Home / Artikel / Masa Depan BSE, “Next Generation Learning Environment” dan Crayonpedia

Masa Depan BSE, “Next Generation Learning Environment” dan Crayonpedia

PENERAPAN Buku Sekolah Elektronik (BSE) melahirkan nuansa segar bagi dunia pendidikan diTanah Air. Sayangnya, penerapan tersebut masih terkendala berbagai persoalan teknis dan non-teknis. Beberapa pihak masih merasa kesulitan mengunduh langsung dari internet. Selain itu jumlah buku mata pelajaran yang tersedia juga masih belum lengkap. Meskipun Depdiknas telah menyatakan bahwa jumlah buku yang bisa diunduh akan mencapai lebih dari 400 buku. Begitu pula tentang Lembar Kerja Siswa (LKS) juga belum tersedia.

Di masa depan penerapan BSEsebaiknya jangan bersifat statis. Harus diusahakan lebih bersifat dinamis dan kolaboratif. Supaya tidak cepat ditelan oleh perkembangan jaman, maka BSE harus selalu berkembang dan bersenyawa dengan kaidah Wikinomics, kedigdayaan search engine serta adanya kebijakan nasional yang progresif semacam OLPC (One Laptop Per Child) atau minimal OLPT/C (One Laptop Per Tutor/Class) di mana satu komputer diberikan untuk seorang guru dan/ atau satu computer dan proyektor terpasang pada setiap kelas.

Langkah pertama persenyawaan itu dalam konteks pendidikan di tanah air bisa berupa sinergi antara pengelola BSE dengan Jardiknas dan pihak penyedia konten pendid ikan secara kolaboratifdan interaktif seperti misalnya Crayonpedia (Iihat www.crayonpedia.org). Selain itu pengembangan BSE sebaiknya jangan hanya difokuskan kepada aspek e-Books semata. Seperti aspek simplisitas dan kompatibilitasnya dengan berbagai operating system. Karena hal itu secara global sudah berkembang pesat dengan sendirinya.Terbukti dengan banyaknya jenis e-Books dengan platform dan keunggulannya masing-masing. Jenis-jenis e-Books antara lain Microsoft Reader e-Books, Mobil pocket, Palm Reader, Adobe Reader PDF, Gemstar Rocket, Hie book dan HTML e-Books.

Perkembangan e-Books dipacu oleh aksi korporasi dari Microsoft yang mengalihkan seluruh buku di Perpustakaan Kongres Amerika Serikat ke dalam bentuk digital. Perpustakaan terbesar di dunia ini memiliki 115 juta koleksi buku, majalah, jurnal, dalam 450 bahasa. Microsoft menargetkan aksi korporasi itu akan tuntas pada 2015.Tak pelak lagi, Microsofttelah mengeluarkan banyak effort untuk menghadirkan buku lewat e-Books. Untuk membuat tampilan buku elektronik itu mudah dan nyaman untuk dibaca diperlukan piranti khusus bernama Reader. Dengan piranti lunak ini pembaca dengan mudah membuka halaman, menyimpan pembatas buku, mencari isi dalam buku. Aksi korporasi Microsoft itu memiliki prospek bisnis dengan target penjualan 250 juta kopi Reader. Selain itu juga disertai pengembangan perangkat sejenis bernama ClearType yang mampu meningkatkan ketajaman huruf dan gambardi LCD.

Prospek e-Books di Tanah Air, khususnya tentang BSE mestinya dirancang agar searah dengan fenomena Wikinomics. Yang mana fenomena globalisasi itu ditandai oleh semangat jaringan sosial yang saling terbuka, saling berbagi dan berkonsultasi, dan saling bekerja cerdas secara global (global smart working). Trend global Wikinomics salah satunya ditunjukkan oleh Wikipedia yang didirikan oleh Jimmy Wales. Wikipedia yang setiap bulannya mendapat 2,5 miliar kunjungan itu merupakan website yang memungkinkan warga dunia bisa langsung mengedit halaman web yang berisi pengetahuan umum dari komputer masing-masing. Sukses Wikipedia membuat Google cukup agresif dalam mengembangkan aplikasi serupa yang diberi nama Knol.

The Next Generation Learning Environment dan Sekolah 2.0
Prospek BSE juga harus terwujud dengan kemampuannya mereduksi biaya sekolah secara signifikan dan mampu mendongkrak motivasi belajar para siswa. Sayangnya, hingga saat ini aktivitas penggunaan internet dari para siswa belum bergeser ke arah buku elektronik. Tetap saja didominasi untuk kegiatan chatting, blog, game dan memanfaatkan kecanggihan mesin pencari.

Prospek BSE bisa cerah, berdayaguna optimal dan kontennya berkembang pesat jika ekosistem pend idikan ditransformasikan terlebih dahulu dengan perkembangan intemet yang tengah mengarah keteknologi web 2.0. Yang ditandai berkembangnya sistem berbasis jejaring sosial. Juga diwarnai teknologi AJAX yang memungkinkan berjalannya aplikasi web seperti aplikasi desktop, berkembangnya teknologi multimedia baik audio dan video streaming, dan lain-lain.

Transformasi itu akan melahirkan sistem pembelajaranyang memanfaatkan kemajuan internet secara optimal atau “Next Generation Learning Environment”. Dalam konteks pendidikan dasar dan menengah penulis memberi istilah “Sistem Sekolah 2.0”. Sistem tersebut dibangun untuk menunjang penyelenggara satuan pendidikan tingkat dasar dan menengah dengan menerapkan manajemen berbasis sekolah sesuai Standard Nasional Pendidikan.

Pada prinsipnya Sistem Sekolah 2.0 mengintegrasikan Portal Sekolah dengan layanan pembelajaran seperti e-Academic, e-Learning Management, e-Authoring & Learning, e-Library, dan Layanan Administrasi Sekolah. Sistem Sekola h 2.0 bisa meningkatkan kinerja guru secara progresif. Wadah guru yang sudah ada,yaitu kelompok kerja guru (KKG) untuk tingkat SD dan musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) untuktingkat sekolah menengah bisa terartikulasi secara baik.

Sistem itu membuat aktivitas guru di KKG/MGMP memungkinkan membuat materi ajar secara kolaboratifdan efektif. Sistem di atas juga membantu jejaring kerja untukpeningkatan profesionalitas guru berkelanjutan yang melibatkan instansi pusat, Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK), Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) dan Dinas Pendidikan Propinsi/Kabupaten/Kota serta Perguruan Tinggi setempat. Sehingga tersedia wahana untuk pembinaan profesi guru secara terus menerus (continuous profesional development).

Wahana semacam itu mulai dibuat oleh Tim Jardiknas untuk menyediakan layanan berbagi yang berbasis multimedia bagi para guru, siswa dan pihak lainnya melalui Media Jardiknas. Meskipun karya para guru yang diunggah (upload) di Media Jardiknas masih banyakyang sederhana/minimalis dan belum ada standardisasi mutu konten, tetapi media itu untuk ke depan bisa membangun budaya upload dan mendorong penciptaan karya ilmiah. Untuk mengakselerasi Sistem Sekolah 2.0 di Tanah Air perlu diadopsi Program OLPC generasi kedua (X02) yang merancang laptop dengan kemampuan layarsentuhsebagai pengganti keyboard dengan harga yang murah sekitar 75 dolar AS per buah. Program tersebut sangat memungkinkan dikerjakan oleh perusahaan dalam negeri seperti PT INTI sehinga mampu membangkitkan kemampuan industri perangkat keras dalam negeri. Dengan skema pembiayaan dapat diusulkan diambil dari dana BOS per siswa yang besarnya antara Rp 25 ribu per bulan, selama kurang lebih tiga tahun ajaran. Lalu disertai dengan materi ajar hasil kolaborasi yang lengkap, bermutu, dan sesuai dengan standard KTSP. Dengan demikian suasana belajar di sekolah menjadi menyenangkan, memuaskan dan membekas. Selain itu para siswa juga tidak perlu “angkat beban” setiap harinya karena membawa berkilo-kilo buku ajar.

Crayonpedia dan masa depan BSE
Selain Jardiknas juga ada wahana pendidikan ber-bentuk ensiklopedia materi ajar, di mana BSE juga sudah termasuk di dalamnya, online yang bersifat kolaboratif dan dedicated di bidang pendidikan. Namanya Crayonpedia. istilah tersebut merupakan persenyawaan dari dua suku kata, yakni “Crayon” akronim dari Create Your Open Education Contentdan “Pedia” atau ensiklopedia. Persenyawaan itu memiliki makna sebagai media kolaborasi untuk membangun materi ajar online, di dalamnya termasuk BSE dan fasilitas bagi penyempurnaannya.

Crayonpedia dirancang oleh praktisi pendidikan bersama pengembang TIK Hasil rancang bangun kolektif itu diproyeksikan sebagai solusi atau jawaban untuk mendatarkan sistem pendidikan di negeri ini. Sekaligus sebagai salah satu wahana untuk turut membangun kurikulum Zeitgeist atau kurikulum yang mampu beradaptasi dengan semangat dan perkembangan jaman. BSE dapat disempurnakan berbasis kearifan lokal yaitu bekerja secara gotong royong dengan memanfaatkan internet via Jardiknas yang disediakan di sekolah.

Sebagai catatan, negara-negara maju seperti Amerika Serikat secara dini telah menemukan kesadaran nasional tentang kurikulum dan mutu pendidikan yang sesuai dengan tuntutan jaman. Kesadaran itu mengkerucut dalam tema besar”A Nation at Risk, The imperative for Education Reform”. Tema itu telah direspon secara cepat mulai dari Presiden USA hingga para Gubernur Negara Bagian. Antara lain dengan menyelenggarakan pendidikan dengan paradigma baru yang disebut Contextual Teaching and Learning (CTL).

Ini merupakan pendidikan progresif yang konsep awalnya diperkenalkan oleh John Dewey. Paradigma baru pendidikan itu membangun profesionalisme guru secara ketat dan peningkatan infrastruktur pendidikan secara besar-besaran. CTL juga diwarnai dengan sistem pendidikan melalui pendekatan inkuiri atau disebut “discovery approach”. Yakni pendekatan yang berorientasi pada pengolahan informasi dengan tujuan melatih pembelajar memiliki kemampuan berpikir hebatuntukdapat menemukan atau menciptakan karya ilmiah.

Dengan pendekatan inkuiri, pembelajaran siswa di sekolah difokuskan untuk mahir mengumpulkan data dan fakta yang tengah membanjiri dunia guna membuat konsep unggulan. Pendekatan inkuiri juga bisa menumbuhkan inovasi nilai danteknologi untuk mempertahankan kejayaan bangsa. Pendekatan itu menyadarkansegenap bangsa bahwa sistem sekolah merupakan investasi masa depan yang tiada taranya. Itulah kredo yang mendasari mengapa bangsa Amerika begitu getolnya melibatkan para guru untuk terlibat aktif dalam berbagai program riset nasional. Seperti yang terjadi dalam misi pesawat ruang angkasa Endeavour, dimana salah satu astronotnya adalah seorang Guru IPA Sekolah Dasar yang bernama Barbara Morgan.

BSE, Jardiknas, Crayonpedia, Google, Wikipedia, OLFT/C dan OLPC, dan Sekola h 2.0 adalah lintasan kritis untuk membangkitkan pendidikan ditanah air!

Hemat Dwi Nuryanto, Chairman Crayonpedia, Alumni Universitas Paul Sabatier Toulouse Prancis. blog:hdn.zamructtechnology.com

Sumber: Warta e-Gov, No. 08, 15 Agustus – 15 September 2008

Share
%d blogger menyukai ini: