Home / Berita / Go-Jek, Astra, dan Ekonomi yang Semakin Berbagi

Go-Jek, Astra, dan Ekonomi yang Semakin Berbagi

Bagi korporasi, kolaborasi merupakan salah satu cara untuk memenangi pertandingan. Apabila setelah dihitung penjualan tidak akan naik signifikan ketika berhadapan langsung dengan pesaing, pilihannya adalah kolaborasi.

Penyebaran penguasaan aset melalui ekonomi berbagi, yang didukung oleh perusahaan besar, pada akhirnya menguntungkan konsumen dan produsen. Semakin banyak perusahaan yang mau ikut serta mengembangkan ekonomi berbagi, aset akan semakin tersebar.

Pekan lalu, konglomerasi PT Astra International Tbk menyuntikkan dana sebesar Rp 2 triliun untuk Go-Jek. Dana segar yang dikucurkan oleh Astra itu tidak sedikit. Nilai investasi ini merupakan investasi Astra terbesar untuk bidang digital.

KOMPAS/ALIF ICHWAN–Presiden Direktur PT Astra International Tbk Prijono Sugiarto memberikan buku berjudul Astra on Becoming Pride of The Nation kepada mantan Presiden BJ Habibie disaksikan artis pendukung acara. Perayaan Ulang Tahun Ke-60 PT Astra Internasional Tbk yang berlangsung di Jakarta, Jumat (24/2/2017) malam, diisi dengan Konser Inspirasi 60 Tahun Astra.

Astra sendiri merupakan perusahaan besar dengan berbagai anak perusahaan yang menguasai berbagai lini bisnis, dari penjualan otomotif, suku cadang, alat berat, asuransi, bank, hingga minyak sawit mentah.

Dana investasi tersebut diambil dari kas internal Astra. Hingga kuartal ketiga 2017, dana kas dan setara kas Astra tercatat sebesar Rp 29 triliun. Investasi Astra di Go-Jek hanya setara 6,88 persen dana kas Astra. Adapun rencana belanja modal Astra pada tahun ini sekitar Rp 14 triliun.

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO–Pengemudi Go-Jek melihat orderan melalui ponselnya. Go-Jek merupakan aplikasi pemesanan ojek dan kurir berbasis internet.

Tidak hanya perusahaan dari dalam negeri, perusahaan dari luar Indonesia juga telah menyuntikkan dana ke Go-Jek. Tahun lalu, Go-Jek mendapatkan total dana Rp 16,2 triliun dari beberapa investor lain, seperti Temasek, Meituan-Dianping, dan lainnya. Mengacu pada Tech In Asia, Go-Jek diperkirakan telah disuntik dana empat kali sepanjang 2015-2017.

Platform bisnis Go-Jek dapat dikembangkan dari berbagai sisi. Jumlah mitra pengendara motor dan mobil dapat menjadi daya tarik Astra masuk ke bisnis Go-Jek.

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO–Dadang, pengemudi Go-Jek, melihat orderan melalui ponsel sembari istirahat sore di kawasan Gandaria, Jakarta, Minggu (14/6/2017). Go-Jek merupakan aplikasi pemesanan ojek dan kurir berbasis internet.

Pangsa pasar penjualan mobil Astra pun mencapai 56 persen, sementara sepeda motor 75 persen. Dalam satu tahun, Astra menjual hampir 600.000 mobil dan 4,5 juta sepeda motor.

Astra sebenarnya telah memiliki basis data digital tentang penjualan mobil dan motornya. Dengan kerja sama tersebut, data Astra dapat bertambah. Selain itu, para mitra Go-Jek juga merupakan konsumen Astra. Ini baru bisnis kasatmata yang dapat dikolaborasikan antara Astra dan Go-Jek.

Astra tidak mungkin mengucurkan dana Rp 2 triliun hanya untuk meningkatkan penjualan motor dan mobilnya. Jika hanya itu tujuannya, lebih baik membuka gerai-gerai saja.

Selain penjualan motor dan mobil, masih banyak kesempatan bisnis lainnya, seperti kucuran kredit berbunga khusus untuk mitra Go-Jek, kemudahan mendapatkan suku cadang, hingga pemanfaatan bengkel-bengkel Astra. Belum lagi peluang dari bisnis asuransi Astra.

Investasi Djarum
Selain Astra, Grup Djarum juga menyuntikkan dana untuk Go-Jek. Sebelum masuk dengan membawa dana segar, Grup Djarum sudah bekerja sama dengan Go-Jek untuk mengantar barang yang dibeli konsumen dari toko daring Blibli.com milik Grup Djarum.

KELVIN HIANUSA UNTUK KOMPAS–Penandatanganan kerja sama antara Go-Jek dengan Blibli.com

Grup Djarum melalui anak perusahaannya PT Global Niaga (GDN), anak usaha dari PT Digital Prima yang bergerak dalam bidang digital pun menyuntikkan modal kepada Go-Jek. GDN tidak menyebutkan secara pasti berapa dana yang dikucurkan untuk Go-Jek, hanya menyebutkan bahwa GDN berkomitmen dalam jangka panjang.

Terbuka kemungkinan Djarum tertarik dengan sistem pembayaran Go-Jek, yaitu Go-Pay. Pengiriman dana dari sesama pengguna Go-Pay tidak ditarik pembayaran seperti ketika konsumen mengirimkan dana melalui anjungan tunai mandiri (ATM).

Go-Pay sudah memiliki banyak kerja sama dengan toko untuk penukaran poin atau untuk berbelanja. Tidak hanya barang konsumsi, bahkan dengan menukar poin Go-Pay, konsumen sudah dapat menambah kepemilikan reksa dananya.

Grup Djarum memiliki BCA yang juga sudah memiliki platform pembayaran digital. Persaingan dalam memperebutkan konsumen untuk menggunakan platform pembayaran digital lumayan ketat. Grup Djarum belum tentu berhasil mempertahankan penguasaan terhadap pasar dengan layanan yang sudah dimilikinya.

ELSA EMIRIA LEBA–Diskusi panel dan peluncuran buku Game Changing Transformation BCA 1990-2007 oleh Aswin Wirjadi, di Jakarta, Jumat (26/1). Tampak dari kiri ke kanan: moderator, praktisi perbankan dan dosen Program Magister Ekonomi Terapan Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta Martin Panggabean; Direktur Utama Bank Central Asia (BCA) Jahja Setiaatmadja; Direktur Utama Rabobank International Indonesia Jos Luhukay; Independent Commissioner PT Holcim Indonesia Kemal A Stamboel; serta Managing Director of Tjitra & Associate Hora Tjitra.

Daripada berhadapan langsung dengan Go-Pay, tampaknya Grup Djarum memilih strategi untuk merangkul Go-Pay. Jumlah toko dan pihak yang diajak bekerja sama untuk memanfaatkan platform pembayaran digital menjadi lebih banyak dalam sekejap.

Bagi Grup Djarum, perkembangan sistem pembayaran di Go-Jek akan menguntungkan. Demikian pula dengan perkembangan sistem pembayaran di platformnya sendiri.

Jika sistem pembayaran Go-Pay ini semakin berkembang, bukan tidak mungkin Go-Jek akan semakin berkonsentrasi untuk mengembangkan sistem pembayaran ini. Go-Jek tidak sekadar menjadi penyedia transportasi saja.

Di sisi lain, bagi konsumen, penggabungan mitra kerja sama membuat konsumen punya lebih banyak pilihan.

Untungkan konsumen
Seorang konsumen biasanya menjadi pelanggan dari beberapa perusahaan sekaligus. Pengguna ojek daring, misalnya, memiliki rekening di BCA tapi juga membeli secara kredit motor dari Astra.

KOMPAS/RIZA FATHONI–Pengunjung mengamati deretan motor bekas yang ditawarkan dengan penjualan tunai ataupun kredit di salah satu stan dalam ajang Pekan Raya Jakarta, Sabtu (20/6/2009).

Kerja sama di antara korporasi justru dapat menciptakan kemudahan juga bagi konsumen. Biaya-biaya dapat dipangkas, transaksi menjadi lebih cepat dan mudah.

Sekarang, konsep baru ekonomi berbagi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari gaya hidup. Berbagai aset yang tadinya hanya dikuasai oleh sebagian kecil orang menjadi aset yang dapat diakses oleh banyak orang.

Memesan penginapan melalui AirBnB, memesan tiket melalui Traveloka, membeli barang melalui Tokopedia sudah menjadi hal yang jamak dilakukan.

Kerja sama antara perusahaan besar dan perusahaan yang mengusung konsep ekonomi berbagi pada gilirannya berpotensi menjadi kekuatan besar. Kedua perusahaan yang semula berbeda konsep menjadi saling mendukung, memperbesar pasar, dan konsumen pun diuntungkan dengan berbagai kemudahan.–ANASTASIA JOICE TAURIS SANTI

Sumber: Kompas, 19 Februari 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: