Home / Berita / Mahasiswa Miskin Berprestasi; Menitipkan Indonesia pada Mereka

Mahasiswa Miskin Berprestasi; Menitipkan Indonesia pada Mereka

Mereka mahasiswa-mahasiswa yang luar biasa. Kemiskinan tidak dijadikan alasan untuk mengubur cita-cita. Justru lilitan kemiskinan menjadi pemicu dan pelecut untuk maju.

Sri Mudrikah (22), misalnya. Mahasiswa semester akhir Jurusan Ilmu Politik Universitas Tanjungpura, Pontianak, ini, orangtuanya “hanya” petani karet di Kalimantan Barat dengan penghasilan sekitar Rp 500.000 per bulan.

Uang sekecil itu harus dipakai untuk biaya makan sehari-hari keluarganya serta biaya sekolah Sri dan adiknya. Namun, Sri bisa meringankan beban orangtuanya dengan mendapatkan Beasiswa Pendidikan untuk Mahasiswa Miskin Berprestasi (Bidikmisi). Ia pun bisa membanggakan orangtuanya dengan meraih indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,92.

Lain lagi dengan Jabal Nur (20). Ayah mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Hasanuddin, Makassar, ini meninggal saat ia duduk di sekolah dasar. Ibunya yang guru honorer di sebuah madrasah tsanawiyah hanya mendapat honor Rp 1 juta per bulan. Uang sebesar itu harus cukup untuk menghidupi Jabal dengan ketiga adiknya.

Untunglah Jabal mendapat beasiswa Bidikmisi yang besarnya Rp 600.000 per bulan sehingga beban ekonomi keluarganya sedikit lebih ringan.

Jabal juga berhasil mengukir prestasi dengan indeks prestasi (IP) semester terakhir 3,91. Selain itu, Jabal juga meraih berbagai predikat juara dalam sejumlah lomba mahasiswa, seperti debat, pidato, dan karya tulis ilmiah.

Selain belajar dan beraktivitas di kampus, ia juga menjadi marbot atau pengurus Masjid At-Taubah di lingkungan kantor Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Makassar.

Bukan kendala
Keterbatasan ekonomi juga tak pernah menghentikan ambisi Birrul Qodriyyah (23) untuk meraih berbagai prestasi. Meski kedua orangtuanya hanya buruh tani di Bantul, Yogyakarta, dengan penghasilan sekitar Rp 300.000 per bulan, Birrul berhasil menjadi Juara I Mahasiswa Berprestasi di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, pada 2013. Setahun kemudian, Birrul meraih gelar Sarjana Keperawatan dengan IPK 3,75.

Sejak kecil, Birrul memang sudah meraih berbagai prestasi. Saat duduk di taman kanak-kanak hingga SMA, misalnya, dia kerap meraih juara lomba musabaqah tilawatil quran (MTQ) mulai dari tingkat kecamatan hingga provinsi.

Birrul kini menjalani praktik profesi di sejumlah rumah sakit. Setelah lulus praktik profesi, Birrul berencana melanjutkan studi S-2 ke luar negeri dengan program Beasiswa Afirmasi dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Dia ingin kuliah ke Inggris, Australia, atau Belanda dengan fokus pada geriatri atau ilmu perawatan untuk orang lanjut usia. “Saya memilih geriatri karena setelah tahun 2035, Indonesia akan punya banyak lansia sehingga kita butuh ahli dalam perawatan lansia,” ujar Birrul.

Lain lagi dengan Dwi Yulian Fahruddin Shah (20), anak seorang pegawai kantor pos di Probolinggo, Jawa Timur. Selain. menyelesaikan pendidikannya di SMA Negeri 1 Probolinggo selama dua tahun, ia juga sering mengikuti berbagai kompetisi tingkat internasional.

Hingga kini, mahasiswa Jurusan Kimia Fakultas Sains dan Teknologi di Universitas Airlangga Surabaya ini kerap berbicara dalam berbagai forum mahasiswa internasional di sejumlah negara. Setidaknya sudah tujuh forum mahasiswa internasional yang ia ikuti di Perancis, Jepang, Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Dalam forum internasional di Paris, Perancis, tahun lalu, misalnya, ia berbicara mengenai demokrasi, politik, dan partisipasi sipil. Di Singapura (2015), dalam ajang kompetisi peneliti internasional yang digelar Perserikatan Bangsa-Bangsa, ia mendapat penghargaan presentasi terbaik tentang humaniora dan ilmu pengetahuan sosial.

Sementara itu, Jesi Pebralia (23) termasuk lulusan tercepat penerima Bidikmisi angkatan pertama dengan predikat cum laude. Mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sriwijaya, Palembang, itu lulus dengan IPK 3,75, sekaligus IPK tertinggi di FKIP Universitas Sriwijaya.

Setelah lulus dari Unsri, Jesi berhasil lolos seleksi beasiswa LPDP dan saat ini tengah menjalani pendidikan S-2 di Program Studi Fisika di Fakultas Matematika dan IPA, Institut Teknologi Bandung (ITB).

Buka peluang
Beasiswa Bidikmisi dimulai tahun 2010 dengan sasaran calon mahasiswa yang berasal dari keluarga miskin dan berprestasi. Tujuannya agar mahasiswa dari keluarga miskin, tetap bisa menikmati pendidikan tinggi. Karena itu, selain dibebaskan dari uang kuliah, mereka juga mendapat uang untuk kebutuhan hidup Rp 600.000 per bulan.

Saat diluncurkan 2010, baru 20.000 mahasiswa yang menerima Bidikmisi. Kemudian tahun 2011, meningkat menjadi 30.000 mahasiswa, tahun 2012 sebanyak 42.000 mahasiswa, tahun 2013 jadi 61.000 mahasiswa, dan tahun 2014 sekitar 63.000 mahasiswa. Tahun 2015 ini ditargetkan untuk 60.000 mahasiswa, tetapi ada kemungkinan ditambah.

“Dari hasil evaluasi kami, prestasi akademik ataupun nonakademik penerima beasiswa bidikmaisi sangat memuaskan,” kata Edi Siswanto, Kepala Subdirektorat Program dan Evaluasi Pembelajaran, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kemenristek dan Dikti.

Mahasiswa penerima Bidikmisi yang IPK-nya 3,00-3,49, misalnya lebih dari 50 persen. Sebanyak 23 persen meraih cum laude dengan IPK 3,50-3,99, serta yang meraih IPK 4,00 sebanyak 0,5 persen.

Penerima Bidikmisi yang IPK-nya di atas 3,50 bisa melanjutkan pendidikan S-2 dengan dukungan dana dari LPDP. Adapun yang kurang dari 3,50 harus mengikuti tes lebih dulu.

Melihat banyaknya mahasiswa penerima Bidikmisi yang berprestasi, tidak salah jika mereka menikmati pendidikan lebih tinggi untuk mewujudkan cita-cita mereka. Tak cuma itu, melihat kegigihan dan semangat mereka, tak salah jika kita menitipkan masa depan Indonesia pada mereka.(HRS/ESA/DEN/ENG/CHE/IRE/DNE/ELN)
————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 27 Juni 2015, di halaman 1 dengan judul “Menitipkan Indonesia pada Mereka”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: