Hipertensi Meningkatkan Risiko Penyakit Ginjal

- Editor

Jumat, 13 Maret 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tekanan darah tinggi atau hipertensi menjadi pemicu utama serangan penyakit ginjal kronis. Karena itu, pemantauan tekanan darah secara berkala penting dilakukan demi menghindari risiko penyakit ginjal.
“Penyakit ini amat berbahaya. Jadi, harus dikenali sejak dini. Selain hipertensi, PGK (penyakit ginjal kronis) dapat disebabkan diabetes melitus,” kata Ketua Perhimpunan Nefrologi Indonesia (Pernefri) Dharmeizar dalam peringatan Hari Ginjal Sedunia di Jakarta, Kamis (12/3). PGK juga disebabkan kebiasaan merokok, kurang minum air, dan obesitas atau kegemukan.

Dharmeizar mengatakan, 10 persen dari total populasi dunia menderita PGK. Di Indonesia, jumlah kasus PGK 12,5 persen dan diprediksi meningkat. Negara dengan akses layanan kesehatan rendah memiliki dampak risiko terbesar karena biaya terapi penyakit itu amat tinggi.

Menurut Dharmeizar, PGK terdiri atas lima stadium dan tak dapat disembuhkan. Pengobatan hanya bertujuan memperlambat laju penyakit agar tidak meningkat ke stadium lebih parah. Jadi, hal terbaik yang dilakukan adalah pencegahan penyakit itu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Penderita PGK paling parah (stadium 5) harus menjalani cuci darah di luar tubuh pasien (hemodialisis). Bahkan, tak menutup kemungkinan harus menjalani cangkok ginjal. Di Indonesia, setiap satu juta penduduk, ada 433 orang menjalani terapi ginjal. Hal itu tentu jadi beban ekonomi keluarga dan negara.

Konsumsi air
Terkait hal itu, kesadaran masyarakat tentang pentingnya memelihara kesehatan ginjal perlu ditumbuhkan dengan mengedukasi pengenalan faktor risiko dan pencegahannya. “Konsumsi air cukup dan kontrol kesehatan wajib dilakukan,” ujarnya.

Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Parlindungan Siregar mengatakan, banyak hal bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan ginjal. Upaya itu, antara lain aktif berolahraga, menjaga kadar gula darah, dan menjaga tekanan darah tetap stabil. Beberapa upaya lain adalah mengonsumsi makanan sehat dan seimbang, minum air yang cukup, tak merokok, tidak mengonsumsi obat anti nyeri dalam jangka panjang, dan memeriksa fungsi ginjal berkala.

Penyakit ginjal bisa menyerang secara tiba-tiba tanpa gejala. “Sulit untuk menentukan gejalanya. Bahkan, tak jarang baru disadari ketika sudah stadium 4. Untuk itu, harus rajin kontrol kesehatan,” ujarnya.

Parlindungan menjelaskan, air mengurangi kemungkinan timbulnya batu saluran kemih bagi orang yang berpotensi terkena batu saluran kemih karena faktor keturunan. “Air juga berperan mencegah infeksi saluran kemih. Jika konsumsi air cukup, jumlah urine yang dikeluarkan akan bertambah sehinggga mengencerkan zat-zat pembentuk batu,” ujarnya.

Pola hidup sehat seperti meminum segelas air ketika bangun tidur mendukung upaya menyehatkan ginjal. Air yang dikonsumsi sebaiknya tak berwarna atau jernih, tidak berbau, dan tidak berasa. Kebiasaan buruk seperti menahan buang air kecil juga harus dihindari karena berpotensi mengakibatkan infeksi di saluran kemih.

Kebutuhan air harus sesuai kemampuan ginjal. Tubuh manusia butuh 2 liter air per hari. Konsumsi air dianjurkan tak lebih dari 1,5 liter per jam. Kebutuhan air juga bisa dipenuhi dari makanan. Pembatasan konsumsi air juga perlu dilakukan pada lanjut usia maksimal 1.500 ml per hari.(B07)
————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 13 Maret 2015, di halaman 14 dengan judul “Hipertensi Meningkatkan Risiko Penyakit Ginjal”.

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern
Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia
Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara
Menjadi Ilmuwan Politik di Era Digital. Lebih dari Sekadar Hafalan Tata Negara
Saksi Bisu di Balik Lensa. Otopsi Bioteknologi Purba dalam Perburuan Minyak Bumi
Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Berita ini 141 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 20 April 2026 - 07:37 WIB

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi

Minggu, 19 April 2026 - 08:06 WIB

Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?

Sabtu, 18 April 2026 - 20:45 WIB

Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern

Sabtu, 11 April 2026 - 18:47 WIB

Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia

Sabtu, 11 April 2026 - 17:49 WIB

Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara

Berita Terbaru