Jumlah Akuntan Masih Kurang

- Editor

Kamis, 5 Februari 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Indonesia kekurangan akuntan profesional. Saat ini, ada 53.500 akuntan teregistrasi di Indonesia, jauh dari kebutuhan akuntan yang setidaknya 452.000 orang.
Oleh karena itu, jumlah akuntan di Indonesia perlu ditambah. Akuntan yang ada juga perlu ditingkatkan kemampuannya.


”Pertumbuhan ekonomi perlu ditopang pelaporan keuangan yang baik dan transparan. Tidak hanya untuk bisnis, tetapi juga untuk pemerintahan,” kata anggota Dewan Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI), Dwi Setiawan Susanto, di sela-sela seminar tentang kebutuhan akuntan, Rabu (4/2), di Jakarta.

Dwi Setiawan mengatakan, dengan jumlah akuntan teregistrasi yang masih sedikit itu, maka kesempatan bagi lulusan perguruan tinggi untuk bekerja di bidang akuntansi terbuka lebar. Namun, kualifikasi dunia usaha masih belum bisa dipenuhi lulusan perguruan tinggi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kualifikasi yang diperlukan, ujar Dwi, tidak hanya kemampuan membuat laporan keuangan. Akan tetapi, juga kemampuan menganalisis angka sebagai pertimbangan membuat keputusan. Untuk itu, perlu pendidikan profesi yang bisa menjembatani kebutuhan dunia usaha dengan pendidikan formal.

”Kemampuan memimpin, bekerja sama, dan memegang teguh etika profesi juga harus ditingkatkan,” katanya.

Managing Director Chartered Institute of Management Accountants Andrew Harding mengatakan, pertumbuhan ekonomi menuntut kemampuan akuntansi yang lebih tinggi. Apalagi, Indonesia sedang mengarah menjadi negara industri.

Diperlukan kurikulum pendidikan akuntansi yang berasal dari peristiwa nyata di dunia usaha.

”Perlu analisis data untuk memecahkan masalah, tidak hanya memberi laporan keuangan,” kata Harding.

Vice President Director First Media Group Irwan Djaja mengatakan, dari sekitar 125 juta angkatan kerja di Indonesia, sekitar tujuh juta di antaranya tidak bekerja. Jumlah itu belum termasuk mereka yang bekerja tidak sesuai bidang atau keahliannya.

Menurut Irwan, hal itu terjadi karena perguruan tinggi terlalu fokus pada pengetahuan akademis dan kurang melatih kemampuan non-akademis, seperti kepemimpinan, komunikasi, dan kerja sama. ”Asosiasi profesi harus mengambil peran,” katanya.

Dwi Setiawan menambahkan, saat ini, dia mempersiapkan program akuntansi bagi masyarakat. Salah satunya membuat desain laporan keuangan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah serta bagi aparat desa untuk melaporkan penggunaan dana desa. ”Laporan keuangan yang baik berguna untuk mengakses bank,” kata Dwi. (NAD)

Sumber: Kompas, 5 Februari 2015

Posted from WordPress for Android

Informasi terkait

Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Titik Temu di Ujung Semesta
Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains
Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern
Menyusuri Jejak Awal Semesta
Memahami Manusia dari Dua Jalan
Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan
Berita ini 37 kali dibaca

Informasi terkait

Kamis, 25 Juni 2026 - 20:11 WIB

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Kamis, 25 Juni 2026 - 14:21 WIB

Padamnya Lentera Malam

Senin, 22 Juni 2026 - 15:10 WIB

Titik Temu di Ujung Semesta

Minggu, 21 Juni 2026 - 09:56 WIB

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Sabtu, 20 Juni 2026 - 20:51 WIB

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Berita Terbaru

Artikel

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Kamis, 25 Jun 2026 - 20:11 WIB

Artikel

Padamnya Lentera Malam

Kamis, 25 Jun 2026 - 14:21 WIB

Artikel

Titik Temu di Ujung Semesta

Senin, 22 Jun 2026 - 15:10 WIB

Artikel

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Minggu, 21 Jun 2026 - 09:56 WIB

Artikel

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:51 WIB