Ekspedisi Enggano; Puluhan Spesies Baru Bukan Mustahil

- Editor

Senin, 4 Mei 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tim Eksplorasi Bioresources 2015 Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia yakin memenuhi target minimal sepuluh spesies baru dari sampel fauna, flora, dan mikroba yang dikoleksi di Pulau Enggano, Bengkulu. Meskipun jumlah jenis flora, fauna, dan mikroba tidak sebanyak pulau besar, seperti Sumatera, Enggano menjanjikan tingkat endemisitas atau kekhasan spesies yang tinggi.

“Dari pengamatan morfologi, kami menduga telah mengoleksi sejumlah spesies baru. Kami buktikan lewat analisis genetika,” kata Koordinator Utama Eksplorasi Bioresources 2015 Amir Hamidy dari Kota Bengkulu, dihubungi Sabtu (2/5). Eksplorasi tersebut bagian dari Ekspedisi Widya Nusantara 2015 dengan fokus memperbarui data spesies fauna, flora, dan mikroba di Pulau Enggano.

Dari kelompok peneliti zoologi atau ilmu tentang satwa, koleksi yang diduga spesies baru antara lain katak, ular, burung (kemungkinan subspesies baru), kelelawar, dan ikan. Dari kelompok botani atau tumbuhan, peneliti menduga dapat 10 spesies baru. Dikumpulkan juga 50-70 catatan baru, spesies tumbuhan (tak harus spesies baru) yang sama sekali belum ada dalam referensi flora Enggano terdahulu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

90f862921bd4481a9a5924a9eeca4bd4Katak yang tergolong kelompok Hylarana nicobariensis dikoleksi tim Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dari Desa Malakoni, Pulau Enggano, Bengkulu, Rabu (22/4). Peneliti LIPI menduga katak itu spesies baru. Ada puluhan koleksi flora, fauna, dan mikroba yang diduga jenis baru.—–Arsip Lipi

Jumlah dugaan spesies baru diperkirakan bertambah dari kelompok mikrobiologi, yang masih mengidentifikasi jenis mikroba-mikroba dari Enggano di Cibinong Science Center, Bogor.

Pengamatan morfologi untuk identifikasi jenis setidaknya dengan dua acuan: ukuran (jumlah dan panjang bagian tertentu) dan diagnosis karakter (warna dan suara) dari spesies yang dideskripsikan dan dipublikasikan sebelumnya. Jika tidak sesuai dengan ukuran dan karakter dari spesies yang ada, kemungkinan jenis baru.

Amir mencontohkan, tim menemukan satu jenis katak dari kelompok Hylarana nicobariensis. Grup katak ini tersebar luas dari Kepulauan Nikobar di Samudra Hindia hingga Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Namun, ia mendapati karakter suara unik dari katak grup itu di Enggano. “Saya akan mengecek DNA (asam deoksiribonukleat) mitokondria 16S untuk mendapatkan kepastian jenis,” ujarnya.

Contoh dugaan spesies baru lain adalah ular mock viper (mirip ular beracun). Biasanya, ukuran tubuh ular mock viper lebih kecil daripada ular viper, tetapi ukuran mock viper dari Enggano besar, menyerupai viper.

Berdasarkan keunikan-keunikan pada koleksi spesies dari Enggano, menurut Amir, Pulau Enggano merupakan lokasi tepat mempelajari proses evolusi spesies. Apalagi, sejarah geologis Enggano tergolong unik. Pulau seluas lebih dari 39.000 hektar itu diyakini tak pernah menyatu dengan daratan Sumatera sehingga lingkungan yang berbeda di antara keduanya berpotensi membuat flora, fauna, dan mikroba yang berkembang juga berbeda.

Dengan beragam keunikan itu, Amir mendorong pemerintah tetap menegakkan upaya konservasi keanekaragaman hayati di Enggano. Paling tidak, pemerintah melindungi area kawasan konservasi dari pembukaan hutan untuk perkebunan.

Peneliti etnobotani LIPI yang ikut eksplorasi, M Fathi Royyani, mengatakan, masyarakat Enggano berpotensi ikut aktif mengonservasi kawasan hutan tersisa. Warisan budaya nenek moyang pun memperkuat upaya konservasi, misalnya anjuran sejak zaman dulu untuk tidak membuka hutan di pinggir sungai dan di kawasan mata air. (JOG)
————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 4 Mei 2015, di halaman 13 dengan judul “Puluhan Spesies Baru Bukan Mustahil”.

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Galodo dan Ingatan Air
Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri
Siapa yang Berhak Menyebut Ilmu?
Ketika Forensik Digital Bertemu Kekuasaan
Gen, Data, dan Wahyu
Bobibos: Api Kecil dari Sebuah Gudang Jerami
Biometrik dan AI, Tubuh dalam Cengkeraman Algoritma
Habibie Award: Api Intelektual yang Menyala di Tengah Bangsa
Berita ini 22 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 29 Desember 2025 - 19:32 WIB

Galodo dan Ingatan Air

Senin, 29 Desember 2025 - 19:06 WIB

Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri

Jumat, 26 Desember 2025 - 11:41 WIB

Siapa yang Berhak Menyebut Ilmu?

Jumat, 26 Desember 2025 - 11:38 WIB

Ketika Forensik Digital Bertemu Kekuasaan

Jumat, 26 Desember 2025 - 11:02 WIB

Gen, Data, dan Wahyu

Berita Terbaru

Berita

Galodo dan Ingatan Air

Senin, 29 Des 2025 - 19:32 WIB

Artikel

Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri

Senin, 29 Des 2025 - 19:06 WIB

Artikel

Siapa yang Berhak Menyebut Ilmu?

Jumat, 26 Des 2025 - 11:41 WIB

Artikel

Ketika Forensik Digital Bertemu Kekuasaan

Jumat, 26 Des 2025 - 11:38 WIB

Artikel

Gen, Data, dan Wahyu

Jumat, 26 Des 2025 - 11:02 WIB