Home / Artikel / Mengimitasi Silicon Valley

Mengimitasi Silicon Valley

Mungkin diperlukan waktu yang cukup lama untuk membangun ”The Real Silicon Valley” kita sendiri dengan kekhasan dan keunikan kita. Sebagaimana California yang butuh waktu hampir 50 tahun untuk bisa memetik buahnya.

KOMPAS/IWAN SANTOSA—Pusat pengembangan IT China di kota Wuhan, Provinsi Hubei, China, yang juga memasok berbagai fasilitas bagi perangkat komunikasi dunia, termasuk Indonesia.

Kita sering mendengar cerita kesuksesan di bidang teknologi. Mulai dari Steve Jobs yang merintis Apple dari garasi rumah, kemudian Bill Gates dengan Microsoft-nya, Mark Zuckerberg dengan Facebook-nya, serta beberapa nama besar lain yang berada di California, Amerika Serikat.

Silicon Valley merupakan saksi lahirnya orang-orang besar tersebut. Kata Valley berasal dari Santa Clara Valley, suatu tempat di ujung selatan San Francisco Bay. Kemudian, kata Silicon diambil dari banyaknya kluster perusahaan yang terlibat dalam industri semikonduktor yang bahan utamanya berasal dari silikon.

Menilik sejarahnya, tahun 1960, Silicon Valley telah menarik perhatian dunia sebagai pusat teknologi. Pada masa itu, tempat ini melahirkan industri elektronik berupa microwave. Microwave merupakan teknologi komunikasi nirkabel yang menggunakan gelombang radio dengan frekuensi tinggi. Teknologi tersebut banyak digunakan pada teknologi-teknologi modern, misalnya jaringan nirkabel, radar, dan satelit.

Kemitraan dan interaksi antara industri dan akademisi telah terpola dengan baik di Silicon Valley. Salah satu yang paling penting untuk diingat adalah peran bersejarah Universitas Stanford di Silicon Valley. Stanford merupakan jantung dari Silicon Valley. Dia mempertahankan kelangsungan hidup dan berkembangnya industri teknologi tinggi di wilayah di sekitarnya.

Valuasi Silicon Valley diperkirakan mencapai 3 triliun dolar AS atau setara dengan Rp 42,32 kuadriliun. Besarnya valuasi tersebut karena adanya perusahaan besar seperti Apple, Google, dan Tesla. Dari besarnya nilai valuasi tersebut sangat mudah melihat mengapa banyak negara ingin mencoba mendirikan Silicon Valley mereka sendiri.

Tidak dapat diduplikasi
Banyak pihak dari seluruh dunia mencoba meniru kesuksesan Silicon Valley. Mulai dari New York (Silicon Alley), London (Silicon Roundabout), Hong Kong (Silicon Harbour), hingga Moskwa (Skolkovo). Mereka semua berupaya untuk membangun versi Silicon Valley ala mereka sendiri. Begitu pun Indonesia yang berencana membangun kawasan perusahaan teknologi semacam Silicon Valley yang diberi nama Bukit Algoritma.

ANTARA FOTO/SETPRES-LAILY—Presiden Joko Widodo (kanan) menuliskan pesan singkat berbahasa Indonesia di dinding Tanda Tangan Facebook, disaksikan Ibu Negara Iriana Joko Widodo (ketiga kiri), Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf (kedua kiri), dan pendiri Facebook, Mark Zuckerberg (kanan), saat berkunjung ke kantor pusat Facebook di Silicon Valley, San Francisco, Amerika Serikat, Rabu (17/2/2016) waktu setempat.

Pembangunan akan berlangsung selama tiga tahun ke depan dengan nilai total proyek diperkirakan akan menghabiskan 1 miliar euro atau lebih kurang setara dengan Rp 18 triliun. Pengembangan rencana Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pengembangan Teknologi dan Industri 4.0 direncanakan dibangun di daerah Sukabumi, Jawa Barat.

Pada 1990, Profesor Harvard Business School Michael Porter mengusulkan metode baru untuk menciptakan pusat inovasi regional. Rumusnya sama, pilih industri yang populer, bangun pusat riset di dekat universitas, kemudian beri insentif bagi industri yang dipilih, dan kumpulkan para pemodal.

Sayangnya, keajaiban dari ide tersebut tidak pernah muncul. Kegagalan terjadi hampir di ratusan wilayah di seluruh dunia. Banyak wilayah tersebut menghabiskan puluhan miliar dollar untuk mencoba membangun Silicon Valley ala mereka sendiri. Namun, tak satu pun ada yang berhasil.

Porter menyadari bahwa ini bukan persoalan di ranah akademis, industri, atau soal pendanaan. Tetapi, ini masalah manusia dan relasi antarmanusia tersebut. Hubungan antara masyarakat, pemimpin universitas, dan orang-orang yang ada di industri.

Maka, terkait rencana pembangunan Bukit Algoritma yang juga penting dipersiapkan adalah manusia Indonesia sendiri. Bagaimana membangun manusia-manusia Indonesia naik level. Kemajuan suatu bangsa itu bukan dari bangunan fisiknya, melainkan manusianya. Apalagi membangun pusat teknologi yang jauh dari pusat ekonomi dan pusat pengetahuan.

Gagasan Porter untuk membangun pusat teknologi di dekat universitas saja mengalami kegagalan, lantas bagaimana Silicon Valley Indonesia yang dibangun jauh dari pusat teknologi, ekonomi, dan pengetahuan.

Mengembangkan keunikan daerah
Setiap tempat memiliki karakter dan keunikannya sendiri. Sebagaimana ketika mengunjungi Yogyakarta, kita dapat melihat berbagai kegiatan seni budaya yang semarak karena dipenuhi dengan manusia kreatifnya. Berkunjung ke Bali melihat pariwisatanya yang mendunia. Begitu pula ketika kita berkunjung ke Jepara yang setiap sudut kotanya dipenuhi seniman dan perajin ukir kayu yang khas.

Seharusnya kita melihat nilai apa yang berkembang di Silicon Valley. Terdapat sejarah panjang yang dibangun hingga buahnya dapat dinikmati masyarakat dunia saat ini. Jika nilai tersebut kita ambil dan menjadikan potensi kita sebagai obyeknya, bukan tidak mungkin industri kita juga mendunia. Hal ini dapat dicapai karena terbangun sinergi manusia, ekosistem, dan lainnya.

Ada baiknya dalam membangun suatu kawasan industri atau pusat teknologi mempertimbangkan faktor ciri khas daerah tertentu yang sudah terbangun ekosistemnya. Contoh ketika melihat Industri mebel di Jepara sekarang yang sedang mengalami krisis perajin.

Kebanyakan perajin banyak yang pindah pekerjaan dan tidak ada lagi yang mau menekuni kekhasan industri daerah tersebut. Membantu dan menjaga ekosistem ini bisa menjadi hal yang lebih penting untuk industri ukir yang sedang sekarat.

Indonesia mempunyai berbagai macam potensi industri, etnik, suku, dan bangsa. Mengelola dan menjaga diversitas ini merupakan hal yang cukup berat. Namun, ketika kita bisa mengelola dengan baik, hal ini bisa menjadi sebuah kekayaan tersembunyi kita. Sebaliknya, ketika melihat Indonesia dengan kacamata miopi, kita akan susah dan bingung sendiri.

Mungkin diperlukan waktu yang cukup lama untuk membangun ”The Real Silicon Valley” kita sendiri dengan kekhasan dan keunikan kita. Sebagaimana California yang membutuhkan waktu hampir 50 tahun untuk bisa memetik buahnya sekarang.

Membangun Silicon Valley yang mana kita belum punya karakter dan ekosistem penopang keberlangsungannya dikhawatirkan akan berujung pada kerugian yang cukup besar. Mencoba mengembangkan kekuatan dan keunikan tersendiri dari suatu daerah menjadi lebih masuk akal daripada mencoba mengimitasi Silicon Valley.

Ahmad Mustafid, Mahasiswa Magister Universitas Teknik Kaiserslautern, Jerman

Editor: YOHANES KRISNAWAN

Sumber: Kompas, 6 Mei 2021

Share
%d blogger menyukai ini: