Home / Berita / LIPI Ungkap Kekayaan Alam Enggano kepada Masyarakat Bengkulu

LIPI Ungkap Kekayaan Alam Enggano kepada Masyarakat Bengkulu

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia menyosialisasikan hasil eksplorasi alam Pulau Enggano, Provinsi Bengkulu, di Kota Bengkulu melalui simposium. Tujuannya masyarakat Bengkulu secara umum dan masyarakat Pulau Enggano pada khususnya menyadari kekayaan hayati Enggano dan menjaganya dalam konsep pembangunan berkelanjutan.

Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Iskandar Zulkarnain menuturkan, setelah di abad-abad sebelumnya Samudra Atlantik dan Pasifik yang menjadi pusat perkembangan peradaban, di abad ke-21 ini giliran Samudra Hindia yang menjadi pusat perkembangan. Sebagai salah satu pulau di Samudra Hindia, Enggano diyakini akan mengalami kemajuan pesat.

Dari hasil eksplorasi para peneliti LIPI, Enggano kaya akan keanekaragaman flora dan fauna yang penting dilestarikan. “Kita tidak mungkin menjadikan satu pulau sebagai area konservasi, tetapi konservasi harus menjadi salah satu komponen dalam program pembangunannya,” ujar Iskandar dalam Simposium Enggano 2015 dengan tema “Enggano: Alam dan Manusianya” di Kota Bengkulu, Senin (16/11).

87027670f60149589d89e49ba866aa88KOMPAS/JOHANES GALUH BIMANTARA–Warga lokal Pulau Enggano menampilkan Tari Perang, salah satu tarian tradisional Enggano, dalam Simposium Enggano 2015, Senin (16/11), di Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu. Simposium untuk menyosialisasikan hasil eksplorasi tim peneliti LIPI yang mengungkap kekayaan keanekaragaman hayati Pulau Enggano.

Tim peneliti LIPI mengeksplorasi pulau tersebut sepanjang April-Mei 2015. Hasilnya terdapat lebih dari 16 kandidat jenis baru flora dan fauna yang kemungkinan merupakan flora dan fauna khas Enggano yang tidak bisa ditemukan di tempat lain. Terdapat pula lebih dari tujuh catatan baru yang bisa menjadi koreksi terhadap pemahaman yang selama ini dipegang tentang persebaran flora dan fauna.

Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI Enny Sudarmonowati mengatakan, simposium tentang hasil eksplorasi Enggano tidak dilaksanakan di Jakarta, Cibinong, atau wilayah lain yang dekat dengan pusat pemerintahan, tetapi di Bengkulu, provinsi “pemilik” Pulau Bengkulu. “Hasil penelitian tidak akan bermakna kalau tidak mendorong kesejahteraan bagi masyarakat sekitar. Karena itu, simposium berlokasi di Bengkulu,” katanya.

Enny yakin, dengan ekspos terus-menerus dan luas sejak adanya eksplorasi, pembangunan di Enggano akan semakin gencar. Karena itu, ia meminta pemerintah daerah dan masyarakat agar membangun dalam konsep pembangunan berkelanjutan. Ia mencontohkan, banyak pohon merbau di Enggano ditebang. Jika tidak dikendalikan, penebangan bisa menimbulkan degradasi ekosistem yang berdampak terhadap kehidupan masyarakat.

Tak pernah menyatu

Enggano merupakan pulau samudra (oceanic island) yang dalam sejarah geologisnya tidak pernah menyatu dengan Pulau Sumatera. Pulau samudra biasanya memiliki banyak keunikan, salah satunya berupa flora dan fauna yang tidak umum ditemukan di tempat lain.

05ee1d55abb44531bff03b94adabd296KOMPAS/JOHANES GALUH BIMANTARA–Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Iskandar Zulkarnain (kelima dari kiri) dan Gubernur Bengkulu Junaidi Hamsyah (ketujuh dari kiri) menabuh dol, kendang dalam bahasa lokal Enggano, untuk membuka Simposium Enggano 2015, Senin (16/11), di Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu. Simposium untuk menyosialisasikan hasil eksplorasi tim peneliti LIPI yang mengungkap kekayaan keanekaragaman hayati Pulau Enggano.

Secara administratif, Pulau Enggano termasuk dalam wilayah Kabupaten Bengkulu Utara. Enggano merupakan pulau terluar Provinsi Bengkulu yang berada di Samudra Hindia, berjarak 175 kilometer dari Kota Bengkulu dan 513 kilometer dari Jakarta. Wilayahnya terbagi menjadi enam desa.

Gubernur Bengkulu Junaidi Hamsyah menambahkan, selain mempertimbangkan ekonomi dan alam, pembangunan di Enggano diarahkan agar meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal. Ia mendorong investor untuk membangun hotel-hotel dan pariwisata di Enggano, tetapi ia meminta ada pemasukan bagi pulau ini. “Misalnya, dari biaya sewa hotel per malam, 50 atau 40 persennya untuk kas Enggano,” ujarnya.

J GALUH BIMANTARA

Sumber: Kompas Siang | 16 November 2015
————
Keberlanjutan Keragaman Hayati Terancam

Eksplorasi sumber daya hayati tim peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia di Pulau Enggano menemukan dua hal. Di satu sisi, pulau itu sangat kaya hayati, termasuk spesies-spesies khas yang tidak ada di tempat lain. Di sisi lain, kekayaan itu terancam aktivitas manusia.

64aab9b2ea474bfea4b1a94089ed5426“Dengan adanya kebakaran lahan saat kami di sana, kelestarian keanekaragaman hayati Pulau Enggano dalam kondisi darurat, tetapi masih bisa diselamatkan,” ucap Koordinator Penelitian Eksplorasi Bioresources Indonesia 2015 Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Ary P Keim saat Simposium Enggano 2015 di Kota Bengkulu, Senin (16/11). Simposium bertema “Enggano: Alam dan Manusianya”.

Ary mengatakan, kondisi darurat itu karena tak ada jaminan kebakaran tidak terulang mengingat kemungkinan besar lahan sengaja dibakar, antara lain untuk pembukaan lahan perkebunan. Kebakaran alamiah hampir pasti tak terjadi di kawasan tropis seperti Indonesia. Berbeda dengan negara empat musim, yang memiliki hutan konifer dengan pohon-pohon mengandung terpentin sebagai bahan bakar alami di musim panas.

Kebakaran lahan luas terjadi di Enggano saat sejumlah anggota tim peneliti kembali ke Enggano, pertengahan Oktober lalu. Kebakaran terutama di ratusan hektar perkebunan rakyat di area Desa Meok dan Banjarsari.

50220e1188d84762aba8b71995b801b4Ary menuturkan, sangat banyak jenis flora dan fauna endemis (khas Enggano) berukuran kecil sehingga terancam jika lahan terbakar. Contohnya, tanaman Burmannia engganensis yang sebelumnya tercatat WJ Lutjerharms tahun 1936. Tanaman berbatang lebih tipis dari lidi itu terancam punah sebelum dieksplorasi manfaatnya.

Kebakaran juga mengancam burung endemis, seperti Otus enganensis atau burung hantu Enggano. Ancaman juga di habitat air seiring masuknya spesies asing, yakni ikan gabus dari luar Enggano yang memangsa habis larva-larva kepiting dan lobster.

Keunikan hayati
Tim Eksplorasi Bioresources Indonesia 2015 LIPI menjalankan ekspedisi ke Enggano pada 16 April hingga 5 Mei 2015. Dalam waktu singkat, tim mengumpulkan banyak spesies flora dan fauna yang patut diduga jenis baru. Catatan baru, jenis di tempat lain juga ada di Enggano.

Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI Enny Sudarmonowati menuturkan, awalnya tim menargetkan 10 jenis baru flora dan fauna di Enggano. Ternyata ada lebih dari 16 kandidat jenis baru yang kini dikoleksi tim. Selain itu, ada lebih dari tujuh catatan baru spesies. “Ekosistem Enggano unik,” ujarnya.

Secara administratif, Pulau Enggano termasuk wilayah Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu, dan berada di barat Pulau Sumatera. Enggano pulau terluar yang berlokasi di Samudra Hindia, 175 kilometer dari Kota Bengkulu dan lebih dari 500 km dari Jakarta.

Kepala LIPI Iskandar Zulkarnain menjelaskan, umur batuan di Enggano yang tertua 5,3 juta tahun, sedangkan termuda 1-2 juta tahun. Pulau itu pulau samudra dan tak pernah menyatu dengan Sumatera, yang diyakini pernah jadi bagian pinggir dari Benua Asia. “Secara biologis, endemisitas (kekhasan) flora dan fauna Enggano tinggi,” ucapnya.

Gubernur Bengkulu Junaidi Hamsyah menyatakan, pihaknya berkomitmen menjaga kelestarian alam Enggano. Ia mencabut penambangan pasir. Ia juga melarang pembukaan kebun sawit karena akan menguras air yang terbatas. (JOG)
———————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 17 November 2015, di halaman 14 dengan judul “Keberlanjutan Keragaman Hayati Terancam”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: