Home / Berita / Mewariskan Buku, Mewariskan Ilmu

Mewariskan Buku, Mewariskan Ilmu

Dalam dunia keilmuwan, buku “bersiklus”. Awalnya buku dikoleksi sebagai referensi karya ilmiah lalu akhirnya disebarkan agar ilmu dapat terus berkembang. Ini yang melatari penyerahan koleksi buku dari para ilmuwan senior ke perpustakaan.

“Buku yang dibaca dan bermanfaat bagi generasi berikutnya akan menjadi pahala yang terus mengalir sebagai amal jariah. Walaupun penulisnya wafat, bukunya immortal,” kata Indroyono Susilo (63), mantan Menko Maritim saat menyerahkan bukunya untuk perpustakaan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) di Jakarta, April lalu.

Total lebih dari 138 laporan hasil penelitian Indroyono bersama tim tersimpan di perpustakaan BPPT. Laporan itu karyanya selama 13 tahun sebagai peneliti BPPT. Koleksi profesor riset bidang penginderaan jauh (1999-2013) itu dikumpulkan dalam satu almari, sebagai bentuk penghargaan BPPT kepada perekayasa berprestasi. Koleksi ini merupakan koleksi peneliti pertama yang tersimpan di BPPT.

Selain ke BPPT, Indroyono yang kini menjadi staf khusus Menteri Pariwisata juga “menyebar” bukunya ke perpustakaan besar dan perpustakaan kampus di dalam dan luar negeri. Ada Perpustakaan Nasional, Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PDII-LIPI), Perpustakaan Kongres Amerika Serikat di Washington DC – perpustakaan terbesar di dunia dengan 17 juta koleksi serta perpustakaan FAO ketika ia menjadi Direktur Sumber Daya Perikanan dan Aquakultur FAO, Perpustakaan Universitas Leiden Belanda, Institut Teknologi Bandung, Universitas Michigan, dan Universitas Iowa di Amerika Serikat.

Tradisi
Penyimpanan buku karya ilmiah para ilmuwan dan juga buku referensi mereka di perpustakaan sesungguhnya telah menjadi tradisi sejak lama di negara yang menjadi pusat riset dunia. Pengelola perpustakaan menyediakan rak hingga ruang khusus bagi koleksi para tokoh nasional yang berkontribusi bagi pengembangan ilmu, bangsa dan negara hingga peradaban manusia.

KOMPAS/YUNI IKAWATI–Rak penyimpanan koleksi buku pakar kelautan Aprilani Sugiarto dan Indroyono Susilo di Pusat Dokumentasi dan Ilmiah Indonesia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Penyimpanan buku karya ilmiah para ilmuwan dan juga buku referensi mereka di perpustakaan telah menjadi tradisi sejak lama di negara yang menjadi pusat riset dunia.

Di Perpustakaan Kongres Amerika Serikat (AS) ada satu gedung yang khusus menyimpan koleksi Thomas Jefferson, bapak pendiri AS yang juga presiden ketiga negara adidaya ini. Ia memiliki 6.487 buku koleksi yang mengisi perpustakaan yang dibuka tahun 1800 itu. Jefferson menghabiskan sekitar 50 tahun masa hidupnya untuk mengumpulkan berbagai jenis buku, mulai dari tentang filsafat dan sains hingga buku memasak. Selain itu ada sumbangan 40.000 buku dari Joseph Henry.

Sementara itu di LIPI, tradisi menampung koleksi buku peneliti atau ilmuwan baru dimulai tahun 1987. Menurut Kepala PDII LIPI, Sri Hartinah, koleksi buku yang pertama diterima adalah milik George L Hicks ilmuwan asal Australia yang pernah bekerja di Indonesia, kemudian tinggal di Hongkong sebagai pengusaha.

Koleksi Hicks itu tentang Asia Tenggara dan Asia Timur mencakup aspek sejarah, ekonomi, sosial, budaya, psikologi, antropologi, dan politik. Jumlahnya mencapai 13.535 yang terdiri dari sekitar 2.000 judul buku, 3.245 majalah, disertasi 188 judul 66 di antaranya tentang Indonesia. Dari koleksi yang diberikan itu sebagai besar, yaitu 8.102 buku, adalah laporan perusahaan swasta Belanda di Indonesia sejak tahun 1885 hingga 1957.

Melalui perantara Anne Booth dari The Australian National University Canberra dan Thee Kian Wie Ahli Peneliti Utama LIPI, koleksi tersebut dipindahkan dengan kapal dari Hongkong ke PDII LIPI Jakarta. Koleksi George L Hicks menempati jajaran rak di lantai 4 Gedung PDII LIPI bersama rak sumbangan buku referensi ilmiahnya milik Indroyono Susilo berisi 784 buku, dan rak yang memuat 985 koleksi pakar kelautan Aprilani Sugiarto (83) yang juga mantan Wakil Kepala LIPI.

Sejumlah peneliti atau ilmuwan Indonesia lain yang mengikuti jejak Hicks. Mereka antara lain adalah pakar hubungan internasional Astrid S Susanto (1936 – 2006) yang menyerahkan sekitar 1.000 judul buku pada tahun 1998. Berikutnya peneliti lain dari LIPI, yaitu M Rifqi Muna, Thee Kian Wie, dan M Sobary yang pernah menjadi Ketua LKBN Antara.

Koleksi buku milik para ilmuwan umumnya diserahkan kepada pengelola perpustakaan lembaga tempatnya bekerja setelah mereka pensiun atau tidak aktif lagi di dunia keilmuwannya. Ada juga yang dihibahkan keluarganya setelah mereka meninggal seperti yang dilakukan keluarga almarhum J Abdurrahman Surjomihardjo, yang menyumbangkan sekitar 1.200 buku koleksi peneliti sejarah tersebut kepada PDII LIPI pada tahun 1997.

Koleksi buku milik para ilmuwan umumnya diserahkan kepada pengelola perpustakaan lembaga tempatnya bekerja setelah mereka pensiun atau tidak aktif lagi di dunia keilmuwannya.

Di Perpustakaan Badan Informasi Geospasial (BIG) Cibinong ada koleksi buku Jacob Rais (1928 – 2011), pakar geomatika yang menjadi salah satu pendiri dan Kepala Bakosurtanal (kini BIG). Dokumen itu sumbangan dari putranya, Arya Rezavidi – penelti bidang energi di BPPT.

Jacob Rais memiliki koleksi 927 judul yang berupa buku, jurnal dan prosiding (kumpulan dari paper akademis yang dipublikasikan dalam suatu acara seminar akademis). Kini kumpulan bukunya mengisi sebuah ruangan yang diberi nama “Ruang Koleksi Prof Ir Jacub Rais MSc”.

Merawat buku, merawat ilmu
Bagi seorang ilmuwan, buku ilmiah mestinya menjadi kekayaan tak ternilai, untuk menunjang karir penelitiannya. Dari waktu ke waktu satu persatu buku – buku penting akan dibeli dan disimpan dengan cermat sebagai koleksi pribadi. Namun apabila akhirnya kekayaan ilmiah itu dihibahkan, tentu ada alasan kuat yang mendasarinya.

Umumnya mereka berpandangan laporan penelitian dan koleksi buku mereka merupakan harta yang sangat berharga yang perlu dilestarikan bagi generasi penerus. Karena itu laporan ilmiah dan referensi yang mereka gunakan perlu diestafetkan, menjadi titik tolak atau sumber inspirasi bagi peneliti berikutnya untuk terus melanjutkan riset hingga berdampak pada modernisasi peradaban manusia masa depan.

Laporan penelitian dan koleksi buku merupakan harta yang sangat berharga yang perlu dilestarikan bagi generasi penerus.

Pada umumnya mereka menyerahkan koleksinya secara cuma-cuma dengan dasar idealisme itu. Namun alasannya lain terkait keterbatasan tempat dan anggaran perawatan. Sedangkan perpustakaan yang memang memiliki biaya dan fasilitas penyimpanan memadai.

Di Perpustakaan Nasional, menurut Kepala Bidang Konservasi Bahan Pustaka, Mulatsih Susilorini, preservasi harus dilakukan karena bahan pustaka terbuat dari kertas yang mudah rusak. Kerusakan material organik ini disebabkan terutama karena jamur dan serangga seperti rayap, kecoa, gegat, dan kutu api. Organisme ini tumbuh subur pada kondisi udara yang hangat dan lembab. Selain itu juga paparan sinar matahari langsung dapat memudarkan warna kertas dan mempercepat kelapukannya.

Maka pencegahannya adalah mengatur pencahayaan, kelembaban, dan sirkulasi udara di ruangan penyimpanan buku. Untuk itu dipasang sistem pendingin ruangan atau AC dengan suhu berkisar 22 hingga 25 derajat Celsius. Adapun pencegahan serangga, dilakukan dengan penyemrotan bahan antiserangga dan antijamur secara rutin serta di setiap rak diberi kapur barus atau naftalen.

Untuk pemeliharaan seluruh koleksi di Perpusnas yang berada di dua gedung terpisah dikeluarkan anggaran sekitar Rp 100 juta per bulan. Biaya ini relatif lebih murah dibandingkan perbaikan buku yang bisa mencapai hingga Rp 30.000 per lembar.

Pengeluaran biaya yang mahal untuk buku lama ini tidak sia-sia. “Buku-buku ilmiah semakin bertambah usianya semakin langka dan menjadi bagian sejarah yang dicari orang,” ujar Indroyono. Di ruang koleksi khusus PDII LIPI, pada daftar kunjungan pekan lalu tertera nama-nama pengunjung dari luar negeri antara lain dari Universitas Harvard Amerika Serikat.

Buku-buku ilmiah semakin bertambah usianya semakin langka dan menjadi bagian sejarah yang dicari orang.

Buku koleksi peneliti terbanyak ada di Perpustakaan Nasional, yang umumnya merupakan peninggalan perpustakaan masa Hindia Belanda, yaitu Bataviaasch Genootschap yang didirikan 240 tahun silam, yaitu pada 24 April 1778. Antara lain yang tertua adalah buku berjudul Delle Navigationi Et Viaggi (Navigasi ke dunia baru yang kurang dikenal) diterbitkan pada tahun 1556 di Venesia Italia.
Buku setebal 454 halaman ini beraksara dan berbahasa latin.

Isi buku tersebut adalah laporan perjalanan Don Christoforo Colombo dari Genoa Italia ke Hindia Barat. Pada buku itu ditampilkan peta sederhana pulau Sumatera menyerupai jajaran genjang, yang menunjukkan lokasi Palimba (Palembang), Campar (Kampar), dan Bancha (Bangka). Selain itu digambarkan juga tanaman yang dibudidaya dan tradisi penduduk Nusantara yang disinggahi dalam pelayaran hingga ke benua Amerika.

Selain buku ekspedisi Columbus pada abad ke-16 itu ada sederet buku laporan peneliti Belanda ke berbagai daerah. Salah satu karya besar peneliti Belanda adalah laporan Rumphius tentang tumbuhan atau botani di Ambon. Risetnya dituangkan dalam buku setebal 600 halaman. Selain berupa buku, hasil penelitian mereka dituangkan dalam majalah dan jurnal yang jumlahnya lebih dari 120.000. Salah satunya adalah kumpulan jurnal bidang kedokteran selama periode 1852-1942.

Buku tersebut kini tersimpan bersama 1,2 juta koleksi dalam gedung baru Perpustakaan Nasional di Jalan Medan Merdeka Selatan 11. Gedung 27 lantai yang diresmikan 14 September 2017 ini merupakan perpustakaan tertinggi di dunia. Gedung yang dibangun dari tahun 2013 hingga 2016 menyerap dana Rp 465,2 miliar.–YUNI IKAWATI

Sumber: Kompas, 8 Juni 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: