Home / Berita / Mau Kuliah? Pilihlah Jurusan dengan Cermat

Mau Kuliah? Pilihlah Jurusan dengan Cermat

Memilih program studi atau jurusan di perguruan tinggi ibarat modal penting menyiapkan masa depan. Namun, rupanya urusan ini bukanlah semata-mata murni menyangkut minat. Adakalanya orangtua ikut mengarahkan anak-anaknya yang sebentar lagi lulus dari SMA/SMK sederajat. Sayangnya, pemahaman orangtua akan perkembangan bidang keahlian pada era digital ini tidak memadai.

Tak heran jika pameran pendidikan tinggi selalu ramai dijubeli siswa SMA/SMK dan orangtua untuk mendapatkan informasi seputar program studi, biaya kuliah, dan prospeknya ke depan. Salah satunya adalah pameran pendidikan perguruan tinggi dalam negeri dan kawasan ASEAN di arena Pekan Pendidikan Jakarta 2017 pada 7-9 Februari.

Acara yang dihelat di Jakarta International Expo, Kemayoran, itu menjadi wahana penyedia informasi bagi masyarakat umum, guru, dan terlebih bagi siswa SMA/SMK kelas XII yang dua hingga tiga bulan lagi menamatkan pendidikan menengah. Kesempatan berinteraksi langsung dengan pengelola perguruan tinggi, mahasiswa, ataupun praktisi di berbagai bidang benar-benar dimanfaatkan untuk dapat memenuhi keingintahuan demi memantapkan pilihan.

Sherlina Permata, siswa kelas XII Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 18 Jakarta, mengatakan, dari beberapa kali tes minat dan bakat yang digelar sekolahnya, dia dinilai punya potensi sukses memilih bidang sains dan psikologi. Sherli pun memutuskan untuk memilih psikologi seusai lulus nanti. Dia pernah berdiskusi dengan alumni dari sekolahnya tentang kuliah dan prospek kerja di bidang psikologi.

“Saya memang suka dengan psikologi. Senang bertemu banyak orang dan mendengarkan cerita mereka,” kata Sherli.

Sherli pun tak bimbang karena orangtuanya mendukung. “Ayah dan ibu paham dengan peluang bidang ini. Jadi, tidak susah untuk meyakinkan mereka. Kalau bidang lain yang agak asing, orangtua sepertinya tidak setuju,” ujarnya.

Menurut Sherli, guru di sekolah pernah menyebut peluang kerja di bidang metalurgi. Namun, bidang ini sepertinya masih asing bagi orangtua sehingga agak sulit untuk meyakinkan.

Siswa kelas XII lainnya, Febrisma Melania, mantap mengincar kedokteran. “Cita-cita menjadi dokter ini sudah muncul sejak kecil dan tidak berubah sampai sekarang. Apalagi almarhum ayah memang berpesan supaya saya bisa menjadi dokter,” kata Febri, siswa MAN 18 Jakarta.

“Kebetulan orangtua mendukung karena profesi dokter sudah tidak asing lagi. Mudah-mudahan saya bisa diterima,” ujar Febri.

Sementara itu, Sabilla Lingga, siswa MAN 11 Jakarta, masih galau. Dia ingin mendalami psikologi, tetapi orangtuanya ingin dia memilih bidang bisnis.

Sebaliknya, M Faisal Fadil, juga siswa MAN 11 Jakarta, merasa tak punya masalah dalam memilih bidang yang bakal ditekuninya di perguruan tinggi. Dia yang hobi mendesain dan sudah berprestasi dalam bidang ini hingga tingkat nasional membayangkan akan memilih arsitektur interior. “Saya cari-cari informasi di internet. Ahli interior bakal makin banyak dibutuhkan,” katanya.

Pengaruh orangtua
Ina Liem, infopreneur seputar jurusan kuliah di perguruan tinggi yang menginisiasi jurusanku.com, mengatakan, pengaruh orangtua cukup besar untuk mengarahkan pilihan siswa saat kuliah. Sayangnya, pengalaman orangtua pada masa lalu belum tentu masih cocok dengan sekarang ini. Sering terjadi pula salah persepsi.

Menurut Ina, sebagian besar lulusan SMA masih menganggap bidang seperti kedokteran, akuntansi, hukum, dan manajemen sebagai karier yang paling menjanjikan di masa depan. Siswa pun berbondong-bondong memilih jurusan yang itu-itu saja.

“Jika pilihan anak-anak muda perguruan tinggi tak berkembang, itu bisa menjadi ancaman bagi Indonesia. Kini arus tenaga kerja terbuka dengan diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN. Nanti bidang-bidang yang tak diminati anak-anak muda Indonesia tetapi dibutuhkan bisa-bisa diisi tenaga kerja asing,” ujar Ina.

Ina bersama Budi Prast dalam buku berjudul Kreatif Memilih Jurusan memaparkan banyak siswa, termasuk orangtua, yang salah persepsi dalam memandang bakat dan pilihan jurusan. Mereka yang senang menggambar, misalnya, beranggapan cocok memilih arsitektur atau desain.

Contoh lain, ketika ada anak yang mau memilih matematika, orangtua langsung protes karena disangka nanti profesinya hanya guru. Padahal, kecakapan matematika terbuka di banyak bidang, termasuk aktuaria untuk perusahaan asuransi.

Menurut Ina, ada empat kesalahan umum yang menyebabkan kesalahan dalam memilih jurusan yang tepat. Pertama, mitos dan salah persepsi. Sebab, ada anggapan beberapa jurusan dianggap lebih hebat dari yang lain. Kedua, kurang informasi. Padahal, pada era internet kini sudah tersedia banyak informasi beragam profesi dan pekerjaan. Termasuk profesi yang baru, seperti pembuat aplikasi untuk berbagai kebutuhan atau yang terkait pembangunan butuh banyak tenaga kerja di bidang logistik hingga kelautan dan perikanan. Beragam aplikasi terkait jurusan dan karier juga bisa menjadi panduan, misalnya jurusanku.com dan youthmanual.com.

Ketiga, tak punya tujuan jelas karena tidak mengerti apa yang diinginkan sehingga asal-asalan memilih. Keempat, kurang mengenal diri, padahal tiap jurusan, keahlian, dan pekerjaan perlu kemampuan khusus.

Ristiawati (45), salah satu orangtua yang tinggal di Jakarta, mengaku ikut memberikan pandangan pada anaknya yang hendak masuk kuliah tahun ini. “Terserah anak mau memilih apa. Namun, kadang anak saya masih ragu-ragu mau memilih bidang apa. Sebenarnya pas bidang kelautan kini diperkuat. Tetapi masih buta soal itu,” ujarnya.

Saatnya siswa diajak mengenal minat, bakat, kepribadian, dan kecerdasannya agar tak menyesal di kemudian hari. (ELN)
——————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 12 Februari 2017, di halaman 5 dengan judul “Mau Kuliah? Pilihlah Jurusan dengan Cermat”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Hujan Menandai Kemarau Basah akibat Menguatnya La Nina

Hujan yang turun di Jakarta dan sekitarnya belum menjadi penanda berakhirnya kemarau atau datangnya musim ...

%d blogger menyukai ini: