Home / Berita / Kloning Monyet dan Tabu Penciptaan

Kloning Monyet dan Tabu Penciptaan

Ilmuwan China membuka tabu kloning pada primata dengan merekayasa kelahiran dua monyet kembar identik, Zhong Zhong dan Hua Hua. Mereka meniru metode yang sebelumnya dipakai untuk merekayasa domba Dolly.

Domba Dolly diciptakan oleh Ian Wilmut dan koleganya dari Roslin Institute, Edinburgh, Skotlandia, pada 1996. Dolly merupakan mamalia pertama yang lahir tanpa didahului pembuahan. Ia tidak mempunyai induk jantan, sedangkan betinanya pun hanya dipinjam rahimnya.

Proses rekayasa Dolly dimulai dengan mengambil sel epitel—jaringan payudara—domba betina jenis Scottish Blackface berumur enam tahun dan memasukkannya ke dalam sel telur domba betina lain yang sudah diambil inti DNA-nya. Metode ini dikenal sebagai somatic cell nuclear transfer (SCNT).

Sejak kesuksesan rekayasa Dolly, para ilmuwan berlomba mengkloning berbagai mamalia lain memakai teknik SCNT. Hingga kini, setidaknya 23 mamalia berhasil dikloning, termasuk rusa, kuda, sapi, tikus, babi, kucing, hingga anjing.

Namun, upaya untuk mengkloning monyet, yang merupakan kerabat terdekat manusia, menggunakan teknik SCNT selalu gagal menghasilkan individu sehat. Proses kloning primata tak sesederhana memetik inti dari sel kulit, memasukkannya ke dalam sel telur, dan mengharapkannya membentuk tiruan tanpa cela.

Sebagai sel embrionik, yang membedakan ke dalam kulit, otot, dan jaringan lain, asam deoksiribonukleat (DNA) mereka amat spesifik. Untuk meningkatkan peluang sukses, peneliti harus merekayasa inti DNA donor menyerupai DNA embrio muda. Memundurkan jam genetik ini memerlukan protokol kimiawi kompleks yang berbeda setiap jenis spesiesnya.

”Kesuksesan dicapai setelah mengadopsi beberapa teknik baru,” kata Mu-ming Poo, Direktur Chinese Academy of Science’s Institute of Neuroscience di Shanghai, China, dan tim dalam jurnal Cell edisi daring, 20 Januari 2018. Teknik baru itu termasuk pemakaian mikroskop baru yang bisa melihat inti sel lebih baik, yang selama ini belum pernah diterapkan pada primata.

Awalnya, peneliti dari China menguji coba teknik ini memakai dua sel embrio asal, yakni dari jaringan monyet dewasa dan janin yang digugurkan. Dari 192 embrio yang diambil jaringan monyet dewasa, 181 di antaranya bertahan hidup di cawan petri dan 42 di antaranya dititipkan dalam kandungan monyet. Dua bayi monyet lahir melalui operasi caesar, tetapi keduanya mati tiga hari kemudian.

Sementara dari sel janin yang digugurkan, mereka membuat 149 embrio. Sebanyak 79 di antaranya bertahan hidup di laboratorium dan dianggap cukup sehat untuk dipindahkan ke kandungan monyet perempuan lain. Empat monyet berhasil mengandung, tetapi dua di antaranya mengalami keguguran. Dua monyet lainnya lalu sukses melahirkan Zhong Zhong and Hua Hua—diambil dari kata zhonghua yang berarti orang China.

Bagi dunia ilmu pengetahuan, kesuksesan mengkloning monyet ini adalah langkah besar. Secara teknis, itu membuat ilmuwan saat ini selangkah lebih dekat untuk mengkloning manusia dibandingkan sebelumnya. ”Manusia juga primata. Jadi, hambatan teknis untuk mengkloning spesies primata lain, termasuk manusia, kini terbuka,” kata Mu-ming Poo kepada kantor berita Reuters.

Meski demikian, Mu-ming menampik alasan timnya mengklon monyet ini adalah untuk pengobatan, terutama bagi kesehatan manusia. Monyet hasil klon ini akan digunakan untuk studi tentang faktor genetik yang memicu penyakit alzheimer.

”Belum ada niat untuk mengaplikasikannya pada manusia,” ujar Mu-ming.

Sisi gelap kloning
Ian Wilmut, yang sukses memelopori kloning Dolly dan sebelumnya gigih mendorong penggunaan teknik ini, belakangan telah berubah pandangan. Dia memperingatkan agar tak menerapkan metode SCNT, baik pada binatang maupun manusia.

”Saya memutuskan beberapa minggu lalu untuk tidak lagi melakukan SCNT,” kata Wilmut sebagaimana dikutip The Telegraph edisi 16 November 2007.

Bahkan, jika alasannya untuk pengobatan, Wilmut lebih menyarankan menggunakan teknik sel punca yang mampu menumbuhkan sel punca melalui fragmen kulit yang dikembangkan Jepang. Teknik ini tanpa harus melibatkan embrio makhluk hidup.

Sebelumnya, Wilmut mengungkap sisi gelap hewan hasil kloning. Di balik kesuksesan rekayasanya tersimpan sisi gelap yang jarang diungkapkan. Dolly satu-satunya domba yang selamat dari 277 percobaan benih yang ditanamkan melalui kloning.

Sejak awal kelahirannya, ia dihinggapi banyak penyakit, hingga dia disuntik mati di usia 6,5 tahun karena terkena kanker paru dan artritis atau radang sendi parah. Usia hidup Dolly jauh lebih rendah dibandingkan usia domba sejenisnya yang rata-rata berumur 11-12 tahun.

Tak hanya Dolly, Wilmut juga mengungkapkan, sebagian besar binatang hasil klon lahir abnormal dan tidak berumur panjang. Hal ini menyebabkan proyek pengklonan sebenarnya tidak layak secara komersial.

Namun, dengan mengubah sedikit teknik kloning Ian Wilmut, yakni mengganti sel induk dewasa dengan janin, peneliti China berhasil merekayasa dua monyet sehat hasil kloning. Apakah teknik kloning sama bisa diterapkan dari sumber sel janin manusia? Tak seorang pun tahu, tetapi seperti disinggung Mu-ming, selubung teknik yang menghalangi kloning primata terbuka.

Kini, benteng terakhir tinggal pada etika. Sejauh ini kloning pada manusia dilarang di banyak negara, termasuk di Eropa dan Amerika. Pada 2005, PBB menyerukan agar semua negara melarangnya karena dianggap ”sebagai ancaman bagi kehormatan manusia dan kehidupan”.

Dalam hikayat peradaban manusia, kita tergolong makhluk yang cenderung menabrak tabu etika. Seperti diprediksi sejarawan Yuval Noah Harari (2011), hanya soal waktu manusia akan merekayasa dan mengklon dirinya sendiri. Jika itu
terjadi, kata Harari, Homo sapiens akan tamat.

Selama nyaris 4 miliar tahun sebelumnya, tiap organisme di Bumi berevolusi karena seleksi alam. Kini manusia mematahkan hukum seleksi alam dan menggantinya dengan hukum ”desain cerdas”. Dia melangkah lebih jauh dengan merekayasa penciptaan. Namun, menurut Harari, ”evolusi manusia jadi penguasa Bumi mengarah pada bunuh diri ekologi dan itu berarti membunuh manusia sendiri”.–AHMAD ARIF

Sumber: Kompas, 28 Januari 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Covid-19 Menurunkan Emisi Karbon Global

Pandemi Covid-19 telah memangkas lebih dari delapan persen emisi karbon global, Berkurangnya emisi ini terjadi ...

%d blogger menyukai ini: