Home / Berita / Jangan Gunakan Sembarang Masker

Jangan Gunakan Sembarang Masker

Penggunaan masker menjadi salah satu cara mencegah penularan Covid-19. Namun, tidak semua jenis masker efektif melindungi diri dari penularan penyakit yang disebabkan virus korona tipe baru tersebut.

Masker kini menjadi bagian dari gaya hidup setiap orang dan wajib digunakan ketika keluar dari rumah. Kebutuhan yang tinggi membuat ragam pilihan masker yang dijual pun menjadi variatif. Bagi sebagian orang, masker sebagai satu kesatuan dalam tampilan mode harian.

Meski begitu, setiap orang tidak boleh mengesampingkan esensi dari penggunaan masker yang sebenarnya. Masker digunakan antara lain untuk mencegah penularan Covid-19 atau penyakit yang disebabkan virus korona tipe baru. Sebagus apa pun model dan desain yang dipilih, itu tidak akan bermanfaat jika efektivitas masker tidak optimal dalam menahan virus penyebab Covid-19.

Lantas, masker seperti apa yang bisa menahan paparan virus? Sesuai imbauan dari pemerintah, masyarakat dapat menggunakan masker kain dengan tiga lapis. Lapisan ini bertujuan agar daya tahan untuk mecegah transmisi virus penyebab Covid-19 bisa lebih baik.

Namun, peneliti nanoteknologi dari Loka Penelitian Teknologi Bersih Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Muhamad Nasir mengatakan, masker kain sebaiknya tidak digunakan ketika seseorang harus beraktivitas di tengah banyak orang. Sekalipun dengan tiga lapis, daya tahan dan daya saring terhadap partikel virus tidak akan optimal.

“ Rentang efektivitas masker kain antara 40-80 persen. Artinya, kemampuan untuk menahan virus tidak cukup baik. Meskipun digunakan dengan tiga lapis, pori-pori dari serat kain masih cukup besar dan tidak aman untuk menyaring virus dengan ukuran sangat kecil,” katanya.

Menurut Nasir, masker kain dengan tiga lapis masih bisa digunakan apabila tidak berada di lingkungan yang rentan, seperti transportasi publik dengan banyak orang serta fasilitas pelayanan kesehatan. Apabila risiko penularan cukup tinggi sebaiknya masker yang digunakan adalah masker medis.

Sebuah penelitian menyebutkan, pemilihan bahan untuk masker kain tiga lapis pun harus diperhatikan. Untuk lapis paling dalam sebaiknya menggunakan bahan yang mudah menyerap seperti katun. Kemudian, lapisan kedua bisa menggunakan bahan polyester. Pada lapisa ketiga atau lapisan terluar dapat memanfaatkan kain yang tidak mudah menyerap seperti polypropylene.

Efektivitas masker
Masker kain tiga lapis ini dinilai memiliki efektivitas menahan paparan virus yang sifatnya droplet (percikan) dengan ukuran partikel 0,01 mikron. Namun untuk virus yang menular secara airborne atau lewat udara dengan ukuran sangat kecil, masker kain tidak cukup efektif.

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO—Masker bermotif batik yang dikenakan warga di RW 04 Cibuluh, Kota Bogor, Jawa Barat, Kamis (17/9/2020). Seni Batik menjadi program pemberdayaan warga di wilayah RW 4 Kelurahan Cibuluh. Di wilayah yang kini dikenal dengan sebutan Kampung Batik Cibuluh ini terdapat 40 pembatik yang yang dibagi dalam 8 kelompok. Program pemberdayaan warga, yang mayoritas adalah perempuan, tersebut menjadi penggerak perekonomian keluarga mereka. Harga batik cap hasil karya mereka dijual mulai Rp 175 ribu hingga Rp 350 ribu, sedangkan batik tulis mulai Rp 300 ribu hingga Rp 7,5 juta.–Kompas/Rony Ariyanto Nugroho (RON)-17-9-2020

“Ini apalagi untuk masker dengan bahan scuba ataupun bandana yang biasa digunakan untuk pelindung dari debu. Efektivitasnya sangat kecil karena diameter pori-pori pada serat kain sangat besar. Meski nyaman digunakan, sebaiknya masker ini tidak jadi pilihan,” kata Nasir.

Menimbang kerentanan ini, PT Kereta Commuter Indonesia bahkan melarang penumpang kereta rel listik (KRL) menggunakan masker scuba dan bandana. Setiap penumpang setidaknya harus menggunakan masker kain tiga lapis atau masker medis.

Efektivitas masker scuba hanya 0-5 persen. Virus yang menular melalui percikan pun lebih mudah keluar ataupun terhirup oleh seseorang yang menggunakan masker jenis ini. Pengaruh penggunaan masker scuba serupa dengan tidak mengenakan masker sama sekali.

Sementara untuk jenis masker medis, penggunaannya disarankan untuk masyarakat yang rentan. Selain tenaga medis yang berada di fasilitas pelayanan kesehatan, masker medis juga diperuntukkan bagi orang yang sakit ataupun orang yang terpaksa harus berada di kerumunan.

KOMPAS/FAJAR RAMADHAN—Karim (43), pengguna KRL di Stasiun Manggarai yang terlihat mengenakan masker scuba pada Rabu (16/9/2020).

Efektivitas penyaringan partikel untuk ukuran 0,01 mikron berkisar 30-95 persen. Namun, risiko kebocoran dari paparan virus masih bisa terjadi terutama melalui bagian kanan dan kiri masker yang bercelah. Karena itu, penggunaannya harus benar-benar diperhatikan. Pastikan memilih ukuran yang sesuai agar masker bisa melekat serta menutup bagian hidung dan mulut dengan baik.

Penelitian yang dipublikasikan pada jurnal The Lancet pada 1 Juni 2020 menyebutkan, kemampuan masker medis atau masker bedah ini setara dengan menggunakan masker kain dengan 12-16 lapis. Penggunaan masker ini berkolerasi dengan rendahnya risiko penularan yang terjadi.

Adapun jenis masker lain yakni masker N95. Masker ini memiliki efektivitas yang lebih optimal. Masker N95 mampu menahan partikel ukuran 0,01 mikron sampai lebih dari 95 persen. Karena itu, jenis masker ini disarankan untuk digunakan tenaga medis yang berhadapan langsung dengan pasien Covid-19.

Meskipun efektivitasnya cukup tinggi, seseorang harus memastikan bahwa masker dipakai dengan cara yang tepat. Masker tidak boleh longgar. Pilih pula ukuran yang sesuai dengan bentuk wajah sehingga bisa menutup hidung dan mulut dengan baik.

Cara pemakaian
Selain memilih jenis masker yang tepat, masyarakat sebaiknya paham mengenai cara penggunaannya yang benar. Prinsip higienis menjadi salah satu faktor yang perlu untuk diperhatikan. Untuk itu, sebelum menggunakan masker, perlu dibiasakan untuk mencuci tangan terlebih dahulu. Boleh menggunakan sabun dan air mengalir ataupun menggunakan cairan antiseptik.

Setelah itu gunakan masker sampai menutup hidung, mulut, dan dagu secara keseluruhan. Jika menggunakan masker medis, bagian atas yang berwarna putih seperti kawat perlu dikencangkan sesuai dengan bentuk hidung. Pastikan seluruh masker menutup bagian hidup dan mulut secara erat.

Masker juga tidak boleh digunakan terlalu lama. Jika sudah merasa basah, baik karena keringat atau air liur, segera ganti dengan masker yang baru. Setidaknya masker perlu diganti setiap empat jam sekali. Pastikan sebelum membuka masker dan menggunakan masker yang baru, tangan sudah dibersihkan.

Dalam kaitannya dengan pencegahan penularan Covid-19, penggunaan masker akan lebih efektif jika protokol kesehatan lain dilakukan secara bersamaan. Itu meliputi antara lain menjaga jarak serta selalu membersihkan tangan dengan sabun dan air mengalir. Interaksi dengan orang lain tanpa menggunakan masker harus sangat dihindari.

Sebuah studi menunjukkan, risiko penularan Covid-19 dari orang yang terinfeksi virus penyebab Covid-19 bisa mencapai 90 persen apabila tidak menggunakan masker. Sementara, jika menggunakan masker, risiko penularannya bisa diperkecil menjadi 30 persen. Risikonya bisa menjadi hanya lima persen apabila baik orang yang terinfeksi ataupun orang yang sehat saling menggunakan masker. Risiko ini bahkan bisa diminimalisir lagi jika prinsip jaga jarak dilakukan minimal 1 meter.

Masker yang digunakan untuk melindungi diri dari penularan Covid-19 sebaiknya juga diiringi dengan pemahaman yang benar soal cara menggunakannya. Sebagian besar orang sudah tahu masker dapat mencegah penularan penyakit ini. Namun, kepatuhan menggunakannya dengan baik masih rendah. Pada akhir Agustus 2020, Satuan Tugas Penanganan Covid-19 memperkirakan, kepatuhan masyarakat memakai masker kurang dari 70 persen.

Karena itu, kampanye dan sosialisasi penggunaan masker perlu lebih masif dilakukan. Ini termasuk untuk meningkatkan pemahaman masyarakat akan penggunaan masker yang benar. Manfaat masker tidak akan optimal jika jenis dan cara penggunaannya tidak tepat dan tidak benar dilakukan.

Oleh DEONISIA ARLINTA

Editor: EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 21 September 2020

Share
%d blogger menyukai ini: