Home / Berita / arkeologi-antropologi / Nenek Moyang Manusia, Gorila atau Anoman?

Nenek Moyang Manusia, Gorila atau Anoman?

PAMERAN dalam rangka memperingati 100 tahun ditemukannya fosil Pithecanthropus (manusia purba) yang dibuka 21 Agustus lalu masih akan berlangsung hingga akhir Oktober mendatang. Pameran dengan materi yang banyak andil dalam mengungkap kisah perjalanan nenek moyang manusia Jawa itu menarik tak hanya sebagai tontotan penambah pengetahuan namun juga menunjukkan kekayaan khasanah budaya manusia Jawa masa lalu. Sekaligus pameran tersebut berupaya memecah misteri siapa sebenarnya nenek moyang manusia, gorila atau anoman seperti yang diangankan wartawan Suara Merdeka Gojek Joko Santoso, yang kemudian dituliskannya di halaman VII.

Sebagian masyarakat Jawa masih memiliki keyakinan bahwa kisah wayang merupakan suatu peristiwa yang pernah hidup pada berabad-abad yang lampau. Bahkan keyakinan ini makin kuat dengan adanya cerita wayang yang menyebutkan manusia Jawa adalah turunan dari Parikesit cucu keluarga Pandawa. Dengan kata lain, dunia wayang merupakah leluhur manusia. Pun pula diyakini, bahwa di tanah Jawa ratusan tahun lampau pernah hidup raksasa-raksasa seperti yang diceritakan dalam kisah wayang tersebut. Maka ketika di lembah Bengawan Solo diketemukan fosil-fosil manusia purba, orang-orang sekitar lebih menganggapnya sebagai balung buta, fosil tulang raksasa yang dibunuh oleh para ksatria atau mati karena peperangan. Dan ada yang beranggapan fosil-fosil purbakala yang ditemukan di tanah Jawa adalah tulang belulang dari mereka yang menjadi korban perang besar Mahabarata di padang Kurusetra.

Jauh sebelum Dr Eugen Dubois menemukan tengkorak manusia mirip kera di Desa Trinil, lembah Solo pada tahun 1891 yang diperkenalkan sebagai The missing link-nya Charles Darwin, orang-orang Jawa, terutama kalangan petani telah banyak menemukan fosil-fosil sejenis. Namun karena keterbatasan pengetahuan disamping begitu kuatnya menggenggam dongeng-dongeng lama semacam kisah wayang, maka fosil-fosil yang ditemukan dianggapnya sebagai balung buta. Ternyata apa yang disebut “Raksasa Jawa” itu kemudian oleh Voen Koenigswald diyakini sebagai manusia purba jenis Meganthropus Palaeojavanicus, yang fosilnya telah diketemukan oleh sarjana asal Jerman itu di Sangiran, dekat Solo. Seperti halnya Dubois, Koenigswald datang ke bumi Nusantara dan berburu fosil purbakala antara tahun 1939-1941 sehubungan usahanya mencari The missing link dari teori evolusi asal-usul manusia itu.

Raden Saleh
Raden Saleh, pelukis besar yang hidup pada abad 19 merupakan “anak negeri” (pribumi) yang sudah memiliki kesadaran tinggi mengenai sejarah dan purbakala. Maka “balung buta” yang ditemukan penduduk telah disimpan dan dirawat dengan baik oleh Raden Saleh. Di antara fosil-fosil yang dikoleksi, ada sebagian yang dikirimkan sebagai cindera mata kepada kenalannya yang berdiam di Negeri Belanda. Ternyata cindera mata balung buta itu menjadi barang menarik untuk diteliti di kalangan pakar yang belakangan waktu diketahui sebagai fosil manusia purba yang pernah di hidup di lembah Solo.

Siapa sebenarnya nenek moyang manusia? Apakah leluhur manusia adalah wayang seperti yang diyakini sebagian masyarakat jawa, ataukah kera seperti teorinya Charles Darwin? Usaha untuk menjawab pertanyaan ini telah dilakukan manusia ribuan tahun lamanya. Hasrat ingin mengetahui asal-usul manusia telah melahirkan berbagai teori dan gambaran lain tentang penciptaan manusia, kendati menurut dogma agama telah ditentukan manusia yang pertama kali hidup di dunia adalah pasangan Adam dan Hawa. Dan bagi yang dogmatis dan berpandangan picik, lantas melaknati orang yang melontarkan teori atau pendapat tentang asal-usul manusia yang berbeda dengan versi Kitab Suci.

Darwin yang ahli zoologi mengemukakan teori evolusi dalam kehidupan makhluk hidup sehingga mengarah kepada wujud yang paling sempurna. Darwin menelaah berbagai pengalaman dari pemeliharan-pemelihara burung merpati di Inggris. Dengan cara pemeliharaan berencana dan tekun ternyata mereka berhasil memperoleh burung merpati yang jenisnya sangat berbeda dari jenis semula. Maka disimpulkan bahwa apa yang dadapat dicapai oleh manusia dengan cara berencana dapat juga tercapai oleh alam sendiri dengan cara seleksi alam. Dalam struggle of life hanya hewan yang paling luwes dan gigih yang paling dapat menyesuaikan diri dengan kondisi iklim dan situasi lingkungannya sehingga hanya mereka yang berhasil survival.

Dalam bukunya The Descent of Man, mengenai asal-usul manusia, Darwin mengajukan teori tentang perkembangan kera menjadi bentuk yang sempurna yaitu manusia. Binatang yang paling maju adalah kera, kemudian setelah melewati proses struggle of life, setahap demi setahap mengalami perubahan wujud dalam jenisnya yang paling sempurna, mengarah menuju wujud kemanusiaan.

Titisan
Lingkaran kehidupan semacam itu dikenal pula dalam konsep Kejawen yang sangat terpengaruh dengan ajaran Hindu dan Budha. “Reinkarnasi” atau “penitisan kembali” dari makhluk satu ke makhluk lainnya dari generasi satu ke generasi lainnya untuk mendapatkan suatu kesempurnaan di kenal dalam Kejawen. Dalam dunia pewayangan misalnya tokoh Sri Rama serta tokoh Sri Kresna adalah titisan Wisnu. Ajaran Budha seperti yang tersirat di Candi Borobudur, menunjukkan sembilan tingkatan sebagai perlambang perkembangan hidup manusia menuju tingkat yang paling sempurna. Selain itu diyakini arwah manusia yang belum bisa sempurna di nirwana akan “hinggap” ke makhluk lainnya misalnya binatang kemudian menyusup lagi ke manusia lainnya yang hidup pada generasi berikutnya.

Perihal struggle of life yang dilontarkan Darwin, dalam kisah pewayangan dikenal dengan penyempurnaan hidup dari bentuknya yang paling buruk dan lemah menjadi wujud sempurna. Misalnya Gatutkaca yang lahir dalam wujud bayi berwajah raksasa lantas digodok ke dalam kawah Candradimuka sehingga berubah menjadi ksatria yang gagah dengan otot kawat balung wesi. Digodok dalam kawah Candradimuka sebagai perlambang perjuangan hidup agar mampu survival dalam menghadapi segala tantangan zaman. Demikian pula ketika pandawa harus babat alas Wonomarto.

Kisah pewayangan memang fiksi, namun menunjukkan betapa besar pujangga yang telah mengarangnya, sungguh merupakan pujangga berwawasan luas jauh ke depan kendati mengungkap gejala alam berikut kehidupan, dengan bahasa perlambang yang diselaraskan dengan kemampuan masyarakat pada zamannya. Maka mana kala masyarakat Jawa belum mengenal teori Darwin, terlebih dahulu mengenal kehidupan kera – manusia, yaitu tokoh Anoman yang tubuhnya berujud binatang kera namun memiliki akal pikir-an dan budi pekerti layaknya manusia. Bahkan cialam perjuangan hidup menuju kesempurnaannya telah direngkuh Anoman sehingga menjadi pendeta atau resi bernama Begawan Ka-piwara. Dan lakon “Wisanggeni Takon Bapa” merupakan simbol bagaimana manusia berusaha mengusut asal muasal dirinya.

Dalam ajaran agama seperti yang ditulis di Kitab Genesis mengenal apa yang dinamakan “Kisah Enam Hari” tentang terjadinya bumi dan seisinya. Tuhan menciptakan dunia hanya dalam tempo “enam hari”. Benarkah demikian? Mungkin peng-ajaran kepada umat manusia itu dilakukan dengan berbagai kiasan atau perlambang. Misalnya “enam hari” tidak diartikan secara wantah bahwa dunia ini tercipta. dalam waktu yang relatif singkat, namun ada maksud dan tujuan lain dibalik “Kisah Enam Hari” itu.

Tentang asal muasal manusia memang tak bisa mengkonfrontasikan antara ilmu pengetahu-an dengan agama. Kalau kemudian manusia yang dititahkan Tuhan ini berusaha mencari tahu tetang asal-usulnya, sungguh merupakan pemanfaatan budi pekerti dan akal pikiran sebagai karuniaNya. Dan bagi Darwis yang pernah dicerca sebagai atheis, sesungguhnya tetap beryakinan bahwa Tuhan itu ada, sebab ia percaya tentang adanya sel-sel purba cipta Tuhan, berbeda dengan Ernst Heinrich Haeckel yang sama sekali memungkiri penciptaan. Terdorong oleh rasa ingin tahu, para pakar berburu fosil, menjelajah ke berbagai belahan dunia, termasuk ke “ladang fosil” di lembah Bengawan Solo.

Dari berbagai penemuan fosil didukung pesatnya ilmu pengetahuan dan teknologi telah mendorong keyakinan masyarakat bahwa manusia terjadi akibat evolusi dari wujud yang sederhana yaitu binatang tepatnya kera. Lalu jenis kera yang bagaimana leluhur manusia itu, apakah simpanse, gorila, gibbon ataukah jenisnya Anoman?

Meganthropus Palaeojavanicus atau “Raksasa Jawa” yang ditemukan Koenigswald di Sangiran memang bentuk mulutnya menyerupai dengan kera primata seperti simpanse, gibbon dan orang utan. Sedangkan Australopithecus temuan Dr Leaky di Afrika, dilihat dari isi otaknya lebih dekat dengan kepada kera gorila atau orang utan. Isi otak Australopithecus antara 400-530 CC, otak manusia modern antara 1400-1600 CC, otak simpanse 411 CC, otak gorila 511 CC dan otak orang utan 440 CC.

Turunan
Klaatsch berpendapat bahwa manusia tidak berasal langsung dari kera primat atau kera modern, melainkan dari makhluk turunan dari species kera umum yang merupakan generasi pendahulu dari kera-kera modern dan manusia. Maka kera-kera modern seperti yang sekarang dapat dilihat di hutan atau kebon binatang bukanlah leluhur manusia, namun merupakan turunan pula dari pendahulunya yang sejajar dalam evolusi dengan manusia purba.

Hewan primat yang diperkirakan 30 juta tahun yang lalu penrh hidup di belantara Afrika. Lantas primat mulai memisahkan diri dari species kera dan menjelajah ke berbagai penjuru dunia. Dalam perjalanan pengembaraannya bentuk badannya mengalami evolusi yang lebih menjuru pada bentuk manusia dari pada kera. Berbeda dengan kera, primat tak lagi hidup menggelantung di pepohonan namun telah berjalan di atas kedua kaki merambah ke padang yang lebih terbuka.

Hewan primat yang diperkirakan 30 juta tahun yang lalu pernah hidup di belantara Afrika. Lantas primat mulai memisahkan diri dari species kera dan menjelajah ke berbagai penjuru dunia. Dalam perjalanan pengembaraannya bentuk badanya mengalami evolusi yang lebih menjuru pada bentuk manusia dari pada kera. Berbeda dengan kera, primat tak lagi hidup menggelantung di pepohonan namun telah berjalan di atas kedua kaki merambah ke padang yang lebih terbuka. Hewan kera yang hidup pada masa primat dan tetap hidup di pepohonan dalam evolusi berubah menjadi simpase, gibbon dan orang utan. Sedang primat yang hidup mengembara di tanah lebih maju dalam perkembangan evolusinya dan berubah bentuk mengarah pada wujud manusia.

Bila di belahan Afrika dan Asia, khususnya Indonesia didapat jenis kera semacam simpanse dan orang utan makin memperkuat meyakinkan bahwa di dua benua inilah pernah hidup nenek moyang manusia. Hanya saja sampai sekarang ini persoalan The missing link, mata rantai yang hilang dari teori evolusi kera menjadi manusia. memang belum diketemukan. Sayangnya masyarakat Indonesia sendiri belum banyak tertarik perhatiannya terhadap kepurbakalaan guna menjawab teka-teki besar dunia mengenai leluhur manusia.

Sangiran Saksi Perjalanan

MANUSIA dititahkan Tuhan sebagai makhluk yang paling sempurna dibanding makhluk hidup lainnya. Salah satu kelebihan manusia adalah diberikannya budi pekerti dan akal pikiran oleh Tuhan, yang hal itu tak diberikan kepada hewan serta tumbuh-tumbuhan. Dan dengan akal pikirannya itu manusia diberi kebebasan untuk mengembangkan pengetahuan, termasuk tidak diharamkan untuk mengetahui siapa sebenarnya nenek moyang dari manusia, itu sebenarnya. Manusia tidak ditabukan mengungkap misteri asal – usulnya.

Langkah untuk menyibak misteri tentang muasal manusia telah banyak dilakukan. Charles Darwin (1809-1882) dengan teori evolusinya, hanya merupakan salah satu di antara para ahli yang berusaha meneliti leluhur manusia. JB de Lamarck (1774- 1829) adalah orang pertama yang menyatakan bahwa kehidupan berkembang dari tumbuh-tumbuhan menjadi binatang yang kemudian dari binatang menjadi manusia. Teori yang dikemukakan sarjana Prancis ini tak banyak mendapat perhatian. Yang lebih celaka nasibnya adalah Isaac de la Peyre yang tulisannya tentang asal usul manusia dibakar di depan umum tahun 1655. Begitu pula pendapat yang dilontarkan oleh Johr Frere (1740-1807) dari Inggris dan Jaques de Perthes (1788-1868) dari Perancis, sama sekali tak ada yang menggubrisnya.

Lantas Charles Darwin ahli zoologi dari Inggris, lewat berbagai penelitian yang terencana berpendapat bahwa manusia berasal dari binatang tepatnya dari kera. Darwin berpendapat, dalam perjuangan hidup hanya binatang yang paling ulet adalah yang paling mampu menyesuaikan diri dengan suasana dan keadaan alam sekitarnya. Binatang yang mampu menyesuaikan diri dengan suasana dan keadaan alam sekitarnya. Binatang yang mampu menyesuaikan diri dengan suasana dan keadaan alam sekitarnya akan dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya di mana akhirnya generasi yang diturunkannya mengalami perubahan wujud sedikit demi sedikit tetapi pasti.

Rumusan
Dalam bukunya The Origin of Species terbitan 1859, Darwin merumuskan berbagai pengalaman dan kesimpulan-kesimpulan di atas falam sebuah pokok pikiran bahwa semua jenis binatang berasal dari “satu sel purba”. Teori evolusi tentang asal-usul manusia mulai lebih tegas dinyatakan dalam bukunya yang kedua berjudul The Descent of Man (1871) yang menjelaskan teori perkembangan dari binatang menuju manusia. Menurut Darwin, binatang yang paling maju adalah ienis kera yang mengalami proses perjuangan hidup amat panjang, sedikit demi sedikit mengalami pergeseran wujud menuju jenis paling sempurna yang mengarah pada wujud manusia.

Apa yang dikemukakan Darwin, makin mendapat perhatian manakala pada tahun 1856 ditemukan fosil-fosil tengkorak di lembah Neanderthal, dekat Dusseldorf, Jerman Barat. Fosil tengkorak yang ditemukan itu memiliki bentuk dahi rendah, menjorong ke belakang, terdapat lengkungan besar di atas mata dan tidak memiliki dagu. Fosil yang kemudian disebut sebagai Manusia Neanderthal itu dipercaya sebagai tengkorak semacam manusia yang diperkirakan pernah hidup sekitar 100 ribu tahun yang lampau. Manusia Neanderthal ditafsirkan berdiri tegak yang menyerupai kera maupun manusia.

Kendati Charles Darwin mengungkapkan teori terjadinya manusia dari kera, namun ia tetap mengakui keberadaan Tuhan. Ahli zoologi ini bukan penganut atheis, sebab berkeyakinan bahwa sel-sel purba tetap ciptaan Ilahi.

Berbeda dengan Darwin, seorang sarjana ilmu pengetahuan alam dari Jerman bernama Ernst Heinrich Haeckel (1834-1919) yang ikut mengembangkan teori evolusi lebih menegaskan bahwa manusia berasal dari kera, tanpa mengenal proses penciptaan. Artinya Haeckel beryakinan dunia adalah kekal tanpa mengenal permulaan dan kehidupan tercipta dengan sendiri, tak ada yang menciptakannya.

Dogma agama tentu saja menyanggah tentang teori evolusi manusiaberasal dari kera. Tetapi justru dengan pendapat yang menentang itu merupakan tantangan bagi para ahli penganut teori evolusi untuk lebih bekerja keras, meneliti dan memburu fosil-fosil purbakala guna membuktikan teori tentang asal usul manusia yang dianutnya itu.

Misteri
Dengan menjelajah ke berbagai penjuru dunia, maka tak ha-nya ditemukan fosil purbakala di lembah Neanderathal, lebih dari itu sampai sekarang para ahli telah menemukan berbagai jenis fosil yang dapat menyingkap misteri tentang nenek moyang manuasia. Dan tak sekedar berkeyakinan bahwa pernah ada kehidupan semacam manusia pada 100 ribu tahun yang lampau, namun lewat penelitian fosil temuan itu disimpulkan pernah ada kehidupan semacam manusia di jagat ini pada jutaan tahun yang lalu. Temuan fosil di Sangiran, lembah Bengawan Solo (1979) misalnya, telah mengungkap dugaan adanya kehidupan manusia purba pada lebih satu juta tahun yang lalu.

Bahkan penemuan fosil di lembah Bengawan Solo oleh Dr Eugen Dubois pada 1890 sungguh menggemparkan dunia lantaran mengisyaratkan diketemukannya the missing link perubahan kera menjadi manusia yang diperkenalkan sebagai Pithecanthropus erectus – manusia kera yang berjalan tegak. Pada tahun 1887 dosen anatomi di Amsterdam ini menginjakkan kakinya ke bumi Hindia Belanda (Indonesia) untuk mencari “mata rantai yang putus” dari teori evolusinya Darwin. Tahun 1890 Dubois menemukan sepotong fosil rahang manusia purba di Kedung Brubus, lembah Bengawan Solo, lantas tahun berikutnya menemukan fosil tengkorak manusia di Desa Trinil, Ngawi. Tengkorak menyerupai manusia dan kera ini lantas diyakini sebagal fosil Pithecanthropus.

Dubois memburu fosil purbakala lantaran terdorong oleh teori Ernst Haeckel yang dalam bukunya Naturliche Schopfungsgeschite yang menyebut sebelum manusia Neanderthal pernah hidup sejenis kera-manusia yang dinamakan Pithecanthropus. Maka ia menduga Pithecan-thropus itu mirip dengan orang utan dan kera gibbon yang banyak hidup di Kalimantan, Sumatera, Sulawesi dan Jawa.

Mengikuti jejak Dubois, seorang sarjana Jerman bernama Prof Dr GHR von Koenigswald pada tahun 1936 menemukan fosil Pithecanthropus di Sangiran (Sragen) juga lembah Bengawan Solo. Fosil-fosil tengkorak yang telah dikoleksi oleh von Koenigswald memiliki ciri-ciri yang sama yakni dahi rendah miring ke belakang, mulut menonjol, lengkungan besar di atas mata, tak mempunyai dagu, namun kondisi gigi-giginya menunjukkan identitas kemanusiaannya. Manusia-manusia Trinil diperkirakan hidup pada 429.000 sampai 236.000 tahun yang lampau, sedang yang diketemukan di Sangiran jauh lebih tua yang diperkirakan hidup lebih dari sejuta tahun lampau. Maka manusia Trinil yang semula disebut sebagai Pithecanthropus erectus lantas diyakini sebagai Homo erectus.

Masih hasil kerja keras Koenigswald, ditemukan juga di Sangiran fosil-fosil yang disebut sebagai Meganthropus palaeojavanicus yang dikenal sebagai “Raksasa Jawa”, yang tubuhnya lebih besar dari manusia Trinil.Juga lebih besar dari Homo Soloensis yang ditemukan Oppenoorth di Desa Ngandong. “Raksasa Jawa” temuan Koenigswald memiliki mulut seirip dengan simpanse, orang utan dan gibbon.

Saksi
Dari penemuan-penemuan Koenigswald di Sangiran dalam kurun waktu antara 1930-1940 bisa disimpulkan bahwa daerah ini merupakan salah satu saksi dari perjalanan hidup manusia purba. Pada kenyataannya antara 1,5 dan 1 juta tahun yang lalu Homo erectus (Pithecanthropus) yang datang dari benua Asia mulai menghuni pulau Jawa. Maka tak mengherankan bila Sangiran disebut pula sebagai “ladang fosil purbakala”, baik fosil manusia sampai fosil binatang purba telah ditemukan di daerah ini.

Sampai sekarang ini usaha memburu dan menyelidi fosil-fosil purbakala masih dilakukan. Bahkan pada tahun 1979 di lembah Sangiran ditemukan fosil yang san gat arkaik (tua) yang diperkirakan fosil manusia purba yang pernah hidup pada lebih dari satu juta tahun yang lalu. Sebelumnya tahun 1969 di Pucung ditemukan tengkorak Homo erectus yang pernah hidup sekitar 650.000 tahun lampau.

Dari berbagai penemuan fosil di Jawa dikelompokkan menjadi tiga kelompok Pithecanthropus menurut ketuaannya. Kelompok Arkain dengan fosil 1,5 juta tahun sampai 700.000 tahun ditemukan di Sangiran dan Mojokerto, kelompok klasik antara 700.000 sampai 400.000 tahun ditemukan di Sangiran, Trinil, Pati Ayam dan Kedung Brumbun serta kelompok maju sekitar 100.000 tahun yang lalu ditemukan di Sambungmacan, Sragen. Bukti yang menunjukan bahwa adanya kehidupan manusia purba di tanah Jawa semakin kuat, mana kala Koenigswald juga menemukan peralatan kerja manusia purba di dekat Pacitan daerah, pantai selatan.

Selain itu, keyakinan tentang fosil-fosil yang ditemukan di Sangiran, Trinil, Ngandong dan daprah lain di lembang Solo yang ditafsirkan sebagai manusia purba makin kuat sehubungan diketemukannya fosil-fosil yang seirip di Cina antara tahun 1927 sampai 1939. Black, Widenreich dan Teilhard de Chardin, ahli paleontologi Perancis tak hanya menemukan fosil tengkorak manusia di gua-gua sekitar 40 km dari Peking, Cina, namun juga menemukan peralatan kerja yang diyakini pernah dipakai oleh manusia purba seperti yang ditemukan di Sangiran atau Trinil.

Dengan banyaknya ditemukan fosil-fosil manusia purba di tanah Jawa, apakah telah dapat ditemukan “mata rantai yang putus” dari teori evolusi terjadinya manusia. Menurut Daud Aris Tanudirjo, pengajar Jurusan Arkeologi Fakultas sastra di Departement of Prehistorvand Anthropology, Australia National UniversityCanberra, walau jenis manusia purba di Indonesia cukup beragam, tetapi tak satu pun diakui sebagai the missing link. Rangkaian penelitian di Afrika membuktikan bahwa makhluk perantara itu muncul di sana. Yang di Indonesia, semuanya tergolong Homo erectus, kelompok manusia terawal dan Homo sapians, manusia sejati. Kenyataan ini tak mengurangi daya tarik Indonesia dalam percaturan sejarah evolusi manusia, sebab bumi Nusantara masih diyakini menyimpan the missing link yang lain, yaitu mata rantai yang hilang ke dunia baru , khususnya Australia dan Oseania.

Dugaan bahwa the missing link ada di Indonesia memang beralasan, mengingat posisinya berada di antara dua paparan Sunda dan Sahul menjadikan Indonesia sebagai “jembatan penyeberang” yang paling ideal pada masa itu, saat manusia melakukan terobosan baru dalam sejarah yaitu memutuskan mengkolonisasi “dunia baru”.

Menurut Aris Tanudirjo, ratusan tahun manusia turun temurun berimigrasi lewat daratan. tetapi sesampai di ujung Paparan Sunda, kira-kira pesisir timur Kalimantan dan Jawa mereka dihadang rintangan air, pemisah abadi daratan ini dengan Paparan Sahul, “dunia baru” itu. Upaya mengatasi rintangan ini tentu merupakan tonggak penting pencapaian budaya manusia. Namun justru fenomena ini belum jelas sampai kini. Sejak kapan dan bagaimana cara manusia menyeberang masih menjadi tanda tanya besar. Selain itu bagi banyak pakar paleoantropologi, mengungkap poses kolonisasi “dunia bary” berarti ikut pula menjawab pertanyaan; sejak kapan sebenarnya manusia modern (ras-ras yang ada sekarang) muncul?

Perlu diketahui Australopithecus merupakan anggota famili homonidi yang telah diketemukan di Afrika lebih dari tiga setengah juta tahun lampau dan berjalan tegak. Perubahan iklim dimana hutan lebat di Afrika Timur berubah menjadi padang rumput yang sangat luas, telah mendorong terjadinya evolusi hominid untuk mencapai kemampuan berdiri tegak dan berjalan dengan menggunakan kedua kaki. Posisi tegak dan berjalan di atas dua kaki memang lebih menguntungkan untuk kelangsungan hidup di lingkungan yang lebih terbuka semacam padang savana. Menurut Anne Marie Semah dari Museum National d’Histoire Naturelle, Paris-Prancis dalam Seminar Nasional Peringatan 100 Tahun Pithecanthropus di UNS Solo, 24 Agustus 90, pada lapisan berumur 1,7 juta tahun yang lalu kita mendapatkan fosil Homo erectus di Afrika tetapi juga di benua lain. Homo erectus adalah manusia pertama yang berani meninggalkan tempat asalnya di Afrika untuk menjelajah sebagian besar dari dunia, yaitu Asia daratan, Eropa dan sampai juga di Pulau Jawa. Kelompok manusia purba Homo erectus yang terdapat di Jawa kemudian disebut Pithecanthropus.

Migrasi ke Jawa melalui apa yang disebut jembatan daratan yang pada saat zaman es menghubungkan langsung Pulau Jawa dengan Asia daratan. Pada kenyataannya, selama sauatu zaman es, air terkumpul di daerah yang bergaris lintang tinggi dalam bentuk es sehingga permukaan air laut turun dan daerah yang sekarang ditutupi laut Jawa sebagian menjadi daratan. Namun tetap aneh apabila melihat penghunian pertama di Pulau Jawa. Apakah mungkin para Pithecanthropus yang sampai di jawa kira-kira satu setangah juta tahun yang lalu dapat menyeberangi, di daerah eskuatorial, suatu hutan yang sangat padat seperti yang menutupi, pada saat sekarang Pulau Kalimantan?

Dari berbagai temuan fosil purbakala didukung dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, menggiring masyarakat untuk berkeyakinan bahwa manusia memang merupakan hasil evolusi dari bentuk sebelumnya yang amat sederhana. Hanya saya belum bisa terjawab pertanyaan sekitar di mana dan kapan perkembangan kera-manusia berubah menjadi manusia itu dimulai.

Semula mengenai tempat hidup manusia yang paling awal diyakini di bumi Afrika. Pada tahun 1960, Dr Leaky menemukan fosil manusia di Ola Gorge, sebuah ladang fosil di Afrika yang terletak di Tanzania. Fosil itu digolongkan ke dalam Homo erectus yang diperkirakan berusia 600.000 tahun. Sebelumnya pada tahun 1924 juga ditemukan fosil-fosil yang lebih arkaik yaitu sejenis kera-manusia yang disebut Australopithecus di Afrika Selatan. Sampai sekarang Austrapolithecus ini masih membawa tanda tanya, sebab perwuju-ciannya mewakili kedua-duanya yaitu kera yang menyerupai manusia dan manusia yang me-nyerupai kera, disamping tidak diketemukannya peralatan sederhana untuk mempertegas, namun fosil yang ditemukan diperkirakan usianya sekitar 1.750.000 tahun. Tetapi dengan banyak diketemukan fosil-fosil purbakala di bumi Asia lantas membingungkan lagi mengenai dimana tempat asal “nenek moyang” manusia. Afrika atau Asia tenggara! (Gojek JS)

Sumber: Suara Merdeka, 8 September 1990

Share
%d blogger menyukai ini: