Home / Berita / Kebun Raya; Takdir Kota Riset Botani

Kebun Raya; Takdir Kota Riset Botani

Pohon leci (“Litchi chinensis”) itu masih tegak berdiri dan turut menghijaukan Kota Bogor. Tanaman buah asal Tiongkok itu sudah berada di sana sejak 1823 dan menjadi saksi bisu perkembangan Kebun Raya Bogor sejak kebun botani itu dikembangkan ahli biologi Karel Lodewijk Blume.
Pohon-pohon penghasil buah berkulit merah jingga dan berdaging kenyal manis segar itu adalah pohon tertua yang masih hidup saat ini dari total 13.368 spesimen pohon koleksi Kebun Raya Bogor (KRB). “Saksi hidup meskipun bisu,” kata Kepala Pusat Konservasi Tanaman KRB Didik Widiatmoko, akhir Februari lalu.

Bisa jadi, tidak sedikit ayahanda dan ibunda yang semasa remaja atau kuliah di Bogor pernah memadu kasih di bawah naungan deretan pohon nan menjulang dan rindang atau di taman-taman dan kolam-kolam yang indah itu. Kawasan seluas 87 hektar di jantung Kota Bogor itu bukan sekadar tempat bersemai dan bersemi berbagai pohon dan bunga, melainkan juga kisah kasih pengunjung.

Bagi penulis yang lahir dan tumbuh di Bogor periode 1970-1990, Kebun Raya bukan sekadar kompleks pepohonan yang rimbun, hijau, dengan Istana Bogor yang megah, mentereng, indah, dan diagungkan. Kebun raya juga merupakan laboratorium kehidupan. Selain mengenal kebesaran Ilahi melalui ragam flora dan fauna, di area ini juga bersemi hubungan antarmanusia.

29c22fe2813649a587bc4ab89024a349“Papa dan Mama pacarannya ke Kebun Raya,” kata FX Sutoto, ayahanda penulis, saat berbagi cerita tentang masa lalu KRB, Sabtu (18/4). Pacaran pada era 1970-1980 mungkin tidak sevulgar perilaku remaja sekarang. Berpakaian rapi dan trendi, pergi ke Kebun Raya naik bemo, bergandengan tangan menyusuri bulevar pepohonan sambil mengobral rayuan, mungkin adalah “ritual” romantis masa itu.

Periode 1980-1990, saat masa kanak-kanak, bermain ke Kebun Raya adalah keasyikan tiada tara. Paling malas jika diajak pulang menjelang petang. Rengek dan tangis membuat orangtua luluh membiarkan anak-anak yang dengan usil menyusup, mencari, mengintip, memergoki, dan mengganggu pasangan yang sedang bermesraan. Kalau tidak ditegur atau dimarahi oleh yang pacaran, rasanya tidak puas.

Pengalaman lain, mengusili orang pacaran dari trotoar Jalan Jalak Harupat karena sisi utara Kebun Raya berada di bawah. Saat melihat ada yang pacaran, muncul sifat iseng; mengolok-olok dan kemudian melempari mereka dengan buah kenari yang banyak jatuh di tepi jalan. Duh, rasanya nikmat banget.

Masih di periode 1980-1990, saat sore sehabis mandi, merengek kepada ibunda meminta naik bemo ke Kebun Raya. Jika dikabulkan, dengan riang gembira berjalan dari rumah di Pondok Rumput ke Pejagalan di Jalan Pemuda menyetop bemo, angkutan umum saat itu. Biasanya turun setelah Kantor Pos Bogor di Jalan Juanda yang pada masa kolonial adalah gereja.

Trotoar Jalan Juanda yang merupakan batas barat Kebun Raya merupakan lokasi yang cukup asyik saat sore untuk menengadah dan melihat kegaduhan kepak beribu-ribu kelelawar besar dari deretan pohon rindang. Selain itu, melihat sejumlah pemuda usil yang membawa bedil angin untuk menembaki kelelawar atau burung demi kesenangan.

“Setelah naik bemo, lihat kalong terus pulang, tapi sambil minta jajan,” kata V Pudjoharti, ibunda penulis. Mendengar cerita dan mengingat lagi memori masa kecil bukan sekadar menggali romantisisme, melainkan juga menghayati rasa syukur masih dapat menikmati Kota Bogor yang relatif sejuk, asri, nyaman, dan menyenangkan.

Obyek wisata
Sampai kini, Kebun Raya masih menjadi obyek wisata pilihan dan terkemuka. Saat akhir pekan dan musim libur, tempat ini didatangi lebih kurang 10.000 orang. Rerata harian, jumlah pengunjung 2.000-3.000 orang. Saat akhir pekan, jumlah pengunjung 4.000-5.000 orang, bahkan dua kali lipat.

Lihatlah pada akhir pekan, Jalan Juanda, Jalan Otto Iskandardinata, Jalan Raya Pajajaran, dan Jalan Jalak Harupat yang mengelilingi kebun raya padat. Semrawut dan macet karena kunjungan pelancong domestik dan mancanegara. Di Kebu6a4aa1cabf2a40419f3f42c572cd6a8en Raya, menjadi lazim terasa hiruk-pikuk serta kebisingan massa pengunjung. Sampah bekas kemasan makanan, minuman, atau mainan rusak terkadang berserakan atau meluber dari tong sampah pertanda betapa banyak orang yang berkunjung.

Sebagai obyek wisata, Kebun Raya menjadi tempat yang asyik untuk piknik. Menggelar tikar di bawah pohon rindang, membuka rantang-rantang berisi berbagai jenis makanan dan juga botol-botol penuh berisi limun dan sirup. Menikmati makanan minuman lalu bercengkerama dengan bernyanyi atau sekadar melihat anak-anak bermain adalah pemandangan biasa yang luar biasa.

Yang disayangkan, beberapa kali bencana terjadi, pengunjung tewas tertimpa pohon yang tiba-tiba tumbang. Pohon tumbang pada Januari 2015 menewaskan tujuh orang dari keluarga buruh yang sedang piknik. Pohon damar yang tumbang itu keropos dan tidak terdeteksi sehingga tidak sempat ditebang sebelum bencana.

Riset botani
Meski demikian, mungkin banyak yang menyadari atau tidak memahami bahwa Kebun Raya bukan sekadar obyek wisata. Taman yang ditata sejak era Gubernur Jenderal Hindia-Belanda atau Letnan Gubernur Jawa (1811-1816) Thomas Stamford Bingley Raffles sejatinya adalah kawasan pemuliaan tanaman untuk penelitian dan budidaya.

Jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa ke Nusantara, Kebun Raya diduga adalah bagian dari samida; hutan, kebun, atau taman buatan Kerajaan Pajajaran. Keberadaan samida teridentifikasi dalam Prasasti Batutulis untuk keperluan kelestarian lingkungan, perlu ada kawasan khusus untuk memelihara benih kayu dan tanaman langka.

Budayawan Sunda Bogor, Eman Sulaeman, menceritakan, samida juga dibuat Kerajaan Pajajaran di perbatasan Cianjur-Bogor yang kini dikenal dengan Kawasan Ciung Wanara. “Bangsa Eropa menemukan kembali lalu membangun, menata, dan memperkaya samida yang tidak terawat,” katanya.

Samida tidak terawat atau dibiarkan kembali menjadi hutan setelah Kerajaan Pajajaran takluk dan bumi hangus oleh Kesultanan Banten. Dari fakta itulah, sebelum kedatangan bangsa Eropa, jantung Kerajaan Pajajaran, kini adalah Kota Bogor, ibarat ditakdirkan jadi pusat perlindungan benih tanaman.

Takdir itu menjadi nyata di tangan para ahli botani asal Eropa. Pada 18 Mei 1817, Gubernur Jenderal Hindia-Belanda Godert Alexander Gerard Philip van der Capellen meresmikan pendirian Kebun Raya dengan nama ‘s Lands Plantentuin te Buitenzorg dengan menancapkan ayunan cangkul pertama. Pembangunan dipimpin Caspar Georg Carl Reinwardt, ahli botani dan Direktur Pertanian, Seni, dan Pendidikan Kerajaan Belanda untuk Pulau Jawa. Tak ketinggalan penata dan botanis James Hooper dan W Kent dari Kebun Botani Kew Kerajaan Inggris yang amat tersohor di “Benua Biru” kala itu.

Yang bersekolah di Bogor atau dari luar daerah ketika studi wisata ke Kebun Raya tentu tak mudah lupa tugas Biologi, misalnya mendata koleksi tanaman bambu atau mengidentifikasi pepohonan dan anggrek. Setelah itu, pekerjaan rumah secara pribadi atau kelompok biasanya dipresentasikan di kelas.

Bila Anda jeli, tentu sejuta jejak riset Kebun Raya ini berupa benda dan tak benda masih bisa dilihat dan dirasakan.(Ambrosius Harto)
—————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 20 April 2015, di halaman 27 dengan judul “Takdir Kota Riset Botani”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Peran dan Kontribusi Akademisi Lokal Perlu Ditingkatkan

Hasil riset akademisi memerlukan dukungan akses pasar. Kolaborasi perguruan tinggi dan industri perlu dibangun sedini ...

%d blogger menyukai ini: