Home / Berita / Lulusan S-2 Tak Jamin Gampang Dapat Kerja

Lulusan S-2 Tak Jamin Gampang Dapat Kerja

Jumlah mahasiswa pascasarjana sejak 10 tahun terakhir mengalami lonjakan 78 persen dari sekira 100 ribu menjadi lebih dari 180 ribu. Padahal, gelar master ini ternyata sering tidak menjadi kriteria pertama yang dipertimbangkan oleh perusahaan saat berburu karyawan baru.
Menurut 1.111 Job Bank, sebesar 66 persen dari perusahaan yang disurvei menyatakan, gelar master tidak akan secara signifikan menguntungkan pencari kerja. “Tingkat gelar seseorang biasanya bukan sesuatu yang paling dipedulikan oleh perusahaan. Kami lebih suka memiliki seseorang yang memiliki passion dan memulai kepemimpinan yang baik sejalan dengan visi perusahaan kami,” kata Public Affairs Officer Carrefour Manajer Margery Ho, seperti dikutip dari The China Post, Minggu (21/10/2012).

Namun, menurut Job Bank, masih ada cukup banyak industri yang memberikan bobot tinggi untuk gelar master terutama di sektor-sektor yang memerlukan keahlian profesional, seperti teknologi informasi dan biokimia. “Apakah suatu industri membutuhkan karyawan bergelar master atau tidak, itu tergantung pada jenis industri tersebut,” ujar Ho.

Deputy General Manager Job Bank Henry Ho mengungkapkan, banyak lulusan perguruan tinggi memutuskan untuk mencoba untuk meraih gelar master karena takut menjadi pengangguran segera setelah lulus. Hal ini terjadi akibat adanya laporan pada Agustus lalu bahwa sebesar 4,4 persen pengangguran adalah bergelar sarjana.

“Sebuah gelar master memang bernilai dan diakui. Namun yang lebih penting, kita harus mencari tahu apa jenis kemampuan yang akan membuat industri tertarik pada kita sebelum akhirnya terjun ke pendidikan tinggi,” papar Ho.

Untuk beberapa industri seperti komunikasi dan pelayanan, Ho menyarankan agar para lulusan untuk masuk ke lingkungan kerja sebelum kembali melanjutkan gelar master. Sebab, pada bidang ini, pengalaman kerja sangat diperlukan. “Setelah beberapa tahun, Anda dapat kembali dan melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi untuk kesempatan gaji yang lebih tinggi pula,” tukasnya.

Berdasarkan survei tersebut, rata-rata gaji awal untuk lulusan bergelar master adalah TWD35.132 atau sekira Rp11,5 juta (Rp328 per New Taiwan Dollar). Namun, sebesar 26,9 persen perusahaan mengatakan, mereka diminta untuk menghindari mempekerjakan para lulusan S-2 untuk mengurangi biaya. Selain itu, sejumlah perusahaan ini mengaku, tugas-tugas yang diberikan kepada para karyawan tidak membutuhkan pendidikan tinggi dan mereka memiliki kekhawatiran jika para lulusan S-2 kemungkinan memiliki sikap yang ‘arogan’.

“Kami pernah memiliki orang-orang dengan gelar master yang ingin melewati bagian dasar sebuah pekerjaan dan ingin langsung melompat ke tingkat manajer. Mereka tidak mengerti jika level dasar adalah tempat untuk memulai bagi setiap orang. Apalagi jika dibandingkan dengan mereka yang langsung mulai bekerja setelah lulus, maka para lulusan S-2 ini sudah dua tahun tertinggal mengenai pengalaman pekerjaan,” kata Margery Ho.

Salah satu lulusan S-2 bermarga Dai yang diterima pada enam program master berbeda untuk studi keuangan menyatakan tidak akan mengharapkan gaji yang lebih tinggi ketika mulai karirnya. “Saya tidak akan punya pengalaman bekerja, jadi saya tidak akan mengharapkan gaji yang tinggi saat memulai. Saya rasa gelar master memberi saya tiket untuk maju ke posisi yang lebih baik di perusahaan besar dan gaji yang lebih tinggi,” ujarnya.(mrg)-Margaret Puspitarini

Sumber: Okezone.com, Minggu, 21 Oktober 2012 09:04 wib
Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: