Pabrik Multiguna Atasi Kebuntuan Industri

- Editor

Rabu, 26 April 2017

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sebesar 96 persen bahan baku obat Indonesia diimpor dari sejumlah negara. Di tengah tumbuhnya pasar farmasi nasional, ketergantungan itu mengancam ketahanan nasional. Namun, membangun pabrik bahan baku obat bukan perkara mudah, banyak kendala menghadang.

Pembangunan pabrik bahan baku obat (BBO) di Indonesia digagas sejak beberapa dekade lalu. Namun, tidak terpenuhinya skala keekonomian, kurangnya komitmen pemerintah, dan aturan yang belum mendukung membuat upaya itu belum berhasil.

Untuk mengatasi kendala itu, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menggagas pembangunan pabrik multiguna (multipurpose plant) pengolah pati menjadi berbagai produk, termasuk BBO. Pabrik direncanakan dibangun di Lampung mulai tahun depan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Dari pati singkong bisa dihasilkan berbagai produk turunan, mulai dari bioetanol, bahan pangan, hingga bahan baku kosmetik dan obat,” kata Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi Eniya Listiani Dewi, di Jakarta, Selasa (25/7).

BBO dari pati itu diperoleh dengan pengolahan khusus hingga produk memiliki tingkat (grade) kualitas tertentu sebagai produk farmasi. Dari pati singkong itu, antara lain, bisa diperoleh produk untuk bahan gula dalam cairan infus atau obat sirup dan bahan pengisi (filler) tablet.

Pemenuhan berbagai produk itu selama ini masih mengandalkan impor. Pembangunan pabrik BBO butuh investasi besar, punya aturan dan standar tinggi, pengawasan intensif, dan sumber daya kompeten. Persaingan dengan industri farmasi multinasional pun sangat ketat.

Berbagai kendala itu membuat pembangunan industri BBO tak bisa diserahkan ke pabrik farmasi tunggal atau pabrik farmasi semata karena butuh investasi sangat besar. Konsep satu pabrik menghasilkan banyak produk itu diharap bisa mengatasi persoalan skala ekonomi dan membuat industri lebih kompetitif.

Dorongan pembangunan pabrik multiguna itu merupakan salah satu rekomendasi Kongres Teknologi Nasional 2017 bidang teknologi kesehatan pekan lalu.

Sejumlah industri farmasi nasional pun mendukung gagasan itu dan diharap bisa memecahkan kebuntuan pembangunan industri BBO. Ide itu juga membantu mewujudkan kemandirian industri farmasi nasional sesuai Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan.

Menekan ketergantungan
Di luar masalah ekonomi, pembangunan pabrik multiguna diharap menekan ketergantungan Indonesia pada BBO impor, khususnya dari China dan India. “Industri BBO perlu dibangun sebagai substitusi impor, mendukung kemandirian bangsa dan ketahanan nasional,” kata Direktur Pusat Teknologi Farmasi dan Medika BPPT Imam Paryanto.

Pembangunan industri bahan baku obat nasional kian penting mengingat kebutuhan obat nasional terus meningkat. Pada 2017, Indonesia adalah pasar industri farmasi terbesar 20 di dunia dan yang terbesar di ASEAN. Pada 2016, pasar farmasi Indonesia mencapai Rp 64,3 triliun. Impor bahan baku obat pada tahun yang sama sebesar Rp 5 triliun yang diimpor 50 pedagang besar bahan baku farmasi.

Pasar dan impor bahan baku itu diyakini akan terus naik seiring tumbuhnya ekonomi dan jumlah penduduk. (MZW)
—————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 26 Juli 2017, di halaman 14 dengan judul “Pabrik Multiguna Atasi Kebuntuan Industri”.

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Berita ini 14 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:29 WIB

Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?

Kamis, 30 April 2026 - 08:24 WIB

Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM

Berita Terbaru