Home / Artikel / Masalah Impotensia, Sisi Lain Kehidupan Seksual yang Penting

Masalah Impotensia, Sisi Lain Kehidupan Seksual yang Penting

DEWASA ini masalah seks sudah mulai dianggap tidak tabu lagi untuk dibicarakan, disuguhkan dalam film, media massa bahkan seminar seks-pun banyak digelar dan diminati. Namun masalah impotensia sebagai bagian dari problem kehidupan rumah tangga, porsinya masih terlalu sedikit diungkap bahkan kesannya dikesampingkan.

Tulisan ini dimaksud untuk mengulas masalah impotensia secara sepintas sebagai pengantar SEMINAR ILMIAH IMPOTENSIA UNTUK UMUM yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran UGM tanggal 22 April 1992, agar segalanya bisa berlangsung dan bermanfaat secara optimal bagi kita semua.

Pengertian Impotensia Impotensia berasal dari kata im = tidak dan poten = kuat; sehingga impoten artinya tidak kuat atau lemah, adalah suatu keadaan dimana lelaki secara fungsional “tidak mampu” melakukan aktivitas hubungan senggama secara “memuaskan” baik untuk dirinya maupun istri. Di dalam pembicaraan sehari-hari lazim disebut dengan lemah syahwat.

Keluhan impotensia dapat meliputi: gangguan birahi/ libido (nafsu kurang), gangguan ereksi/ penetrasi penis (lemah syahwat), gangguan pengeluaran air mani (ejakulasi awal/ dini), gangguan orgasmus/ perasaan kenikmatan seksual (tidak mencapai klimaks).

Penyebab
Faktor penyebab impotensia cukup kompleks, antara lain meliputi: 1. Faktor hormonal , 2. Faktor organik/ physik, 3. Faktor iatrogenik (pengaruh tindakan dan obat-obatan), 4. Faktor psikis/ kejiwaan.

  1. Faktor hormonal. Hal ini disebabkan karena kekurangan hormon testosteron, yang sebetulnya mudah terdeteksi dengan pemeriksaan darah secara radio immuno assay (RIA) atau secara tidak langsung dengan pemeriksaan kadar fruktose di dalam air mani semen). Menurunnya produksi hormon ini sehubungan dengan bertambahnya usia merupakan salah satu faktor melemahnya libido yang sejalan dengan umurnya. Di dalam praktek para dokter kadangkala langsung memberikan obat preparat testosteron, atau pasien langsung mencoha dengan makan “torpedo” kambing.
  2. Kelainan organik. Kelainanan ini dapat berupa: 2.1. Kelainan anatomi: a.Kelainan bawaan misalnya:
    hypospadi, epispadi, fimosis, hemaprodit, anorchidi/ discensustesticulorum. b. Penyakit peyroni (induratio penis plastica). c. Luka roda paksa atau akibat kecelakaan. 2.2. Kelainan neurologis /syaraf Neuropathia: diabethes mellitus, tabes dorsalis (syphilis). 2.3. Kelainan vaskuler: hipertensi, arteriosclerosis, kelelahan fisik atau mental.
  3. Faktor iatrogenik: – Akibat operasi alat genetalia, kelenjar prostat, alat rongga perut. – Instruksi dokter sanggama terputus, condomisasi pada program KB, atau “coitus on commands” pada pasangan ingin anak. Akibat obat-obatan, peminum alkohol dll.
  4. Faktor Psikus. Pengaruh kejiwaan dapat terjadi karena: a. Akibat psikologis dari faktor-faktor penyebab di atas yang baik langsung maupun tidak, dapat menimbulkan beban psikologis. b.Ketakutan dan kekurang pengetahuan tentang kehidupan seksual. c. Kecemasan akan akibat dari orchitis, torsi testis, penyakit kelamin, penyunatan dll. d. Gangguan seksualitas akibat ketidakmampuan isteri dalam “melayani” senggama, misalnya dyspareunie. e. Akibat psikosomatik dan pengaruh istri/masalah kehidupan rumah tangga, lingkungan yang kompleks.

Pada dasarnya aktivitas hubungan seksual pasangan suami-istri adalah merupakan buah dari hubungan cinta kasih laki-laki dan wanita. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa pada masa temanten baru/awal kehidupan perkawinan, nafsu birahi masih merupakan faktor dominan dalam mendorong interaksi aktivitas hubungan seksual. Nafsu birahi ini lebih merupakan sifat biologis alamiah yang justru sulit dibendung dan praktis tidak dipengaruhi oleh pertimbangan lain. Selanjutnya dengan bertambahnya usia, nafsu biologis ini secara alamiah mulai relatif menurun dan dorongan interaksi aktivitas seksual lebih didominasi oleh faktor perasaan dan hubungan kontak batin kasih sayang dengan isterinya. Padahal kita tahu, yang “perasaan” sifatnya sangat peka mudah terpengaruh oleh banyak faktor baik dari dalam tubuh maupun dari luar tubuh, apalagi kalau kemesraan suami-isteri semakin luntur dimakan umur.

Dalam budaya kehidupan yang semakin kompetitif ini, pengaruh luar tersebut semakin kompleks sehingga lebih memungkinkan terjadinya stress dan kekurang harmonisan hubungan batin suami-isteri. Akibatnya laki-laki semakin “dingin/ loyo”, jangankan ereksi, selera/ birahi saja sering sudah tidak muncul.

Dari uraian ini jelas bisa dimaklumi bahwasanya faktor psikis/ kejiwaan merupakan faktor penyebab impotensia yang paling tinggi. Dengan demikian setiap kasus impotensia perlu dilacak latar belakang problem kejiwaannya, yangdi dalam hal ini fihqk isteri harus dilibatkan. Masarahnya, masyarakat awam umumnya sulit menerima dengan akal sehat kejadian sebab akibat ini. Sering sama sekali tidak terlintas di benak mereka, bahwa ada hubungan antara penis dan kejiwaan/”otak”. Bahkan bagi anak muda/ penganten baru umumnya sama sekali tidak akan membayangkan bahwasanya nafsu muda yang menggebu dan mengasyikkan tersebut akan dapat surut di kemudian hari. Itulah sebabnya sebetulnya pengertian dan pengetahuan impotensiabukansaja perlu dimengerti oleh bapak-bapak, tetapi juga oleh para isteri, bahkan kalangan remaja baik laki-laki maupun wanita (calon suami-isteri) dan para penganten muda karena impotensia adalah masalah pasangan suami isteri yang bisa menyerang siapa saja dan sulit diramal terjadinya di dalam hal ini harus diingat bahwa kemunduran potensi seksual sering disebabkan akibat kurangnya persiapan dan penerangan perihal kehidupan seksual. Pengetahuan yang cukup tentang seksualitas dan impotensia sangat .diperlukan untuk pencegahan, deteksi dan pengobatan dini impotensia sehigga impotensia tidak terjadi atau menjadi berkepanjangan.

Data Populasi Akibat Impotensia
Data yang pasti tentang impotensia di masyarakat praktis belum ada, karena memang belum ada penelitian khusus. Berdasarkan pengalaman medis (dokter praktek), data perceraian dan data di Konsultasi Rubrik Kesehatan, impotensi cukup tinggi dan kenyataannya jumlah ini tentu lebih banyak lagi karena masih banyak kasus yang tidak dikemukakan/ dikeluhkan secara terbuka. Hal ini bisa dimaklumi karena sebagian masyarakat masih merasa tabu untuk membeberkan masalah seks apalagi masalah imptensia yang identik dengan “kurang perkasa” sifatnya sangat sensitif, “memalukan” dan penuh misteri; dan ini justru lebih berbahaya karena akan berakibat penderitaan/stress yang berkepanjangan yang pada saatnya nanti dapat meledak menjadi masalah Kalau hal ini tidak dikonsultasikan ke ahlinya, atau dikonsultasikan tetapi ke orang yang bukan ahlinya dapat mengakibatkan ke hal-hal yang lebih gawat.

Impotensia merupakan masalah yang sangat pribadi dengan faktor penyebab dan proses yang sangat komplek, akibatnya pun juga komplek, antara lain keputusasaan, stress, kekecewaan hidup, depresi, frustasi,menurunnya kebahagiaan keluarga bahkan, dapat merupakan sumber percekcokan suami isteri yang berakhir dengan perceraian.

Di fihak lain pembicaraan dan publikasi tentang kehidu-pan Seksual secara terbuka telah mulai dianggap tidak tabu lagi bahkan seminar seks mulai banyak digelar, namun masalah impotensi umumnya tidak diperhatikan. Di sisi lain iklan wanita “penyembuh” impotensia mulai banyak bermunculan di media massa. Ini tentu sangat menggembirakan, namun harus diingat kalau masalah impotensia ini hanya ditanggapi/ ditangani secara setengah-setengah, apalagi kalau itupun terjadi secara tidak jujur dan tidak proporsional, justru akan berakibat lebih fatal lagi. Karenanya peran tenaga medis dan psikolog dalam penyuluhan dan penanganan impotensia, perlu ditingkatkan.

Penanganan dan Pengobatan Impotensia
Keluhan impotensia hendaknya tidak langsung ditanggapi sebagai phenomena tunggal, namun senantiasa perlu dipertimbangkan/dipastikan latar belakang dan faktor penyebabnya. Dari ke empat faktor penyebab di atas faktor kejiwaan memang merupakan faktor yang menonjol sekaligus paling sulit dideteksi dan diatasi, karenanya wawancara yang tekun dan psikoterapi merupakan faktor yang penting. Namun perlu pula diperhatikan bahwa seorang pria dengan keluhan impotensia pasti tidak mengharapkan bahwa dokter akan mengatakan bahwa penyebabnya hanyalah “psikogen”, tetapi seorang penderita impotensia tentu mengharapkan bahwa dokter dapat menemukan adanya penyebab organik yang nyata, dan atas dasar adanya penyebab organik yang nyata ini, maka pengobatan kausal minta dilaksanakan pada tingkat pertama dan diharapkan menghasilkan kesembuhan. Seorang pria pada umumnya tidak mau disebut sebagai “mentally ill”. Dengan demikian, maka orang-orang seperti ini tentu tidak mudah menerima pengobatan psikiatrik.

Atas dasar pengertian ini pula adalah kewajiban dari para dokter dan psikolog untuk menerangkan dan menghilangkan keprasangkaan ini. Pada kasus psikogen, pada temu konsultasi isterinya harus dilibatkan, karena di samping sang isteri sebagai “konsumen” yang langsung menerima akibatnya, dalam banyak hal impotensia seksual priabersumber pada hubungan antara suami isteri, sehingga penyembuhannyapun harus melibatkan keduanya.

Tetapi sebaliknya, seorang dokter harus senantiasa men-cari adanya faktor penyebab or-ganisnya, karena bila suatu penyakit organik sebagai penyebab tidak mendapatkan perhatian, maka psikoterapi yang bagaimanapun tidak akan dapatmengatasikelainan potensi seksual yang diharapkan.

Gangguan impotensia yang paling sering dij umpai adalah lemah syahwat dan kesukaran penetrasi penis intra vaginal. Pada umumnya gangguan ereksi tidak mengurangi libido, malahan pada beberapa keadaan libido itu dapat meningkat. Tetapi bila penetrasi vaginal akan dilakukan, maka segeraterjadi ke”layu”an dan terjadilah kegagalan yang mengecewakan dan memalukan, dan menimbulkan adanya “sexual fear” pada kegairahan-kegairahan seksual berikutnya, akibatnya terjadi “mati tengah jalan”. Gejala impotensi seperti ini banyak ditemukan pada orang-orang muda usia atau pada temanten baru, dengan libido yang meluap-luap tapi kurang pengalaman. Pada keadaan-keadaan seperti ini maka pengarahan dan penerangan psikoseksual pasangan suami-isteri merupakan keharusan. Dalam hal seperti ini pemberian testosteron per injeksionum, akan dapat membantu memulihkan kepercayaan diri penderita, karena adanya kesegaran semangat yang “baru” yang ditimbulkan karena efek anabolik hormon ini. Tetapi pemberian horman saja, tidak akan memulihkan keadaan.

Gangguan potensi seks lain yang juga sering dijumpai, adalah ejakulasi dini dan awal. Keluhan ejakulasio dini/awal yang sudah lama terjadi, biasanya sangat mempengaruhi ereksi, sehingga penderita bersangkutan menjadi sadar akan adanya keluhan impotensi ereksi. Bila keadaan seperti ini berlanjut, maka kekecewaan-kekecewaan yang berturut-turut terjadi dapat menimbulkan hilangnya kegairahan seks (libido), dan dengan demikian dapat pula mengakibakan mengurangnya kenikmatan ejakulasi/ orgasmus. Dalam hal ini pemberian androgen akan tidak memberikan manfaat bahkan akan memberikan hasil yang makin parah terhadap ejakulasi dini ini. Bila keadaan penyebab organik dapat dikesampingkan, maka latihan untuk dapat menahan atau memperlambat terjadinyaejakulasi, akan lebih dapat memberikan hasil yang diharapkan. Masters Johnson dengan “squeeze technic” nya merupakan latihan menahan mengalirnya sperma, adalah cara penanggulangan yang perlu diketahui; Disamping itu pengarahan dan penerangan psikoseksual sekali lagi sangat diperlukan dalam penanganan ejakulasio dini, selain beberapa cara pengobatan lain, seperti “fingerpressure”,”accuputure”, “holoetectron stimulation” pompa darah dan lain-lain.

Akhirnya perlu ditekankan bahwa impotensia merupakan hal yang “multi kompleks”, yang dewasa ini bukan merupakan hal “tabu” untuk dapat dibicarakan secara jujur dan terbuka guna mengatasi kemungkinan lebih banyak timbulnya “korban”. Seyogyanya keluhan-keluhan seksual merupakan bagian yang sama pentingnya dengan penyakit-penyakit lain dalam pandangan kedokteran modern, untuk mendapatkan tanggapan yang saksama, dan tidak dianggap sebagai hal yang “menjemukan” atau dikesampingkan. Minat, peranserta profesi medispun perlu senantiasa disegarkan dan ditingkatkan.

Dalam kaitan inilah Komisi Pengabdian Masyarakat Fakultas Kedokteran UGM bermaksud menyelenggarakan “Seminar Ilmiah Populer Impotensia Untuk Umum” yang diharapkan akan bermanfaat bagi profesi medis, masyarakat luas pada saat ini dan saat mendatang.

Oleh dr JB Soebroto

Sumber: Kedaulatan Rakyat, 22 April 1992

Share
%d blogger menyukai ini: