Home / Berita / Krokot Pun Bisa Menjadi Makanan Bernilai Tinggi

Krokot Pun Bisa Menjadi Makanan Bernilai Tinggi

KROKOT (Purtulaca oleracea) adalah tanaman liar yang banyak ditemukan di pekarangan dan pematang sawah. Selama ini, tanaman itu dimanfaatkan masyarakat untuk pakan ternak dan jangkrik.

Namun, di tangan guru dan siswa SMP Terbuka Tanjung di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, krokot bisa diolah menjadi makanan bernilai tinggi. Tanaman liar yang hampir tak laku dijual itu bisa diolah menjadi selai, sirup, saus, kerupuk, dan kue. Pengolahannya pun sederhana serta memakan waktu yang cepat, sekitar satu jam.

Pemanfaatan krokot sebagai makanan yang bernilai tinggi mulai dilakukan sejak empat bulan lalu. Ide pemanfaatan krokot muncul dari Mulyati, guru keterampilan di SMP Terbuka Tanjung yang juga guru SMP Negeri 2 Tanjung (induk SMP Terbuka Tanjung).

Sebagai guru keterampilan, ia tertantang untuk mengajarkan nilai kreativitas bagi siswa. Terlebih dalam menghadapi Kurikulum 2013, guru dan siswa dituntut untuk kreatif.

Awalnya, Mulyati melihat banyak krokot tumbuh liar di sekitar sekolah yang terletak di samping sawah. Dia lantas teringat cerita orangtuanya yang mengatakan, pada zaman dulu krokot banyak dimanfaatkan untuk bahan urap. Saat itu, fungsinya hanya sebagai bahan makanan yang mengenyangkan.

5b0a76dfcfd84c0dadb6e454ff12fb09Mulyati pun tergerak untuk memanfaatkan krokot sebagai makanan. Namun, ia tidak ingin hanya menjadikannya sebagai urap. Dia juga ingin memastikan kandungan nutrisi yang ada pada tanaman liar itu sehingga makanan yang dihasilkan juga bisa menjadi makanan alternatif yang bergizi tinggi.

Mulyati mencari referensi di internet sehingga akhirnya menemukan bahwa krokot mengandung nutrisi tinggi. Dari 100 gram krokot, dengan persentase yang dimakan sekitar 80 persen, terdapat kandungan energi sebesar 21 kilokalori, protein 1,7 gram, karbohidrat 3,8 gram, lemak 0,4 gram, kalsium 103 miligram, fosfor 39 miligram, dan zat besi 4 miligram. Selain itu, dalam krokot juga terkandung vitamin A sebanyak 2550 IU, vitamin B1 sebesar 0,03 miligram, dan vitamin C sebanyak 25 miligram.

Dia mengatakan pernah melihat tayangan di salah satu stasiun televisi yang menyatakan krokot bisa bermanfaat untuk menekan penyebaran sel kanker. ”Apalagi, untuk mendapatkannya pun mudah. Sekolah kami dekat sawah. Krokot juga mudah tumbuh, bahkan bisa tumbuh subur dalam cuaca kemarau,” katanya di SMPN 2 Tanjung, beberapa saat lalu.
Bernilai tinggi

Mulyati lalu mengajak siswanya untuk mengolah krokot itu menjadi aneka makanan bernilai tinggi. Dia dan siswa dari SMP Terbuka Tanjung dan siswa SMPN 2 Tanjung lalu membuat sirup krokot, selai krokot, kerupuk dan kue berbahan krokot, serta saus krokot.

Cara pembuatannya sangat sederhana. Krokot yang sudah dibersihkan kemudian diambil airnya dengan disaring menggunakan juicer. Air sari krokot itu lalu dimasak dengan campuran air selama satu jam.

”Prosesnya semua sama untuk semua jenis produk yang dihasilkan,” ujar Mulyati. Perbedaannya hanya pada proporsi air yang dicampurkan serta bahan campuran lain yang digunakan. Untuk membuat sirup dan selai, bahan campuran lain yang ditambahkan adalah gula pasir dan daun pandan.

Daun pandan berfungsi untuk menghilangkan aroma langu yang merupakan aroma khas rumput atau daun liar. Untuk membuat saus, bahan yang ditambahkan adalah cabai, tomat, dan penyedap rasa.

Untuk sirup dan selai, perbedaan lain adalah pada proporsi air yang digunakan. Untuk sirup, dari 200 mililiter air sari krokot yang dihasilkan dari 2 kilogram krokot, bisa dicampur dengan air dan setengah kilogram gula pasir, hingga mencapai volume 600 mililiter. Untuk selai, kebutuhan airnya hanya separuh dari kebutuhan air untuk sirup. ”Untuk saus, campuran cabai dan tomat sesuai selera,” katanya.

Dari beberapa jenis makanan dan minuman yang dihasilkan, aroma rumput liar sudah tidak terasa lagi. Aroma rumput berganti menjadi aroma wangi karena terpengaruh oleh daun pandan yang dimasukkan dalam rebusan air sari krokot.

Mulyati menambahkan, saat ini produksi makanan dan minuman dari krokot belum dipasarkan secara luas. Pemasaran masih sebatas di kalangan sendiri karena makanan itu belum diteliti di balai besar pengawasan obat dan makanan. ”Kami juga masih sebatas memproduksi di sekolah, belum bersifat home industry,” ujarnya.

Siswa SMP Terbuka Tanjung yang ikut dalam pembuatan makanan berbahan krokot, yaitu Komala Fitri Diana (15), Wiwit Widiawati (14), dan Dini Mutiara (15), mengaku tertantang untuk mengembangkan makanan dan minuman itu. (wie)

Sumber: Kompas, 27 November 2013

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: