Home / Berita / Kesiapan Riau Diuji El Nino

Kesiapan Riau Diuji El Nino

Status Tiga Taman Nasional Sumatera Terancam
Kehadiran El Nino yang diprediksi melanda Indonesia, setelah dilaporkan muncul di Australia, menguji kesiapan Riau terkait ancaman kebakaran hutan dan lahan. Pencegahan melalui penyekatan kanal seperti dilakukan Presiden Joko Widodo di Sungai Tohor, Kepulauan Meranti, 27 November 2014, hingga kini belum direplikasi.

Kini, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana, dan Pemerintah Provinsi Riau baru pada tahap persiapan dan pendanaan memperbanyak pemasangan sekat kanal permanen. “Prediksi El Nino ada. Ini akan jadi ujian, apakah upaya pencegahan berjalan,” kata Arief Yuwono, Deputi Pengendalian Kerusakan Lingkungan dan Perubahan Iklim KLHK, Selasa (19/5), saat Workshop Pembelajaran Implementasi Reduksi Emisi dari Deforestasi dan degradasi Lahan (REDD+) dan Persiapan Paris COP-21, di Jakarta.

Pemerintah, lanjut Arief, berupaya maksimal melaksanakan perintah Presiden Joko Widodo agar tak terjadi bencana asap lagi di Indonesia, khususnya Riau. Citra satelit NOAA menunjukkan terjadi penurunan jumlah titik panas dari periode 1 Januari-18 Mei 2014 sejumlah 2.707 titik panas menjadi 557 pada periode sama tahun 2015.

Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan KLHK Raffles B Panjaitan menyatakan, observasi pemantauan titik api NOAA lima tahun menunjukkan, puncak kejadian titik api terbanyak pada Juni-Oktober. Pihaknya juga mendapat laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai kemunculan El Nino lemah berpotensi menimbulkan kebakaran.

acdbed7d6f3b4f77abd4bbefef0aa1cbSeperti diberitakan, Agustus 2015, akan jadi puncak kondisi kurang hujan yang kini menonjol di Sumatera. BMKG memprediksi, mayoritas Zona Musim (daerah dengan batas musim jelas) di Indonesia diperkirakan memasuki kemarau bulan Juni. BMKG sedang memantau kepastian kehadiran El Nino, yang diprediksi tak sekuat tahun 1997.

“Arah angin diprediksi ke timur laut, artinya dari Riau menuju Malaysia dan Singapura,” kata Raffles. Kondisi tersebut dibahas BNPB bersama Pemprov Riau untuk memaksimalkan pengendalian dan pencegahan.

Pengendalian dengan membuat sekat-sekat kanal membasahi tanah gambut. Antisipasi juga dengan peningkatan sistem aplikasi pendeteksi kebakaran dini hutan dan lahan bernama Sipongi, yang otomatis menginformasikan keberadaan titik panas kepada pemda hingga petugas babinsa. Sistem bisa diakses pada situs http://sipongi.menlhk.go.id.

Haris Gunawan, Direktur Pusat Studi Bencana Universitas Riau, yang diminta Menteri LHK terlibat mencegah kebakaran hutan dan lahan di Riau, mengatakan, BNPB menyiapkan Rp 15 miliar dari dana on call untuk pembangunan sekat semipermanen. “Ada 629 usulan sekat kanal yang masuk dari pemda. Ini harus diverifikasi,” katanya.

Pembangunan kanal diprioritaskan di pesisir, seperti Kepulauan Meranti, Siak, dan Bengkalis. Itu mencegah air gambut terbuang ke laut dan mencegah asap ke Singapura atau Malaysia.

Menurut Kepala Badan Lingkungan Hidup Riau Yulwiriati Moesa, sejumlah kabupaten meminta sekat kanal. “Sudah 17 tahun masyarakat Riau di-salay (ikan asap). Kanal blocking kami harap mencegah asap,” katanya. Pembangunan sekat kanal dimulai sebelum bulan puasa.

Taman nasional
Di Jakarta, selain soal sekat kanal, perambahan yang mengancam tiga taman nasional di Sumatera juga dibahas pada lokakarya “Mencari Solusi Perambahan di Tropical Rainforest Heritage of Sumatera (TRHS)” yang diselenggarakan UNESCO Jakarta bekerja sama dengan KLHK.

Ketiga taman nasional itu adalah TN Gunung Leuser, TN Kerinci Seblat, dan TN Bukit Barisan Selatan. Kawasan TRHS mencapai 2.5 juta hektar dan UNESCO menempatkannya dalam daftar warisan alam dunia tahun 2004. Namun, tahun 2011, Komite Warisan Dunia (WHC) memasukkan TRHS pada kategori terancam dicabut statusnya (in danger list) sebagai situs warisan dunia, salah satunya karena perambahan.

“Eksistensi kawasan TRHS sesuatu yang tak dapat ditawar lagi,” kata Officer in Charge UNESCO Jakarta Shahbaz Khan. Pemerintah menargetkan TRHS keluar dari daftar in danger WHC pada 2018. (ICH/B03)
————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 20 Mei 2015, di halaman 13 dengan judul “Kesiapan Riau Diuji El Nino”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: