Home / Berita / Jejak “Ratu Kidul” di Selatan Jawa

Jejak “Ratu Kidul” di Selatan Jawa

“Datanglah prahara. Pepohonan bertumbangan, gelombang setinggi gunung dengan suara mengerikan, air samudra memanas, banyak makhluk air mati. Istana laut kidul menjadi geger, seisi laut lalu ribut. Seluruh penghuninya terkena hawa panas karena cipta dan rasa senopati Sutawijaya yang mengheningkan cipta dengan membaca doa. Keadaan itu mengakibatkan kegelisahan seorang patih Ratu Kidul, yakni Nyi Rara Kidul, yang istananya ada di kahyangan Dlepih….”

Babad Tanah Jawa
Selama berabad-abad, kisah tentang Ratu Kidul tersebut menjadi legenda yang dipercaya masyarakat di pantai selatan Jawa. Bahkan, hingga kini, masyarakat di pantai selatan Yogyakarta masih rutin menggelar upacara labuhan atau melarung sajen ke laut selatan.

Namun, sejarawan Anthony Reid dari Australian National University (2012) berpendapat, mitologi Ratu Kidul ini kemungkinan berkaitan dengan bencana tsunami. Reid mendasarkan hipotesisnya setelah mengkaji petikan tembang dandanggula dari Babad Ing Sangkala yang ditulis pada 1738.

Babad ini merupakan salah satu sumber tertulis tertua di Jawa yang mengisahkan kejadian di Jawa dari tahun ke tahun. Naskah ini dirampas pasukan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Thomas Stamford Raffles dalam penyerbuan ke Keraton Yogyakarta pada 1812 dan kemudian dibawa ke Inggris. Sejarawan dari University of London, MC Ricklefs, kemudian mentransliterasi BabadIng Sangkala dalam bukunya berjudul Modern Javanese Historical Tradition (1978).

Bagian dari Babad Ing Sangkala menyebutkan, “Nir buta iku/bumi/kala wong Pajang kendhih/lungo tilar nagara/Adipatinipun angungsi ing Giri Liman/ing Mataram angalih mring Karta singgih/nir tasik buta tunggal (Saat ‘lenyap berubah jadi laut/buminya’/ orang-orang Pajang dikalahkan/mereka meninggalkan tanahnya/Adipati mereka mengungsi ke Giri Liman/Di Mataram, mereka pindah ke Karta, Ketika menghilang/semua kembali ke laut)”.

Bagi sebagian orang Jawa, kata Reid, deskripsi dalam babad ini tentang “saat semua lenyap berubah jadi laut buminya” kemungkinan akan diasosiasikan dengan daya magis Ratu Kidul. Namun, “Babad Ing Sangkala menguatkan kemungkinan terjadinya tsunami besar, yang melanda pantai selatan Jawa Tengah (Mataram) di tempat yang menjadi pusat perkembangan mitologi Ratu Kidul,” tulis Reid.

Bukti geologi
Secara teoretis, zona subduksi yang berada di bawah Samudra Hindia di selatan Jawa memang berpotensi dilanda gempa besar dan tsunami. Zona subduksi itu terbentuk dari tumbukan Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia dengan kecepatan pergerakan 66 milimeter per tahun atau 8 mm lebih tinggi daripada pergerakan di zona subduksi barat Sumatera. Di zona tumbukan ini terdapat bidang kuncian (locked patches) yang terisolasi dan ketika akhirnya lepas akan menghasilkan gempa bermagnitudo besar.

McCaffrey (2008) dalam papernya juga mengusulkan hipotesis baru mengenai potensi gempa besar (M? 9,0) yang berpotensi terjadi di semua zona subduksi di dunia setelah tsunami Aceh 2004. Hipotesis ini kemudian dikuatkan dengan tsunami yang dibangkitkan gempa M 9,1 di Sendai, Jepang, pada 2011. Bahkan, McCaffrey telah membuat perhitungan matematis bahwa periode perulangan gempa besar di selatan Jawa adalah per 675 tahun, sedangkan di Sumatera 512 tahun.

Adapun kajian terbaru dari peneliti Institut Teknologi Bandung, Rahma Hanifa, menyebutkan, segmen gempa di selatan Jawa Barat saja berpotensi memicu gempa hingga M 8,7. “Kalau runtuhnya bersamaan, segmen-segmen di selatan Jawa memicu gempa sampai M 9,2. Kekuatan gempa itu setara yang terjadi di Aceh tahun 2014,” kata anggota Kelompok Kerja Geodesi Tim Revisi Peta Gempa Pusat Gempa Bumi Nasional.

Dibandingkan dengan gempa berkekuatan M 7,8 yang memicu tsunami di Pangandaran, Jabar, pada 2006, potensi gempa di selatan Jawa yang belum terlepas ini jauh lebih besar. Karena gempa merupakan siklus, apa yang berpotensi terjadi di masa depan seharusnya pernah terjadi di masa lalu. Masalahnya, catatan tentang kejadian gempa besar dan tsunami di selatan Jawa hanya tersamar dalam babad dan mitos Ratu Kidul.

Kajian yang dilakukan Kepala Pusat Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan (LIPI) Eko Yulianto dan peneliti paleostunami LIPI, Purna Sulastya Putra, beberapa tahun terakhir, menemukan bukti-bukti penting adanya endapan tsunami tua atau paleotsunami di sepanjang pantai selatan Jawa. Endapan itu ditemukan di Lebak (Banten), Pangandaran, Cilacap (Jawa Tengah), Pacitan (Jawa Timur), dan di Kulon Progro (DI Yogyakarta). Sebagian telah diketahui memiliki kesamaan umur, yaitu sekitar 300 tahun lalu. Beberapa lapisan lagi memiliki lapisan lebih tua yang menunjukkan keberulangan kejadian tsunami di masa lalu.

“Jika daerah yang terlanda tsunami dari Lebak hingga Cilacap, artinya jangkauannya sudah sekitar 500 kilometer. Ini artinya gempanya di atas M 9 atau setara dengan tsunami Jepang tahun 2011. Sementara jika ternyata jejak tsunami di Pacitan juga sezaman, artinya wilayah terdampak sepanjang 800 kilometer,” katanya.

Kajian dari geolog Amerika Serikat, Ron Harris, dan Puna S Putra baru-baru ini juga menemukan endapan tsunami di selatan Bali. “Jika ternyata endapan tsunami di selatan Bali juga sezaman dengan yang selatan Jawa, artinya tsunaminya sangat besar, ” kata Purna. Sebagai perbandingan, tsunami Aceh melanda kawasan pesisir sepanjang sekitar 1.300 km.

Tata ruang
Legenda pada dasarnya selalu multitafsir. Namun, keberadaan legenda ini kemungkinan turut memengaruhi pola keruangan masyarakat di selatan Jawa. Berbeda dengan pola permukiman di pantai utara Jawa yang sangat padat, kawasan selatan Jawa cenderung tertinggal. Rumah-rumah di sana pun cenderung berjarak dari laut.

Berdasarkan peta Belanda tahun 1800-an, menurut Eko, lokasi permukiman di pantai selatan Jateng dan DIY cenderung berjarak dari pantai. “Permukiman hanya ada di sebelah utara Jalan Daendels,” kata Eko.

Jalan tersebut berjarak 1 km sejajar pantai dan memanjang 130 km di Karang Sewu, Kulon Progo. Jalan ini menghubungkan empat wilayah di selatan, yakni Bantul, Purworejo, Kebumen, dan Cilacap.

Hingga awal 1900-an, kawasan di pesisir selatan Jawa yang relatif berkembang hanya Cilacap. Seperti ditulis Ahmad Wongsosewodjo dalam bukunya, Berkeliling Hindia: Tanah Djawa Keradjaan Lama (1937), “Di pantai selatan seluruh tanah Jawa, hanya sebuah negeri Cilacap sajalah bandar pelabuan yang diperbaiki gubermen dan yang disinggahi kapal.”

Kini, perlahan kawasan selatan Jawa mulai berkembang. Seiring memudarnya ketakutan kepada penguasa Ratu Kidul, kantong-kantong permukiman tumbuh semakin mendekat ke pantai. Apalagi, pemerintah saat ini memprioritaskan pembangunan di kawasan selatan Jawa yang tergolong tertinggal. Jalan lintas pantai selatan Jawa, Bandar Udara Kulon Progo, dan jalan lintas selatan Jawa sepanjang 1.556 km akan dibangun di kawasan selatan Jawa.

Jika masyarakat Jawa di masa lalu memitigasi ancaman kemarahan Ratu Kidul dengan menjauh dari laut, kini jika kita hendak membangun di pantai, satu-satunya jalan adalah dengan membangun konstruksi tahan gempa dan elevasi yang memadai sehingga aman dari jangkauan tsunami.–(AHMAD ARIF)
————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 28 Juli 2017, di halaman 13 dengan judul “Jejak “Ratu Kidul” di Selatan Jawa”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Kenormalan Baru Jangan Jadi Abnormal Lagi

Pelonggaran pembatasan sosial berskala besar demi aktivitas ekonomi harus dilakukan secara hati-hati dengan kajian epidemiologis. ...

%d blogger menyukai ini: