Home / Berita / Menundukkan Huawei lewat Google

Menundukkan Huawei lewat Google

Penghentian kerja sama Google kepada Huawei memberi dampak yang cukup berat bagi unit usaha ponsel pintar mereka, bukan tidak mungkin memicu masalah bagi unit usaha lainnya.
Google menghentikan kerja sama dengan Huawei menyusul kebijakan Pemerintah Amerika Serikat yang memasukkan perusahaan teknologi ini dalam daftar hitam. Inilah perkembangan baru dari perang Huawei di Amerika Serikat, yang kali ini bisa berujung fatal.

Dengan keputusan tersebut, ponsel pintar buatan Huawei tidak akan mendapatkan pembaruan dari sistem operasi Android yang dikembangkan Google. Pada saat yang sama juga menggugurkan akses kepada layanan yang dikembangkan oleh Google, seperti navigasi, surat elektronik (Gmail), layanan video (Youtube), dan pasar aplikasi (Play Store).

Dampak ini berlaku hanya untuk seri ponsel yang dirilis setelah keputusan diambil. Artinya, pengguna ponsel pintar dari seri sebelumnya, mulai dari P30, Mate 20, P20, hingga rangkaian seri Nova, masih bisa menikmati layanan Google.

Penghentian kerja sama ini dilatarbelakangi masuknya raksasa teknologi tersebut ke daftar hitam perusahaan oleh Pemerintah AS. Hal ini bagian dari upaya ”pemangkasan” kepada bisnis Huawei dengan alasan keamanan nasional.

Tudingan yang kerap diulangi adalah perangkat telekomunikasi ataupun ponsel pintar dari Huawei dapat digunakan China untuk memata-matai warga Amerika Serikat. Tudingan itu sudah berkali-kali dibantah Huawei.

Begitu masuk daftar hitam, posisi perusahaan Amerika Serikat yang bermitra dengan Huawei menjadi dilematis, melanjutkan kerja sama bisa berarti kecipratan masalah dari pemerintah. Hingga kemudian Google pun mengambil keputusan tersebut.

Hilangnya keunggulan
Penghentian kerja sama itu bagaikan pukulan telak kepada Huawei, setidaknya untuk unit bisnis konsumen yang menggawangi ponsel pintar. Suka atau tidak, mereka bergantung kepada sistem operasi Android yang dikembangkan oleh Google.

Harapan tidak sepenuhnya hilang, Huawei masih bisa mengakses versi publik dari Android yang tersedia melalui prakarsa Android Open Source Project (AOSP). Pilihan tersebut tidak lepas dari konsekuensi baru bisa mengakses setelah diunggah Google beberapa bulan setelah tanggal perilisan.

Artinya, mereka tidak bisa memanfaatkan fitur atau layanan terbaru dari sistem operasi Android sebagai keistimewaan yang ditawarkan kepada konsumen mereka. Itu pun belum menyelesaikan masalah terkait absennya layanan Google yang menjadi definisi dari ponsel pintar Android itu sendiri.

Ambil contoh, pasar aplikasi atau Play Store menjadi ekosistem yang dibutuhkan pengguna untuk mendapatkan aplikasi yang mereka butuhkan. Mencari alternatif dari layanan-layanan tersebut tentu menjadi pekerjaan rumah, belum termasuk mengedukasi pengguna untuk membiasakan ekosistem baru.

Apakah konsumen mau bersusah payah untuk itu?

Hilangnya keunggulan ini jelas berpengaruh bagi Huawei, terlebih menghadapi persaingan merek ponsel pintar global yang tidak kalah keras. Laporan dari IDC yang menyebut Huawei di peringkat kedua dengan pasar 19 persen pada kuartal I tahun 2019 akan menjadi pemicu semangat bagi kompetitor untuk memanfaatkan peluang ini.

Kemampuan Huawei untuk merangkai ponsel pun makin terkendala jika ada perusahaan-perusahaan penyuplai komponen dari Amerika Serikat yang mengikuti jejak Google.

Setidaknya kemandirian atas pembuatan otak ponsel pintar atau sistem dalam cip (System on Chip) yang dikembangkan Huawei, yakni HiSilicon, melalui seri Kirin membuatnya tidak bergantung pada produsen SoC asal Amerika Serikat, yakni Qualcomm dengan seri Snapdragon-nya. Itulah buah dari kucuran dana riset yang digelontorkan Huawei untuk mengantisipasi hari gelap ini, sepanjang tahun 2017-2018 mereka menghabiskan 13,5 miliar dollar AS untuk penelitian dan pengembangan teknologi.

Pesimisme
Saat ini Huawei tengah mempersiapkan peluncuran ponsel dengan teknologi layar lipat, yakni Mate X, untuk menyaingi Galaxy Fold yang dikembangkan oleh Samsung. Besar kemungkinan kebijakan ini juga berimbas pada seri ini, termasuk pada seri-seri andalan Huawei, yakni seri P dan seri Mate.

Setelah tahun ini mereka rampung meluncurkan seri P30, akan kontras melihat peluncuran Mate 30 di semester II tahun 2019 setelah penghentian kerja sama dengan Google. Setidaknya mereka masih bisa menawarkan fitur seperti fotografi berkat kolaborasi dengan Leica.

Namun, masalah muncul pada segmen ponsel kelas menengah, ponsel pintar Huawei akan kesulitan bersaing dengan merek-merek lain yang menawarkan pengalaman Android yang lebih utuh dan harga yang lebih bersaing. Konsumen lebih memilih opsi yang mudah dan tawaran Huawei tidak membuatnya lebih mudah.

Dampak kebijakan ini terhadap strategi Huawei di negara-negara lain, salah satunya di Indonesia, belum bisa diukur. Lo Khing Seng, Deputy Country Director Huawei Indonesia Consumer Business Group, mengungkapkan rencana untuk perombakan jalur penjualan langsung mereka dengan pendirian 100 titik Huawei Experience Store di Indonesia.

Mereka tengah membangun kesan sebagai merek premium dengan memfokuskan diri pada seri andalan, seperti P dan Mate. Seng mengakui bahwa kesan ”murahan” sudah lama melekat pada merek tersebut, sesuatu yang ingin diubah dalam dua tahun terakhir.

Persoalan yang lebih mendesak adalah bagaimana menghadapi pesimisme akan masa depan Huawei. Ada kekhawatiran bahwa keputusan Google ini menjadi pukulan yang akhirnya bisa membuat Huawei jatuh tersungkur.

Oleh DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO

Sumber: Kompas, 20 Mei 2019

Share
%d blogger menyukai ini: