Home / Berita / Musibah Lion Air, 1.800 Parameter dari FDR Lion Air PK-LQP Terunduh

Musibah Lion Air, 1.800 Parameter dari FDR Lion Air PK-LQP Terunduh

Minggu (4/11/2018) dini hari sekitar pukul 00.00, Komite Nasional Keselatamatan Transportasi menyatakan, data dari flight data recorder berhasil diunduh. Hasilnya, ditemukan lebih kurang 1.800 parameter yang dapat digunakan untuk mencari tahu penyebab kecelakaan Pesawat Lion Air PK-LQP.

“Data total yang kami peroleh dari black box flight data recorder (FDR) adalah 69 jam. Terdiri dari 19 penerbangan termasuk penerbangan yang mengalami kecelakaan dengan jumlah parameter lebih kurang ada 1.800,” kata Ketua Sub Komite Investigasi Kecelakaan Penerbangan Nurcahyo Utomo, di Jakarta.

Salah satu hasil unduhan yaitu, rute penerbangan pesawat berdasarkan FDR. Hasil ini sesuai dengan perkembangan berita di media, yaitu penerbangan di radar 24 yang datanya serupa dengan FDR.

“Inilah yang meyakinkan kami. Bahwa apa yang kami peroleh dari FDR adalah data penerbangan pesawat Lion Air PK-LQP. Namun, gambar ini baru menunjukkan 2 dari 1.800 parameter yang ada yaitu, latitude dan longitude atau lintang dan bujurnya,” kata Nurcahyo.

SHARON UNTUK KOMPAS–Rute penerbangan Pesawat Lion Air PK-LQP yang terekam dalam flight data recorder.

Nurcahyo menjelaskan, data tersebut memperlihatkan pergerakan pesawat mulai dari parkir pesawat menuju landasan 25. Pesawat kemudian take off, berbelok ke kiri lalu mengarah ke tenggara. Akhir penerbangan tercatat seperti yang ada di FDR, berakhir pada Senin kemarin (29/10/2018) pukul 06.31.54 WIB.

Investigator Keselamatan Penerbangan Ony Soerjo Wibowo mengatakan, saat ini tim black box sedang memilah 1.800 parameter tersebut. “Parameter apa yang memang dibutuhkan untuk menjelaskan penyebab kecelakaan pesawat. Dari sini akan kami analisa, kira-kira apa yang sebenarnya terjadi dengan penerbangan itu,” katanya.

Proses analisis terhadap 1.800 parameter yang dimulai hari ini, melibatkan enam orang. Mereka tergabung dalam tim black box, terdiri dari satu orang Indonesia, dua orang Amerika Serikat, dua orang Australia, dan satu orang Singapura.

Tim black box akan melakukan persiapan pengolahan data sampai malam ini. Untuk proses analisanya, baru bisa dimulai besok pagi. “Jadi tim lain baru bisa melihat besok, penerbangannya seperti apa,” kata Ony.

Selain data FDR, pihak KNKT juga menunggu serah terima wreckage atau bagian-bagian kapal seperti landing gear dan mesin sudah direcovery. Apabila komponen sudah diserahkan, KNKT akan menggunakannya untuk analisa penyebab kerusakan dan informasi pendukung investigasi.

“Hal utama yang kami cari tahu adalah posisinya. Untuk roda mendarat, kami sudah yakin itu adalah roda mendarat belakang namun belum tahu apakah kiri atau kanan. Demikian pula dengan mesin.,” kata Nurcahyo.

Nurcahyo menegaskan, tentu proses investigasi tidak akan selesai dalam satu atau dua hari. Kalau misalnya, dari proses investigasi, terdeteksi adanya kerusakan pesawat. Maka, tim akan melihat lagi data perawatan pesawatnya seperti apa dan bagaimana perbaikan yang akan dilakukan.

“Tentu proses investigasi akan menjadi panjang. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan mengatakan, kami dapat menyelesaikannya hingga kurun waktu 12 bulan. Tapi kami sadar, seluruh dunia saat ini sedang melihat ke Indonesia terutama ke kecelakaan ini,” kata Nurcahyo.

Apalagi, catatan penerbangan sipil dunia akhir-akhir ini sangat baik. Pada tahun 2017, tidak ada korban jiwa yang meninggal akibat naik pesawat di atas berat 5.700 kilogram di seluruh dunia.

“Penerbangan sebenarnya sudah semakin aman. Kejadian ini tentu mencengangkan dunia karena menelan korban yang begitu banyak,” ucap Nurcahyo.

Nurcahyo menambahkan, pihaknya berharap dapat menyelesaikan segera. Dunia juga menunggu apa yang sebenarnya terjadi, bagaimana mereka harus mencegah agar tidak terjadi hal serupa. Sebab, pencegahan ini tak hanya untuk Indonesia tapi untuk seluruh dunia.

Kendala pencarian CVR
Nurcahyo menyampaikan, investigasi pada prinsipnya memanfaatkan semua informasi yang ada. “Jadi, sekarang kita sudah punya FDR dan sudah pastikan datanya benar. Tentu ini sudah membantu. Namun, cockpit voice recorder (CVR) juga penting karena isi keduanya berbeda,” paparnya.

Penyebab kecelakaan pesawat memang dapat dianalisa melalui data dalam FDR yang berisi data mengenai arah, ketinggian, kecepatan, dan lainnya. Nurcahyo mengatakan, apabila CVR telah ditemukan, tentu ini akan membantu dan mendukung proses investigasi.

“Namun, seandainya ditemukan hanya satu black box, kami tetap berupaya semaksimal mungkin dengan informasi yang dimiliki. Kami juga terus berupaya melakukan pencarian CVR sebab kekuatan baterai harusnya kuat selama 30 hari,” kata Nurcahyo.

Kendala pencarian CVR disebabkan melemahnya sinyal pada hari ini. Padahal, kemarin sore CVR memancarkan sinyal yang cukup kuat, namun penyelaman tak mungkin dilakukan lagi saat itu.

“Kondisi dasar laut yang berlumpur memungkinkan CVR terendam dalam lumpur. Jika benar demikian, akibatnya sinyal CVR menjadi lemah dan mengurangi kekuatan. Namun, sinyal tidak hilang. Kami sudah berupaya hari ini, namun belum ditemukan CVR,” kata Nurchayo.

Selain itu, Kapal Baruna Jaya 1 milik BPPT juga harus kembali ke pelabuhan Muara Baru hari ini untuk isi bahan bakar. Hal ini menyebabkan pencarian CVR akan tertunda beberapa saat. “Semoga Kapal Baruna Jaya 1 tetap akan digunakan untuk melakukan pencarian,” ucap Nurcahyo. (SHARON PATRICIA)–ADHI KUSUMAPUTRA

Sumber: Kompas, 4 November 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Antarktika 90 Juta Tahun Lalu Berupa Hutan Hujan Beriklim Sedang

Pada 90 juta tahun lalu, benua Antarktika masih berupa hutan hujan beriklim sedang. Kini, Antarktika ...

%d blogger menyukai ini: