Home / Berita / Masa Depan di Balik Pangan Fukushima

Masa Depan di Balik Pangan Fukushima

SjCOOP Tokyo-Fukushima
Tiga setengah tahun berlalu pasca bencana radiasi di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima Daiichi. Pertanian di sekitar wilayah itu berangsur pulih. Buah segar lokal terlihat melimpah sepanjang gerai makanan di supermarket Stasiun Fukushima, Jepang, Kamis (11/9).

Seorang pengunjung mendekati Oo Hashe, sang pramuniaga. Pria itu masih khawatir akan keamanan makanan di kota tersebut. Dia bermaksud membeli buah persik Fukushima, namun ingin mengetahui besaran kandungan radioaktif pada buah yang hendak dibelinya. Pihak supermarket rupanya tidak menyediakan alat penguji radioaktif.

Hashe hanya menunjukkan selembar kertas yang bertuliskan: ”Terima kasih sudah membeli buah-buahan dari kebun Tetamirai, Fukushima. Seluruh produk kami memenuhi standar keamanan yang ditetapkan Prefektur Fukushima. Buah yang dikemas berarti telah lolos dalam uji radiasi, atau dinyatakan aman bagi kesehatan.”

Pemerintah Jepang telah menetapkan standar ketat atas produk-produk makanan asal Fukushima. Sebelum beredar di pasaran, hasil panen dan produksi setempat wajib melewati pengujian radioaktif.

Dampak RadiasiBuah-buahan seperti yang ada di supermarket Stasiun Fukushima, diwajibkan berada pada level radiasi di bawah 100 Becquerel (Bq) per kilogram, sesuai aturan pemerintah yang memperketat level radioaktif dari sebelumnya 500 Bq per kg. Tidak hanya buah-buahan, aturan itu berlaku bagi produk beras, daging, ikan, dan sayuran.

Standar lebih ketat bagi makanan bayi, susu, dan minuman segar. Tingkat radioaktif makanan bayi dan susu dari sebelumnya 200 Bq per kg, kini harus di bawah 50 Bq per kg, bahkan minuman segar harus di bawah 10 Bq per kg.

Kebijakan tersebut menyusul bencana melelehnya inti sel Caesium di PLTN Fukushima, pasca tsunami 2011. Radius 20 kilometer dari PLTN dikosongkan demi menjaga masyarakat dari kontaminasi radioaktif tellarium, iodine-131, caesium-134, dan caesium-137.

Batas radiasi
Penetapan batas radiasi pada makanan bertujuan meminimalisasi dampak kesehatan warga. Sebagai gambaran, batasan radiasi dalam tubuh manusia masih aman pada level 1 milisievert per tahun. Kadar radiasi tersebut tidak mengganggu kesehatan. Secara alami, sel tubuh manusia juga memperbaiki kerusakan akibat paparan radioaktif. ”Dampak radiasinya tidak mengganggu kesehatan,” ujar Noboru Takamura, dalam ”Getting to Know the Current Situation of Fukushima”.

Takamura adalah Advisor of Radioactive Health and Risk Management, Fukushima Prefecture, Atomic Bomb Disease Intitute, Nagasaki University Department of Global Health, Medicine, and Welfare.

Namun, makanan yang terkontaminasi radioaktif menyebabkan masalah jika dikonsumsi secara akumulatif. Iodine menyebabkan kanker tiroid. Radioaktif caesium-137 menyebabkan masalah kanker dan gangguan paru-paru.

Dalam inspeksi pengukuran radiasi di Prefektur Fukushima, 30 Januari 2014, paparan di seluruh wilayah sudah jauh menurun. Tingkat radioaktif tertinggi hanya di Kota Okumamachi Uno yang berjarak 5 kilometer dari pusat radiasi.

Selama satu jam pengukuran, paparannya tercatat 0,0028 milisievert (mSv) alias 25,090 mSv per tahun, alias 25 kali dosis yang dianggap aman. Di Kota Namie yang berjarak 27 km dari PLTN, paparan radiasinya 0,000706 mSv per jam atau 6,15 mSv per tahun. Stasiun Fukushima yang berjarak 62 km teradiasi 0,000334 mSv per jam atau 2,9 mSv per tahun.

Baru-baru ini, supermarket dalam negeri telah memasarkan makanan maupun minuman asal Fukushima, yang selama ini dikenal sebagai pemasok utama hasil pertanian Jepang. Produksi buah persik Fukushima merupakan nomor dua terbesar se-Jepang, sedangkan buah pear di posisi ketiga, produksi beras di posisi keempat, dan apel terbesar kelima.

Agustus lalu, kantor berita BBC News melansir, beras Fukushima untuk pertama kalinya sejak bencana nuklir 2011, dijual di supermarket terbesar milik Jepang di Singapura sebanyak 300 kilogram. Beras tersebut dipanen dari hamparan sawah yang berjarak 60 kilometer dari PLTN.

Importasi ke Indonesia cukup tinggi sebelum bencana nuklir. Produk pangan dari Jepang mencapai 689.386 ton pada 2010, berupa daging dan kulit hewan, serta buah, sayur, dan seralia. Bahan makanan mentah yang biasanya diimpor dari Jepang adalah ikan, sayuran, dan udang. Belum diketahui besaran produk impor yang berasal dari Fukushima dan sekitarnya.

Kontaminasi radioaktif
Peneliti Fisika dari The University of Tokyo, Profesor Ryugo Hayano, mengatakan, kekhawatiran yang berkembang di masyarakat bahwa makanan asal Fukushima berbahaya bagi kesehatan karena terkontaminasi radioaktif mungkin terlalu berlebihan. Hayano menguji radiasi pada anak-anak di Fukushima pasca bencana nuklir. Hasilnya tidak seperti yang dikhawatirkan. Pengukuran pada 1.000 anak balita di 3 wilayah terdampak radiasi nuklir, Minamisoma, Hirata, dan Iwaki, tahun 2012-2013, menggunakan deteksi Babyscan hasil rancangannya. Caesium-137 terdeteksi rata-rata 20 Bq per anak, di bawah batas aman 30 Bq per anak. Hasil ini dapat menjawab kekhawatiran para ibu bahwa makanan yang mereka asupkan pada anak-anak telah terkontaminasi radiasi sedemikian parahnya.

Namun, hasil pengukuran itu belumlah menjamin bahwa tidak ada dampak apa pun pada manusia. Dunia mengetahui paparan radiasi terjadi sejak awal bencana, secara langsung atau melalui makanan. Pada saat itu, 7.654 unit sawah dan kebun buah seluas 620.000 hektar di sekitar PLTN Fukushima terkena radiasi (Hrabrin Bachev dan Fusao Ito dalam International Journal of Food and Agricultural Economics, 2014). Itu termasuk areal peternakan berpopulasi 1,1 juta ternak sapi, babi, lembu, ayam, dan bebek.

Kontaminasi radioaktif areal pertanian belum pernah diukur secara menyeluruh. Pengukuran lebih bersifat sporadis. Kontaminasinya di persawahan beragam mulai dari 400 Bq hingga 4.000 Bq per kg padi. Diduga masih banyak hotspot sawah yang berkontaminasi tinggi.

Director of Internal Medicine Soma Central Hospital, dr Sae Ochi, mengatakan, bagaimanapun tidak ada yang bisa menjamin dampak radioaktif pada kesehatan warga pada 10 tahun mendatang. (Irma Tambunan)

Sumber: Kompas, 28 Oktober 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

”Big Data” untuk Mitigasi Pandemi di Masa Depan

Kebijakan kesehatan berbasis “big data” menjadi masa depan pencegahan pandemi berikutnya. Melalui ”big data” juga, ...

%d blogger menyukai ini: