Home / Berita / Krisis Nuklir Jepang; Skala Bahaya Setara Chernobyl, Radiasi Jauh Lebih Kecil

Krisis Nuklir Jepang; Skala Bahaya Setara Chernobyl, Radiasi Jauh Lebih Kecil

Meskipun Skala Kejadian Nuklir Internasional (INES) pada ledakan di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima Daiichi, Jepang, sama dengan PLTN Chernobyl, Ukraina, jumlah paparan radiasi zat radioaktifnya berbeda. Dampak peningkatan skala bahaya nuklir dari level 5 menjadi level 7 (tertinggi) tak perlu dikhawatirkan berlebihan.

Ketua Jurusan Teknik Fisika Universitas Gadjah Mada (UGM) Sihana saat dihubungi dari Jakarta, Rabu (13/4), mengatakan, bahaya kecelakaan nuklir dikategorikan skala INES 7 bila paparan Iodium-131 melebihi 50.000 triliun becquerel atau 50.000 terabecquerel (TBq).

Dewan Keamanan Nuklir (NSC) Jepang menyebutkan, paparan I-131 dari ledakan (venting) di PLTN Fukushima Daiichi berdasarkan perhitungan sesudah 18 Maret mencapai 630.000 TBq. Itu jauh lebih tinggi dari perkiraan Badan Keselamatan Nuklir dan Industri (NISA) Jepang yang hanya 370.000 TBq, sedangkan paparan I-131 di Chernobyl mencapai 5,2 juta TBq.

”Itu paparan yang diukur sesaat sesudah ledakan. Sekarang pasti sudah turun nilainya. Apalagi setelah ledakan langsung disemprot air,” ujarnya.

Guru Besar Reaktor Nuklir, Institut Teknologi Bandung (ITB) Zaki Su’ud menambahkan, saat pertama kali kecelakaan, jumlah paparan belum bisa diukur secara benar karena darurat. Namun, pengukuran tetap dilakukan. Pengukuran terbaru menunjukkan, radiasinya 630.000 TBq seperti pantauan NSC.

”Saat awal kejadian, orang sibuk mengurus reaktor sehingga pengukuran belum normal. Baru sekarang didapat datanya. Hasil pasti pengukuran baru didapat 5 hingga 6 bulan lagi,” tuturnya.

Sementara itu, paparan Cesium-137 dari perhitungan NSC mencapai 12.000 TBq, sedangkan perkiraan NISA 6.100 TBq. Untuk PLTN Chernobyl, paparan Cs-137 mencapai 85.000 TBq. ”Tingkat radiasi di Fukushima Daiichi sepersepuluh dari radiasi di Chernobyl,” kata Zaki.

Sihana menambahkan, ledakan di Fukushima Daiichi disengaja untuk menghindari kerusakan tabung reaktor nuklir. Peledakan untuk mengurangi tingginya tekanan udara dalam reaktor yang bisa memicu rusaknya tabung reaktor.

Tingginya tekanan dipicu suhu tinggi dalam reaktor akibat tak berfungsinya sistem pendingin bahan bakar. Bahan ledakan yang keluar itu berupa hidrogen yang terakumulasi pada sungkup reaktor dan sejumlah zat radioaktif dalam jumlah kecil.

Bila tak diledakkan, tabung reaktor bisa meledak sendiri. Akibatnya, semua zat radioaktif, termasuk bahan bakar, terpapar ke lingkungan dan meluas.

Dosen Teknik Nuklir UGM, Susetyo Hario Putro menyatakan, I-131 dan Cs-137 bahan radioaktif hasil pembakaran bersifat volatil (mudah menguap).

Lebih rendah

Paparan radiasi dari ledakan di Fukushima Daiichi lebih rendah dari Chernobyl karena tak ada bahan bakar reaktor yang keluar. PLTN Fukushima Daiichi dan Chernobyl sama-sama berbahan bakar uranium. Bila bahan bakarnya terbakar, akan terdeteksi stronsium (Sr) sebagai salah satu hasil reaksi fisi. ”Hingga kini belum terdeteksi stronsium, artinya bahan bakar reaktor masih utuh dan belum meleleh,” katanya.

Seiring peningkatan skala bahaya itu, Pemerintah Jepang harus segera mengukur dampak dan paparannya bagi masyarakat sekitar PLTN, termasuk poten- si kanker yang mengancam warga.

Para ahli mengingatkan agar masyarakat Indonesia tak terlalu khawatir peningkatan skala bahaya kecelakaan nuklir di Jepang sampai ke Indonesia. Indonesia terletak di daerah khatulistiwa dengan pola angin yang menghambat angin dari Jepang.

Menurut Susetyo, pengukuran kadar I-131 di Kuala Lumpur, Malaysia, dan Taiwan, sebelum dan sesudah ledakan di Fukushima Daiichi masih sama meski sempat berfluktuasi. Bila negara-negara lebih dekat dengan Jepang aman, Indonesia dipastikan juga aman. (ISW/MZW)

Sumber: Kompas, 14 April 2011

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: