Home / Artikel / Islam dan Ilmu Pengetahuan Moderen

Islam dan Ilmu Pengetahuan Moderen

PADA suatu hari, kira-kira satu windu yang lalu, ketika sedang mencari-cari buku baru tentang agama di Toko Kitab “Tamaddun”, jalan Kramat Raya, Jakarta, saya tertarik pada suatu karya Maurice Bucaille berjudui Bibel, Qur’an dan Sains Modern yang ternyata terjemahan Prof. Dr. Rasjidi dari naskah asli yang berbahasa Prancis. Di dalam buku tersebut, dokter ahli bedah —yang berminat besar mengadakan perbandingan antara ajaran agama, sebagaimana terdapat dalam Bibel Perjanjian Lama dan Baru serta Al Qur’an, dengan penemuan Sains Moderen itu — telah sampai pada kesimpulan bahwa di dalam Al Qur’an tidak terdapat satu pernyataan pun yang dapat dikritik dari segi pandangan ilmu pengetahuan moderen; sedangkan di dalam Bibel —sebagai-mana dikenal orang masa kini— terdapat ajaran-ajaran —misalnya tentang terjadinya alam— yang tidak dapat dibenarkan oleh Sains.

Meskipun saya tidak sempat membaca buku tersebut sampai selesai karena terburu dibawa kabur ke Yogyakarta oleh anak saya yang dokter juga, saya mempunyai kesan yang kuat bahwa Bapak Prof. Dr. Rasjidi sangat berhasrat untuk membukakan jendela yang selama ini menutup dinding yang memisahkan ilmuwan agama dan ilmuwan sains, sehingga mereka dapat saling mengintip apa yang dapat dilihat di lingkungan tetangga masing-masing.

Sejak itu bermunculanlah buku-buku yang menghubungkan Sains dengan agama Islam. Ada yang bermutu tapi ada juga yang amatiran, berisi banyak ketidakbenaran, yang sangat merugikan mereka yang ingin dengan sungguh-sungguh belajar dari buku-buku semacam itu. Kecuali itu, usaha yang terdapat di dalam buku —yang dengan paksa menggunakan hasil penemuan sains untuk menafsirkan ajaran Islam secara tidak kena— akan menimbulkan kesan bahwa umat Islam percaya pada ajaran agamanya karena pengertian yang salah. Sepantasnya kita berhati-hati terhadap sinyalemen Imam Hujjatul Islam Al Ghazali daIam bukunya AlMungidzu min adh-Dholal. Memang tidak mudah bagi bukan saintis untuk menulis tentang sains karena bahasanya berbeda dan begitu pula pengertian katanya.

Ambillah misalnya kata langit. Apakah langit itu? Orang kuno yang hidup 1000 tahun yang lalu atau sebelumnya beranggapan bahwa langit adalah bola besar, di mana bintang-bintang menempel, yang berputar mengelifingi bumi. Saya tidak tahu apa sekarang masih ada orang yang mempunyai pengertian seperti itu. Pandangan geosentris semacam itu, yang sederhana dan merupakan dasar konsepsi Ptolemaios, sebenarnya telah dipersoalkan oleh para ilmuwan Islam. Dalam abad ke-XI Al Biruni mengritik Ptolemeus dan mengajukan alternatifnya dengan mengatakan bahwa sistem heliosentris lebih masuk akal. Konsepsi ini mengajarkan bahwa bumi mengelilingi matahari dan tidak sebaliknya. Dengan demikian lenyaplah peranan bumi sebagai lokasi penting di jagad raya. Lima abad kemudian Miklas Koppernigk mengajukan kembali konsepsi yang radikal itu, dan pada waktu itu peradaban manusia cukup masak untuk menerimanya. Sayang pandangan ini tidak dikaitkan orang dengan Al Biruni, tetapi dinamakan Konsepsi Kopernikus. Maklum, umat Islam pada waktu itu telah acuh tak acuh terhadap apa yang terjadi di lingkungan sains, dan telah melepaskan, bahkan memusuhi sains yang semula dikembangkan dan dibinanya.

Orang awam sekarang mempunyai pengertian lain tentang langit. Ia tahu bahwa matahari adalah bintang yang terdekat dengan kita. Ia meyakini bahwa bintang-bintang letaknya ada yang dekat dan ada yang jauh dari kita, sehingga mereka tidak menempel pada dinding suatu bola. Jadi kalau ia mengatakan tentang langit dengan bintang di dalamnya, sebenarnya ia mempunyai pengertian bahwa langit itu ruang. Tetapi, adakah ruang ini berdinding nun jauh di sana? Saya tidak tahu apa jawabnya andaikan pertanyaan semacam itu diajukan kepadanya.

Apakah Langit Itu?
Memang tidak mudah menjawab pertanyaan yang mungkin keluar dari mulut seorang anak itu. Sebab, bila pengertian langit sama dengan ruang jagad raya yang mewadahi seluruh bintang dan benda langit lainnya, maka sangatlah janggal jika ia berdinding. Di luar dinding itu ada apanya? Kalau ada sesuatu-nya, maka ia berada dalam ruang dan ruang ini harus ruang jagad raya juga. Tetapi, jika ruang tersebut tak berdinding, maka alangkah luar biasa ia. Betapa besar ruang yang tak terbatas itu. Persoalan yang aneh-aneh seperti ini dan lain-lainnya, misalnya mengenai di mana letak pusat alam semesta pun, pernah menyibukkan para filosof Islam yang sezaman dengan Ibnu Sina.

Isaac Newton, ilmuwan sains ternama dari abad ke-XVII, menanamkan konsepsi bahwa ruang kosmos kita ini tak terbatas dan tak berhingga besarnya. Dengan demikian di mana saja kita berada, di bumi atau di salah satu bintang, kita berada di pusatnya. Mengapa tidak? Tempat yang mana saja yang kita tunjuk, jaraknya ke tepi ruang jagad raya ini sama yaitu tak berhingga jauhnya. Tentunya seorang anak yang nakal akan bertanya: Kok tahu kalau alam semesta ini tak berhingga besarnya! Apa buktinya?

Tentu saja Newton tak akan dapat memberikan bukti kecuali mengatakan bahwa ruang alam itu tak berhingga besarnya kareria tak berbatas. Dan ia tak berbatas karena kalau ada batasnya, hal itu tidak masuk akal. Memang masalah semacam ini yang tidak dapat dibuktikan dengan pengukuran atau cara lain yang setara sebenarnya termasuk metafisika. Orang hanya dapat berspekulasi saja dan berpegang pada dalih bahwa sesuatu harus ditolak kalau tidak masuk akal. Tetapi siapa berani menjamin bahwa sesuatu yang tidak masuk akalnya tentu salah? Banyak hal yang nyata tetapi belum dipahami dikatakan tak masuk akal.

Perkembangan selanjutnya menunjukkan bahwa konsepsi Newton tentang ruang kosmos, yang dianggap sebagai sesuatu yang mutlak adanya ini, menjumpai tantangan yang berat. Sebagaimana diketahui, pandangan klasik itu menyatakan bahwa dengan atau tanpa isi, ruang alam ini ada. Andaikan kosong melompong, ia tetap ada dan tak berhingga besarnya. Kita juga mengetahui bahwa ruang seluruh kosmos ini berisi materi dalam berbagai bentuknya; bentuk materiil yang kasat mata dan bentuk energi medan, yang tak terinderakan. Misalnya medan listrik, medan gravitasi dan lain-lainnya yang menyusupi segalanya, termasuk vakum. Berbeda dengan teori klasik, teori relativitas berpandangan bahwa andaikan isi jagad raya ini tiada, maka ruang alam akan tiada pula.

Konsepsi Einstein mengenai ruang alam ini mengakui bahwa ia ada tetapi tidak secara mutlak. Selama ada penopangnya, yaitu materi yang diwadahinya selama itu pula ia terbentang. Tanpa isi ia secara populer dapat dikatakan kolaps atau mengernpis menjadi tiada. Artinya, keberadaannya bergantung pada ada tidaknya materi. Kecuali itu, menurut pandangan moderen ini, ruang fisis di mana kita semua berada dan berdimensi tiga ini, merupakan bagian dari ruang yang lebih besar, yaitu kontinum ruang-waktu yang berdimensi empat.

Jadi, “waktu” yang biasanya kita hubungkan dengan, atau memberikan ciri, urutan kejadian di alam ini ternyata terkait erat dengan ruang yang biasanya kita hubungkan dengan, atu memberikan ciri, tempat berlangsungnya kejadian tersebut. Ruang-waktu merupakan kesatuan yang tak terpisahkan. Ini semua dapat dibuktikan dengan eksperimentasi dan dapat kita observasi pada gejala-gejala alam tertentu. Di sinilah letak perbedaan fisik dan metafisika: yakni adanya pembuktian yang dapat dikaji secara eksperimental. Dengan demikian bila seorang saintis berbicara mengenai langit, maka pengertiannya adalah kontinum ruang-waktu yang berdimensi empat ini, sehingga cukup pelik untuk dipahami orang awam.

Proses alam seperti pembentukan galaksi, bintang, matahari, planet, bumi dan bulan melibatkan gaya gravitasi, yaitu gaya tarik yang bertanggung jawab atas beredarnya bumi mengelilingi matahari, atau bulan mengelilingi bumi. Kalau kita teruskan: ia bertanggung jawab atas beredarnya satelit, atau jatuhnya misil antarbenua, jatuhnya air hujan, mengalirnya air sungai dan sebagainya. Dalam konsepsi Einstein itu, munculnya gravitasi disebabkan karena lengkung-lenggoknya ruang-waktu di tempat peristiwa pada saat yang bersangkutan.

Dengan mengatakan adanya kelengkungan pada ruang, maka kita akan lebih sulit lagi memahaminya atau membuat gambaran dari ruang itu. Garis yang lengkung dapat kita mengerti karena ia dapat terjadi, misalnya pada garis yang terletak dalam sebuah bidang. Nah, garis yang berdimensi satu, yakni panjang, dapat lengkung dalam bidang, misalnya permukaan sebuah kertas, yang dimensinya dua yaitu panjang dan lebar. Juga sebuah bidang yang lengkung tidak sulit visualisasinya. Kita dapat memperlihatkannya dengan menggulung kertas. Permukaan kertas yang merupakan bidang dan berdimensi dua itu melengkung dalam ruang yang berdimensi tiga, yaitu ruang di mana kita berada yang memiliki dimensi panjang, lebar dan tinggi. Jadi suatu kelengkungan dapat terjadi pada sesuatu dalam tempat yang berdimensi lebih banyak.

Tetapi kalau kita mengatakan bahwa ruang di mana kita semua hidup ini lengkung, maka kita tak akan dapat memperlihatkannya. Paling kita hanya dapat mengatakan bahwa ia lengkung dalam tempat yang dimensinya empat. Kita tak akan dapat menggambarkannya, meskipun di angan-angan saja, karena kita ini makhluk yang hanya berdimensi tiga. Apalagi bila yang lengkung adalah ruang-waktu yang berdimensi empat dan lengkung dalam tempat yang berdimensi lima, atau lebih banyak dari lima. Fisikawan pun tak mampu menggambarkannya dalam angan-angan. Untuk dapat membuat visualisasi ruang-waktu yang lengkung kepada kita, ia akan mengambil analogi dengan sesuatu yang dimensinya kurang dari dimensi kita sendiri, yaitu bidang yang berdimensi dua. Jadi alam kita yang memiliki ruang-waktu akan dianalogikannya dengan bidang; misalnya permukaan kertas.

Langit yang Tergulung
Kita semua dan seluruh jagad raya yang berada dalam ruang-waktu merupakan gambar pada kertas itu, laksana potret yang dapat bergerak. Kita tak akan dapat keluar dari ruang-waktu; begitu pula gambar itu, tak akan dapat keluar dari kertas. Gambar itu tak tahu apa yang ada di luar kertas; begitu pula kita tidak tahu apa yang ada di luar ruang-waktu. Tidakkah Tuhan Yang Maha Kuasa menggambarkan alam semesta ini juga sebagai lembaran kertas yang nanti akan digulung atau diciutkan bila masanya datang untuk membuat seluruh pagelaran ini menjadi “kukut”; gulung tikar? Kita ingat saja Surah 21 Al Anbiya’ 104:

?????? ??????? ??????????? ??????? ?????????? ??????????? ????? ?????????? ??????? ?????? ???????????? ??????? ?????????? ?????? ?????? ??????????

“Pada hari Kami menciutkan langit bagaikan menggulung lembaran kertas, sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengembalikannya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kamilah yang melaksanakan.”

Dalam ayat ini dilukiskan langit (= ruang) sebagai lembaran kertas yang semula pada penciptaan alam dibentangkan, atau diluaskan, dan nanti pada Hari Akhir akan dikembalikan seperti sediakala dengan menciutkannya, atau menggulungnya. Ya, memang hanya dengan analogi seperti itulah, kita makhluk yang berdimensi tiga ini — dapat memperoleh gambaran atau visualisasi tentang proses penciptaan alam semesta dan peniadaannya di Hari Akhir. Tak ada jalan lain bagi kita untuk memahaminya.

Menurut konsepsi Einstein, “lembaran” itu tidak hanya melengkung, tetapi malah menutup diri seperti balon mainan anak -anak. Ia tidak berbatas tetapi berhingga. Jadi berbeda dengan konsepsi Newton, alam semesta kita ini — menurut Einstein— berhingga besarnya meskipun tidak berbatas. Aneh kedengarannya. Sesungguhnya tidak; periksa saja permukaan sebuah bola. Adakah batas pada permukaan itu yang menghalangi kita pergi dari bagian yang satu ke bagian permukaan yang lain? Tidak ada. Tetapi luas permukaan bola itu berhingga, dapat diukur, bahkan dapat kita tutup dengan kedua belah telapak tangan kita!

Kaluza dan Klein mencoba memperluas konsepsi Einstein, mengenai adanya gaya gravitasi sebagai akibat lengkungnya ruang-waktu, dengan memunculkan dimensi kelima untuk menerangkan adanya gaya listrik. Mereka tidak menemukan suatu hiper-ruang, yaitu ruang yang berdimensi banyak melebihi kontinum ruang-waktu, yang lengkung sebagaimana mereka harapkan, seperti lengkungnya ruang-waktu yang bermanifestasi sebagai gaya gravitasi, karena dimensi yang kelima ternyata tidak terbuka seperti yang lain. Dimensi kelima karena sesuatu sebab, orang Jawa bilang, “mlungker” dengan jari-jari 10-35 m (suatu cara menyingkat tulisan: sepuluh pertrilyun-trilyun-trilyun meter) dan bermanifestasi sebagai muatan-muatan listrik elementer sebesar muatan listrik elektron atau proton. Sudah tentu sebagai muslim kita mengatakan bahwa yang menjadi “sebab” adalah kehendak Allah s.w.t.

Untuk menambah rumitnya masalah pengertian langit atau ruang, kini para fisikawan mulai mengadakan penelitian tentang berapa sebenarnya cacah dimensi ruang alam kita ini. Kegiatan ini mereka lakukan dalam rangka penyempurnaan teori “kemanunggalan” di mana Abdus Salam, Weinberg dan Glashow telah berhasil mengungkapkan bahwa gaya listrik-magnet dan gaya nuklir-kuat dalam “kemanunggalan” itu disusunlah teori “kemanunggalan agung”. Kajian semacam ini tidak mudah dan memerlukan pengetahuan matematika yang cukup tinggi. Suatu teori —yang memenuhi persyaratan konsistensi diri— menyatakan, bahwa ruang alam kita ini berdimensi sebelas, tidak kurang dan tidak lebih. Yang empat dipergunakan kontinum ruang-waktu sehingga tersisa tujuh dimensi, yang dikatakan semua “mlungker” dan bermanifestasi sebagai muatan listrik dan muatan nuklir. Inilah alam kita menurut konsepsi yang diajukan oleh Cremmer dan Julia.

Sekian jauh sudah kita menelusuri perkembangan pengertian “langit” sepanjang masa, yang akhirnya mengambil makna sebagai ruang jagad raya yang multi dimensional, atau berdimensi banyak. “Mlungker” dalam beberapa dimensinya, dan terbentang dalam dimensi yang lain. Lengkung, tak terbatas, namun volumenya berhingga.

Mengapa beberapa dimensi itu “mlungker” sedang yang lain tidak, para ilmuwan tidak tahu jawabnya. Namun kita mengatakan: itulah kehendak Sang Pencipta. Apakah ilmuwan percaya pada adanya penciptaan dan adanya Sang Pencipta? Sudah sejak tahun 1929 ketika Hubble melihat dalam teropong bintangnya yang raksasa di Palomar, bahwa galaksi-galaksi di langit yang sangat jauh bergerak saling menjauhi dan menjauh dari galaksi kita Bima Sakti, para ilmuwan meyakini bahwa alam kita ini berekspansi, bertambah besar dan isinya seakan terhambur saling menjauhi. Gamow dan Dicke kemudian dalam tahun 1950-an menyatakan bahwa alam semesta ini lahir dari sebuah maha-ledakan yang sangat dahsyat yang menghamburkan seluruh materi jagad raya ini ke semua arah.

Misteri Langit
Menurut perhitungan para ilmuwan, peristiwa tersebut terjdi sekitar 15 milyar tahun yang lalu. Pada saat itu seluruh materi alam semesta ini berkumpul menjadi satu. Tetapi materi yang begitu banyak akan menimbulkan gaya gravitasi yang bukan main besarnya sehingga ia akan teremas sendiri menjadi kecil, lebih kecii dari apa pun hingga hampir sebesar titik. Alangkah besar kerapatan materi di situ; seluruh materi alam semesta dijejalkan dalam volume yang sangat kecil tersebut. Fisikawan mengatakan bahwa alam semesta lahir dalam suatu mahaledakan dari sebuah singularitas; yaitu sebuah keadaan di mana alam semesta suhunya sangat tinggi dan kerapatannya sangat besar karena seluruh alam berjejal dalam volume yang sangat kecil.

Dalam singularitas itu terkumpul seluruh energi dan materi alam kita ini, termasuk ruang-waktunya yang lengkung. Dan dari singularitas itu pula mereka, ruang, waktu, energi dan materi, lahir dalam ledakan yang maha dahsyat, bersuhu sekitar satu trilyun-trilyun-trilyun derajat, yang sekejap dengan cepat menurun berkat terjadinya ekspansi yang sangat cepat yang dialami jagad raya dalam saat-saat yang para fisikawan namakan fase “inflasi”. Ingat saja ayat Al Qur’an Surah 51 adz-Dzariyati 47:

????????????? ??????????? ????????? ????????? ??????????????

“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuatan dan sesungguhnya Kamilah yang meluaskannya”.

Betapa besar kekuatan yang dilibatkan Allah s.w.t. dalam pembangunan langit (= ruang alam) itu, dapat kita insafi bila kita mengingat bahwa pada saat “inflasi” itu, dihamburkan seluruh materi alam kita yang berisi tidak kurang dari 100 milyar galaksi yang masing-masing berisi rata-rata 100 milyar bintang, yang rata-rata sebesar matahari kita! Dan dengan tegas dinyatakan di sini, bahwa langit (= ruang) diluaskan oleh Allah s.w.t. Sekali lagi dipergunakan istilah “diluaskan” laksana kertas yang dibentangkan. Ekspansi alam semesta itu hingga kini masih berlangsung meskipun dengan kecepatan yang jauh berkurang, dan dapat diobservasi oleh siapa pun.

Menurut perhitungan para ilmuwan, tiga menit setelah penciptaan itu inti-inti atom ringan terbentuk dalam reaksi termonuklir antara nukleon-nukleon, yaitu proton dan neotron, setelah mereka tersusun sebelumnya dalam “sop kosmos” yang semuanya merupakan produk transisi fase yang terjadi selama periode “inflasi”. Selanjutnya atom-atom terbentuk kira-kira setengah juta tahun kemudian, ketika elektron-elektron yang bebas berkeliaran mulai tertangkap oleh inti-inti atom tersebut. Dalam periode ini seluruh langit terang benderang karena pada pembentukan atom itu cahaya dilepaskan dalam proses penangkapan elektron oleh inti.

Apakah tidak ada alam lain kecuali alam kita ini? Menurut kajian Guth dan Linde yang bekerja dalam bidang kosmologi, kernungkinan terbentuknya alam lain di samping alam kita ini ada ketika alam semesta melewati fase lepenciptaan yang mereka sebut sebagai “inflasi”. Alam-alam ini tak dapat berhubungan satu sama lain, juga tidak dengan kita. Jadi bagi kita, mereka adalah alam gaib. Berapa jumlahnya, kita pun tidak tahu. Andaikata kita dipindahkan ke alam yang lain itu, kita tidak akan merasa asing bila di tempat itu berlaku aturan atau Hukum Alam, yang sama dengan yang ada di alam kita ini. Ada gravitasi, ada kelistrikan, ada kemagnetan, ada nuklir dan sebagainya. Tetapi bila alam di tempat itu diatur berbeda dari alam kita oleh Sang Pencipta sehingga Hukum Alamnya berlainan, maka kita akan keheranan atas sifat kelakuan alam di situ. Dan kita akan merasa asing; semuanya tampak aneh bagi kita.

Hal ini dapat dilukiskan sebagai berikut:
Andaikan di salah satu alam yang gaib itu dimensi kelimanya terbentang, maka di situ tak ada muatan listrik elementer dan Hukum Alam yang berlaku. Artinya, aturan Allah s.w.t. yang dikenakan padanya, tidak perlu sama dengan Hukum Alam di di sini.

Andaikan kita berada di sana, kita akan tercengang keheranan melihat berlangsungnya peristiwa yang tak akan dapat terjadi di alam kita ini, karena Hukum Alamnya berbeda. Apa yang kita lihat itu akan terasa janggal, tak masuk akal, karena kita menilai rasionalitas peristiwa itu dengan apa yang biasa kita temukan di alam kita ini, berdasarkan Hukum Alam di sini. Nyatalah bahwa apa yang menurut pendapat orang tidak rasional, belum tentu tidak dapat terjadi. Kalau ia mampu menilai, maka ia akan menggunakan Hukum Alam yang mengendalikan peristiwa tersebut yang berlaku di tempat yang bersangkutan dan ia akan meyakini bahwa kejadian itu rasional juga.

Pada tahap ini saya ingin mengutip firman Allah s.w.t. dalam Al Qur’an Surah 41 Fushshilat 12:

???????????? ?????? ???????? ???? ?????????? ????????? ???? ????? ???????? ????????? ???????????? ??????????? ?????????? ?????????????? ????????? ??????? ?????????? ??????????? ???????????

“Dan Dia menjadikan tujuh langit dalam dua hari serta mewahyukan peraturan-peraturanNya pada masing-masing langit itu. Dan Kami hiasi langit dunia dengan pelita-pelita serta perlindungan. Begitulah ketentuan Yang Maha Kuasa lagi Maha Mengetahui”.

Apakah ketujuh alam yang berbeda Hukum Alamnya ini masing-masing memi-liki dimensi ekstra yang terbentang yang berbeda, misalnya yang keenam, atau ketujuh, dan seterusnya sampai kesebelas, atau kombinasi daripadanya, AIlahu alaml

Materi Dimensi
Saya teringat akan buku-buku yang mengaitkan sains dengan ayat-ayat Al Qur’an yang menyatakan bahwa tujuh langit yang dimaksud oleh Kitab Suci kita itu adalah planet-planet dan Sidratul Muntaha adalah planet Pluto. Masya Allah! Dengan demikian dalam buku-buku tersebut Mi’raj Rasulullah s.a.w. dianggap seperti petualangan astronot saja ke ruang angkasa yang merupakan langit dunia ini, salah satu dari alam yang tujuh. Apakah alam gaib dianggap tidak ada? Apakah ini bukan suatu langkah pendangkalan aqidah?

Dalam pertanyaan yang saya ajukan tentang ketujuh alam di atas, sebenarnya saya telah melanjutkan evolusi pengertian langit atau ruang; yaitu dengan mengidentifikasikan alam dengan ruang alam itu sendiri, yang berbeda satu sama lain sesuai dengan perbedaan dimensi ruangnya. Lalu apakah kita tidak melihat peranan materi yang ada di dalamnya? Sebenarnya ketika kita membicarakan tentang manifestasi dimensi yang “mlungker” sebagai muatan listrik atau nuklir, kita telah menunjukkan bahwa muatan-muatan tersebut atau materi yang bersangkutan —merupakan pengejawantahan struktur mikro daripada hiper-ruang itu sendiri.

Sebagaimana diketahui, sains telah mengungkapkan bahwa materi jagad raya tersusun dari atom-atom yang masing-masing mempunyai inti dan elektron-elektron. Inti atom tersusun atas nukleon-nukleon yang terbentuk dari gabungan zarah-zarah sub-nuklir, yang oleh para fisikawan dinamakan quark. Di samping elektron sebenarnya ada zarah-zarah lain yang ambil bagian dalam meramaikan proses alamiah, misalnya neutrino dan sebagainya. Mereka ini oleh para fisikawan dinamakan lepton (zarah ringan) karena elektron, neutrino dan lain-Iainnya itu jauh lebih ringan dari quark. Jadi, kita dapat mengatakan bahwa kedua jenis zarah ini, yakni lepton dan quark, merupakan penyusun dasar seluruh materi alam. Tetapi kalau mereka itu pembawa muatan yang merupakan manifestasi dari struktur mikro hiper-ruang, maka tidaklah mengherankan bila orang mengidentifikasikan alam, yakni ruang beserta isinya, dengan ruang alam itu sendiri: ruang beserta struktur mikronya.

Anehnya, materi dasar, atau partikel lepton dan quark itu, dapat bergerak di dalam ruang alam; elektron dapat kita perlihatkan berkeliaran dalam kamar gelembung atau kotak kabut. Bagaimana kita dapat memahami gerak “struktur mikro dalam hiper-ruang” itu? Di dalam teori kuantum medan, orang dapat memperlihatkan adanya gejala yang dinamakan fluktuasi pada vakum. Misalnya, elektron negatif dan elektron positif (juga disebut positron) dapat muncul secara mendadak dalam vakum, dari ketiadaan, untuk kemudian dengan cepat lenyap kembali sehingga tinggal vakum tanpa isi lagi. Pengaruh proses ini dapat diperlihatkan secara eksperimental. Namun, dalam elektrodinamika kuantum, yakni teori kuantum medan yang membahas proses itu, ruang-waktu tampak berperan pasif. Ia hanya berfungsi sebagai wadah kejadian yang bersangkutan saja, karena ilmu tersebut menggunakan teori “relativitas khusus” yang lingkupnya terbatas. Bila kita gunakan teori “relativitas umum”, maka kita dapat bekerja dalam kerangka teori kuantum medan yang dinamakan gravitasi kuantum yang lingkupnya lebih luas. Di sini ruang-waktu bersikap aktif, berpartisipasi dalam fluktuasi vakum dan memunculkan, dengan topologi yang berbeda-beda, zarah-zarah elementer penyusun materi jagad raya itu sekejap untuk dilenyapkan kembali. Inilah gambaran yang diberikan oleh Wheeler dan Schemberg.

Jadi dapat dikatakan bahwa setiap saat penyusun dasar alam semesta ini diciptakan Allah s.w.t. dari ketiadaan, untuk pada saat berikutnya ditiadakanNya kembali. Alam semesta yang semula tiada itu hanya ada selama waktu yang sangat pendek, dalam bentuk susunan zarah-zarah elementer, untuk kemudian lenyap dan muncul kembali selama saat yang sangat pendek yang berikutnya; begitu seterusnya sesuai qudrat dan iradat Tuhan Yang Maha Esa. Kesimpulan ini sejalan dengan gambaran mutakhir yang ada pada beberapa tokoh ilmuwan fisika. Begitulah evolusi pengertian langit yang dimulai dari pertanyaan “Apakah langit itu?” yang terlontar pada bagian awal tulisan ini. Dari pengertian yang sederhana, sebagai “bola yang sangat besar, tempat menempelnya bintang-bintang dan benda langit lainnya”, ia berevolusi menjadi pengertian yang sangat kompleks, sebagai “ruang yang multidimensional, suatu hiper-ruang yang lengkung yang memperlihatkan fluktuasi”.

Sehubungan dengan pengertian mutakhir para ilmuwan sebagaimana dinyatakan di atas, Abu Bakar Muhammad al-Baqillani, murid Abu Hasan al-Asy’ari yang hidup seribu tahun yang lalu mengatakan, bahwa:

“Alam semesta ini terdiri dari jauhar (atom materi) dan anat (atom waktu) yang diciptakan Allah s.w.t. dan pada anat yang berikutnya ditiadakanNya untuk diciptakan kembali pada anat yang berikutnya lagi; begitu seterusnya. Dengan demikian maka semua gejala yang kita jumpai di alam ini disebabkan terjadinya oleh Sang Pencipta, dan bukan ditimbulkan oleh makhluk berhingga yang merupakan ciptaan sendiri. Oleh karena itu maka Kausalitas Aristoteles yang menghubungkan dua peristiwa sebagai “sebab” dan “akibat” perlu ditolak; sebab tak ada kontinuitas.”

Tidakkah mengherankan betapa dekat ajaran itu dengan penemuan Sains Moderen?

Orang Barat mengatakan bahwa filsafat Al-Baqillani ini merupakan bagian dari Sains. Namun para pengikut Al Asy’ari sendiri menolaknya, dan mengatakan bahwa ajaran Al Baqillani adalah teologi; ia mengagungkan Allah s.w.t. dan menunjukkan betapa tidak berartinya semua makhluk di hadapan-Nya. Saya sendiri tidak tahu bagaimana Al Baqillani mendapatkan ide semacam itu. Mungkin ia mendapatkan “kilatan kebijakan” yang mengungkapkan kepadanya apa yang sesungguhnya terjadi di alam semesta, karena taqorrubnya kepada Sang Pencipta. Ia “melihat” dan bercerita, sedang kita para saintis harus berkeringat berabad-abad untuk memahami hiper-ruang alam yang multidimensional ini dan bagaimana dinamika kuantumnya yang terkait dengan gravitasi, menimbulkan struktur mikronya dalam fluktuasi, dan seterusnya.

Para ahli kosmologi yang menggunakan teori “relativitas umum” (yang lingkupnya adalah ruang-waktu dan materi alam semesta yang serba besar) dan teori “kemanunggalan agung” (yang lingkupnya adalah partikel dasar penyusun materi yang serba renik) sepakat, bahwa pada masa “inflasi”, sekejap setelah penciptaan alam ini dimulai, maka partikel dasar materi alam kita —yang semula tercipta dari ketiadaan dan vakum, yang diganggu fluktuasi hiper-ruang memperoleh massa dan energi serta kemampuan interaksi yang berbeda-beda sebagai hasil transisi fase ketika suhu jagad raya turun, berkat cepatnya ekspansi, hingga melampaui suhu kritis; meskipun suhu transisi ini masih bertrilyun derajat tingginya. Namun, karena energi gravitasi seluruh sistem negatif, maka energi total yang meliputi massa dan energi panas partikel-partikel dasar itu serta energi gravitasinya berjumlah nol. Dari ketiadaan yang energinya nol itulah tercipta alam semesta ini, yang energi totalnya nol.

Teka-Teki yang Mempesona
Kalau pengertian bumi juga berevolusi seperti halnya pada pengertian langit, maka dapatlah kiranya dikatakan bahwa kata “bumi” yang semula hanya mengandung pengertian tempat kita Iahir, hidup dan mati (serta dibangkitkan kembali), akhirnya akan berevolusi pengertiannya sehingga bermakna materi, atom-atomnya atau partikel-partikel dasar penyusunnya. Sehubungan dengan itu marilah kita ingat ayat Qur’an Surah 21 Al-Anbiya’ 30:

???????? ???? ?????????? ?????????? ????? ??????????? ??????????? ???????? ??????? ???????????????? ??????????? ???? ????????? ????? ?????? ?????? ??????? ????????????

“Apakah orang-orang kafir itu tidak melihat bahwa langit (= ruang) dan bumi (= materi) semulalSadu, kemudian Kami pisahkan keduanya itu.” (Q.S. 21 Al Anbiya 30).

Bukankah materi, atau partikel-partikel dasar penyusun materi, terbentuk dari fluktuasi ruang menurut para fisikawan kosmologi yang ahli dalam gravitasi kuantum? Kemudian barulah terpisah ruang dan struktur mikronya itu selama terjadinya proses “inflasi” alam semesta, yang mengembang sangat cepat, sehingga merekr, dapat dibedakan sebagai ruang dan materi.

Kalau ayat tersebut dibaca tanpa berpikir, sudah tentu tidak akan merasa kesulitan memahaminya. Kita terima saja apa adanya: langit dan bumt semula satu, kemudian dipisahkan. Mungkin gambaran yang merupakan pengertian ialah, bahwa semua bintang yang mengisi langit itu berkumpul di bumi, dan langit mewadahi mereka seperti karung mewadahi beras. Kemudian mendadak sontak bintang-bintang itu terhambur dan langit menjadi bola yang sangat besar di rnana kita semua hidup di dalamnya.

Tetapi kalau mulai menggunakan pikiran, maka banyaklah teka-teki yang memerlukan jawaban. Di alam semesta terdapat tidak kurang dari sepuluh milyar-trilyun bintang, yang rata-rata sebesar matahari. Materi sebanyak itu, yang digambarkan terkumpul dalam kantung langit itu, kapan terhambur? Sebelum terhambur, apakah mereka selamanya ada di tempat itu berjejal-jejal? Dari mana mereka itu asalnya? Begitu seterusnya. Dan jawabannya tidak mudah; untuk memahami satu ayat saja, diperlukan berkembangnya ilmu pengetahuan selama berabad-abad!

Baru sekitar tiga tahun yang lalu para ilmuwan mengetahui bahwa alam semesta ini diciptakan dari ketiadaan; semula sebagai fluktuasi vakum yang memunculkan struktur mikro ruang-waktu yang kemudian memperoleh massa dan energi selama fase “inflasi”, bersamaan dengan terjadinya ekspansi yang sangat cepat, yang diikuti dengan munculnya gaya-gaya interaksi antarpartikel, sehingga proses yang terjadi menampakkan diri sebagai ledakan yang maha dahsyat; yang dikenal oleh orang awam sebagai Big Bang atau dentuman besar.

Kalau lima tahun yang lalu masih ada saintis yang tidak dapat menelan teori Dentuman Besar karena tidak dapat menerima fakta bahwa alam ini diciptakan dari ketiadaan, dan bukan telah ada selamanya sebagaimana terdapat dalam konsepsinya, tanpa diciptakan, maka kini hal yang semula mereka anggap irasional (tak masuk akal) itu telah merupakan fakta yang rasional, karena sekarang mereka dapat mengetahui bahwa seluruh alam semesta yang diciptakan dari ketiadaan, yang energinya nol itu memiliki energi total yang nol juga. Energi dan massa alam semesta sama besarnya dengan tenaga ikat gravitasinya, sehingga bila dijumlah mereka saling meniadakan dan menghasilkan jumlah total nol.

Sains moderen memang mengasyikkan, dapat mempesona, dan sangat indah. Namun untuk memahaminya diperlukan ketekunan dan pengetahuan matematika yang tinggi. Ia dapat membantu kita memahami ayat-ayat Al Qur’an yang mengajarkan tentang proses-proses alami. Ia dapat menambah keyakinan bahwa Al Qur’an adalah Wahyu Ilahi, dalam bentuk aslinya tanpa dicampuri tangan-tangan kotor. Dan ia dapat lebih memberikan motivasi bagi ketaatan kita kepada ajaran Islam, karena kita meyakini kebenarannya.

Oleh A. Baiquni

Diambil Buku 70 tahun Prof. Dr. H.M. Rasjidi, Editor: Endang Basri Ananda, Penerbit: Harian Umum Pelita, 1985

Share
%d blogger menyukai ini: