Pemanfaatan Mahadata untuk Layanan Kesehatan

- Editor

Sabtu, 1 Agustus 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Layanan kedokteran yang presisi perlu didukung pula dengan penggunaan teknologi digital. Kombinasi antara mahadata dengan kecerdasan buatan dinilai dapat berdampak lebih besar pada pelayanan kesehatan masyarakat.

Pemanfaatan analisis mahadata kesehatan perlu ditingkatkan untuk mendukung pelayanan yang lebih baik. Selain untuk mengidentifikasi risiko kesehatan dari perilaku masyarakat, data ini juga bermanfaat untuk menentukan intervensi kesehatan yang tepat.

Wakil Direktur Riset dan Inovasi Indonesian Medical Education and Research Institute (IMERI) Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Budi Wiweko mengatakan, mahadata biasanya didasarkan pada data perilaku pasien yang mengakses fasilitas pelayanan kesehatan. Dari data tersebut, analisis akan dilakukan untuk memprediksi risiko kesehatan seseorang di masa depan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Big data (mahadata) yang terdiri dari data individu, data genetik, proteomik, dan metabolomik dapat mendukung pelayanan kedokteran yang presisi. Dengan begitu, akurasi, efektivitas pelayanan, serta keselamatan pasien bisa ditingkatkan. Diagnostik dan tata laksana penyakit pun lebih baik,” tuturnya.

Menurut Wiku, layanan kedokteran yang presisi perlu didukung pula dengan penggunaan teknologi digital. Kombinasi antara mahadata dengan kecerdasan buatan dinilai dapat berdampak lebih besar pada pelayanan kesehatan masyarakat.

Meski begitu, analisis mahadata untuk layanan kedokteran presisi harus didukung oleh beberapa syarat, antara lain infrastruktur teknologi informasi yang mumpuni dan terkoneksi serta perlindungan dari regulasi kesehatan. Untuk itu, dukungan dan komitmen pemerintah sangat dibutuhkan.

“Kapasitas dari tenaga kesehatan dalam memanfaatkan kecerdasan buatan juga perlu ditingkatkan. Setidaknya ada tiga hal yang harus dimiliki, yakni literasi data, literasi teknologi, dan literasi manusia. Untuk menjadi tenaga kesehatan yang baik, kita perlu mengadopsi dan beradaptasi dengan teknologi terkini,” ujar Wiku.

Menteri Riset dan Teknologi/ Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, Bambang PS Brodjonegoro menambahkan, selain kemampuan untuk memanfaatkan teknologi, kemandirian dalam menghasilkan teknologi kesehatan juga perlu diutamakan. Indonesia kini masih bergantung pada produk kesehatan dari luar negeri.

—Persentase produk impor alat kesehatan dan bahan baku obat di Indonesia

Dari produk farmasi, misalnya, sekitar 95 persen bahan dasar yang digunakan berasal dari impor. Bahkan, nilai impor yang dikeluarkan terus meningkat setiap tahun. Kondisi ini juga terjadi pada sektor alat kesehatan. Meskipun industri alat kesehatan tumbuh sebesar 12 persen, sebagian besar alat yang digunakan masih diimpor yakni mencapai 90 persen.

“Percepatan pengembangan industri farmasi dan alat kesehatan perlu dilakukan. Melalui program riset dan inovasi nasional 2020-2024, terutama yang berfokus pada riset kesehatan, diharapkan kemandirian bangsa bisa segera terwujud,” kata Bambang.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang juga Menteri Kesehatan periode 2014-2019, Nila F Moeloek menilai, ketergantungan bahan baku obat impor disebabkan karena kurangnya minat swasta dalam membangun industri bahan baku obat. Untuk itulah, pemerintah perlu mengintervensi agar riset dasar untuk bahan baku obat bisa ditingkatkan.

Peluang inovasi kesehatan di era pandemi Covid-19 bisa dimanfaatkan sebagai batu loncatan menuju kemandirian nasional. Percepatan hasil inovasi alat kesehatan bisa didukung dengan percepatan perizinan dari pemerintah. Itu bisa dilakukan dengan memberikan relaksasi uji klinis pada alat kesehatan yang tidak berisiko tinggi.

Selain itu, Nila menambahkan, tantangan lainnya adalah keterbatasan kemampuan sumber daya manusia untuk membuat alat kesehatan teknologi tinggi. Untuk itu, peran perguruan tinggi dan lembaga penelitian lain dibutuhkan untuk mengatasi persoalan ini.

Ketua Umum Gabungan Perusahaan Alat-alat Kesehatan dan Laboratorium (Gakeslab) Indonesia, Sugihadi menuturkan, pemerintah juga perlu memastikan agar produk inovasi karya dalam negeri menjadi prioritas dalam pengadaan kebutuhan masyarakat. Setidaknya, jika rumah sakit pemerintah dan BUMN diwajibkan untuk membeli produk alat kesehatan dalam negeri, penyerapannya bisa sangat signifikan. Ini karena sekitar 80 persen pasar alat kesehatan dibeli dari anggaran APBN dan APBD.

Oleh DEONISIA ARLINTA

Sumber: Kompas, 31 Juli 2020

Informasi terkait

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin
Pesawat Kecil, Pelajaran Besar
Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik
Ketika Printer Menjadi Pabrik
Jejak 100 Hari Pemburu Kayu
Terkubur untuk Hidup
Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Berita ini 21 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 5 September 2026 - 19:07 WIB

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Kamis, 27 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agustus 2026 - 07:43 WIB

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Rabu, 26 Agustus 2026 - 20:38 WIB

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Sabtu, 18 Juli 2026 - 09:20 WIB

Terkubur untuk Hidup

Berita Terbaru

Berita

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Sabtu, 5 Sep 2026 - 19:07 WIB

Artikel

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agu 2026 - 08:00 WIB

Artikel

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Kamis, 27 Agu 2026 - 07:43 WIB

Berita

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Rabu, 26 Agu 2026 - 20:38 WIB

Artikel

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan

Minggu, 9 Agu 2026 - 14:50 WIB