Home / Berita / Mengerem Emisi dari Tempat Tinggal

Mengerem Emisi dari Tempat Tinggal

Hujan rintik dan angin semilir musim dingin di Koto, Prefektur Shiga dekat Osaka, Jepang, Senin (5/3), sempurna menggigilkan rombongan wartawan dari negara-negara tropis seperti Indonesia, Thailand, Malaysia, Singapura, dan Vietnam. Seusai berdialog dengan pimpinan pabrik PanaHome, rombongan dibawa keluar ruangan menuju bangunan yang dipergunakan untuk menguji material.

Berharap bertemu ruangan yang hangat, rombongan malah dijamu dengan udara yang jauh lebih dingin. Saat itu suhu diatur sekitar 5 derajat di bawah suhu udara luar.

Ruangan itu dirancang PanaHome, anak perusahaan Panasonic Corporation yang bergerak di bidang kontraktor perumahan, sebagai tempat simulasi untuk menguji material. Di antaranya, menguji kondisi material saat diperhadapkan pada perubahan suhu hingga 20 derajat celsius.

KOMPAS/ICHWAN SUSANTO–Lokasi pengujian material PanaHome yang berada di kawasan industri Koto di Prefektur Shiga, Jepang, Senin (5/3).

Pengujian hingga suhu ekstrem diperlukan mengingat pasar konsumennya hanya di Jepang yang memiliki empat musim. Perbedaan tiap musim dingin dan musim panas bisa mencapai puluhan hingga belasan derajat celcius.
PanaHome yang bulan April 2018 akan berubah nama menjadi Panasonic Home menunjukkan rumah pintar buatannya telah dikembangkan puluhan ribu rumah di Jepang.

Rumah serupa juga dikembangkan di Indonesia yang dikembangkan oleh PanaHome Gobel di kawasan perumahan Kota Deltamas, Bekasi, Jawa Barat. Bedanya, di Jepang rumah terbuat dari material rakitan untuk membentuk tembok setebal 15-22 centimeter. Tembok ini dibuat dengan rangka metal yang didalamnya diisi bahan-bahan insulasi suhu dan suara lalu dilapis dengan particle board (papan dari serbuk kayu) dan dilapisi lagi dengan gipsum pada bagian dalam.

KOMPAS/ICHWAN SUSANTO–Rumah Ramah Emisi Tsukasa Kariyazono, Direktur Manufacturing Division PanaHome, Senin (5/3), memaparkan produknya. (Kompas/Ichwan Susanto)

Insulasi material yang digabungkan dengan sistem sirkulasi udara diklaim bisa meminimalkan perbedaan suhu di dalam dan luar ruangan. Konsekuensinya, sistem ini membuat kerja pengatur temperatur ruangan (air conditioner) tak bekerja berat.

Sebagai contoh, saat musim dingin seperti di Osaka saat ini, suhu udara di luar ruangan sebesar 16 derajat celsius. Saat menggunakan mesin pemanas, pada lantai bangunan suhunya bisa hanya menjadi 21,6 derajat dan di dalam ruangan 22,5 derajat atau selisih 1 derajat celcius.

Pada sirkulasi udara umum, suhu lantai bisa mencapai 17,8 derajat celsius dan di dalam ruangan 24,8 derajat celsius atau berselisih 7 derajat celsius. Perbedaan suhu yang lebar ini pun membuat kerja pengatur udara semakin berat dan boros energi. Pemakaian sirkulasi udara dengan benar diklaim menurunkan pemakaian energi hingga 20 persen.

PanaHome sempat mengajak wartawan merasakan rumah contoh yang dibangun dengan material bangunan dan sistem udara yang diberi nama Air Lohas. Rumah bertipe tertinggi dan terbaru, Casart Premium, ini masih berada di kawasan pabrik.

KOMPAS/ICHWAN SUSANTO (ICH)–PanaHome menunjukkan tipe rumah Casart Premium kepada sejumlah wartawan, Senin (5/3) di kawasan pabrik PanaHome di Koto, Prefektur Shiga, Jepang.

Rumah berukuran sekitar 150 meter persegi dengan dua tingkat ini hanya menggunakan satu penyejuk udara atau AC untuk menjaga kestabilan suhu di dalam rumah. Di bagian belakang rumah, terdapat konsol untuk mengatur suhu dan waktu.

Staff PanaHome yang mendampingi rombongan menunjukkan satu AC bisa untuk ruangan seluas itu karena menggunakan insulasi serta pengatur distribusi udara. Pada bagian kecil ruangan, di balik tembok, instalasi udara termasuk AC ditanamkan.

Udara yang diembuskan dari badan AC interior masuk ke dalam saringan dan disebarkan ke seluruh ruangan. PanaHome tak mengizinkan wartawan memotret instalasi itu.

Melihat pabrik
Saat melihat-lihat ke dalam pabrik, Direktur Manufacturing Division PanaHome, Tsukasa Kariyazono menunjukkan dua orang Indonesia yang sedang mengikuti latihan di situ. Nama mereka Wahyu dan Ari yang telah berada di situ lebih dari 1 bulan.

Di pabrik ini, sayangnya, PanaHome sama sekali tak memberikan akses kepada rombongan wartawan untuk mengambil gambar di dalam pabrik. “Maklum ini dapur mereka,” kata seorang wartawan.

Pabrik yang memiliki luas 33,5 hektar ini menghasilkan 16 rumah dalam sehari. Sebagian besar pekerjaan seperti penyatuan logam hingga pelapisan bagian demi bagian panel dikerjakan robot. Beberapa bagian yang tampak dikerjakan manusia hanya merapikan penempelan particle board.

Dari pabrik, material ini dibawa ke area konsumen untuk dirakit di tempat. Perakitan satu rumah hanya dilakukan oleh 5-6 orang dalam waktu lima jam.

Terkait ketahanannya, Tanaka mengklaim tahan gempa hingga magnitude 8-9. “Jepang sering dilanda gempa. Misalnya gempa di Kobe, bangunan yang kami buat memang rusak tapi tidak merusak struktur,” kata dia.

Pada ancaman tremor berulang, ia mengklaim daya tahan rumah PanaHome diverifikasi melalui pengujian getaran skala penuh yang ketat, diulang 140 kali. Rumah uji tidak mengalami kerusakan yang memerlukan penggantian struktural meskipun mengalami intensitas gempa kira-kira 4,3 kali dari Great Hanshin-Awaji Earthquake di Kobe, Jepang (1995).

Selain itu, teknik ini diklaim bisa menjaga kestabilan suhu. Perakitan satu rumah ditunjukkan hanya membutuhkan waktu lima jam tanpa henti.

Berbeda dengan di Indonesia yang juga dikembangkan di Malaysia, metode serupa diterapkan dengan tetap menggunakan material dari beton cor. Alasannya menyesuaikan iklim di negara tropis. Dan tentu saja membutuhkan modal lebih untuk membangun pabrik material yang memproduksi bahan seperti di Jepang.

Menurut Managing Director Overseas Business Division, Kazuhiko Tanaka, Division PanaHome mengklaim pembangunan rumah dengan metode W-PC (wall-panel concrete method) ini lebih cepat 3 bulan dibanding pembangunan dengan menggunakan brick (batubata atau hebel). Dari sisi insulasi suhu, metode yang juga mengandalkan pelapis insulasi ini pun diklaim menurunkan suhu 3 derajat Celcius dibandingkan bangunan biasa.

Semisal saat malam hari, suhu di dalam ruangan terjaga pada 28 derajat Celcius sementara pada bangunan tanpa insulasi suhu mencapai 31 derajat Celcius. Lagi-lagi, suhu yang terjaga lebih rendah di daerah tropis ini berdampak positif pada kerja AC yang semakin ringan dan hemat konsumsi energi.

Di sisi lain, ia menawarkan sistem sirkulasi udara yang bersih di dalam rumah. Ini didapatkan melalui penyaring udara yang bisa menghalau masuknya partikel debu seukuran 2,5 mikrometer atau PM2,5. “

Di Indonesia dan Malaysia, kami paham kondisi udara kabut asap berbahaya selalu menjadi tantangan,” kata dia.
Di Jakarta, kabut asap itu berasal dari pembakaran bahan bakar yang berkualitas kurang bagus (menuju standar Euro IV).

Menurut Greenpeace Indonesia, Jakarta pada radius 100 kilometer dikelilingi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (berbahan bakar batubara) yang melepaskan PM2,5 serta terbawa angin hingga ke Jakarta.

Namun sebaik-baiknya teknologi yang diterapkan untuk beradaptasi dengan perubahan lingkungan, tetap lebih baik bila manusia bisa berperilaku lebih ramah pada iklim. Itu semua juga bisa dimulai dari dalam rumah.–ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 10 Maret 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: