Home / Berita / Astronomi / Membawa Pengalaman Jadi Astronot ke Ruang Kelas

Membawa Pengalaman Jadi Astronot ke Ruang Kelas

Tiap tahun di musim panas, ratusan guru dari berbagai negara bagian Amerika Serikat dan dunia merasakan beragam simulasi pelatihan astronot NASA atau Badan Antariksa Amerika Serikat. Mereka mengalami hal itu lewat program Honeywell Educators at Space Academy di Huntsville, Alabama, Amerika Serikat.

Pendidikan dan pelatihan lima hari di US Space & Rocket Center bagi guru terpilih diharapkan mampu menginspirasi siswa untuk melihat peluang karir di bidang sains, teknologi, engineering, dan matematika alias STEM, yang semakin dibutuhkan dunia.

Penampilan Jessica Hostiadi, guru SD Rhema En Cara di Kota Bogor, Jawa Barat, yang memakai flight suit berwarna biru yang juga dipakai astronot, menarik perhatian siswa di hari pertama sekolah, Senin (16/7/2018). Rasa penasaran siswa berubah menjadi antusias saat Jessica berbagi kisah soal riset yang bisa dilakukan di luar angkasa, perlengkapan baju astronot, serta misi luar angkasa yang sudah pernah dilakukan para astronot.

DOKUMENTASI HESA 2018–Para guru dari berbagai negara yang menjadi peserta Honeywell Educators at Space Academy (HESA) 2018, termasuk 10 guru dari Indonesia, berforo bersama usai kelulusan, di US Space & Rocket Center di Kota Huntsville, Alabama, Amerika Serikat, pada akhir Juni lalu. PAra guru diharapkan untuk mengisnpirasi siswa agar menyenangi sains, teknologi, engeenering, dan matematika.

Lalu, Jessica yang merupakan satu dari 10 guru Indonesia yang terpilih sebagai peserta Honeywell Educators at Space Academy (HESA) 2018 pada 20-25 Juni lalu, menyulap ruang kelasnya dengan dekorasi bernuansa ruang angkasa yang menarik. “Kami dikasih banyak poster yang bagus, yang bisa dipakai untuk dekorasi ruang kelas,”ujar Jessica.

Siswa semakin bersemangat untuk menyelami soal ruang angkasa ketika Jessica membawa beragam miniatur seperti orbit, bulan, dan satelit. Para siswa diminta untuk merakit miniatur tersebut secara berkelompok.

KOMPAS/ESTER LINCE NAPITUPULU–Sepuluh guru sains dan matematika dari berbagai daerah di Indonesia terpilih menjadi peserta Honeywell Educators at Space Academy di US Space & Rocket Center di Huntsville, Alabama, Amerika Serikat, pada 20-25 Juni 2018.

“Saya merasa senang siswa semangat belajar. Apalagi saya bilang ke mereka, Dream Big. Someday You Will. Ini jadi pendorong agar mereka berani bermimpi. Suatu saat, bisa juga mereka jadi astronot atau apaupun yang mereka inginkan,”kata Jessica.

Di Yogyakarta, Guru SD Negeri Deresan Nur Fitriana yang juga menjadi peserta HESA 2018, menularkan antusiasme belajar sains dan matematika yang asyik kepada siswanya. Di ruang kelas yang sederhana, Nur meletakkan laptop dan proyektor di atas meja kayu yang diarahkan ke papan yang mulai tampak kusam. Dia menunjukkan banyak foto dan video dirinya bersama guru dunia lainnya yang menjalani pelatihan ala astronot.

Para siswa menyaksikan sang guru yang merasa tegang saat berada di sebuah alat simulasi yang dinamakan multi axis trainer. Selama satu menit, sang guru diputar ke segala arah tanpa terkendali. Pengalaman serupa bisa terjadi pada astronot saat berada di ruang angkasa.

Para siswa berkali-kali bertepuk tangan dan mengucapkan “wow” karena kagum melihat apa yang terjadi saat astronot menjalankan misi di luar angkasa. Sang guru yang berkesempatan secara langsung melihat dan merasakan fasilitas yang terkait misi luar angkasa, menunjukkan kegiatan para guru yang memakai baju astronot berwarna putih dan helm sedang melakukan misi. Mereka juga jadi tahu isi “kapsul” yang diterbangkan ke luar angkasa.

KOMPAS/ESTER LINCE NAPITUPULU–Merasakan menjadi astronot yang menjalankan misi di luar angkasa dialamai para guru dari berbagai dunia yang terpilih dalam program Honeywell Educators at Space Academy (HESA) 2018. Pengalaman ini dibawa guru ke ruang kelas untuk menginspirasi siswa menyenangi STEM.

”Semoga dengan video yang mereka tonton ini semakin meninggikan impian dan cita cita mereka. Saya akan membantu siswa supaya semakin semangat belajarnya,” kata Nur yang aktif membagikan pengalaman pembelajarannya di akun facebook-nya.

Peserta lainnya, Mohamad Ridwan yang mengajar sebagai guru sains kelas X di Sekolah Darma Yudha di Pekanbaru, Riau, mengaku makin percaya diri karena dibantu dengan teknik mengajar yang bisa membantu anak-anak mencintai sains dan matematika.

“Dari pengalaman mengeksplorasi ruang angkasa, para guru bisa menginspirasi siswa untuk berpikir tentang karir di bidang aerospace maupun teknik. Apalagi ada kesempatan besar bagi bibit unggul dari negara mana saja untuk bisa bergabung di misi luar angkasa,” kata Ridwan.

Guru Indonesia lain yakni Warsono (SMP Negeri 5 Cilacap, Jawa Tengah); Mega Lamita (Tunas Daud Elementry School, Denpasar); Abdul Rahman (Madrasah Aliyah Negeri Cendekia Gorontalo); Rosdiana Akmal Nasution (Sekolah Bogor Raya); Faqih Al Adyan (Bunda Mulia School, Jakarta); Widia Ayu Juhara (Sekolah Taruna Bakti, Bandung), dan Darum Budiarto(SMKN 1 Seram Bagian Timur, Maluku) juga punya tekad sama.

KOMPAS/ESTER LINCE NAPITUPULU–Direktur Global Corporte Citizenship Honeywell Kerry Kenned (kiri) dan CEO dan Direktur Eksekutif US Space & Rocket Center Deborah Barnhart

Para guru sains dan matematika yang sudah dibekali dengan teknik dan strategi pembelajaran STEM yang menginspirasi siswa diharapkan dapat membuat semakin banyak anak Indonesia berpikir karir di bidang STEM. Tak hanya soal mimpi besar bisa menjadi bagian generasi Mars, namun dalam banyak aspek kehidupan, bidang STEM dibutuhkan untuk menjawab tantangan global saat ini.

Menginspirasi siswa
Direktur Global Corporte Citizenship Honeywell Kerry Kenned mengatakan tujuan HESA yang digelar sejak 2004 ini untuk membantu guru mengembangkan pembelajaran sains dan matematika jadi menyenangkan, tidak lagi menakutkan bagi siswa.

Program ini bekerja sama dengan USSRC, pusat kunjungan resmi NASA Marshall Flight Center, dalam menggelar pendidikan dan pelatihan guru dunia dengan simulasi pelatihan ruang angkasa agar menginspirasi mereka untuk menjadi guru yang lebih baik dan kreatif, terutama untuk mendorong siswa mengejar karir di bidang STEM yang dibutuhkan dunia.

”Penguasaan sains dan teknologi akan menolong untuk perubahan dunia yang lebih baik dan berbeda. Tantangan kehidupan dan pekerjaan di masa depan semakin membutuhkan peran dari pekerja di bidang STEM yang masih kurang,” kata Kerry. Pada tahun ini, ada 224 guru yang berasal dari 45 negara bagian Amerika Serikat dan 35 negara lainnya, termasuk 10 guru asal Indonesia.

Para guru dapat merasakan langsung aplikasi STEM dalam kehidupan yang bisa dibagikan ke siswa. Dengan menjalankan misi ruang angkasa bersama guru lain, para guru bekerja sebagai tim dan menghadapi skenario misi yang menuntut pemecahan masalah yang dinamis dan berpikir kritis sebagai kecakapan belajar abad 21 yang dituntut di dunia kerja.

Selama lima hari, para guru terbenam dalam teknik pelatihan astronot yang diadaptasi dari program astronot NASA. Mereka belajar tentang peralatan ruang angkasa, aktivitas air, dan mengalami ekplorasi misi, semenatara belajar peluang karir di ruang angkasa.

CEO dan Direktur Eksekutif USSRC Deborah Barnhart mengatakan berinvestasi pada guru lebih banyak membuka peluang bagi siswa di seluruh dunia mau melirik bidang STEM. ” Para guru ini bisa saja jadi orang yang paling berpengaruh dalam hidup seorang anak. Mereka bisa meyakinkan anak-anak yang awalnya tidak yakin bahwa mereka bisa mencapai sesuatu yang lebih tinggi. Kami menunjukkan caranya pada guru lewat HESA,” ujarnya.

Menurut Deborah, guru menjadi percaya diri untuk mengajarkan hal sulit, seperti luar angkasa. Sebab, para guru punya pengalaman, seperti membuat roket. Mereka mampu mengembangkan metode mengajar, aktivitas, dan lesson plan yang membuat siswa tertantang untuk belajar.

“Guru hanya lima hari di Space Camp lewat program HESA. Namun, pengaruhnya bisa berkepanjangan, tahun demi tahun, bagi siswa di kelasnya dan sekolahnya, hingga komunitasnya,”ujar Deborah.

Berbagi
Sally Fan Ye, Guru Sains di Shanghai, China, ditunjuk sebagai Duta HESA, mengikuti program ini pada 2011. Menurut dia, banyak guru yang sulit mengajar sains, terutama yang terkait ruang angksa. Ketika terpilih di HESA, para guru diberikan materi belajar yang luar biasa seperti NASA, video pendek, kehidupan di luar angkasa. “Jadi siswa sangat tertarik untuk mengetahuinya. Para siswa jadi terinspirasi, dan membuat mereka menikmati di kelas,”kata Sally.

KOMPAS/ESTER LINCE NAPITUPULU–Guru peserta Honeywell Educators at Space Academy (HESA) 2018 bekerja sama untuk membuat roket. Program ini dapat dipakai untuk menantang siswa menyenangi sains.

Menurut Sally, dia terinspirasi untuk terus menjadi guru sains yang berbagi, bukan hanya bagi siswa di sekolahnya. Dia pun terjun sebagai relawan di museum sains dan teknologi di Shanghai, untuk membantu siswa kelas 3-12 dari berbagai sekolah melakukan eksprimen sains yang menyenangkan.

Sementara Beth Lyan Heimeri, guru sains dari Amerika Serikat, mengaku antusias mengembangkan klub sains di sekolah dengan beragam aktivitas yang lebih menantang minat siswa. ”Berada lima hari di program HESA membuat saya sadar bahwa dunia ini tidak ada batasnya. Saya bersama guru-guru dari negara lain punya peran yang sama untuk menyiapkan generasi yang mampu membuat kehidupan dunia lebih baik lewat penguasaan STEM,” kata Beth.–ESTER LINCE NAPITUPULU

Sumber: Kompas, 29 Juli 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: