Home / Berita / Astronomi / Observatorium Nasional Dibangun di Gunung Timau

Observatorium Nasional Dibangun di Gunung Timau

Observatorium nasional segera dibangun di Gunung Timau, Desa Fatumonas Amfoang Tengah, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Lokasi itu dinilai sangat strategis karena kondisi cakrawala masih sangat cerah dan mudah memantau berbagai benda langit.

Observatorium Amfoang bakal dibangun tahun 2016 di atas lahan 25 hektar. “Pemerintah masih sosialisasi,” kata Bupati Kupang Ayub Titu Eki di Kupang, Kamis (28/5). Observatorium merupakan bangunan di lokasi khusus dengan perlengkapan yang diletakkan permanen untuk melihat langit dan peristiwa yang berhubungan dengan angkasa.

Di lokasi observatorium Amfoang, nantinya juga dibangun science centre bidang pertanian, peternakan, kelautan, dan kehutanan. Namun, akses jalan ke sana masih dibangun.

Proyek tersebut dibangun Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) awal 2016 dengan dana sekitar Rp 6 miliar untuk tahap pertama.

Observatorium itu akan dilengkapi alat yang lebih canggih dibandingkan dengan alat yang ada di Observatorium Bosscha, Jawa Barat.

Masyarakat Amfoang dikabarkan menyediakan lahan cuma-cuma seluas 30 hektar, selain tanah pemerintah di Gunung Timau. Lokasinya pada ketinggian 2.300 meter di atas permukaan laut. Lokasi Desa Fatumonas 85 kilometer dari Oelamasi, ibu kota Kabupaten Kupang.

“Dampak ekonomi akan datang sendiri. Lokasi ini bakal jadi pusat obyek wisata baru di Kabupaten Kupang. Warga lokal akan dipekerjakan sesuai kebutuhan terkait wisata, studi banding, penelitian, dan kedatangan ilmuwan antariksa, mahasiswa, akademisi, serta masyarakat luas ke lokasi itu,” kata Titu Eki.

Karena lokasi itu berdekatan dengan Distrik Oecussi, Timor Leste, yakni sekitar 10 kilometer, pemerintah berencana memberi kesempatan kepada warga Timor Leste mengunjungi observatorium tersebut. Kehadiran mereka sebagai turis asing, lanjut Titu Eki, juga turut menghidupkan ekonomi masyarakat setempat.

img_9208Berdasarkan yang berlaku secara global, observatorium pengamatan angkasa bukanlah bangunan biasa yang bebas syarat. Kawasan observatorium dipilih di lokasi yang jauh dari permukiman dan keramaian. Bahkan, jenis pohon yang ditanam pun tidak bisa asal ditanam.

Anggota DPRD Kabupaten Kupang, Yohanes Yulius Masse, mengatakan, pemerintah segera membangun akses jalan dari Oelamasi ke Gunung Timau, sekaligus tembus ke Oepoli, perbatasan dengan Timor Leste, Distrik Oecussi. Panjang ruas jalan itu sekitar 85 kilometer. Sudah dibangun jalan aspal 21 kilometer, sedangkan sisanya hanya berupa jalan pengerasan, yakni batu, pasir, dan kerikil. Setiap musim hujan, akses jalan ke wilayah itu ditutup karena longsor dan jalan rusak. (KOR)
—————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 29 Mei 2015, di halaman 14 dengan judul “Observatorium Nasional Dibangun di Gunung Timau”.

———

Lapan to Build Observatory in East Nusa Tenggara

The National Institute of Aeronautics and Space (LAPAN) will build an observatory in Gunung Timau forest, Central Amfoang Sub-district, Kupang District, East Nusa Tenggara, in 2016.

First Secretary of LAPAN Arisdyo noted here on Monday that the observatory will be built on a 30-hectare plot of land at the location, whereas the construction will commence in early 2016.

“We are going to use some vacant lands in the area to ensure that there will be no destruction of the forest,” Arisdyo affirmed.

Arisdyo stated that the Bosscha Observatory in Lembang, Bandung District, West Java Province, was no longer considered to be optimal for observing terrestrial or celestial events due to light pollution caused by excessive, misdirected, or obtrusive artificial light in the environment.

Therefore, it was necessary for LAPAN to find a new location, which is not affected by various forms of pollution such as light, sound, and air.

Based on satellite imagery, Mount Timau in Kupang District was considered to be an ideal location for building a new observatory.

“Therefore, we came here to seek permission from the Kupang Administration and the governor of East Nusa Tenggara,” Arisdyo remarked after meeting the governor.

Head of East Nusa Tenggara’s Forestry Office Ben Polo Main noted that the 30-hectare plot of land for the new observatory was an inhabited state land.

“Therefore, LAPAN should seek a permit from the Ministry of Forestry in the first place,” Main pointed out.

Head of Bosscha Observatory Mahasena Putra stated that the new observatory to be built at Mount Timau will use more sophisticated systems and devices than Bosscha.

The Bosscha Observatory, built by a Dutch national Karel Albert Rudolf Bosscha in 1923, is the oldest observatory in Indonesia.

It is located on a hilly six-hectare plot of land in Lembang, West Java Province.

The aging observatory in Lembang, however, can still be used for observation, scientific activities, and tourism. (ant/mar)

Source: SkalaNews, Senin , 25 Mei 2015

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

”Big Data” untuk Mitigasi Pandemi di Masa Depan

Kebijakan kesehatan berbasis “big data” menjadi masa depan pencegahan pandemi berikutnya. Melalui ”big data” juga, ...

%d blogger menyukai ini: