Jepang Hentikan Pemulihan Satelit Hitomi

- Editor

Senin, 2 Mei 2016

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Hilang kontak sejak 26 Maret 2016, Badan Eksplorasi Antariksa Jepang (JAXA) akhirnya menghentikan usaha pemulihan satelit Hitomi, Kamis (28/4). Satelit senilai sekitar Rp 3,5 triliun itu baru diluncurkan 17 Februari 2016 untuk mengamati obyek antariksa energi tinggi, seperti lubang hitam supermasif, bintang neutron, dan gugus galaksi.

Sejak hilang, harapan penyelamatan muncul karena JAXA menerima tiga kali sinyal dari Hitomi. Namun, upaya itu tak membuahkan hasil. “Kami menyimpulkan fungsi satelit dalam keadaan tak bisa dipulihkan lagi,” kata Saku Tsuneta, Direktur Jenderal Institut Ilmu Keantariksaan dan Astronautika JAXA, dikutip BBC, Jumat (29/4). Karena itu, JAXA akan menghentikan upaya mengaktifkan kembali fungsi Hitomi dan fokus pada upaya investigasi penyebab kegagalan itu. Hilangnya Hitomi yang merupakan kerja sama JAXA, NASA, dan sejumlah badan antariksa lain adalah kerugian besar, tidak hanya kerugian materi. (BBC/MZW)
———————-
Hukuman Pukulan Justru Membuat Anak Tak Patuh

Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Anak-anak (Unicef) pada 2014 menyebut 80 persen orangtua di dunia memukul anaknya. Menurut Studi Child Trends di Amerika Serikat pada tahun yang sama, 76 persen lelaki dan 65 persen perempuan dewasa setuju memukul anak, setidaknya di pantat, agar patuh. Namun, studi lebih dari 50 tahun menunjukkan sebaliknya. Riset ahli ilmu keluarga dan perkembangan manusia Universitas Texas, Austin, AS, Elizabeth Gershoff dan Andrew Grogan-Kaylor, dari Sekolah Kesejahteraan Sosial Universitas Michigan, AS, dipublikasikan Journal of Family Psychology, menunjukkan, anak yang dipukul kian menentang orangtua, berisiko mengalami masalah mental, dan jadi anti sosial. Livescience, Kamis (28/4), menyebut, kesimpulan itu dari banyak studi menelaah 160.000 anak dalam lima dekade. Menurut riset terakhir, memukul pantat anak identik dengan anak yang tingkat kecerdasan rendah, agresif, depresi, dan takut berlebihan. (MZW)
————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 30 April 2016, di halaman 14 dengan judul “Kilas Iptek”.
———–
Terapi Genetika untuk Choroideremia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Melalui studi terhadap 14 pasien di Inggris serta 18 pasien di Amerika, Kanada, dan Jerman selama 4 tahun 6 bulan, sejumlah ilmuwan di Universitas Oxford, Inggris, mencari cara menyembuhkan penyakit choroideremia, yakni penurunan secara gradual kualitas retina dan sel-sel di belakang mata. Studi awal yang dipublikasikan dalam New England Journal of Medicine itu menunjukkan bahwa kelainan tersebut bisa diatasi dengan terapi genetika. Konsepnya, salinan gen yang dimasukkan ke belakang mata akan mengoreksi gen yang cacat. Seperti dikutip BBC, Kamis (28/4), ahli bedah mata yang memimpin studi tersebut, Prof Robert MacLaren, menyampaikan, hasil studi itu menjadi indikasi awal bahwa terapi gen bisa dilakukan kepada lebih banyak pasien lagi. Selama ini, belum ada cara yang meyakinkan untuk mengobati choroideremia. Tanpa pengobatan, pasien dengan choroideremia akan secara bertahap menjadi buta. (BBC/ADH)
———
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 2 Mei 2016, di halaman 14 dengan judul “Terapi Genetika untuk Choroideremia”.

——————

Vaksinasi Rabies Kucing di Banda Aceh

Mengantisipasi penyebaran virus rabies, mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala memvaksinasi rabies secara gratis sejumlah kucing liar dan peliharaan di Banda Aceh, Provinsi Aceh. Virus rabies dari hewan bisa menular ke manusia dan berdampak fatal, yakni kematian. Dokter hewan sekaligus pengajar pada FKH Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Mustafa Sabri, ditemui di Banda Aceh, Minggu (1/5), mengatakan, kegiatan itu merupakan agenda rutin Unsyiah bersama Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan Provinsi Aceh serta Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan Banda Aceh setiap awal hingga pertengahan tahun. Kali ini kegiatan fokus di empat kecamatan, yakni Syiah Kuala, Kuta Alam, Darussalam, dan Meuraxa. Keempat kecamatan itu dipilih karena populasi hewan liar dan peliharaan paling tinggi, terutama kucing. Sejumlah mahasiswa berkeliling kampung untuk mencari kucing liar dan kucing peliharaan. Kucing-kucing itu diperiksa dan divaksinasi rabies. Setidaknya, ada puluhan kucing liar dan peliharaan divaksin. (DRI)
———————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 2 Mei 2016, di halaman 14 dengan judul “Vaksinasi Rabies Kucing di Banda Aceh”.

Informasi terkait

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Berita ini 33 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Berita Terbaru

Artikel

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Artikel

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB