Home / Berita / Mikroba-mikroba Penyubur Gambut

Mikroba-mikroba Penyubur Gambut

Kunci mencegah keberulangan kebakaran di lahan gambut yang memicu asap adalah meniadakan pembakaran. Sementara, membakar merupakan cara termudah dan murah menyuburkan lahan. Mungkinkah pertanian tanpa perlu membakar? Mikroba berpeluang menjadi jawabannya.

Hitungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, total luas lahan terbakar tahun 2015 hampir 1,7 juta hektar. “Sebanyak 81 persen berada di Sumatera dan Kalimantan,” kata Ruandha Agung Sugardiman, Direktur Inventarisasi dan Pemantauan Sumber Daya Hutan, Direktorat Jenderal Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan, KLHK, pada Diskusi Grup Terfokus “Penanggulangan Bencana Asap dan Kebakaran Hutan dan Lahan 2015” di Jakarta, Selasa (20/10).

Ruandha memaparkan, dari semua lahan terbakar, sebagian besar merupakan lahan mineral. Lahan gambut sesungguhnya “hanya” berporsi 34 persen, yakni seluas 579.273 hektar. Masalahnya, seperti sudah sering diberitakan, tanah gambut yang sudah terbakar akan sangat sulit dipadamkan mengingat tanah gambut kering merupakan bahan bakar, sedangkan lapisannya bisa berkedalaman hingga puluhan meter.

Kondisi itu membuat pemadaman yang membunuh api di permukaan belum tentu memadamkan api di bawah permukaan, yang sewaktu-waktu merambat ke atas menjadi titik panas baru. Sulitnya pemadaman terbukti dari pengerahan pesawat dan helikopter untuk operasi udara (pengeboman air dan hujan buatan) yang pekan lalu berjumlah 32 unit, tetapi kebakaran belum kunjung tuntas.

Salah satu faktor pemicu adalah pertanian di lahan gambut yang masih melibatkan metode pembakaran. Menurut Direktur Pusat Teknologi Bioindustri Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Priyo Atmaji, abu hasil pembakaran tanaman dan pohon-pohon di atas lahan gambut memiliki mineral yang berfungsi sebagai pupuk untuk menurunkan keasaman gambut.

Di sisi lain, cara membakar menurunkan kualitas, bahkan merusak tanah gambut. Pembakaran mematikan seluruh kehidupan alami pada gambut, seperti mikroba dan cacing, yang sesungguhnya berperan bagi hidup tanaman.

Melawan keasaman
Peneliti pada Pusat Teknologi Bioindustri BPPT Diana Nurani menjelaskan, di Indonesia, lahan gambut tergolong gambut tropis yang terbentuk dari penumpukan sisa-sisa tanaman dan kandungannya didominasi lignin. Lignin setiap saat terdekomposisi atau terurai menjadi asam organik, membuat tanah gambut secara alamiah bersifat masam.

Derajat keasaman atau pH gambut berkisar pada angka 3 (pH normal 7), tidak cocok untuk pertanian. Ketersediaan unsur hara, khususnya kalium, kalsium, dan magnesium, rendah. Pada sisi lain, dalam kondisi tanah yang asam, tanaman tidak bisa menyerap sebagian besar unsur hara.

Terdapat beberapa bahan mineral untuk bahan pupuk guna menurunkan keasaman tanah, antara lain abu vulkanik dari area gunung berapi, dolomit, dan lumpur sedimen. Namun, bahan-bahan itu terbentur ketersediaan mengingat jumlahnya tetap di alam. Karena itu, bahan yang lebih efisien adalah yang bisa diperbanyak.

Mikroba sebagai makhluk hidup bisa tumbuh dan berkembang menjadi banyak dalam waktu singkat. Karena itu, tim peneliti dari Pusat Teknologi Bioindustri BPPT berupaya mencari mikroba-mikroba yang berperan menyuburkan lahan gambut sehingga para petani tidak perlu lagi membakar lahan.

Tim peneliti pun mulai mengeksplorasi Sumatera dan Kalimantan pada 2006 untuk memperoleh mikroba yang cocok melawan keasaman tanah gambut. “Mikroba juga harus dari lahan gambut, yakni pada area yang ditumbuhi tanaman,” kata Priyo.

Saat itu, tim mengumpulkan banyak sampel dan membuat sekitar 100 isolat mikroba, antara lain dari kelompok kapang atau fungi, bakteri, dan khamir (yeast). Tim juga menguji kemampuan masing-masing isolat dengan ditumbuhkan pada media mengandung asam organik yang diekstrak dari tanah gambut. Sebanyak tiga jenis mikroba yang tergolong fungi didapati paling unggul menyuburkan tanah gambut karena tumbuh paling bagus di asam organik.

Asam organik menjadi bahan makanan bagi mikroba-mikroba itu tumbuh dan berkembang. Proses metabolik itu membuat asam organik terdegradasi menjadi bentuk senyawa lain dan berujung pada penurunan kadar keasaman di tanah gambut.

Mikroba-mikroba tersebut menjadi bahan baku pupuk yang dinamai Biopeat oleh tim. Dalam aplikasinya, tim peneliti menggunakan lebih dari satu jenis mikroba secara bersamaan karena dengan disatukan, kinerja lebih efektif. Namun, Diana dan Priyo belum bisa menyebutkan nama mikroba-mikroba itu sebelum paten atas proses pembuatan Biopeat dikeluarkan.

Tingkatkan produktivitas
Tim menguji coba penerapan pupuk berbasis konsorsia atau kumpulan mikroba itu tahun 2009 untuk pertanian jagung di satu area gambut Kalimantan Barat. Proses diawali dengan memasukkan beberapa ampul berisi biakan mikroba ke media cair bervolume 400 liter agar mikroba berfermentasi.

Setelah 36 jam, cairan itu dicampurkan pada biomassa untuk produksi pupuk. Biomassa bisa berasal dari limbah pertanian di lokasi. Seusai didiamkan 2-3 minggu, campuran siap dijadikan pupuk lahan gambut. Pupuk ditaburkan pada lahan sebelum penanaman dan ditaburkan di setiap lubang tanam setelah enam bulan.

TANAH-GAMBUT2Hasilnya menggembirakan. Derajat keasaman lahan yang sebelumnya 4,1 menjadi 5,5, penggunaan pupuk kimia seperti pupuk NPK berkurang 30 persen, dan produktivitas jagung naik 51 persen dibandingkan saat petani sepenuhnya menggunakan pupuk kimia.

Hasil baik juga dilanjutkan pada komoditas lain. Biopeat dicoba pada perkebunan lidah buaya, juga di Kalimantan Barat, tahun 2010. Keasaman lahan yang sebelumnya memiliki pH 3,4 berkurang menjadi 4,9, pupuk kimia turun 25 persen, dan produksi lidah buaya meningkat 25 persen. Di Riau, tahun 2010 tim mencobakan pada perkebunan nanas yang ber-pH 3,7. Lahan kemudian ber-pH 5,7 dan membuat buah nanas yang dipanen dua tahun kemudian lebih besar 31 persen dibandingkan saat hanya menggunakan pupuk kimia. Buah nanas berukuran besar dihargai lebih tinggi.

Diana mengatakan, Biopeat sudah dicoba juga pada tanaman kelapa sawit di Sulawesi Barat, tetapi hanya pada pembibitan mengingat riset untuk penerapan di budidaya butuh waktu lama karena kelapa sawit siap panen pada usia empat tahun. Aplikasi pupuk membuat pertumbuhan tinggi tanaman dan jumlah daun meningkat. “Menurut mereka yang berkecimpung di kelapa sawit, bibit yang bagus berkorelasi dengan pertumbuhan bagus, termasuk tidak mudah terserang penyakit,” ujarnya.

Namun, Priyo menekankan, pengembangan Biopeat bukan untuk memberi alasan perluasan pertanian di lahan gambut. Sasaran utama BPPT adalah petani kecil yang hidup di lahan penuh gambut sehingga tidak punya pilihan selain bercocok tanam di gambut. Contohnya, warga di Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, yang 60-70 persen wilayahnya berupa gambut. Mereka tetap butuh kesempatan bercocok tanam demi memenuhi kebutuhan hidup.–J GALUH BIMANTARA
——————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 24 Oktober 2015, di halaman 14 dengan judul “Mikroba-mikroba Penyubur Gambut”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Tiktok dan ”Techno-nationalism”

Bytedance-Oracle-Walmart sepakat untuk membuat perusahaan baru yang akan menangani Tiktok di AS dan juga seluruh ...

%d blogger menyukai ini: