Home / Berita / Kedokteran Presisi, Masa Depan Layanan Kesehatan

Kedokteran Presisi, Masa Depan Layanan Kesehatan

Kedokteran presisi merupakan masa depan layanan kesehatan sekaligus pengembangan penelitian kedokteran untuk mencari penyembuh. Perkembangan teknologi sejatinya dimanfaatkan untuk menciptakan diagnosa dan proses pengobatan tepat guna.

Konsep tersebut mengemuka dalam pengukuhan dua guru besar tetap Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia di Jakarta pada Sabtu (8/9/2018). Mereka adalah Ari Fahrial Syam selaku Guru Besar Bidang Ilmu Penyakit Dalam dan Budi Wiweko sebagai Guru Besar Bidang Obstetri dan Ginekologi. Keduanya dikenal memanfaatkan teknologi untuk mengembangkan kedokteran presisi.

KOMPAS/LARASWATI ARIADNE ANWAR–Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Indonesia Ari Fahrial Syam.

Ari mengembangkan penelitian mengenai bakteri Helicobacter pylori yang mengakibatkan infeksi pada saluran pencernaan. Sepanjang tahun 2014-2015 ia meneliti 267 pasien maag. Mereka terdiri dari etnis Tionghoa, Jawa, Batak, Bugis, Papua, Dayak, Aceh, Sunda, Banjar, Bali, dan Ambon.

“Ternyata 59 pasien positif memiliki kuman H pylori. Artinya, satu dari lima pasien maag kemungkinan memiliki infeksi bakteri ini,” papar Ari dalam pidato pengukuhannya.

Penemuan berikutnya ialah ternyata pada pasien dari etnis Papua, Bugis, dan Batak memiliki aktivitas bakteri H pylori yang cukup tinggi, meskipun dengan level patogen berbeda-beda. Etnis Papua memiliki prevalensi tertinggi, yakni 42,9 persen. Disusul oleh Batak (40 persen) dan Bugis (36,7 persen).

Faktor penyebabnya masih terus diteliti, seperti melihat kebiasaan mencuci tangan dengan sabun maupun frekuensi makan menggunakan tangan saja. Di samping itu, juga masih ditelusuri faktor sebab dan akibat penularan kuman ini berdasarkan sistem sanitasi suatu daerah.

“Hal ini membuka mata bahwa reaksi setiap kelompok etnis terhadap penyakit berbeda-beda karena faktor genetik. Apabila dokter mendapatkan pasien infeksi saluran pencernaan dari tiga kelompok etnis tersebut, kemungkinan besar mereka terinfeksi H pylori sehingga dokter bisa langsung waspada,” kata Ari.

Selain itu, penelitian mengenai pengobatan infeksi H pylori menunjukkan bahwa ada suku-suku bangsa yang resisten terhadap antibiotik tertentu. Misalnya, etnis Ambon, Tionghoa, Bali, dan Jawa cukup resisten terhadap klaritromisin. Adapun suku-suku bangsa dari Sumatera memiliki kecenderungan resistensi terhadap metronidazol.

“Informasi ini memungkinkan dokter melakukan proses penyembuhan yang spesifik dengan kebutuhan pasien sehingga lebih efektif,” jelas Ari.

Umur biologis
Sementara itu, Budi Wiweko mengembangkan kalkulator oosit Indonesia (IKO). Aplikasi yang bisa diunduh untuk telepon pintar ini membantu seseorang menghitung umur biologis organ reproduksinya. Caranya ialah dengan memasukkan data hasil tes hormon di laboratorium ke dalam IKO yang akan menunjukkan jika umur biologis organ reproduksi seperti indung telur dan sel telur seorang perempuan.

KOMPAS/LARASWATI ARIADNE ANWAR–Guru Besar Ilmu Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Budi Wiweko.

Usia ideal untuk memiliki anak pertama adalah apabila umur biologis organ reproduksi perempuan di bawah 35 tahun. Umur biologis organ reproduksi seseorang bisa lebih tua daripada umur aktual individu tersebut. Hal ini dipengaruhi gaya hidup, tingkat stres, genetik, dan riwayat penyakit seseorang. Dengan mengetahui umur biologis, pasangan suami-istri bisa menentukan waktu mereka untuk memiliki anak.

“Bagi mereka yang menunda menikah atau pun memiliki anak, pengetahuan atas umur biologis bisa membantu mempersiapkan kemungkinan membekukan indung dan sel telur yang akan digunakan untuk membuat bayi tabung,” tutur Budi. Dokter kandungan juga bisa menyiapkan pasien mulai dari gaya hidup sehat hingga memberi pengobatan yang sesuai dengan umur biologis organ reproduksinya.

Selain itu, tetap dilakukan pemeriksaan terhadap sel sperma laki-laki untuk memastikan penanganan infertilitas yang efektif. Bahkan, pendekatan saat ini ketika menangani pasangan suami-istri ialah tidak boleh melakukan pemeriksaan apapun terhadap perempuan sebelum ada hasil pemeriksaan sperma.–LARASWATI ARIADNE ANWAR

Sumber: Kompas, 10 September 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: