Home / Artikel / Lapisan Ozon dan Kanker Kulit

Lapisan Ozon dan Kanker Kulit

Lapisan pelindung makhluk hidup di muka bumi ini terancam kelestariannya. Akibat langsungnya: kanker kulit meningkat. Adakah cara mengatasinya?

Penemuan terakhir bahwa “lubang ozon” telah berkembang di atas benua kutub selatan Antartika sekali lagi menarik perhatian para ahli, bahkan juga orang awam. Mengapa? Sebab, hal ini disinyalir menyangkut kelestarian umat manusia di bumi ini.

Berdasarkan pengukuran ekstensif baik dari darat maupun diintip dari angkasa melalui satelit, para ahli berani menyatakan secara pasti, bahwa penipisan lapisan ozon telah terjadi di atas Antartika. Ozon adalah lapisan gas atmosfir yang melindungi kita dan makhluk hidup lain dari sengatan radiasi ultraviolet matahari yang membahayakan.

Peranan ozon
Berbeda dari gas atmosfir lain, seperti oksigen dan nitrogen, ozon jumlahnya kecil sekali, hanya menduduki kurang lebih 300 bagian per milyar volume atmosfir bumi seluruhnya. Jika bumi kita hanya diselubungi ozon yang ada, atmosfir bumi hanya akan setebal 3 milimeter.

Meski secara kuantitas cecil, ozon berperan penting dalam menyerap radiasi berbahaya dari matahari yang menerpa bumi. Seperti kita ketahui, panjang gelombang cahaya matahari yang tampak oleh mata kita berkisar antara 4000 hingga 7000 Angstrom (satu Angstrom, sepersepuluh milyar meter), dari cahaya ungu hingga merah. Bagian radiasi mentari yang berada tepat di luar cahaya ungu adalah radiasi ultraviolet dengan panjang gelombang 3200-4000 Angstrom, ini masih dapat diterima dengan normal oleh makhluk hidup bumi. Namun, radiasi ultraviolet di bawahnya lagi, dengan panjang gelombang 2900- 3200 Angstrom telah terbukti dapat merusak kehidupan yang ada di bumi. Untungnya, sebagian besar radiasi ini diserap oleh lapisan ozon tadi. Tapi, sebagian kecil tokh dapat lolos ke permukaan bumi, dengan jumlah yang lebih besar di daerah katulistiwa dibandingkan di kutub. Ini cukup mengkawatirkan apalagi bila jumlahnya meningkat karena menipisnya ozon. Ia merupakan salah satu penyebab kanker kulit yang utama.

Pengrusakan molekul ozon dapat disebabkan oleh pengubahan ozon menjadi molekul oksigen biasa. Selama milyaran tahun, terjadi keseimbangan antara pembentukan dan penghancuran o-zon. Keseimbangan ini akan terancam, oleh masuknya zat-zat kimia yang mempercepat penghancuran o-zon, sehingga lapisan ozon menipis. Zat kimia demikian, antara lain yang disebut klorofluorokarbon (CFC = chlorofluorocarbon). Penambahan kadar klor ke dalam atmosfir itulah yang mengganggu kelestarian ozon.

Kanker kulit meningkat
Bahaya apa yang akan menimpa kita akibat penipisan lapisan pelindung ozon? Seperti telah disebut di atas, salah satunya adalah jumlah penderita kanker kulit bakal meningkat. Suatu penelitian mengungkapkan, kenaikan satu persen radiasi ultraviolet-B (disingkat UV-B) menimbulkan peningkatan 2 persen jumlah penderita kanker kulit. Katanya, jumlah kasus kanker kulit dalam 88 tahun mendatang akan mencapai 40 juta, dengan 800.000 kematian, jika pengrusakan lapisan ozon tak dihentikan.

Kanker kulit biasanya dikategorikan sebagai melanoma dan non-melanoma. Melanoma adalah kanker sel kulit penghasil pigmen (melanosit). Ini tergolong kanker yang sangat ganas, menyebar dengan cepat dan tentu saja membawa maut. Kaitan besarnya pemaparan terhadap radiasi matahari yang merusak tadi dengan kanker kulit non-melanoma adalah langsung. Sedangkan dengan kanker kulit melanoma, kemungkinan faktor lain seperti karsinogen kimia, virus onkogen (penimbul kanker), keturunan, juga memainkan peranan.

Faktor ketinggian tempat juga berpengaruh. Misalnya, di daerah yang lebih tinggi, karena atmosfirnya lebih tipis, radiasi UV-B mudah menerobos langsung, sehingga kejadian kanker kulit pun lebih tinggi daripada tempat yang lebih rendah.

Lebih dari 90 persen kanker kulit terjadi di bagian tubuh yang tak terlindung pakaian: muka, telinga, leher, punggung telapak tangan. Di daerah beriklim sedang, kanker ini lebih banyak mengenai orang yang sering terkena radiasi mentari di luar rumah: petani, nelayan, pelaut, kuli bangunan, olahragawan. Orang yang berkulit gelap lebih kecil kemungkinannya terkena kanker kulit pula dibanding yang berkulit putih. Ini disebabkan pigmen kulit merupakan penghalang matahari alami. Ada juga laporan bahwa pada orang dewasa, wanita lebih jarang yang terkena dibanding pria: tapi pada usia muda, wanita dan pria sama saja kekerapannya. Pria konon lebih sering terkena di bagian ujung daun telinga dan kulit kepala, sedangkan wanita di bagian bawah kakinya.

Yang lucu, di Amerika Serikat, kanker kulit lebih sering terjadi di bagian kiri muka dan tangan kiri pengemudi, sedangkan di Inggris jus-tru di kanan muka dan tangan kanan. Ini agaknya berkaitan dengan letak stir mobilnya di kiri atau kanan, sesuai dengan jalur lalu lintas yang berbeda di kedua negara tadi.

Selain itu, ultraviolet-B itu ternyata dapat merusak daya kekebalan kita. Di dalam laboratorium, bila sel kanker kulit dicangkokkan dari satu tikus ke tikus lain, tak berkembang. Tapi, bila tikus resipien (penerima cangkokan) itu diradiasi UV-B sebelumnya, maka kanker itu akan tumbuh di tubuhnya. Hal ini sungguh mengejutkan kita. Artinya UV-B melemahkan daya kekebalan anti kanker si tikus, dan mungkin juga tubuh kita. Ini akan menyangkut bukan saja kanker, tapi juga penyakit infeksi seperti herpes, leishmaniasis, dan penyakit kotor lain akan lebih cepat meluas.

Upaya mencegah
Karena kita telah mengetahui se-babnya, maka kebanyakan kanker kulit sebetulnya dapat dicegah dengan sedikit usaha. Pada prin-sipnya membatasi radiasi mentari yang berbahaya atau berlebihan. Sedangkan dalam batasan tertentu sinar mentari berguna antara lain membantu tubuh membentuk vitamin D. Dulu, orang menggunakan penghalang tak tembus cahaya atau buram, atau banyak berdiam di dalam ruang an tertutup. Hal ini tentunya tidak praktis. Sekarang, banyak produk pelindung dari sengatan mentari (sun screen). Di samping itu, kita bisa memakai topi, payung, pakaian lengan panjang, dan sebagainya bila di luar rumah.

Karena mata kita peka terhadap sinar mentari, kita akan mengedipkan mata ketika melihat matahari. Selain itu, terhadap cahaya yang keras, pupil mata kita akan mengecil. Refleks ini merupakan pelindung mata kita. Perlu diketahui pula, bahwa terdapat petunjuk bahwa radiasi ultraviolet-B merupakan penyebab utama penyakit katarak alias pemburaman lensa mata.

Dari uraian ini, jelas bahwa fenomena penipisan lapisan ozon di at-mosfir kita tidak dapat diremehkan, tapi patut kita waspadai dengan mengambil langkah yang tepat. –

Mengenal Ozon

Ozon adalah sejenis senyawa kimia yang tiap molekulnya terbentuk dari 3 atom oksigen. Jadi rumusnya O3, sedangkan molekul oksigen yang biasa kita hirup terdiri dari 2 atom oksigen, 02. Pada suhu biasa ia cukup stabil, tapi terurai menjadi oksigen biasa bila dipanasi.

Ozon ini adalah pisau bermata dua. Di lapisan atas atmosfir yang disebut stratosfir (10-50 km dari muka tanah) ia melindungi kita dari radiasi ultraviolet yang beibahaya. Sedangkan di permukaan bumi, ia justru racun bagi makhluk hidup. Bayangkan, dalam kadar melebihi 30 ppb (part per billion) ia dapat mengancam kelestarian tanaman, merangsang selaput Iendir mata dan saluran pernafasan kita. Ozon merupakan komponen smog yang berbahaya, ia mengoksidasi hidrokarbon buangan menjadi peroksiasetilnitrat (PAN) yang sangat beracun. Tapi, bila kita cerdik, ozon bisa kita manfaatkan untuk menyucihamakan air minum, kolam renang dan mensterilkan udara ruangan operasi misalnya. Daya bunuh kumannya disebabkan oleh sifat oksidasinya yang kuat. Sifat ini juga dipakai untuk mengelantang tekstil, minyak, dan lemak. Ozon terbentuk secara alami di stratosfir oleh radiasi yang kuat dari sinar mentari. Selain itu, gas ini juga timbul ketika halilintar menyambar, bila terjadi percikan bunga api listrik di udara misalnya di busi, mesin, dan juga pada oksidasi berbagai bahan (resin, terpentin, fosfor basah). Asap buangan yang mengandung oksida nitrogen, juga dapat menghasilkan ozon bila terkena sinar mentari. Lucunya, bila oksida nitrogen (NO dan NO2) sempat melayang ke stratosfir, justru menjadi katalis yang mengubah ozon menjadi oksigen biasa, dan menipiskan lapisan ozon. Sekarang, bagaimana kita dapat mendeteksi adanya ozon? Mudah sekali Cukup sediakan kertas saring, larutan KI (kalium iodida), dan kanji. Rendamlah kertas dalam larutan kanji dan KI. Nah, jadilah kertas uji ozon. Bila ada ozon, Kl akan teroksidasi menjadi KOH dan iodium. Akibatnya, benar dugaan anda: timbul warna biru karena kanji bertemu iodium. Cara lain yang primitif: mencium bau ozon yang menyengat. Bau ini sering dirasakan oleh orang yang sering bekerja dengan mesin yang menghasilkan bunga listrik.

Di laboratorium. ozon dapat diproduksi dari gas oksigen dengan percikan api listrik. Alatnya disebut ozonizer (lihat gambar). Dua larutan asam sulfat encer dalam dua tabung yang terpisah dihubungkan dengan elektroda dari kumparan induksi sehingga berfungsi sebagai elektroda yang memercikkan bunga api listrik. Gas oksigen dilewatkan di celah di antara keduanya, gas yang keluar sebagian (beberapa persen) adalah ozon. Sekarang timbul gagasan: bila demikian, kenapa kita risau kekurangan ozon di atmosfir? Buat saja ozonizer melayang di lapisan itu, yang dapat kita kontrol dari bumi. Ini jauh lebih mudah daripada teknologi Perang Bintang. Perlukan sekarang dicoba? Tergantung hasil penelitian lebih jauh tentang lubang ozon di Antartika oleh NASA. – wj

B. Hari Purnomo/wj mahasiswa fisika FMIPA-Ul

Sumber: Majalah AKUTAHU/OKTOBER-NOVEMBER 1987

Share
%d blogger menyukai ini: