Home / Berita / Astronomi / Membangun Mimpi dari “Ruang Angkasa”

Membangun Mimpi dari “Ruang Angkasa”

Slamet Riyadi (35), guru SMP Negeri 4 Tengaran Satu Atap di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, membawa banyak ide untuk membuat matematika yang dianggap sulit dan menakutkan menjadi semakin asyik. Aktivitas membuat roket dari bekas botol air mineral menjadi salah satu aktivitas pembuka yang mampu menarik minat siswa kala belajar materi fungsi.

Semangat untuk mengubah cara mengajar matematika yang terpaku pada buku teks atau sekadar memastikan siswa benar mengerjakan soal- soal hitungan tersebut hanyalah salah satu perubahan yang dibawa Slamet setelah mengikuti program Honeywell Educators at Space Academy (HESA) pada Juni lalu. Bersama enam guru lainnya, Slamet mengikuti pelatihan mengajarkan sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) di salah satu pusat luar angkasa Amerika Serikat US Space and Rocket Center di Huntsville, Alabama.

Slamet yang mengajar di sekolah pinggiran dengan sarana dan prasarana sekolah yang terbatas dan siswa yang kemampuan ekonominya lemah bertekad membuka persepsi siswa bahwa matematika itu menarik. Dengan pengalamannya dari guru di sekolah yang terpencil bisa mendapat kesempatan belajar soal ruang angkasa di AS, dia pun hendak membawa mimpi yang sama.

“Saya bertemu dengan guru dari berbagai negara. Kami menjadi satu tim untuk melakukan misi ke Mars atau Bulan. Cerita saya yang nyata ini menjadi inspirasi bahwa anak desa juga bisa maju asal mau berjuang dan berani mencoba,” kata Slamet.

Sejak 2013, sudah 30 guru sains dan matematika di Indonesia yang mendapat beasiswa HESA. Di tingkat dunia, program ini dilakukan sejak 2004 yang dinikmati lebih dari 2.776 pendidik dari 62 negara dan 52 negara bagian Amerika Serikat.

KOMPAS/ESTER LINCE NAPITUPULU–Presiden Direktur Honeywell Indonesia Alex J Pollack menyerahkan penghargaan kepada sejumlah guru Indonesia yang telah menyelesaikan program Honeywell Educators at Space Academy (HESA), Rabu (4/10) di Jakarta. Sebanyak enam guru dari Indonesia mengikuti pelatihan di salah satu pusat luar angkasa di Huntsville, Alabama, Amerika Serikat, untuk mendapat teknik pengajaran inovatif dalam mengajar sains dan matematika yang dapat menginspirasi siswa.

Program ini untuk membantu guru sains dan matematika di sekolah menengah agar menjadi pendidik yang lebih efektif di bidang STEM. Para guru mengikuti pelatihan secara intensif yang berfokus pada sains dan eksplorasi ruang angkasa serta latihan-latihan yang digunakan astronot, seperti simulasi jet dan misi luar antariksa, latihan kemahiran di darat dan air, serta program dinamika penerbangan interaktif.

Selain Slamet, enam guru Indonesia yang sudah lulus program HESA tahun ini adalah Ahmad Zimamul Umam (Sekolah High Scope Indonesia, Jakarta), Andriana Susmayanti (Sekolah Pelita Bangsa, Bandar Lampung), Andry Permana (Sekolah Cita Hati West, Surabaya), Grice Purba (SMP Taruna Bangsa, Bogor), Marjon Roche (Xin Zhong School, Surabaya), dan Shilpa Karve (Sekolah Bunda Mulia, Jakarta).

Pengalaman nyata
Andriana mengatakan, kesempatan simulasi berjalan di Bulan sungguh tak terlupakan. Pengalaman nyata bersentuhan dengan program dan alat-alat ruang angkasa menjadi inspirasi bagi siswa dan dua buah hatinya. Kelak, generasi muda Indonesia pun dapat mewujudkan mimpi untuk memiliki astronot.

“Sebelum pergi, saya ajak anak nonton film ruang angkasa dan astronot. Anak saya nyeletuk enggak mungkin orang Indonesia menjadi astronot. Saya menjadi tertantang terus menginspirasi agar anak-anak didik saya mau bercita-cita tinggi,” kata Andriana.

Grice mengatakan, saat mengajukan aplikasi secara daring, guru diminta membuat esai apa yang dilakukan seusai ikut program. Ketika pulang, dirinya mengajak anak-anak semakin suka matematika dan sains. Dia mengajar dengan aktivitas yang menantang siswa daripada sekadar menjejali teori.

“Saya cerita, kalau suka STEM, ada peluang kerja yang hebat menanti. Jadi ilmuwan, astronot, dan ahli ruang angkasa. Mereka jadi semangat,” kata Grice.

Presiden Direktur Honeywell Indonesia Alex J Pollack mengatakan, investasi untuk pendidikan STEM dapat mendorong generasi muda yang berpikir kritis secara ilmiah mencari solusi dari tantangan yang dihadapi, dan menemukan inovasi yang dibutuhkan untuk kemajuan bangsa dan kesejahteraan umat manusia di dunia.

“Berawal dari guru yang termotivasi dan terinspirasi di bidang STEM, para siswa pun akan suka STEM. Indonesia harus menunjukkan potensinya kepada dunia. Karena itu, kami mendukung guru Indonesia tiap tahun untuk mengikuti program ini,” kata Alex.

Membekali guru-guru Indonesia hingga pelosok untuk mampu mengajar sains secara kreatif dan menyenangkan juga dilakukan oleh majalah sains Kuark lewat Kelas Lentera Kuark. Direktur PT Kuark Internasional Sanny Djohan mengatakan, guru diajak melihat potensi sekeliling sebagai sumber belajar sains.(Ester Lince Napitupulu)

Sumber: Kompas, 5 Oktober 2017
—————-
Guru Indonesia Dapatkan Inspirasi Mengajar dari Akademi Luar Angkasa Amerika Serikat

Dunia membutuhkan lebih banyak orang muda yang menggeluti sains, teknologi, teknik, dan matematika untuk menghasilkan inovasi dan teknologi yang memberikan solusi bagi kehidupan manusia. Namun, minat generasi muda untuk menggeluti bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika atau dikenal dengan STEM justru semakin turun.

Oleh karena itu, pendidikan STEM perlu diajarkan dengan cara yang menyenangkan dan menginspirasi. Para guru menjadi salah satu kunci penting dalam menghadirkan pendidikan STEM yang menyenangkan dan menginspirasi.

Presiden Direktur Honeywell Indonesia Alex J Pollack dalam acara pertemuan dengan tujuh guru Indonesia yang terpilih dalam program Akademi Luar Angkasa Amerika Serikat (AS) di Jakarta, Rabu (4/10), mengatakan, pendidikan STEM dibutuhkan untuk menciptakan pemikir kritis, meningkatkan literasi sains, dan melahirkan generasi inovator. ”Kami mendukung guru Indonesia untuk menguatkan pendidikan STEM di sekolah bagi anak-anak usia 10-14 tahun. Mereka akan mendapatkan pengalaman lewat program Honeywell Educators at Space Academy (HESA), yang merupakan salah satu pusat luar angkasa di Huntsville, Alabama, Amerika Serikat,” kata Alex.

Menurut Alex, Indonesia memiliki potensi untuk melahirkan ilmuwan hingga calon astronot pada masa depan. ”Para siswa generasi muda butuh inspirasi dari guru-guru mereka. Para guru yang mendapat pelatihan ini mendapatkan wawasan untuk mengembangkan cara belajar sains dan matematika atau STEM yang menantang, yang membuat anak-anak jadi suka belajar sains dan matematika,” ujarnya.

Tujuh guru Indonesia yang mendapatkan pendidikan sekitar seminggu di salah satu pusat luar angkasa AS pada Juni lalu itu adalah Ahmad Zimamul Umam (Sekolah High Scope Indonesia Jakarta), Andriana Susmayanti (Sekolah Pelita Bangsa Bandar Lampung), Andry Permana (Sekolah Cita Hati Surabaya), Grice Purba (SMP Taruna Bangsa Bogor), Marjon Roche (Xin Zhong School Surabaya), Shilpa Karve (Sekolah Bunda Mulia Jakarta), dan Slamet Riyadi (SMPN 4 Tengaran Satu Atap Kabupaten Semarang).

Para guru yang ikut serta dalam program selama lima hari ini menjalani pelatihan insentif yang berfokus pada sains dan eksplorasi luar angkasa serta latihan-latihan yang digunakan para astronot. Kegiatan simulasi jet dan misi antariksa, latihan kemahiran di darat dan air, serta program dinamika penerbangan interaktif merupakan pengalaman tidak terlupakan bagi guru-guru Indonesia dan sejumlah negara lainnya.

Alex mengatakan, tujuan dari program HESA adalah membekali para guru dengan teknik pengajaran yang inovatif sehingga dapat membuat suasana belajar sains dan matematika di kelas menjadi lebih hidup dan menginspirasi para murid. ”Sejak 2013, Honeywell memberikan beasiswa untuk 30 guru Indonesia. Pada tahun ini, 205 guru dari sejumlah negara mendapatkan beasiswa, termasuk Indonesia,” katanya.

Ahmad menuturkan, dirinya mengetahui program HESA dari internet beberapa tahun lalu. Saat mengirimkan aplikasi secara daring, calon peserta diminta untuk membuat beberapa uraian tentang kesulitan selama mengajar di kelas dan bagaimana mengatasi kesulitan itu.

”Saya merasa senang mengikuti kegiatan ini. Saya belajar banyak hal dari berbagai kegiatan, seperti bagaimana menyampaikan pelajaran dengan cara inovatif, melibatkan siswa selama proses belajar, dan menciptakan pengalaman belajar yang tak terlupakan bagi generasi berikutnya,” ujar Ahmad.

Guru lainnya, Andriana, mengatakan, pengalaman ini membuat dia bisa berbagi tentang ruang angkasa kepada siswanya. ”Saya membagikan bagaimana kita harus bekerja sama dalam tim untuk mencapai banyak misi yang tidak beralasan. Hal ini membuat sains, terutama belajar ruang angkasa, menjadi menyenangkan,” ujar Andriana.

Sementara itu, Slamet mengisahkan pengalaman berharga yang didapatnya. Ada kegiatan eksplorasi museum tempat dia bisa melihat berbagai peralatan yang diperlukan untuk penjelajahan ruang angkasa. Selain itu, ada matematika origami serta kelangsungan hidup di air.

”Cara mengajar saya menjadi berubah, tidak hanya di kelas, tapi banyak mengembangkan berbagai aktivitas. Siswa saya ajak untuk membuat roket udara dengan alat-alat yang sederhana, seperti dari botol air mineral bekas. Saya berharap siswa menganggap matematika menarik,” kata Slamet.

Peluang guru Indonesia untuk mengikut program serupa pada tahun 2018, menurut Alex, tetap terbuka. Pendaftaran dibuka hingga 14 November. Informasi mengenai program ini bisa dilihat di laman https://educators.honeywell.com/application.

Sumber: Kompas, ESTER LINCE NAPITUPULU 4 Oktober 2017

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: