit telah menjadi pembunuh utama manusia. Pandemi Covid-19 menjadi bukti terbaru, betapa besar dampaknya bagi kehidupan. Padahal, dengan semakin masifnya kerusakan alam liar, wabah bakal semakin sering terjadi.

Oleh AHMAD ARIF

Editor: ICHWAN SUSANTO

Sumbet: Kompas, 13 Agustus 2020

Share
x

Check Also

Melihat Aktivitas Gajah di Terowongan Tol Pekanbaru-Dumai

Sejumlah gajah sumatera (elephas maximus sumatranus) melintasi Sungai Tekuana di bawah terowongan gajah yang dibangun ...

%d blogger menyukai ini: