Tim LIPI Koleksi Enam Burung Endemis

- Editor

Senin, 27 April 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Peneliti burung Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, hingga Rabu (22/4), memperoleh enam burung endemis atau khas Pulau Enggano, Bengkulu, di kawasan hutan sekunder di area Kampung Bendung, Desa Banjarsari.

Keberadaan spesies endemis itu bisa menjadi pertimbangan penetapan kawasan konservasi, tetapi bukan satu-satunya pertimbangan. Penegasan tata ruang di pulau ini lebih penting.

Seekor burung hantu enggano (Otus enganensis), satwa endemis Pulau Enggano, ditangkap untuk dijadikan spesimen oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dari hutan sekunder daerah Kampung Bendung, Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, Bengkulu, Selasa (21/4). Tim LIPI berada di pulau tersebut dalam rangka Ekspedisi Widya Nusantara 2015. KOMPAS/JOHANES GALUH BIMANTARA

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Jenis burung endemis yang dikoleksi adalah betet ekor panjang enggano, burung hantu enggano, burung kacamata enggano, anis kembang enggano, uncal buau enggano, dan pergam hijau enggano. “Salah satu yang belum kami dapat adalah beo enggano,” kata peneliti burung LIPI, Hidayat Ashari, Rabu (22/4), di Pulau Enggano.

Tim peneliti bidang biologi LIPI berada di Pulau Enggano dalam rangka Eksplorasi Bioresources Indonesia 2015, bagian dari Ekspedisi Widya Nusantara 2015. Eksplorasi berlangsung 20 hari dengan mendata beragam spesies, mencari spesies baru, dan mengetahui potensi manfaat sumber daya hayati pulau itu.

Berdasarkan riwayat penelitian, koleksi burung itu tergolong banyak dari pada capaian tim bidang lain, seperti tim serangga dan mamalia. Tim serangga mengumpulkan 117 spesies ngengat, 5-6 jenis kupu-kupu, dan 6-7 jenis capung. Adapun mamalia kecil yang dikoleksi lima jenis.

Menurut Hidayat, kondisi tersebut diduga disebabkan populasi burung terkonsentrasi di hutan yang semakin sempit. “Lahan hutan dan pohon-pohon tinggi tersisa jadi tempat perlindungan seluruh burung,” katanya.

Hal itu juga yang diduga menyebabkan koleksi serangga dan mamalia kecil masih minim. Penyebab lain, serangga dimangsa populasi burung yang besar.

Sigit Wiantoro, koordinator kelompok zoologi dalam eksplorasi, menambahkan, kondisi Pulau Enggano yang kian dipadati manusia ikut menekan populasi satwa. Semakin banyak penduduk, semakin banyak pembukaan kawasan hutan habitat satwa liar, termasuk satwa endemis.

Pantauan Kompas tiga hari lalu, jalan masuk hutan yang dieksplorasi tim LIPI di Bendung sudah berupa hamparan kebun, kebanyakan milik pendatang dari Jawa dan Sumatera. Tampak bekas-bekas tebangan pohon digantikan tanaman perkebunan. Bagian bawah pohon berdiameter batang 1,5 meter habitat burung sedang dibakar karena akarnya menjulur ke kebun.

Di Bendung, Selasa lalu, anggota tim eksplorasi zoologi bekerja pagi hingga malam. Pagi hari, tim satwa air tawar memasuki hutan menuju sungai. Peneliti mamalia besar mencari jejak satwa. Peneliti moluska masuk hutan mencari spesimen hewan bercangkang.

Sore hari, peneliti burung mengambil burung yang terjerat di jaring kabut. Peneliti serangga menggunakan generator diesel menghidupkan lampu menerangi layar putih memancing serangga malam hingga pukul 01.30. (JOG)
——————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 24 April 2015, di halaman 14 dengan judul “Tim LIPI Koleksi Enam Burung Endemis”.

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?
Menulis Ulang Kode Kehidupan: Mengapa Biologi Adalah “The New Coding” di Masa Depan
Takhta Debu dan Ruh: Menelusuri Jejak Adam di Antara Belantara Evolusi
Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi
Dari Molekul hingga Krisis Ekologis
Galodo dan Ingatan Air
Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri
Berita ini 31 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 9 Maret 2026 - 10:34 WIB

Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia

Senin, 9 Maret 2026 - 09:50 WIB

Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?

Kamis, 5 Maret 2026 - 15:19 WIB

Menulis Ulang Kode Kehidupan: Mengapa Biologi Adalah “The New Coding” di Masa Depan

Jumat, 20 Februari 2026 - 17:12 WIB

Takhta Debu dan Ruh: Menelusuri Jejak Adam di Antara Belantara Evolusi

Jumat, 23 Januari 2026 - 20:18 WIB

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi

Berita Terbaru

Artikel

Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?

Senin, 9 Mar 2026 - 09:50 WIB