Home / Berita / Mengapa Manusia Suka Rasa Manis?

Mengapa Manusia Suka Rasa Manis?

Semua orang suka makanan dan minuman manis. Padahal pola diet dengan kandungan gula tinggi dalam jangka panjang memicu kenaikan berat badan, obesitas, kerusakan gigi, dan memercepat munculnya penyakit degeneratif.

KOMPAS/STEFANUS OSA TRIYATNA–Makanan manis menjadi favorit sebagian sebagian masyarakat meski tak selalu menyehatkan. Teh manis ditambah camilan manis dijadikan sajian awal berbuka puasa setelah seharian menahan lapar dan dahaga. Antrean meraih manisnya sajian ini terlihat dalam acara berbuka puasa bersama diadakan agen pemegang merek Mitsubishi di sebuah restoran di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Semua orang suka makanan dan minuman manis. Meski pola diet obesogenik dengan kandungan gula tinggi dalam jangka panjang memicu kenaikan berat badan, obesitas, kerusakan gigi, dan memercepat munculnya berbagai penyakit degeneratif, banyak orang sulit menghindari makanan dan minuman manis.

Anak-anak hingga kakek-nenek, semua suka dengan segala sesuatu yang manis. Sejak dulu hingga kini, aneka penganan dan minuman manis mulai dari permen, coklat, es lilin, es krim, sirup, aneka minuman kemasan, minuman soda, kue, biskuit, jajanan pasar, hingga bermacam keripik jadi kesukaan semua orang.

Kesukaan manusia akan makanan manis merupakan bawaan lahir, diturunkan dari generasi ke generasi. Kondisi itu diperoleh sebagai warisan nenek moyang manusia di masa lalu sebagai pengumpul makanan yang gemar mencari makanan manis.

Di masa itu, satu-satunya sumber makanan manis yang utama yakni buah-buahan. Jenis makanan tersebut tidak bisa setiap saat dan tidak di semua tempat bisa ditemukan. Karena itu, nenek moyang manusia memburunya.

Mereka suka makanan manis karena itu termasuk sumber energi amat baik. Konsumsi makanan manis juga akan menimbulkan kesenangan dan rasa bahagia. Sebaliknya, saat mengonsumsi makanan pahit, asam, dan tak enak akan menimbulkan rasa tak nyaman bahkan memicu sakit.

Situasi itu, lanjut ahli neurosains dari Universitas Western, Ontario, Kanada, Amy Reichelt dalam tulisannya di theconversation.com, Jumat (15/11/2019), menjadikan manusia memiliki sistem otak bawaan yang membuat manusia tetap menyukai rasa manis hingga kini. “Rasa manis menjadi sumber energi yang besar dan menjadi bahan bakar tubuh,” katanya.

Energi dari rasa manis itu menjadi sumber energi utama bagi setiap sel tubuh, termasuk sel otak. Karena otak manusia sangat kaya dengan sel-sel saraf, maka otak termasuk organ yang paling banyak membutuhkan energi.

“Otak menggunakan setengah dari seluruh energi gula dalam tubuh,” tulis Scott Edwards dalam “Sugar and the Brain” di buletin Institut Neurosains Harvard Mahoney (HMNI), On the Brain, 2016.

KOMPAS/LASTI KURNIA (LKS)-+Makanan manis untuk berbuka puasa, seperti misalnya kolak, banyak dijual selama bulan Ramadhan. Namun penderita diabetes sebaiknya lebih teliti dan memperhitungkan asupan gula, agar tidak kurang ataupun berlebihan selama berpuasa.

Kondisi itu membuat otak sangat membutuhkan gula. Fungsi otak untuk berpikir, merekam memori, dan belajar sangat dipengaruhi kadar gula dalam darah dan seberapa efisien otak memakai gula tersebut sebagai bahan bakar.

Saat kadar gula dalam darah turun atau terjadi hipoglikemia, kondisi yang sering dialami penyandang diabetes melitus, maka neurotransmitter atau senyawa kimia otak tidak akan diproduksi hingga memutus komunikasi antarneuron atau sel saraf. Konsekuensinya, fungsi kognitif otak pun akan terganggu. “Otak bergantung pada gula sebagai bahan bakarnya. Tidak mungkin otak tanpa gula,” kata Vera Novak dari Sekolah Kedokteran Harvard, AS.

Sistem penghargaan
Saat manusia mengonsumsi makanan atau minuman manis, maka sistem penghargaan di otak yang disebut sistem dopamin mesolimbik akan diaktifkan. Dopamin merupakan senyawa kimia otak yang dilepaskan oleh sel-sel saraf dan memberi sinyal bahwa sesuatu yang menyenangkan sedang berlangsung.

“Gula menstimulasi sistem penghargaan otak dengan memicu pelepasan neurotransmitter yang meningkatkan rasa bahagia,” tambah ahli biologi di Institut Gizi Manusia Jerman (DIfE), Postdam, Jerman Susanne Klaus seperti dikutip dw.com.

Aktifnya sistem penghargaan otak itu memungkinkan manusia untuk mengulangi melakukan hal sama. Itu membuat seseorang yang mengonsumsi makanan manis terdorong mengonsumsi makanan manis kembali meski belum sampai tahap ketagihan. Makin sering mengonsumsi gula, kian sulit bagi seseorang melepaskan diri dari gula.

Meski otak membutuhkan gula, terlalu banyak gula juga berbahaya. Gula dikonversi jadi lemak tubuh 2-5 kali lebih cepat dari pati hingga mempermudah memicu kenaikan berat badan dan obesitas. Gula juga dimetabolisme hati hingga bisa memicu timbunan lemak yang menimbulkan resistensi insulin dan menyebabkan diabetes melitus tipe 2.

HEALTH-DIABETES_84920955_1573740676.jpgAFP–Fakta diabetes di dunia.

Repotnya, obesitas dan diabetes melitus itu bisa memicu berbagai penyakit degeneratif lain, mulai dari gagal ginjal hingga penyakit kardiovaskular, seperti serangan jantung atau stroke.

Kelebihan kadar gula dalam darah atau disebut hiperglikemia juga memengaruhi konektivitas otak dan memicu penyusutan otak atau atrofi. Dampaknya, pembuluh darah di otak ikut mengecil hingga membatasi aliran darah di otak. Akibat lanjutannya, proses penyimpanan memori dan kemampuan kognitif otak terhambat serta mempercepat terjadi demensia atau kepikunan.

Di luar ancaman berbagai penyakit degeneratif itu, Reichelt menambahkan, konsumsi gula berlebih bisa membuat seseorang lebih agresif, kurang mampu mengendalikan perilaku, mudah marah, dan sulit membuat keputusan. Jika konsumsi gula berjumlah kecil memicu pelepasan serotonin yang membuat bahagia, maka kelebihan gula justru memicu kecemasan dan depresi.

Gula berlebih juga mempercepat efek penuaan karena gula mengikat serat kolagen hingga kulit kehilangan elastisitas alaminya. Kelebihan gula juga bisa memperlambat pergantian sel hingga membuat kulit mudah keriput.

Selain itu, gula berlebih dapat merusak mikroflora usus hingga mengurangi perlindungan tubuh terhadap bakteri berbahaya di sistem pencernaan. Kondisi itu bisa menimbulkan sembelit, diare, atau perut bergas. Kelebihan gula juga menurunkan sistem kekebalan tubuh untuk membunuh kumah hingga 40 persen, menyedot vitamin C yang dibutuhkan sel darah putih melawan virus dan bakteri, hingga meningkatkan peradangan.

20190109_155128_1547023927-720x405.jpgDOKUMENTASI KEMENTERIAN KESEHATAN–Angka prevalensi diabetes melitus menurutkonsensus Perkeni2015 pada pendudukumur berusia di atas 15 tahun berdasarkan dokumen Riset Kesehatan Dasar 2018 Kementerian Kesehatan.

Budaya modern
Konsumsi gula yang berlebih saat ini tidak terlepas dari mulai diproduksinya gula pasir dari tanaman tebu pada abad pertama masehi di India. Namun, teknik produksi kristal gula itu dikembangkan di Persia pada abad pertengahan hingga menyebar ke Eropa.

Namun jauh sebelum itu, dikutip dari situs The Sugar Association di sugar.org, bangsa yang pertama kali mendomestikasi tebu sebagai bahan dasar gula adalah masyarakat Papua Nugini pada sekitar tahun 8000 sebelum masehi. Namun, mereka hanya mengambil rasa manis tebu itu dengan cara menyesapnya.

Arkeolog dan kurator Museum Clemen Sels, Neuss, Jerman, Carl Pause seperti dikutip dw.com mengatakan, setidaknya hingga 2000 tahun yang lalu, buah-buahan jadi satu-satunya sumber rasa manis di Eropa, terutama buah apel, pir, prem dan anggur. Buah-buahan itu kemudian diekstraksi dan diawetkan untuk diolah menjadi bubur (mush) dan selai. “Dua bentuk makanan itu tahan lama dan bisa digunakan sebagai pemanis makanan,” katanya.

KOMPAS-+Mahasiswa Universitas Brawijaya (kiri dan kanan) menjelaskan inovasi teknologi pengawetan buah apel menggunakan limbah susu kepada pengunjung di eksibisi Tech in Asia di Balai Sartika, Jakarta, Rabu (11/11/2015). Kompas/Herlambang Jaluardi

Di awal penyebarannya, gula adalah komoditas yang mahal di Eropa. Karena itu, bangsawan Eropa hanya menggunakannya untuk acara-acara khusus saja. Bahkan, saking mahal dan rasa bahagia yang diperoleh setelah mengonsumsinya, gula kristal pernah dijadikan obat di Eropa khususnya untuk mengobati gangguan pencernaan dan penyakit perut.

Seiring berkembangnya kolonialisme pada abad ke-18, sejumlah negara Eropa mengenalkan tanaman tebu di negara jajahannya hingga gula makin menyebar ke seluruh dunia. Makin banyaknya produksi gula membuat harga gula jadi lebih terjangkau.

Di Nusantara, jauh sebelum mengenal gula pasir, masyarakat umumnya telah mengenal rasa manis dari gula aren. Gula pasir dari tebu mulai dikenal masyarakat Nusantara saat pemerintah Hindia Belanda melakukan tanam paksa tebu serta membangun banyak pabrik gula khususnya di Jawa tahun 1800-an.

Masifnya pengembangan industri gula itu pernah menjadikan Hindia Belanda menjadi salah satu produsen utama gula dunia pada 1930-an dengan mengekspor 2,4 juta ton gula pasir. Namun seiring meningkatnya konsumsi, berkurangnya areal tanam tebu dan menuanya pabrik gula membuat Indonesia kini cukup bergantung pada gula impor.

KOMPAS/DEFRI WERDIONO–Petani tengah menunjukkan tanaman tebu di Desa Wonokerto, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Selasa (23/4/2019).

Kini, gula bukan lagi barang langka. Dia mudah ditemukan di mana saja dengan harga yang cukup terjangkau. Bahkan gula menjadi salah satu kebutuhan pokok masyarakat.

Penggunaannya dalam berbagai makanan pun meluas, termasuk berbagai produk makanan dan minuman kemasan karena mendorong orang jadi lebih bahagia. Manusia pun tak perlu lagi bersusah payah mencari gula. Akibatnya, lingkungan sekitar kita penuh dengan makanan manis dan penuh energi.

Konsumsi gula berlebih itu umumnya terjadi saat stres meningkat, lapar, atau dihadapkan pada paparan tampilan makanan dan minuman manis yang menggoda selera. Bahkan, studi Anayanci Masis-Vargas dan rekan pada 2019 menunjukkan paparan cahaya biru dari gawai juga bisa memicu keinginan untuk mengonsumi makanan dan minuman manis.

Meski demikian, otak manusia masih memiliki fungsi yang sama seperti otak leluhur mereka. Kesukaan akan rasa manis dan mudahnya memperoleh sumber rasa manis membuat konsumsi manusia terhadap gula menjadi berlebih.

Roberto A Ferdman di washingtonpost.com, 6 Februari 2015 menyebut Amerika Serikat termasuk negara dengan konsumi gula per kapita tertinggi di dunia yang mencapai 126,4 gram per orang per hari. Peringkat selanjutnya diduduki Jerman dan Belanda, masing-masing sebesar 102,9 gram dan 102,5 gram per orang per hari. Sementara Indonesia baru mencapai 15,2 per gram per kapita per hari.

Namun, studi Atmarita dkk yang dipublikasikan di jurnal Gizi Indonesia, 2016 menunjukkan berdasar Survei Konsumsi Makanan Individu 2014, orang Indonesia rata-rata mengonsumsi gula 25,61 gram per orang per hari. Namun, 11,8 persen orang Indonesia mengonsumi gula lebih dari 50 gram per hari.

Mereka yang berusia lebih dari 19 tahun dan laki-laki cenderung mengonsumsi gula lebih banyak dibanding kelompok populasi lain. Tempat tinggal dan status ekonomi seseorang tak menunjukkan perbedaan dalam mengonsumsi gula.

Asosiasi Jantung Amerika (AHA) menyarankan konsumsi gula tambahan, tidak termasuk gula yang ada dalam buah, sebanyak 37,5 gram (9 sendok teh) per hari untuk laki-laki dan 25 gram (6 sendok teh) per hari untuk perempuan.

Sementara Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2013 tentang Pencantuman Informasi Kandungan Gula, Garam dan Lemak serta Pesan Kesehatan untuk Pangan Olahan dan Pangan Siap Saji mengingatkan konsumsi gula lebih dari 50 gram per hari berisiko menimbulkan sejumlah penyakit.

Meski gula telah menjelma menjadi ‘racun putih’, namun tubuh manusia tetap membutuhkan gula sebagai sumber tenaga. Kendali diri yang besar dibutuhkan agar mampu mengonsumsi gula secara mencukupi, tidak berlebihan.

Karakter otak yang plastis atau mudah berubah bisa dimanfaatkan untuk mengurangi keinginan mengonsumsi makanan dan minuman manis. Aktivitas fisik dan olahraga juga membantu upaya pembatasan konsumsi gula. Konsumsi makanan kaya lemak omega-3 seperti minyak ikan, kacang-kacangan dan biji-bijian, juga meningkatkan zat kimia otak untuk membentuk sel saraf baru untuk mewaspadai rusaknya sel-sel otak akibat konsumi gula.

Meski tidak mudah untuk menghentikan kebiasaan mengonsumi makanan manis, khususnya pada sebagai makanan dan minuman penutup sesudah makanan utama, saat lapar atau stres, namun otak akan bekerja lebih baik saat konsumsi gula dikurangi. “Langkah pertama seringkali yang paling sulit, tapi di setelah itu biasanya akan lebih mudah,” tambah Reichelt.

Peran negara penting untuk membatasi konsumsi gula warganya agar terhindar dari penyakit, tidak meningkatkan biaya kesehatan dan mengurangi produktivitas masyarakat, serta tidak membebani negara. Karena itu, banyak negara mengatur secara ketat penjualan makanan dan minuman manis maupun memberikan peringatan kesehatan yang memadai untuk makanan dan minuman manis yang diproduksi industri.

Indonesia pun sebenarnya telah memiliki aturan pencantuman informasi kandungan gula untuk produk pangan olahan dan siap saji. Namun, belum semua industri melaksanakannya karena kurang tegasnya sanksi. Ukuran peringatan yang kecil dan lemahnya edukasi masyarakat membuat konsumsi gula sulit direm.

Perpaduan akan terbangunnya kesadaran individu dan penegakan aturan negara yang kuat bisa menghindarkan masyarakat dari bahaya rasa manis yang ternyata penuh dengan risiko.

Oleh M ZAID WAHYUDI

Editor EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 27 November 2019

Share
x

Check Also

Penggunaan Aplikasi Permudah Monitoring Mangrove

LIPI menggunakan penginderaan jauh dan teknologi untuk menghasilkan buku panduan monitoring, spreadsheet template, dan aplikasi ...

%d blogger menyukai ini: