Home / Berita / Gosip Tak Pernah Mati

Gosip Tak Pernah Mati

Kebiasaan berghibah sudah tercatat sejak abad ke-8 masehi pada relief Candi Borobudur. Dalam pahatan batu di dinding candi itu digambarkan laki-laki dengan mimik wajah dan bibir yang sedang bergosip.

—-Bu Tejo, salah satu karakter dalam film pendek Tilik yang viral di media sosial. Film buatan tahun 2018 itu diluncurkan pada 17 Agustus 2020 kemarin dan mendapatkan respons hangat dari warganet.

Manusia boleh benci atau suka dengan gosip. Namun, gosip telah menemani peradaban manusia selama ribuan tahun dan akan tetap wujud selama manusia ada. Perkembangan teknologi tak bisa membatasi, bahkan justru membuat gosip makin lestari.

Sejak dipublikasi pada 17 Agustus 2020, film pendek Tilik (2018) sudah disaksikan lebih dari 15 juta kali hingga Rabu (26/8/2020). Kisah pergosipan kaum ibu di atas bak truk untuk mengunjungi Bu Lurah yang dirawat di rumah sakit menyadarkan para penontonnya bahwa masyarakat kita memiliki budaya bergunjing yang sangat kuat.

Perilaku membincangkan orang lain itu ada di sekitar kita. Meski tidak semua orang suka mengurusi kehidupan orang lain, tidak jelas asal usul berita yang dibicarakan, dan norma agama apa pun juga melarangnya, bergosip telah menjadi budaya yang ada pada semua kelompok manusia, tanpa kenal kelas ekonomi, jenis kelamin, maupun tingkat pendidikan.

”Di universitas pun, kebiasaan menggosip itu ada, baik di kalangan dosen maupun mahasiswa,” kata dosen antropologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Aris Arif Mundayat, dalam webinar Antropologi Ghibah, Rabu (26/8/2020).

Di Indonesia, kebiasaan berghibah itu sudah tercatat sejak abad ke-8 masehi pada relief Candi Borobudur. Dalam pahatan batu di dinding candi itu digambarkan laki-laki dengan mimik wajah dan bibir yang sedang bergosip mirip ekspresi wajah Bu Tejo dalam film Tilik.

Relief tentang pria penggosip itu, lanjut Aris, terletak di bagian Karmawibhangga yang ada di bagian bawah atau kaki candi. Penempatan itu menunjukkan bergosip adalah perilaku buruk. Relief itu merupakan pembelajaran dalam agama Buddha untuk menjadikan manusia mencapai tingkatan hidup yang lebih baik.

Tak hanya agama Buddha, semua agama termasuk agama-agama samawi juga menjadikan bergosip sebagai perilaku yang rendah. Pelarangan ghibah dalam agama-agama itu menunjukkan perilaku menggunjingkan orang lain sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Bahkan, Aris mengatakan, umur dunia berghibahan sama seperti umur munculnya pelacuran. Itu berarti bergunjing sudah menjadi kebiasaan manusia sejak peradaban manusia ada.

Ghibah juga bukan hanya domain kaum perempuan seperti yang digambarkan dalam film Tilik. Pergunjingan bukan hanya monopoli emak-emak biang gosip, karena kita semua suka bergosip, termasuk kaum laki-laki seperti yang digambarkan di relief Candi Borobudur.

Jika kaum hawa suka bergosip sambil mencari kutu di depan rumah, belanja sayur, atau arisan, kesempatan laki-laki bergosip ada saat ronda, kerja bakti, berkumpul di warung kopi, hingga saat menjalankan hobi.

”Rasan-rasan (membicarakan orang lain dalam bahasa Jawa) adalah keluh kesah orang yang tertindas,” tambah Aris mengutip pendapat Karl Marx. Karena itu, selama ketertindasan itu ada, pergunjingan akan tetap abadi.

Konteks kontestasi
Direktur Institute for Multiculturalism and Pluralism Studies (Impulse) Yogyakarta Gutomo Priyatmono menambahkan, gosip juga selalu muncul dalam konteks kontestasi. ”Ada persaingan, pasti ada ghibah,” katanya.

Pergunjingan terjadi karena tekanan yang muncul dalam persaingan tidak memiliki jalan keluar atau ruang intelektual yang mampu menampung keresahan dan melawan tekanan.

Perghibahan, mengutip teori James C Scott, adalah upaya atau senjata perlawanan bagi kaum yang lemah. Perlawanan ini sangat mudah ditemukan dalam masyarakat perdesaan yang agraris dan komunal.

Namun, karena masyarakat komunal sangat mengedepankan harmoni, siapa kawan dan lawan, siapa yang lemah dan siapa yang menekan, dalam pergosipan menjadi sulit ditebak. Mereka bisa berganti peran dengan sangat cepat. Kelompok yang pada satu waktu menjadi lawan, dalam sekian detik berikutnya bisa menjadi kawan. Demikian pula sebaliknya.

Dalam film Tilik, lanjut Gutomo, yang dilawan Bu Tejo dan sebagian ibu-ibu saat bergosip bukanlah tokoh Dian, sosok perempuan muda, cantik, dan memiliki barang-barang bermerek, tetapi budaya patriarki. Karakter patriarki itu disimbolkan sebagai pria paruh baya yang di bagian akhir film diceritakan menjadi pasangan Dian.

Seiring berkembangnya masyarakat, perubahan desa menjadi kota dan urbanisasi, budaya bergosip yang mudah ditemukan di perdesaan pun nyata gampang ditemukan di perkotaan. Meski kini lebih separuh penduduk Indonesia tinggal di kota, budaya komunal mereka tetap ada.

Akibatnya, budaya bergosip masyarakat di perkotaan yang liberal pun tetap kuat. Bergunjing pun tak lagi bisa diidentikkan dengan masyarakat desa yang kurang kerjaan semata karena nyatanya masyarakat kota pun gemar melakukannya. Berghibah juga bukan lagi di monopoli oleh masyarakat agraris karena masyarakat industri pun menyukainya.

Semaju apa pun sebuah masyarakat, lanjut Gutomo, budaya bergosip akan tetap ada. ”Persoalannya hanya pada kadar gosipnya,” katanya. Dalam masyarakat industri yang fokus pada tujuan, waktu mereka untuk bergosip semakin sedikit karena mereka lebih memprioritaskan untuk melakukan hal lain yang dianggap lebih penting.

Pola bergosip pun bisa dengan sangat luwes menyesuaikan diri dengan teknologi yang ada di masyarakat. Pada dekade 2000-2010, saat televisi merajai dunia hiburan di Indonesia, tayangan info hiburan (infotainment) yang banyak mengumbar persoalan pribadi selebritis sangat dinikmati masyarakat.

Bahkan, tontonan yang bisa dinikmati dari subuh hingga dini hari itu sempat beberapa kali diwacanakan untuk diharamkan oleh lembaga keagamaan. Namun, besarnya minat masyarakat terhadap acara tersebut membuat program info hiburan itu tetap bertahan hingga kini.

Kini, saat televisi mulai ditinggalkan dan masyarakat beralih ke internet untuk mendapatkan hiburan, pola bergosip pun berpindah ke ranah digital. Munculnya akun-akun gosip di berbagai media sosial yang diikuti jutaan orang menunjukkan ghibah tak lekang oleh zaman dan waktu. ”Gosip akan mengikuti pola teknologi yang berkembang,” kata Aris.

Meski demikian, ciri yang menonjol dalam perghibahan yang bersentuhan dengan teknologi adalah obrolan yang sering kali tidak jelas ujung pangkalnya itu telah menjadi komoditas industri. Sayangnya, walau metode pergosipan semakin modern dan maju, gosip tersebut sering kali tidak menghasilkan apa-apa, kecuali gosip itu sendiri. Padahal, gosip harusnya bisa membawa perubahan.

Namun, rendahnya literasi digital membuat gosip di internet sering dianggap sebagai hal yang benar, sama seperti hoaks atau kabar bohong. Hukum dasar gosip sebagai hal yang relatif sulit dibuktikan kebenarannya justru sering diabaikan. Karena itulah, literasi digital perlu dibangun agar tidak hanya teknologinya yang pintar, tetapi penggunaanya pun pandai dalam menapis dan memilih lautan informasi yang ada.

Oleh MUCHAMAD ZAID WAHYUDI

Editor: ALOYSIUS BUDI KURNIAWAN

Sumber: Kompas, 27 Agustus 2020

Share
x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: