Home / Berita / Masih Ada Asa untuk Luna

Masih Ada Asa untuk Luna

Bisakah merek lokal membuat telepon seluler pintar kelas flagship? Dari istilah yang dipergunakan, flagship adalah jenis ponsel yang menjadi andalan dari setiap merek yang hadir di pasar.

Spesifikasi komponen dirancang dengan prioritas untuk memberikan pengalaman terbaik bagi pengguna Iewat performa serta tampilan antarmuka terbaik.

Tidak ketinggalan desain produk yang mampu membuatnya menonjol serta berbeda dibandingkan ponsel-ponsel lain dari kelas lain seperti menengah ke atas, menengah, hingga pemula. Pun sama dengan pertimbangan harga yang tidak menjadi prioritas untuk ponsel, jenis in berbeda dengan kelas lain yang harus berhati-hati dan cermat memasang harga agar bisa menyasar segmen yang tepat. Seri andalan bagi merek-merek global adalah pemimpin rombongan produk ponsel mereka yang menyapa pasar di sepanjang tahun. Boleh saja mereka diluncurkan pada awal tahun, tetapi ponsel-ponsel lain yang muncul belakangan tidak akan pernah melebihi, baik dari sisi spesifikasi maupun fitur.

Sebut saja Samsung dengan seri Galaxy S yang menginjak angka ketujuh tahun ini, LG dengan seri Q, Xiaomi dengan seri Mi, atau Huawei dengan seri P9 yang akan diperkenalkan di Indonesia Desember ini. Ada pula pendatang baru yang hanya menghadirkan varian flagship di pasar, seperti OnePlus yang kini sudah menginjak seri ketiga. Mereka pun akhirnya berkompromi dengan membuat versi terjangkau, seperti OnePlus X.

Kembali lagi ke kalimat pembuka tulisan ini. Bisakah merek lokal membuat ponsel pintar kelas flagship saat mereka masih nyaman bermain di segmen pemula dan menengah. Advan misalnya, lebih memilih untuk berkiprah di segmen ini. Ponsel perdana mereka yang bekerja di jaringan seluler 4G, yakni i5A, dijual dengan harga Rp 2 juta memiliki spesifikasi yang bisa ditemui pada ponsel di kelasnya.

Mereka sempat menyiapkan seri G1 yang menjadi seIfi andalan meski belum masuk kategori flagship karena tetap berorientasi untuk menghasilkan produk yang terjangkau. Begitu pula dengan merek lokal lainnya Polytron memiliki tiga seri produk ponsel mereka, yakni Rocket, yang mengincar segmen pemula, seri Zap di segmen tengah, dan seri Prime untuk menengah ke atas. Bulan ini, mereka meluncurkan Prime 7S yang disebut sebagai seri mewah dengan spesifikasi lebih tinggi dari produk mereka sebelumnya meskipun belum bisa dikategorikan sebagai andalan.

Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi keputusan mereka, selain soal pasar. Demografi pengguna ponsel pintar di Indonesia menggunakan perangkat dengan harga Rp 1 juta-Rp 2 juta terbanyak di Indonesia.Peluang untuk mendatangkan penjualan akan lebih besar di segmen dengan konsumen paling banyak.

Begitu spesifikasi makin meningkat, terlebih memiliki fitur yang belum banyak ditemui, harga jualnya akan melambung dan mereka akan sulit bersaing dengan ponsel dari merek global yang bisa hadir dengan harga lebih terjangkau karena efisiensi rantai produksi. Itulah sebabnya Brand Manager Advan Andy Gusena akhir tahun lalu berkomentar bahwa membuat ponsel dengan performa kencang itu mudah, yang sulit adalah menjualnya.

Kerja sama
Masuklah nama Luna Smartphone. Ponsel ini dijual sejak pertengahan November dengan mengusung konsep flagship karena memiliki spesifikasi tingkat atas, seperti penggunaan sistem dalam cip dari Snapdragon Seri 800. Desainnya mengikuti tren ponsel andalan dari merek lain serta berbalut bahan metal sehingga membuatnya kokoh sewaktu digenggam. Ponsel ini juga didukung RAM 3 Gb dan
Memori internal 64 Gb.

Shannedy Ong, Country Manager Qualcomm Indonesia, menyebut Luna sebagai merek lokal pertama yang menggunakan produk kelas atas dari sistem dalam cip mereka. Luna menggunakan seri Snapdragon 801, seri yang sudah digunakan tahun lalu meski seri flagship di pasar tahun ini sudah banyak yang memakai seri Snapdragon 810.

Ponsel ini dikeluarkan oleh Luna Indonesia yang bekerja sama dengan raksasa manufaktur elektronik global Foxconn untuk membuat ponsel pintar kelas flagship yang akan dipasarkan di Indonesia. Meski nama Foxconn lebih dikenal sebagai manufaktur ponsel untuk merek global seperti Apple, perlu ditegaskan bahwa mereka tidak melakukannya di Indonesia. Yang terjadi, Foxconn memberikan pendampingan dari pemilihan komponen hingga menetapkan standar operasi manufaktur untuk fasilitas yang dimiliki Luna Indonesia di Semarang, Jawa Tengah.

Chief Marketing Officer Luna Indonesia Nina Ratna Wardhani menggambarkan persyaratan teknis itu awalnya sebagai sesuatu yang remeh, seperti kemiringan atap harus tepat pada sudut tertentu serta pertemuan dengan dinding tidak boleh ada sudut. Rupanya hal itu dimaksudkan untuk menjaga suhu ruangan agar nyaman bagi pekerja tanpa harus mengandalkan pendingin udara.

Luna Indonesia memang perusahaan baru dan didirikan khusus untuk kerja sama dengan Foxconn. Orang-orang di balik nama Luna Indonesia sudah dikenal terlibat di ponsel merek lokal Evercoss. Di sana, Nina pun menjabat sebagai CMO, tetapi dalam wawancara seusai peluncuran ponsel, dirinya meminta untuk dipisahkan antara Luna Indonesia dan PT Aries Indo Global selaku pemilik merek Evercoss.

Kerja sama antara Luna Indonesia dan Foxconn ini tidak akan berhenti di seri ini saja. Keduanya akan memperkenalkan beberapa seri pada 2017 tentunya dengan pendekatan yang sama, spesifikasi di atas rata-rata, tentunya berikut harga jualnya. ”Menurut data kami, pangsa pasar untuk ponsel pintar yang dijual di atas harga Rp 3 juta ada sekitar 41,1 persen,” kata Nina. Kolaborasi itu membuat Luna Indonesia bisa menjual ponsel dengan nama Foxconn yang tercetak di badannya. Di bawah nama seri ponsel tercantum tulisan bahwa ponsel ini dibuat atas kerja sama dengan Foxconn dan dirakit di Indonesia.

Dengan ketentuan soal komponen lokal yang diatur di tingkat kandungan dalam negeri (TKDN), nama Foxconn sebetulnya bisa dimanfaatkan untuk menjadi pihak ketiga bagi merek ponsel agar dirakit di sana demi memenuhi kandungan lokal. Namun Nina memastikan, fasilitas yang mereka kelola hanya akan untuk memproduksi ponsel Luna.

Meski demikian, bukan Indonesia saja yang memiliki merek Luna, Foxconn juga memproduksi ponsel dengan seri ini untuk pasar Korea Selatan bekerja sama dengan salah satu operator, yakni SK Telecom. Kolaborasi antara Luna Indonesia dan Foxconn berarti membuka peluang bagi ponsel ini untuk bisa dijual di Tanah Air tanpa menghadirkan Foxconn karena itu berarti dilakukan dengan investasi tersendiri. Nina memastikan bahwa kedua pihak memiliki peran tersendiri dalam hal investasi ataupun produksi.

Terlambat
Kompas berkesempatan mencoba ponsel Luna beberapa saat untuk aktivitas sehari-hari dan mendapatkan kesan Luna adalah produk yang mampu membuktikan bahwa harga jual Rp 5,5 juta bisa menghadirkan pengalaman prima dari ponsel kelas flagship meskipun merek lokal.

Spesifikasi yang dimiliki ponsel ini cukup mumpuni untuk keperluan rutin, seperti mengelola surat elektronik, hujaman kabar yang datang dari layanan perpesanan, dan berinteraksi dengan relasi lewat beragam format di media sosial. Semua bisa dilakukan lancar tanpa khawatir ponsel kekurangan sumber daya yang membuat kecepatannya melambat.

Satu hal lain yang menarik adalah tampilan antarmuka yang mengadopsi gaya stock Android atau versi dari sistem operasi yang murni tanpa diutak-atik oleh vendor agar membuatnya berbeda atau ditanam dengan aplikasi bawaan mereka. Versi 6.0 dari sistem operasi ini membuat navigasi layar ataupun menjalankan aplikasi berlangsung lancar berikut fitur terbaru yang ditawarkan Android. Pengguna leluasa untuk mengatur beberapa hal terkait tampilan mereka.

Desain produk ini akan mengingatkan segera dengan produk dari Apple yang kebetulan juga dikerjakan Foxconn, yakni iPhone 68 Plus, hal serupa yang menghinggapi sebagian besar vendor ponsel pintar Android. Namun, Luna memiliki aksen dipunggung bagian belakang berupa bulatan putih yang digunakan sebagai sensor near field communication (NFC), teknologi yang memungkinkan komunikasi antarperangkat dengan sentuhan. Meski belum banyak dipakai, NFC lazimnya dipakai sebagai medium bertransaksi keuangan.

Kamera juga tidak ketinggalan dipersiapkan untuk menghadirkan fitur yang memanjakan para pehobi foto. Kamera dengan resolusi 13 megapiksel memiliki beragam fitur untuk menghasilkan beraneka rupa karya, seperti sinemagraf atau gambar dengan salah satu bagian saja yang bergerak untuk mencuri perhatian siapa pun yang melihat, atau video dengan kecepatan rendah untuk memperlihatkan detail dari satu peristiwa.

Meski demikian, “kelemahan” dari ponsel ini bisa digambarkan dalam satu kata; terlambat. Spesifikasi yang dimiliki Luna barangkali layak dijuluki sebagai ponsel kelas flagship apabila diluncurkan dua tahun lalu. Daftar spesifikasinya malah mengingatkan pada OnePlus seri pertama yang diluncurkan tahun 2014 meski dengan beberapa penyesuaian seperti kamera depan atau baterai.

Pekerjaan rumah bagi Luna Indonesia adalah memperkenalkan produk mereka kepada konsumen Indonesia yang sangat mempertimbangkan reputasi (merek Pasar ponsel dengan harga Rp 5 juta yang sudah dikuasai merek global, seperti Samsung atau Oppo, tentu bukan perkara mudah untuk bisa menyelinap di sana. Hal yang bisa dilakukan adalah berpromosi gencar untuk memperkenalkan nama Luna atau bisa memanfaatkan nama Foxconn untuk membantu citra di benak konsumen.

Meski memiliki spesifikasi layaknya ponsel flagship tahun 2014, spesifikasi yang dimiliki ponsel ini masih relevan untuk dipakai dalam dua tahun in. Performanya masih kencang untuk menjalankan aplikasi yang ada saat ini. Desainnya pun disesuaikan untuk mengikuti selera terkini.

Dari sudut pandang selain konsumen, kerja sama ini juga cukup menarik untuk diikuti. Alih teknologi yang dilakukan Foxconn kepada Luna Indonesia tentu akan memperkaya industri ponsel dalam negeri pada masa mendatang. Tentu saja apabila kolaborasi ini bisa langgeng.

OLEH DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO

Sumber: Kompas, 29 November 2016

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: