Home / Artikel / Batas Penciptaan

Batas Penciptaan

CATATAN IPTEK
Domba Dolly menjadi tonggak pencapaian dunia rekayasa genetika ketika dia “lahir” 5 Juli, 23 tahun lalu di Roslin Institute, Dolly menjadi mamalia pertama yang berhasil “lahir” melalui teknologi kloning, somatic cell nuclear transfer (SCNT). Perdebatan di ranah etika dan moral masih terus berlangsung.

Dalam teknik SCNT, nukleus sel somatik yang berisi deoxyribo nucleic acid (DNA)-materi pembawa sifat genetik-dikeluarkan. Sel somatik adalah sel selain sel sperma atau sel telur. Nukleus pembawa DNA lalu dimasukkan ke dalam sel telur yang telah dikeluarkan nukleus pembawa DNA-nya. Sel telur lantas dialiri listrik hingga terjadi fusi yang memungkinkan tumbuhnya embrio. Embrio lantas dimasukkan ke tubuh induk inang hingga siap dilahirkan. Cara kedua, nukleus pembawa DNA disuntikkan ke dalam sel telur.

Dolly adalah langkah besar kloning reproduktif-yang menghasilkan individu baru yang identik dengan induknya. Selain itu ada kloning gen yang hanya menghasilkan gen atau segmen DNA tertentu yang diinginkan sebagai sifat unggulan. Kloning lain yaitu kloning terapi, yang menghasilkan sel punca embrionik untuk membuat jaringan pengganti jaringan tubuh yang rusak atau sakit.

Dolly tidak sempurna. Dia mati setelah usia enam tahun karena gangguan paru-paru dan gangguan kesehatan lainnya. Mengutip Business Insider, pakar hukum dan bioetika Hank Greely dari Stanford University menjelaskan, kloning kucing, mencit, adalah mudah. Sementara kloning anjing dan tikus got, sulit. Sedang kloning primata dan manusia, amat sulit.

Seiring waktu, kloning anjing dan primata yang lebih sulit dan amat sulit telah berhasil dilakukan. Pada tahun 2005, periset Korea Selatan berhasil mengkloning anjing, Snuppy. Dia tumbuh relatif normal dan sehat maka sel somatisnya dikloning lagi. Ilmuwan Korea Selatan tersebut lantas melakukan kloning anjing pelacak, anjing penjaga, dan anjing terancam punah untuk konservasi, serta anjing transgenik untuk penelitian.

Rekayasa genetika kloning berawal tahun 134 tahun lalu, pada 1885. Ahli biologi dan filsafat dari Jerman, Hans Adolf Eduard Driesch berhasil memisahkan dua sel embrio invertebrata (hewan lunak) bulu babi yang menghasilkan dua individu bulu babi. Sebelum Driesch, Wilhelm Roux menyatakan dua sel embrio yang dipisahkan tak bisa hidup.

Perkembangan meliputi metode pemisahan embrio, transfer nuklir. Tahun 2001 dan 2009 banyak percobaan dilakukan untuk tujuan konservasi hewan terancam punah meski belum berhasil karena individu mati. Zhong Zhong dan Hua Hua adalah tonggak keberhasilan karena pertama kalinya kloning primata berhasil dilakukan.

Matti Häyry, filsuf Finlandia, dalam British Medical Bulletin menuliskan, Leon Kass, seorang warga Amerika konservatif tahun 1998 menegaskan, kloning adalah salah. Kloning mendistorsi hubungan keluarga dan kehormatan manusia. Proses membuat bayi secara tak alamiah dipandang sebagai bentuk pro-penciptaan yang aseksual dan hanya mementingkan diri sendiri. Bagaimana jika kita memiliki seorang anak yang hanya identik dengan ibu atau ayahnya.

Ketika bencana, perang, dan perubahan iklim mengancam keberlangsungan hidup manusia, jangan-jangan kloning akan dipandang sebagai cara untuk bertahan hidup. Muncul isu moral yang diungkap oleh berbagai agama karena kloning dianggap melanggar kekuasaan penciptaan yang semata milik Tuhan.

Para pakar bioetika seperti Allen Buchanan, Dan Brock, Norman Daniels and Daniel Wikler, tulis Häyry, berpandangan, kemajuan biogenetika seharusnya dimanfaatkan secara bertanggung jawab. Pertanyaan Häyry, peraturan seperti apa yang dibutuhkan, dan manusia jenis apa yang kita inginkan? Dan, di mana batas penciptaan?…–BRIGITTA ISWORO LAKSMI

Editor EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 26 Juni 2019

Share
x

Check Also

Ketimpangan Risiko

CATATAN IPTEK Risiko setiap orang dalam menghadapi wabah Covid-19 berbeda-beda. Hal itu tergantung dari daya ...

%d blogger menyukai ini: