Home / Berita / Merintis Kemandirian Moda Baru Kereta Api

Merintis Kemandirian Moda Baru Kereta Api

Kemacetan lalu lintas di Jakarta dan kota-kota satelitnya diatasi dengan mengoperasikan moda transportasi baru, Light Rail Transit. Mewujudnya kereta ringan di jalur layang ini mengandalkan sumberdaya lokal dan industri nasional.

Penduduk Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi diperkirakan lebih dari 30 juta orang. Data dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyebutkan setiap hari ibu kota ini didatangi 4,3 juta orang dari wilayah di sekitarnya. Padahal Jakarta sudah dipadati 10,2 juta jiwa.

KOMPAS/RIZA FATHONI–Kereta ringan atau Light Rail Transit (LRT) Jakarta rute Velodrome-Kelapa Gading berhenti di Stasiun Velodrome, Rawamangun, Jakarta Timur, Senin (25/2/2019).

Kemacetan pun tak terelakkan karena mobilitas warga yang tinggi tersebut tidak dapat dilayani dengan sarana dan prasarana transportasi yang ada. Dampak negatif yang ditimbulkannya antara lain bahan bakar yang terbuang sia-sia saat macet, tingkat pencemaran gas buang kendaraan menjadi tinggi hingga menurunkan kualitas kesehatan dan lingkungan hidup. Kemacetan pun menyebabkan hilangnya peluang bisnis.

Sebagai solusi bagi masalah itu pemerintah mulai mengoperasikan moda transportasi massal, yaitu Mass Rapid Transit (MRT) dan Light Rail Transit (LRT). Kedua moda ini berbasis kereta listrik.

MRT mulai beroperasi Maret lalu di jalur rel layang dan bawah tanah dari Lebak Bulus hingga Jalan MH Thamrin sejauh 15,7 kilometer. Dengan angkutan massal cepat yang disebut juga Moda Raya Terpadu itu biaya operasional kendaraan dapat ditekan hingga 20 persen. Moda ini pun mengurangi waktu tempuh Lebak Bulus-Bundaran HI hingga 28 menit dibandingkan lewat jalan biasa dalam kondisi lalu lintas lancar.

Pada waktu hampir bersamaan dibangun pula jalur Light Rail Transit (LRT) dari Cibubur dan Bekasi hingga ke Dukuh Atas. Proyek LRT yang mulai dikerjakan PT Adhi Karya pada 2016 saat ini masih dalam pembangunan konstruksi jalan perlintasannya. Proyek LRT Jabodebek merupakan tahap kedua setelah LRT Palembang, yang telah beroperasi tahun lalu.

Di antara kota-kota metropolitan dunia, Jakarta paling lambat merealisasikan MRT dan LRT. Di empat Asia Tenggara, yaitu Singapura, Malaysia, Thailand dan Filipina, MRT dan LRT telah beroperasi sebelum tahun 2004. Di Singapura saja MRT bahkan ada sejak tahun 1989, atau 20 tahun lalu.

Adaptasi teknologi
Untuk mewujudkan moda baru kereta api tersebut, terutama dalam pengembangan produksi gerbong, PT Industri Kereta Api (Inka) melakukan adaptasi teknologi dari Jerman terutama untuk bogie atau sistem penggerak roda, rangka, serta suspensi dan sistem rem. Selain itu juga menjalani transfer teknologi dari beberapa negara, yaitu dari Jepang tahun 1981, dari Belanda untuk KRL pada tahun 1994 hingga 1999.

Gerbong LRT harus ringan karena akan berada di perlintasan layang. Karena itu beban roda ganda harus di bawah 12 ton, berbeda dengan kereta biasa yang bisa sampai 14 ton. Untuk itu digunakan bahan yang ringan yaitu aluminium, dan ukuran bogie lebih kecil.

“LRT didesain untuk inter city dengan sistem propulsi sedikit, berbeda dengan KRL. Catu daya tidak menggunakan kawat listrik di atas tapi kawat di samping roda dan sepanjang rel,” kata Agung Sedayu, Direktur Teknologi PT Inka.

Gerbong LRT Jabodebek dan LRT Palembang diproduksi PT Inka yang telah berproduksi sejak 1981 dan telah mengekspor produknya ke enam negara. Saat ini industri strategis kereta api ini tengah memproduksi 6 set gerbong untuk LRT Jabodebek.

“Bulan Juni mendatang akan diserahkan satu set kereta yang terdiri dari 6 gerbong. Untuk LRT Jabodebek PT Inka harus menyediakan 186 gerbong atau 31 rangkaian kereta, tiap rangkaian enam gerbong,” kata Agung.

Persinyalan
Berbeda dengan LRT Palembang yang masih menggunakan sistem konvensional dan dikemudikan masinis, pada LRT Jabodebek telah diterapkan sistem otomatis, yang terdiri dari moving block, proteksi kereta otomatis, dan kemudi otomatis atau tanpa masinis. Sistem-sistem tersebut dikembangkan dan dibuat oleh PT LEN Industri.

Moving block adalah blok sinyal virtual yang dirancang berdasarkan kecepatan kereta dan jarak antar rangkaian kereta. Tujuannya untuk menghindari tabrakan. Pada sistem konvensional tidak boleh ada rangkaian kereta jika masih ada kereta di stasiun berikutnya. Untuk itu pada kereta dilengkapi sensor posisi kereta.

Dengan adanya moving block maka di antara dua stasiun bisa ada beberapa rangkaian kereta yang bergerak bersamaan dalam jarak aman antar kereta. Dengan demikian kepadatan lalu lintas dan frekuensi operasi bisa dinaikkan. LRT Jabodebek beroperasi dengan jeda jarak (head way) antar kereta hanya sekitar 1,5 menit. Dengan demikian, akan ada 30 perjalanan LRT per jam.

Penerapan moving block di LRT pada tahap uji coba masih mengandalkan masinis dalam pengoperasiannya. Tahap berikutnya moving block dipadukan dengan automasinis atau kendali otomatis. Maka semua pergerakan dan pengaturan kecepatan kereta mengandalkan sistem operasi komputer dan kerja sensor.

Uji coba moving block pada LRT Jabodebek dimulai selama 6 bulan sejak Juni mendatang. Setelah itu pengujian otomasinis akan berlangsung dua tahun berikutnya.

Sistem otomatis juga diterapkan untuk pengamanan kereta disebut Automatic Train Protection (ATP). Sistem yang dilengkapi sensor ini akan melakukan pengereman otomatis apabila kereta dan di sekelilingnya ada gangguan. Sepanjang rel dipasang antena dan radar untuk mengetahui kondisi kereta dan dikendalikan di stasiun pusat.

ATP dikembangkan PT LEN Industri sejak tahun 2012 dengan melibatkan tim Konsorsium Sistem Persinyalan Kereta yang terdiri atas Kementerian Ristek dan Dikti, BPPT, ITB, Politeknik Elektronika Negeri Surabaya, LEN Industri, dan PT KAI. Uji coba penerapan pada kereta api dilakukan tahun 2013 pada Prambanan Ekspress yang beroperasi di jalur Yogyakarta-Solo.

ATP dilengkapi sensor terhubung ke sistem rem. Apabila sampai jarak tertentu KA tidak berhenti, ATP akan mengaktifkan rem secara otomatis untuk melambatkan laju hingga kereta berhenti sebelum melampaui lampu lalu lintas. ATP juga akan mengidentifikasi obyek di depan kereta sehingga kereta berhenti otomatis.

ATP itu merupakan hasil adopsi sistem yang digunakan di Eropa. Pengembangan sistem itu bekerja sama dengan Altpro dari Kroasia.

Kereta tidak bisa berjalan dengan aman tanpa sistem pensinyalan. Saat ini untuk pengamanan lalu lintas kereta dikembangkan sistem interlocking terkomputerisasi, sistem digital proteksi kereta otomatis (ATP) yang memiliki standar keamanan dan keandalan tinggi.

Sistem pensinyalan terintegrasi menggabungkan sistem interlocking dan ATP untuk mencapai efisiensi, penghematan ruang, dan efisiensi biaya yang lebih besar.

Monorel
Sebelum MRT dan LRT, di Jakarta sebenarnya pernah dirintis pembangunan monorel namun terhenti tahun 2009 karena kendala dana. Untuk pembangunan jalur monorel sepanjang 24 km melibatkan kontraktor dan teknologi asing. Padahal moda transportasi ini baik konstruksi jalan maupun keretanya sudah dapat dibuat oleh anak bangsa, yaitu Kusnan Nuryadi, pakar teknik konstruksi dan mesin dari Fakultas Teknik Universitas Indonesia bersama timnya.

Desain moda transportasi itu memadukan teknologi monorel dari Jepang dan Jerman, terutama bagian bogie (sistem roda peluncur) yang kemudian dipatenkan. Prototipe gerbong monorel yang diberi nama Urban Transit Monorel UTM-125 – seukuran bus TransJakarta – berkapasitas optimal 125 penumpang.

Uji coba prototipe ini di trek sepanjang 50 meter, di kawasan Cibitung, pada akhir Oktober 2012 pernah ditinjau oleh Jusuf Kalla dan Joko Widodo. Meski begitu pemerintah memutuskan mengganti monorel dengan LRT karena lebih mudah terintegrasi dengan moda lainnya seperti MRT dan KRL.

Standar dan pengujian
Untuk menjamin keselamatan penumpang dalam pengoperasian kereta Badan Standardisasi Nasional (BSN) telah menerbitkan 23 Standar Nasional Indonesia (SNI) tentang perkeretaapian, antara lain SNI tentang Aplikasi Perkeretaapian-Spesifikasi dan Demonstrasi RAMS (Reliability, Availability, Maintainability, and Safety).

Sementara itu untuk mendukung pengembangan teknologi LRT, Deputi Bidang Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa BPPT Wahyu Widodo Pandoe mengatakan, pihaknya sudah berhasil menguasai desain teknologi LRT yang akan dioperasikan di kawasan Jabodebek. Desain teknologi LRT Jabodebek merupakan hasil pengembangan dari LRT yang telah beroperasi di Palembang,” ucapnya saat kunjungan ke PT Inka di Madiun, November 2018.

Hasil desain LRT tersebut kemudian diterapkan industri nasional kereta api PT Inka. Adapun teknologi persinyalan untuk pengoperasian kereta LRT tanpa masinis dan dipandu dari jarak jauh dikembangkan bekerjasama dengan PT LEN Industri.

BPPT yang juga memberi dukungan berupa penyediaan fasilitas uji untuk pengujian kekuatan struktur kereta LRT. Direktur Pusat Teknologi Industri Permesinan BPPT, Barman Tambunan, menambahkan, pengujian pada LRT dilakukan untuk memenuhi aspek RAMS. Pengembangan dan pengujian LRT Jabodebek juga melibatkan perguruan tinggi yaitu ITB, ITS, UI, UGM, dan UNS.

Oleh YUNI IKAWATI

Sumber: Kompas, 29 April 2019

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Ancaman Karhutla di bawah Bayang-bayang Korona

Sebulan lagi, sebagian wilayah Indonesia memasuki kemarau, termasuk di daerah-daerah yang langganan kebakaran hutan dan ...

%d blogger menyukai ini: