Home / Tokoh / Harry Tjan Silalahi; 80 Tahun Tak Akan Berhenti Berpikir

Harry Tjan Silalahi; 80 Tahun Tak Akan Berhenti Berpikir

SAAT menyambut para tamu dalam acara perayaan 80 tahun usianya, Harry Tjan Silalahi berkata ”matur sembah nuwun” (terima kasih banyak). ”Selama masih dibutuhkan, selama orang merasa saya tak menjadi gangguan, saya akan hadir,” kata Harry. Jadi, jangan heran jika dia masih beraktivitas di Centre for Strategic and International Studies, lembaga yang dia ikut dirikan tahun 1971.

Perayaan ulang tahun ke-80 Harry diadakan di Aula Gereja St Stefanus, Cilandak, Jakarta, Selasa (11/2). Acara ini diawali misa syukur konselebrasi dengan konselebran utama Romo BS Mardiatmadja SJ dan peluncuran buku Mempertahankan Cita-cita, Menjaga Spirit Perjuangan. Refleksi 80 tahun Harry Tjan Silalahi yang disusun JB Soedarmanta.

Hadir dalam acara ini, selain rekan kerjanya di Centre for Strategic and International Studies (CSIS) dan aktivis gerakan pluralisme, juga sejumlah tokoh seperti Jusuf Kalla, Sulastomo, Adnan Buyung Nasution, Albert Hasibuan, Bambang Ismawan, Mari Pangestu, dan HS Dillon.

Harry tetap aktif mendatangi diskusi dan seminar. Walau sedang dihantam flu berat, Minggu (26/1), misalnya, dia berbicara dalam diskusi buku Alam Pikiran dan Jejak Perjuangan Prawoto Mangkusasmito. Prawoto adalah Ketua Umum (terakhir) Partai Masyumi.

Harry juga belum berhenti berpikir. Kini dia sedang memikirkan ulang UUD 1945 hasil amandemen. Ada pula pemikiran untuk kembali pada sistem MPR sebagai lembaga tertinggi negara.

”Rethinking dengan sesama orangtua seperti Try Sutrisno, (UUD 1945 hasil amandemen) dianggap terlalu liberal, neolib, kurang memperhatikan rakyat, dan Pasal 33 terlalu kapitalistik,” ujar Harry di kantor CSIS.

Harry pun masih merenungkan kondisi Tanah Air karena dia merasakan kemunduran. ”Kemunduran karena pemahaman yang makin cetek, dangkal. Tak ada rethinking, refleksi, semua kesuksesan diukur dari sisi ekonomi. Karakter dan national building pun dilupakan sehingga menjadi masalah.”

Dia memang bercita-cita hidupnya dapat membantu masyarakat agar lebih baik. ”Istilah Pak Kasimo (IJ Kasimo, Ketua Umum Partai Katolik), supaya warga negara kerasan di negeri ini,” ujarnya. Cita-cita itu menyemangatinya dalam menjalani hidup.

Hasrat agar dirinya berguna bagi orang lain telah menghidupi psikis Harry. Sementara untuk menjaga kebugaran fisik, obatnya adalah ”jamu menjaga mulut”. ”Saya menjaga makan dan minum, sak madyo, secukupnya saja,” ujarnya.

Sejak umur 24 tahun, dia sadar mengidap diabetes. Oleh karena itulah dia disiplin dalam menyantap makanan. Hasilnya, hanya tongkat yang menunjukkan usia Harry. Namun, suaranya masih menggelegar dan pikiran-pikirannya tetap tajam.

Pengabdian dan pengorbanan
Lahir di Kampung Terban, Yogyakarta, bakat kepemimpinan Harry terlihat sejak masih kecil. Dia bukan anak tertua dari 10 bersaudara, tetapi dialah pemimpin mereka.

”Dulu di SMA De Britto (Yogyakarta) saya memimpin tanpa ada yang meminta, juga di PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia),” ujar Harry yang menjadi Sekretaris Jenderal Partai Katolik (1964-1971) semasa Frans Seda menjadi ketua umum.

Tetapi, mengapa dia berhenti berpolitik pada usia produktif? ”Ada di partai itu amanah, bukan pekerjaan kita. Itu yang kini dilupakan orang sehingga partai menjadi tempat berkuasa dan uang. Kita masuk partai politik itu seharusnya demi pengabdian,” ujarnya.

Ketika berkecimpung di dunia politik, kehidupan Harry jauh dari kemewahan. Sebagai sekjen partai, dia naik becak menuju rapat kongres dari rumah ayahnya di Kampung Terban menuju rapat kongres di Pastoran Bintaran, Yogyakarta.

Kesederhanaan semacam itu kini tak lagi dilakukan sebagian besar politisi. Ketika menjadi anggota DPR (1967-1971) pun gajinya relatif kecil. ”Kadang (untuk hidup) saya dibantu Pak Kasimo, tetapi sekarang (DPR) menjadi jawatan,” katanya.

Setelah tak terjun dalam politik, Harry aktif di CSIS yang menjadi wadah untuk memikirkan berbagai persoalan bangsa. Sepanjang usia CSIS, selama itulah Harry mencoba ”menjajakan” gagasan-gagasannya.

”CSIS itu lembaga ideal dengan cita-cita yang mungkin belum tercapai sepenuhnya. Tujuan kami, hari ini lebih baik dari kemarin, dan besok lebih baik dari hari ini. Semua itu tak harus saya yang mengerjakan, tetapi juga para penerus saya,” katanya.

Dia menyebut salah satu masalah yang belum selesai, yakni soal politik nasional. Reformasi terhadap parpol adalah keharusan.

”Bagaimanapun hebatnya seseorang, termasuk mungkin Joko Widodo, kalau Megawati tidak setuju ya sulit,” ujarnya. Kondisi di PDI-P itu juga terjadi di semua partai. ”Suatu hari nanti harus ada calon (presiden) independen.”

Menurut dia, partai harus direformasi menjadi lebih demokratis, lebih desentralisasi, mencapai akar rumput, dan mengerti konstituennya.

Untuk urusan inter-etnis, Harry menilai ada pengakuan walau parsial. Dia menyambut baik Basuki Tjahaja Purnama yang menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta. ”Nama John Lie juga jadi nama kapal perang,” ujarnya.

Harry Tjan SilalahiWalau keturunan Tionghoa, dia menekankan dirinya sebagai orang Indonesia, dan Jawa sebagai bahasa ibunya. Pemahaman Harry atas dunia pewayangan bahkan di atas rata-rata orang Jawa. Marga Silalahi dia sandang setelah diangkat saudara oleh Albertus Bolas Silalahi, salah seorang pemimpin Partai Katolik.

Menurut dia, hal yang perlu dibenahi adalah kesenjangan kaya-miskin, juga konflik agama yang sulit dituntaskan karena lemahnya penegakan hukum. Dia mengingatkan agar hukum pun harus diinspirasi oleh nilai-nilai Pancasila.

Dia meyakini, budaya pluralis adalah modal untuk kemajuan bangsa. ”Janganlah kita eksklusif rasial, kultural, atau finansial, dan jangan menjadi elite. Kita harus solider dengan rakyat,” ujar Harry.

—————————————————————————
Harry Tjan Silalahi
? Lahir: Yogyakarta, 11 Februari 1934
? Pendidikan:
– SD dan SMP Santo Yusuf, Yogyakarta
– SMA Kolese De Britto, Yogyakarta
– Fakultas Hukum dan Ilmu Kemasyarakatan, Universitas Indonesia

? Pekerjaan:
– Mengajar SD di Jakarta, 1955-1962
– Kepala SMP di Jakarta, 1955-1962
– Anggota Dewan Pendiri CSIS
– Wakil Ketua Dewan Direktur CSIS, 1971-2004
– Dewan Penyantun CSIS
– Ketua Pembina Yayasan CSIS, 2005

? Pemerintahan:
– Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong/Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (DPRGR/MPRS), 1967-1971
– Anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA), 1978-1981

? Organisasi:
– Ketua Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), 1961-1962
– Anggota/Pengurus Persatuan Ahli Hukum Indonesia (Persahi)
– Anggota aktif berbagai yayasan pendidikan: Tarumanagara Jakarta, Atma Jaya Jakarta, Widya Mandala Surabaya, dan Panca Bhakti Pontianak
– Sekretaris Jenderal Partai Katolik Indonesia, 1964-1971
– Pendiri Universitas Trisakti Jakarta, 1965
– Sekretaris Jenderal Kesatuan Aksi Pengganyangan Kontra Revolusi Gerakan 30 September (KAP-GESTAPU), 1966-1969
– Ketua Pembina Yayasan Trisakti Jakarta, 2005
– Dewan Pembina Sekolah Tinggi Manajemen Prasetiya Mulya, Jakarta

? Istri:
– Theresia Marina Gani, meninggal
– Theresa Catharina Jing Liong
? Anak:
– Herman Riwarto Silalahi
– Harin Rupini Silalahi

Oleh: HARYO DAMARDONO

Sumber: Kompas, 12 Februari 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Sudirman; Membebaskan Dusun dari Kegelapan

Pada Maret 2003, Sudirman (41) sudah siap membangun rumah permanen. Sebanyak 50 zak semen sudah ...

%d blogger menyukai ini: