Pusat Riset Kuman Lambung Dibangun

- Editor

Kamis, 17 Maret 2016

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Indonesia akan memiliki pusat riset kuman pada lambung yang pertama bernama Marshall Center. Pusat riset itu akan dibangun di area Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Endoskopi Gastrointestinal Indonesia (PEGI) Dadang Makmun mengatakan, riset tentang kuman pada lambung banyak dilakukan dokter Indonesia. Namun, mereka belum memiliki wadah terpusat.

“Dengan adanya pusat riset, terobosan penelitian diharapkan terjadi karena penelitian terpusat,” ujarnya seusai kuliah umum Profesor Barry James Marshall, peneliti dan penemu kuman dalam lambung Helicobacter pylori, dan Profesor Bruce WS Robinso, peneliti dan ahli paru-paru dari University of Western Australia, di RSCM, Jakarta, Selasa (15/3).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

rscm-standar130301b-150x150Pembangunan pusat riset itu jadi bagian program The Australia-Indonesia Medical and Health Initiative. Ide pembangunan pusat riset itu adalah kerja sama Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan University of Western Australia. Pusat riset itu akan dibangun di RSCM.

Pemilihan nama Marshall terkait peran Barry Marshall sebagai penemu kuman Helicobacter pylori. Peneliti dan dokter dari University of Western Australia itu meneliti kuman lambung sejak 1982. Atas temuannya, ia dan rekannya, Robin Warren, dianugerahi Nobel Kedokteran 2005.

“Sebelumnya, dokter menilai gangguan lambung karena stres, makan tak teratur, makanan pedas, dan terlalu asam. Penemuan Helicobacter pylori membalikkan semuanya bahwa ini karena kuman,” ucap Marshall. Sekitar 50 persen populasi dunia terinfeksi kuman itu.

Ketua Kelompok Studi Helicobacter pylori Indonesia, Ari Fahrial Syam, menyatakan, menurut risetnya, kejadian rata-rata infeksi Helicobacter pylori di Indonesia 22 persen dari 267 pasien gangguan lambung yang diperiksa. Sampel riset dari Medan, Jakarta, Surabaya, Pontianak, Makassar, dan Yowari, Papua. Hasil riset menunjukkan, infeksi kuman itu lebih banyak ditemukan pada usia 50-59 tahun.

Angka infeksi itu lebih rendah daripada kejadian infeksi kuman ini di India selatan yang mencapai 80 persen. Di negara maju seperti Korea Selatan, Tiongkok, dan Jepang, angka infeksi kuman itu juga lebih tinggi daripada Indonesia, yakni 40 persen, 47 persen, dan 55,4 persen. (C11/C05)
—————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 17 Maret 2016, di halaman 14 dengan judul “Pusat Riset Kuman Lambung Dibangun”.

Informasi terkait

Titik Temu di Ujung Semesta
Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains
Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern
Menyusuri Jejak Awal Semesta
Memahami Manusia dari Dua Jalan
Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan
Menakar Masa Depan Otomotif, Pilih Listrik, Hybrid, atau Bensin?
Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?
Berita ini 18 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 22 Juni 2026 - 15:10 WIB

Titik Temu di Ujung Semesta

Minggu, 21 Juni 2026 - 09:56 WIB

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Sabtu, 20 Juni 2026 - 20:51 WIB

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Selasa, 16 Juni 2026 - 21:21 WIB

Menyusuri Jejak Awal Semesta

Minggu, 14 Juni 2026 - 11:01 WIB

Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan

Berita Terbaru

Artikel

Titik Temu di Ujung Semesta

Senin, 22 Jun 2026 - 15:10 WIB

Artikel

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Minggu, 21 Jun 2026 - 09:56 WIB

Artikel

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:51 WIB

Artikel

Iman dan Sains, Dua Sayap Kebangkitan Peradaban Islam

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:27 WIB

Artikel

Menyusuri Jejak Awal Semesta

Selasa, 16 Jun 2026 - 21:21 WIB