Home / Berita / Ketika Profesional Menyapa Anak Pulau

Ketika Profesional Menyapa Anak Pulau

Upaya memajukan pendidikan di pulau-pulau kecil tak harus menunggu inisiatif dari pemerintah. Upaya tersebut dapat tumbuh dari kalangan mana saja, termasuk kalangan profesional dari berbagai bidang.

Hari Minggu (22/10) hingga Selasa (24/10), kegiatan berbagi inspirasi dijalankan Komunitas Inspirasi Jelajah Pulau (KIJP) dengan di Kepulauan Seribu DKI Jakarta, Pulau Karimunjawa di Jawa Tengah, serta beberapa pulau kecil di Banten.

Dengan mengunjungi berbagai pulau, para profesional dari beragam profesi menyapa siswa sekolah dasar (SD) untuk memberi inspirasi. Mereka juga memberikan contoh pembelajaran kreatif dengan metode dan media belajar yang beragam.

Di Pulau Panjang, Kabupaten Serang, Banten, inspirasi pendidikan dilakukan di SDN Pulau Panjang dan SDN Kebalen. Ada 14 relawan pengajar dari beragam profesi yang hadir di Pulau Panjang sepanjang Minggu hingga Selasa.

Aktivis Suar KIJP, Alfianto Domy Aji, yang ikut di Pulau Panjang mengatakan, meskipun kegiatan inspirasi pendidikan dari kalangan profesional bersifat relawan, seleksi dilakukan secara obyektif. Berbagi inspirasi juga disiapkan dengan baik agar anak-anak di pulau yang mendapat layanan pendidikan yang terbatas dapat membangun mimpi di masa depan.

Pada Minggu dan Senin, para relawan menginisiasi kegiatan belajar sembari bermain dengan siswa setempat. Pengenalan profesi, seperti arsitek, spesialis lingkungan, penerjemah bahasa Korea, penulis, jurnalis, dan ahli gizi, juga dibarengi dengan pendidikan karakter untuk menjadi anak yang santun.

Penanaman nilai
Sejumlah pembiasaan yang baik ditanamkan melalui permainan, dongeng, dan cerita. Misalnya, mengucap “tolong” saat hendak meminta bantuan; menyampaikan “maaf” saat melakukan kesalahan, serta mengucapkan “terima kasih” saat menerima kebaikan dari orang lain.

Koordinator KIJP Batch 6 Pulau Panjang Bagus Eko Nurcahyo mengatakan, program untuk membantu guru dalam mengembangkan kegiatan sekolah akan dilakukan KIJP sesuai kebutuhan sekolah. “Kami ingin terus membantu agar pendidikan anak-anak di pulau semakin baik,” kata Bagus.

Kapten KIJP Novita Permatasari mengatakan, pada Batch 6 ini, KIJP menggerakkan relawannya di 13 pulau dan 21 SD. Mereka tersebar di Pulau Sebira, Pulau Kelapa, Pulau Panggang, Pulau Pramuka, Pulau Pari, Pulau Harapan, Pulau Lancang, Pulau Tidung, Pulau Payung, Pulau Untung Jawa (Kepulauan Seribu); Pulau Panjang dan Pulau Tunda (Banten); serta Pulau Karimunjawa (Jawa Tengah).

“Para relawan KIJP kali ini juga minta untuk membagikan semangat #AnakSantunItuKeren. Semangat ini diangkat mengingat pentingnya menanamkan kembali nilai-nilai kesantunan yang mulai menjauh dari kepribadian anak-anak Indonesia,” kata Novita.

Lebih dari 300 relawan terlibat aktif di Batch 6 KIJP. KIJP tidak hanya menyentuh anak- anak, tetapi juga melibatkan sekolah, lingkungan, dan masyarakat yang menjadi lingkaran terdekat anak-anak tersebut bertumbuh.

Seluruh rangkaian kegiatan KIJP mengarah kepada satu tujuan, yaitu semakin luasnya wawasan anak-anak di pulau dan semakin terbukanya akses mereka untuk meraih mimpi.

Wiwiek Sulistyowari, penulis buku resep masakan, mengatakan tertarik ingin berbagi lewat KIJP. Dia berkesempatan mengajarkan para ibu mengolah teri siap saji dengan harga jual lebih tinggi. “Saya juga berbagi dengan siswa di sekolah. Apalagi saya juga punya resep sarapan pagi untuk anak yang mudah dibuat,” ujar Wiwiek.

Sari, spesialis lingkungan yang bekerja di Jakarta, merasa tertarik ikut KIJP karena profesi di bidang teknik lingkungan belum banyak dikenal masyarakat, terutama siswa. “Saya mengenalkan profesi ini dengan mempraktikkan penjernihan air yang sederhana yang berguna untuk daerah ini,” ujar Sari.

Kesenjangan mutu memang masih membayangi dunia pendidikan secara nasional. Belum terciptanya pembelajaran yang kreatif dan sesuai dengan tuntutan kompetensi abad ke-21 bagi siswa bukan karena terbatasnya sarana dan prasarana pendidikan, melainkan juga karena kemampuan guru yang masih konvensional. (ELN)

Sumber: Kompas, 25 Oktober 2017

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: