Home / Berita / Hilirisasi Inovasi Teknologi Mulai Menghasilkan

Hilirisasi Inovasi Teknologi Mulai Menghasilkan

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi telah merintis inovasi teknologi dengan skema badan layanan umum. Komersialisasi hasil inovasi itu memberi manfaat ekonomi.

Hilirisasi hasil inovasi dari lembaga riset ke industri untuk penerapan hingga pemasarannya merupakan tahap tersulit. Akibatnya, muncul istilah ”lembah kematian” inovasi. Melalui Pusat Pelayanan Teknologi sebagai ”kendaraan”, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi berhasil membawa inovasi sampai ke industri dan bernilai ekonomi besar.

Kepala Pusat Pelayanan Teknologi (Pusyantek) BPPT Yenny Bakhtiar, dalam pertemuan bisnis dalam rangka 40 tahun berdirinya BPPT, di Jakarta, Rabu (15/8/2018), memaparkan, pendapatan dari layanan teknologi dan penerapan inovasi di industri Rp 119 miliar tahun 2017 dari 146 kontrak kerja. Itu melampaui target Rp 50 miliar yang ditetapkan Direktorat Pembinaan Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (PPK-BLU) Kementerian Keuangan.

Pertemuan bisnis yang diselenggarakan oleh Pusyantek BPPT ini mengangkat tema “Teknologi untuk Kemandirian dan Daya Saing Bangsa di Bidang Energi, Pertambangan, dan Lingkungan”. Setidaknya hadir sekitar 140 perserta yang berasal dari sektor pemerintahan, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), swasta, dan kalangan peneliti. Melalui kegiatan ini diharapkan dapat memperluas jangkauan diseminasi dan komersialisasi hasil inovasi BPPT kepada mitra pengguna di seluruh Indonesia.

KOMPAS/DEONISIA ARLINTA–Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Unggul Priyanto bersama Kepala Pusat Pelayanan Teknologi BPPT Yenny Bakhtiar (tengah) berfoto bersama pembicara kunci dalam acara pertemuan bisnis BPPT bertajuk “Teknologi untuk Kemandirian dan Daya Saing Bangsa di Bidang Energi, Pertambangan, dan Lingkungan” di Jakarta, Rabu (15/8/2018). Acara ini merupakan rangkaian peringatan hari ulang tahun BPPT ke-40 tahun.

Dalam pertemuan bisnis itu sekaligus dilaksanakan penandatangan perjanjian kontrak kerja antara Pusyantek BPPT dengan lima mitra. Sejumlah mitra tersebut, yaitu PT PLN (Persero) Divisi Batu Bara tentang Jasa Konsultasi Kelayakan dan Penentuan Teknologi Coal Upgrading, Mikro Laboratorium Asia tentang analisis kerusakan noozle udara primer, dan Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Lingga (Kepulauan Riau) tentang penyusunan dokumen pendukung industri pengolahan hasil perikanan.

Mitra lainnya, yakni Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Tangerang (Banten) tentang kajian keandalan gedung RSUD dan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Serang (Banten) tentang penyusunan dokumen kajian evaluasi dampak pencemaran udara serta penyusunan dokumen perencanaan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.

Yenny menyatakan, komersialisasi teknologi yang dilakukan bersama mitra menjadi strategi yang tepat agar hasil inovasi bisa dimanfaatkan oleh pemerintah, BUMN, swasta, dan masyarakat. Pada akhirnya, inovasi yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat, meningkatkan daya saing, dan kemandirian bangsa.

Saat ini BPPT merupakan satu-satunya Lembaga Pemerintah Nonkementerian (LPNK) yang berhasil melakukan hilirisasi inovasi teknologi melalui skema BLU. Teknologi yang dikembangkan meliputi teknologi pangan, kesehatan, energi, teknologi informasi, material, lingkungan, transportasi, maritim, pertahanan, dan keamanan.

Penguasaan teknologi, inovasi, dan layanan jadi kunci dalam kerekayasaan, audit teknologi, kliring teknologi, alih teknologi, intermediasi, difusi, dan komersialisasi teknologi. ”Itu bertujuan mendukung upaya kemandirian nasional melalui kemandirian teknologi,” kata Kepala BPPT Unggul Priyanto.

Pusyantek berperan utama dalam hal itu. Unit tersebut juga menyebarluaskan hasil inovasi dan jasa teknologi serta memenuhi kebutuhan teknologi banyak pihak, mulai dari pemerintah, industri swasta, badan usaha milik negara, hingga masyarakat.

Unggul menambahkan, sejumlah kajian dan penerapan hasil inovasi telah diwujudkan di beberapa bidang teknologi, seperti teknologi pangan, kesehatan, energi, teknologi informasi, dan transportasi. Selain itu, hasil inovasi lain terkait dengan bidang material, lingkungan, transportasi, maritim, serta pertahanan dan keamanan.

KOMPAS/DEONISIA ARLINTA–Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Unggul Priyanto saat membuka acara Business Gathering melalui Pusat Pelayanan Teknologi di Jakarta, Rabu (15/8/2018).

“Pemanfaatkan hasil inovasi jadi kunci utama untuk mendorong percepatan pembangunan bangsa. Upaya ini terutama guna mendukung pencapaian kemandirian nasional melalui kemandirian teknologi,” katanya.

Inovasi BPPT
Sejauh ini, BPPT menghasilkan banyak produk inovasi dan layanan teknologi untuk kemandirian nasional. Sebagai contoh, di bidang energi, BPPT mengembangkan teknologi pendukung program prioritas nasional kelistrikan. Pemanfaatan energi baru terbarukan antara lain tenaga surya, panas bumi, tenaga hidro dan bayu mengurangi ketergantungan energi fosil.

Sumber energi lain yang dikembangkan BPPT untuk mengurangi ketergantungan energi fosil ialah bahan bakar nabati, terutama sawit bagi biodiesel. Pihak BPPT juga menghasilkan inovasi teknologi Coal Upgrading untuk mendorong mutu batubara kalori rendah.

Sementara di bidang teknologi pertambangan mineral, BPPT melakukan kliring teknologi, alih teknologi, inovasi teknologi, dan layanan teknologi terkait teknologi geofisika untuk eksplorasi mineral, hidrogeologi, dan geoteknik. Teknologi itu telah diterapkan pada industri pertambangan di Indonesia.

Adapun di bidang teknologi lingkungan, BPPT menghasilkan inovasi teknologi penyediaan air bersih, teknologi air siap minum (arsinum), aplikasi pengolahan air limbah, fitoremediasi, serta reklamasi dan revegetasi lahan pascatambang.

Inovasi online monitoring (onlimo) pengendalian pencemaran lahan, perairan, dan udara jadi kontribusi nyata BPPT untuk meningkatkan mutu lingkungan.
Selain itu, di bidang transportasi, sistem pemantau penerbangan nir-radar yang disebut ADS-B dikembangkan BPPT. Di bidang maritim, pihak BPPT mengembangkan desain pelabuhan, survei eksplorasi, dan layanan teknologi hidrodinamika

Sejumlah produk inovasi dan layanan teknologi yang telah dihasilkan BPPT di bidang teknologi energi, antara lain pemanfaatan energi baru terbarukan dengan tenaga surya, tenaga panas bumi, tenaga hidro, dan tenaga bayu. Pemanfaatan sumber energi ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil. Inovasi lain terkait energi, yaitu teknologi Coal Upgrading yang bermanfaat untuk meningkatkan kualitas batubara menjadi rendah emisi.

Manfaat bagi masyarakat
Deputi Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam BPPT Hammam Riza mengungkapkan, di bidang teknologi lingkungan, inovasi yang saat ini telah dirasakan oleh masyarakat antara lain teknologi penyedia air bersih, teknologi air siap minum, aplikasi pengolahan air limbah, serta reklamasi dan revegatasi lahan tambang.

Direktur Pusat Teknologi Lingkungan BPPT Rudi Nugroho menambahkan, inovasi lain yang saat ini sedang dikembangkan adalah pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) di Tempat Pembuangan Akhir Bantargebang, Bekasi. Sistem yang digunakan dalam pengolahan sampah di tempat ini dengan sistem termal. Inovasi ini diklaim dapat memusnahkan sampah perkotaan dengan cepat, mudah, dan ramah lingkungan.

Tidak hanya itu, sejumlah inovasi yang telah dihasilkan BPPT di bidang lain, seperti teknologi sistem peringatan dini yang bisa dimanfaatkan di daerah rawan bencana, rumah tahan gempa berbahan plastik Poly Propylene, pengembangan sistem pemantau penerbangan nir radar ADS-B, dan teknologi pesawat nir awak (drone) untuk mengawasi pertambangan liar.–YUNI IKAWATI DAN DEONISIA ARLINTA

Sumber: Kompas, 16 Agustus 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Belajar dari Sejarah Indonesia

Pelajaran sejarah Indonesia memang sangat menentukan dalam proses pendidikan secara keseluruhan. Dari sejarah Indonesia, siswa ...

%d blogger menyukai ini: