Home / Berita / Kuman TB Makin Kebal

Kuman TB Makin Kebal

Kemampuan Penanganan Kasus di Daerah Belum Memadai
Kasus tuberkulosis dengan kuman kebal obat terus muncul tiap tahun sehingga penyebaran penyakit itu sulit ditekan. Akibatnya, pasien makin sulit sembuh. Namun, kemampuan fasilitas kesehatan di daerah untuk menangani kasus resistensi obat tuberkulosis belum memadai.

Salah satu pemicu kasus tuberkulosis kebal terhadap resisten obat (multidrugs resistant TB/MDR-TB) adalah masih ada pasien yang tak menjalani atau tak menuntaskan terapi. Itu berpotensi membuat obat tak mempan lagi karena kuman kebal.

“Apalagi, masyarakat di Indonesia guyub sehingga penularan amat mudah,” ucap Direktur Utama Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan Mohammad Ali Toha, di Jakarta, Kamis (24/3), di sela peringatan Hari Tuberkulosis (TB) Sedunia.

Tuberkulosis disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis. Sekitar 90 persen kasus TB menyerang paru-paru, dengan gejala utama batuk lebih dari tiga minggu, demam, berat badan turun, berkeringat saat malam, mudah lelah, nafsu makan hilang, nyeri dada, dan batuk berdarah.

Pasien TB sembuh jika disiplin mengonsumsi obat. Pasien TB biasa, yakni dengan kuman masih sensitif obat, wajib berobat selama 6-9 bulan tanpa putus, hingga dokter menyatakan sembuh. Peluang sembuh 95 persen.

Namun, jika putus berobat, tingkat keparahan penyakit bisa naik menjadi MDR-TB, yakni kuman kebal terhadap obat Ioniazid dan Rifampisin. Terapi MDR-TB tak boleh putus selama 2 tahun, dan peluang kesembuhan pasien secara global hanya 50 persen.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam Laporan Global Tuberkulosis 2015 menyebut, jika uji resistensi obat diterapkan pada semua kasus TB tahun 2014, diprediksi ada 300.000 kasus MDR-TB. Diperkirakan 3,3 persen kasus TB baru dan 20 persen kasus yang sebelumnya diobati adalah MDR-TB. Pada 2014, kemungkinan 190.000 orang meninggal karena MDR-TB.

Putus berobat
Dokter spesialis paru konsultan infeksi RSUP Persahabatan, Erlina Burhan, menjelaskan, pasien TB rentan putus berobat karena faktor nonmedis, yakni kondisi tubuh bagus setelah dua bulan sehingga meninggalkan pengobatan. Jika MDR-TB, obat amat keras sehingga efek samping sangat tak nyaman, seperti muntah, pusing, dan susah tidur.

Kementerian Kesehatan menjamin pasien TB bisa mendapat obat gratis, termasuk kasus resistensi obat. Namun, efek samping obat MDR-TB bisa muncul selama dua tahun terapi sehingga pasien rentan berhenti berobat akibat tak tahan. Padahal, pasien MDR-TB bisa menularkan kuman resisten. “Kalau tak ditemukan dan diobati, lingkaran masalah sulit diputus,” ujarnya.

Kondisi Indonesia
Secara nasional, 12 persen dari jumlah total pasien yang sudah menjalani terapi TB jadi orang dengan MDR-TB sekunder (pengobatan kembali). Sementara 1,7 persen dari kasus baru TB termasuk MDR-TB. Dengan demikian, jumlah kasus MDR-TB di Indonesia diperkirakan 6.800 kasus per tahun. Namun, temuan kasus belum sebanyak itu mengingat belum semua fasilitas kesehatan punya alat pendeteksi kuman TB yang kebal obat.

RSUP Persahabatan termasuk salah satu rujukan nasional TB, terutama kasus TB resisten obat. Sekitar 40 persen kasus MDR-TB nasional ditangani rumah sakit itu. September 2009-Desember 2015, RSUP Persahabatan memeriksa lebih dari 3.000 pasien terduga MDR-TB, 2.000 orang di antaranya positif MDR-TB. Sekitar 1.400 pasien menjalani terapi, selebihnya tidak berobat, antara lain karena pasien menolak, tak mau meninggalkan pekerjaan, dan tidak didukung keluarga.

Kasus MDR-TB yang ditangani tim medis di RSUP Persahabatan terus meningkat. Dua tahun terakhir, rumah sakit itu mendiagnosis 400 pasien MDR-TB per tahun. Padahal, sebelumnya baru 50-100 pasien per tahun.

Terkait hal itu, menurut Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan M Subuh, pihaknya memperluas cakupan layanan MDR-TB. Ada 48 rumah sakit rujukan MDR-TB, 1.050 puskesmas satelit, dan 63 laboratorium rujukan untuk tes cepat memakai GeneXpert (alat deteksi MDR-TB). “Itu belum cukup. Seharusnya fasilitas kesehatan punya dokter spesialis paru yang mengawasi pengobatan MDR- TB,” ujarnya. (JOG)
—————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 26 Maret 2016, di halaman 13 dengan judul “Kuman TB Makin Kebal”.
———
Tuberkulosis Jadi Ancaman di Kota Besar

Sejumlah kota besar di Jawa Timur rentan terhadap penyebaran tuberkulosis. Permukiman padat di kota besar, terutama dengan sanitasi buruk, menyebabkan kuman penyakit tersebut lebih mudah menyebar dan menular ke banyak orang.

bda36a11df3d4d5dbb24bda0f35533f5Data Dinas Kesehatan Jawa Timur menunjukkan, 40.185 pasien tuberkulosis (TB) diobati selama tahun 2015 dan merupakan terbanyak kedua setelah Jawa Barat. Dari jumlah itu, pasien terbanyak antara lain berada di Surabaya (4.754 orang), Jember (3.128 orang), dan Sidoarjo (2.292 orang).

Kepala Dinas Kesehatan Jatim Harsono, Jumat (25/3), di Surabaya, menjelaskan, penularan TB terutama melalui percikan dahak. Potensi penularan di permukiman padat di kota besar sangat tinggi karena satu rumah bisa dihuni hingga 4 keluarga. “Di desa malah jarang muncul kasus TB,” ujarnya.

Tuberkulosis disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis. Kuman TB yang ada di dalam rumah bisa bertahan lama jika ruangan di rumah itu tertutup dan jarang terkena sinar matahari. Karena itu, pencegahan nonmedis yang dilakukan Pemerintah Provinsi Jatim untuk mencegah TB adalah menerapkan program bedah rumah.

Hariyanto dari Humas Dinas Kesehatan Kota Surabaya menuturkan, pasien TB kini tak lagi berasal dari kalangan masyarakat kurang mampu. Penularan penyakit itu juga terjadi pada golongan masyarakat menengah ke atas. Itu karena kondisi rumah selalu tertutup dan lebih banyak memakai penyejuk ruangan.

Jika ada kuman TB atau penderita TB masuk ke rumah itu, penyakit tersebut akan mudah menular. Risiko itu juga terjadi pada warga yang tinggal di apartemen. “Warga perlu rutin membuka jendela rumah agar sinar matahari masuk,” ujarnya.

Di Surabaya, faktor lain penyebab angka kasus TB tinggi adalah banyak orang dari luar daerah masuk ke Surabaya. Itu menyebabkan penyebaran TB di wilayah itu sulit terpantau. Kondisi serupa terjadi di kota-kota besar lain di provinsi tersebut.

Deteksi dini
Selain itu, menurut Harsono, angka kasus TB di Jatim tinggi karena pemantauan atau surveilans penyakit itu dilakukan secara intensif. Petugas kesehatan aktif mencari pasien TB agar bisa segera diobati. Jika pencarian atau deteksi dini itu gagal, sumber penyakit tetap bertahan dan penyebaran penyakit semakin tidak terkendali.

Deteksi dini juga bertujuan agar pasien TB bisa diobati dengan benar. Jika terapi tak berjalan baik atau penderita berhenti berobat, kuman bisa kebal terhadap obat atau obat tak manjur lagi (MDR-TB).

Sejauh ini, kasus MDR-TB banyak terjadi di Surabaya (354 kasus), Kabupaten Gresik (69 kasus), Kabupaten Jember (60 kasus), dan Kabupaten Sidoarjo (60 kasus). Mereka harus dirawat lebih intensif di rumah sakit dengan pengawasan penuh.

Dalam peringatan Hari TB Sedunia pada 24 Maret, Harsono mengatakan, pihaknya mendorong masyarakat agar segera berobat ke puskesmas terdekat jika menderita batuk tak sembuh selama beberapa minggu. “Biaya pengobatan TB ditanggung pemerintah, jadi warga tak perlu khawatir,” katanya.

Menurut pengajar di Departemen Biostatistik dan Kependudukan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Martya Rahmaniati, karakter masalah TB antardaerah beragam sehingga penanggulangan tak bisa disamakan. Jadi, perlu analisis kewilayahan untuk menentukan kebijakan penanggulangan (Kompas, 16/1).

Kementerian Kesehatan mencatat, prevalensi TB di Indonesia tahun 2014 mencapai 647 orang per 100.000 penduduk. Adapun angka kejadian 399 kasus baru per 100.000 penduduk. (DEN)
————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 26 Maret 2016, di halaman 13 dengan judul “Tuberkulosis Jadi Ancaman di Kota Besar”.
—————
Tuberkulosis di Indonesia Terbanyak Kedua di Dunia

Dari hasil survei terbaru, jumlah kasus baru tuberkulosis atau TB di Indonesia diperkirakan mencapai 1 juta kasus per tahun atau naik dua kali lipat dari estimasi sebelumnya. Posisi Indonesia pun melonjak ke negara dengan kasus TB terbanyak kedua setelah India. Ini menjadi alarm di tengah peringatan Hari TB Sedunia pada hari ini.

Dalam laporan Tuberkulosis Global 2014 yang dirilis Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) disebutkan, insidensi di Indonesia pada angka 460.000 kasus baru per tahun. Namun, di laporan serupa tahun 2015, angka tersebut sudah direvisi berdasarkan survei sejak 2013, yakni naik menjadi 1 juta kasus baru per tahun. Persentase jumlah kasus di Indonesia pun menjadi 10 persen terhadap seluruh kasus di dunia sehingga menjadi negara dengan kasus terbanyak kedua bersama dengan Tiongkok. India menempati urutan pertama dengan persentase kasus 23 persen terhadap yang ada di seluruh dunia.

Ini menjadi salah satu faktor Indonesia mendapatkan beban ganda. “Jumlah penyakit tidak menular di Indonesia naik, tetapi penyakit menular juga tetap masalah yang besar, termasuk TB. Seperti fenomena gunung es, belum seluruh kasus terungkap,” tutur Direktur Utama Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan Mohammad Ali Toha saat Peringatan Hari TB Sedunia di RSUP Persahabatan, Jakarta, Kamis (24/3/2016).

TB disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis yang ditemukan Robert Koch. Tanggal 24 Maret diperingati sebagai Hari TB Sedunia untuk mengenang penemuan yang diumumkan pada 24 Maret 1882 tersebut. Sebanyak 90 persen TB menyerang paru dengan tanda-tanda batuk lebih dari tiga minggu, demam, berat badan menurun, keringat malam, mudah lelah, nafsu makan hilang, nyeri dada, dan batuk darah.

Ali mengatakan, salah satu faktor jumlah kasus TB di Indonesia masih tinggi adalah karena banyak penderita tidak melanjutkan pengobatan sampai benar-benar dinyatakan sembuh oleh dokter. Apalagi, setelah dua bulan menjalani pengobatan, kondisi pasien biasanya sudah seperti sediakala, tidak lagi merasakan gejala TB, sehingga merasa percaya diri untuk meninggalkan pengobatan. Padahal, dengan meninggalkan pengobatan, TB akan kambuh, bahkan bakteri M tuberculosis dapat kebal pada pengobatan biasa. Selain itu, kuman bisa menyebar ke orang-orang di sekitar sehingga berpotensi menambah jumlah penderita.

Faktor edukasi
Secara terpisah, mantan orang dengan TB, Ully Ulwiyah, menuturkan, faktor-faktor selain jaminan akses terhadap obat juga sangat memengaruhi keberhasilan program pengobatan TB. Salah satu hal penting adalah edukasi terhadap masyarakat mengenai pencegahan TB dan jika sudah terkena TB, pasien sangat mungkin sembuh asalkan disiplin mengonsumsi obat. “Gaungnya jangan hanya saat momentum Hari TB Sedunia karena setiap hari ada yang meninggal akibat TB,” ujarnya.

Ully mencontohkan, karena minim informasi, banyak pasien TB tahap awal yang tidak mengetahui pentingnya masker guna pencegahan penularan penyakit selama belum dinyatakan sembuh, baik untuk dikenakan oleh pasien maupun orang-orang yang berinteraksi dengan pasien.

Kebanyakan lebih teredukasi saat kuman sudah telanjur resisten dan pengobatan lebih rumit. Informasi yang minim juga membuat pasien berisiko menghentikan pengobatan setelah merasa kondisi tubuh sudah normal.

Faktor nonmedis lain adalah dukungan dari keluarga dan masyarakat sekitar terhadap pasien TB. Pengobatan dalam jangka berbulan-bulan, bahkan dua tahun jika kuman sudah resisten, kerap membuat pasien bosan hingga depresi.

Masalah bertambah karena dari pengalaman rekan-rekan Ully sesama mantan orang dengan TB, ada yang ditinggalkan keluarganya atau bercerai dengan pasangannya. Karena itu, edukasi tentang TB juga penting untuk menekan diskriminasi pasien.

J GALUH BIMANTARA

Sumber: Kompas Siang | 24 Maret 2016

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Asal-Usul dan Evolusi Padi hingga ke Nusantara

Beras berevolusi bersama manusia sejak pertama kali didomestifikasi di China sekitar 9.000 tahun lalu. Dengan ...

%d blogger menyukai ini: